Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Kekesalan Higarashi


__ADS_3

Chexy yang melihat kejadian itu, mulai tersenyum lebar, bahkan, ia tertawa untuk beberapa saat.


“Hahaha! Lihat saja, Higarashi! Kali ini kau akan hancur, bersama dengan Keira!" serunya dengan senyum sinis di wajahnya.


Sementara itu di pantai, di mana hari masih siang dan sepi dari orang-orang, sebuah lingkaran besar tiba-tiba muncul, tepat di tengah-tengahnya. Keira kemudian keluar dari dalamnya, dan lingkaran besar itu langsung menghilang dengan cepat.


Wajahnya yang memerah, dipenuhi kesedihan dan air matanya. Ia bahkan sampai lupa bahwa ia sendiri sedang sakit, namun, ia jsutru berjalan mendekati bibir pantai. Ombak kecil yang muncul tidak membuatnya trauma akan kejadian pada waktu itu.


Ia masih terus berjalan, dengan pandangan mata yang kosong. Begitu kakinya menyentuh air laut, tiba-tiba saja ia merasa lemas, dan tubuhnya mulai terjatuh, namun, seorang pria langsung menahan dan menggendongnya.


Keira langsung menatap pria itu dan berkata pelan, "Aerim ….”


Ia mendadak pingsan di dalam pelukan pria tersebut, Aerim. Wajahnya yang terlihat semakin pucat, langsung membuat Aerim panik, padahal, pria itu tahu bahwa semua ini adalah rencana yang dibuat olehnya.


"Keira? Hei, Keira! Keira! Apakah kau sedang tidak sehat? Keira?!" seru Aerim dengan senyum sinis di wajahnya.


Ia kemudian menggendong Keira dan berjalan hingga ke tepi pantai, namun, dari kejauhan, Higarashi ternyata baru saja tiba di sana setelah keluar dari lingkaran besar tadi, dan kedua matanya langsung menoleh ke arah Aerim.


“Keira?!” seru Higarashi.


Hatinya mulai panas, wajahnya juga mulai menunjukkan kekesalan yang luar biasa. Ia kemudian berlari ke arah keduanya dengan tergesa-gesa.


Begitu Aerim tiba di pinggir pantai, ia langsung membaringkan tubuh Keira secara perlahan di atas pasir yang halus, kemudian berusaha untuk membangunkan sang Permaisuri dari Halida itu dengan mengguncangkan tubuhnya.


"Keira! Keira! Sadarlah!" seru pria penjaga pantai itu dengan wajah yang masih terlihat panik.


Begitu tiba di samping Aerim, Higarashi langsung berlutut dan meraih tubuh istrinya itu sambil juga berusaha untuk menyadarkan Keira. Aerim langsung menoleh ke arah Raja dari Halida tersebut sambil mengernyitkan dahinya dan berhenti mengguncangkan tubuh Keira.


"Keira! Keira!" serun Higarashi dengan wajah yang dilanda kepanikan begitu melihat istrinya ternyata sedang pingsan.


"Higarashi? Ada apa denganmu dan Keira? Ia baru saja hendak berjalan menuju ke tengah laut!” tanya Aerim dengan wajah yang terlihat kesal.

__ADS_1


Higarashi lalu berhenti untuk membangunkan Keira, kemudian menoleh ke arah Aerim dan menatapnya dengan tatapan yang tajam.


“Tidak ada hubungannya denganmu. Aku akan membawa Keira kembali pulang,” jawabnya.


Higarashi kemudian berusaha untuk menggendong Keira, namun, Aerim langsung menghalangi dengan memasang badan di hadapannya.


“Aerim! Apa yang sedang kau lakukan?!” seru Higarashi sambil mengernyitkan dahinya.


Namun, Aerim langsung tersadar bahwa seharusnya ia bersabar terlebih dahulu. Ia kemudian menghela nafas pendek, lalu menyingkirkan dirinya sendiri dari hadapan Higarashi.


Raja dari Halida itu lantas menggendong Keira di atas punggungnya, lalu berdiri dan lalu berjalan menuju ke sebuah halte bus yang dekat dari sana.


“Dasar pria bodoh,” gumam Aerim.


Setelah Higarashi sudah berada lumayan jauh darinya, Aerim lalu berjalan menuju ke arah restoran yang memang hanya satu-satunya di pantai itu. Begitu ia tiba di sana, ia langsung membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Ia lantas bergegas ke salah satu kursi, dan duduk di atasnya sambil tersenyum lebar.


Seorang wanita berambut hitam kemudian keluar dari dalam dapur, lalu berdiri di hadapannya.


"Aku tidak tahu apa yang sudah dilakukan Chexy, namun, Keira tiba-tiba muncul di pantai ini dan hendak bunuh diri, dengan berjalan ke tengah laut. Bahkan, wajah Higarashi terlihat kesal. Bagaimana menurutmu, Meteorix? Akankah setelah ini, mereka bercerai?" jawab Aerim yang justru balik bertanya.


"Bukankah jika perempuan itu tewas, semua ini akan sia-sia?" tanya wanita itu, yang rupanya adalah Meteorix.


"Maka dari itu aku langsung menyelamatkannya tadi. Ia tidak boleh mati kecuali di tanganku," jawab Aerim tegas.


Aerim lantas tersenyum sinis, namun tidak dengan Meteorix. Wanita itu justru mengernyitkan dahinya.


"Tidak semudah itu untuk memisahkan mereka," ucap Meteorix yang mendadak membuat Aerim terdiam.


Sementara itu, di dalam rumah Keira, Higarashi terlihat sedang berusaha untuk menurunkan panas tinggi yang sedang dialami oleh istrinya. Keira sendiri masih belum sadar, dan kini, ia hanya bisa berbaring di atas ranjang dan berselimut tebal.


Higarashi masih terlihat panik. Ia berkali-kali mengambil sebuah kain dari dalam ember yang berisi air hangat, lalu memerasnya, dan meletakkan kain itu di atas dahi Keira. Ia hanya bisa memandangi wajah istrinya yang sedang tertidur itu penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Apakah demamnya akan menurun? Jenderal Senior Arex baru saja datang dan memintaku untuk melakukan hal ini, namun sudah hampir dua jam dan demamnya belum turun juga," gumam Higarashi.


Tiba-tiba telapak tangan Keira bergerak. Higarashi langsung menggenggamnya erat sambil menciumnya berkali-kali.


"Keira? Apakah kau sudah sadar?" tanyanya, namun, Keira sama sekali tidak merespon.


"Keira," ucap Higarashi, "maafkan aku. Seharusnya aku tidak mengikuti permintaan Chexy. Keira, yang kau lihat itu semua tidak benar. Keira, aku benar-benar minta maaf. Bangunlah, dan aku akan menjelaskan semuanya kepadamu.”


Higarashi kemudian menundukkan kepala hingga dahinya menyentuh ranjang, sambil menangis pelan. Namun, Keira benar-benar masih tidak sadarkan diri. Setelah beberapa saat, pintu kamar itu diketuk oleh seseorang.


“Siapa itu?” tanya Higarashi.


Ia lalu berdiri, melepaskan tangan Keira, kemudian berjalan mendekati pintu sambil menyeka air matanya. Setelah tiba di dekat pintu, ia lantas membukanya.


"Ah, Higarashi! Apakah Keira masih belum sadar juga?" tanya Arex, yang rupanya datang bersama dengan Weim.


"Jenderal Senior …," ucap Higarashi, namun, Weim langsung memotongnya, "Aduh, sudahlah, panggil saja kami dengan sebutan Paman. Gelar itu terlalu panjang."


"Baiklah kalau begitu, Paman Arex dan Paman Weim. Keira masih belum sadar juga, padahal aku sudah dua jam berusaha untuk menurunkan demamnya, namun tidak juga turun …," balas Higarashi dengan wajah sedih.


"Beristirahatlah, Higarashi. Kami akan menjaga Keira bergantian, jadi sebaiknya, kau memulihkan dirimu sendiri dulu, baru nanti kau bisa menjelaskan semuanya," ucap Arex.


Higarashi terdiam sebentar, lalu setelah itu, ia berkata, "Paman-Paman, aku akan pergi menuju ke Planet Diamona. Aku titipkan Keira kepada kalian, tolong.”


"Planet Diamona? Ada apa, Higarashi?" tanya Weim.


"Aku akan membuat perhitungan dengan Chexy!" seru Higarashi dengan wajah yang dipenuhi amarah.


Ia langsung berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Arex dan Weim berdua bersama dengan Keira yang masih terbaring lemah. Arex kemudian menoleh ke arah Weim sambil mengernyitkan dahinya.


"Weim, apakah kau tahu apa yang sudah terjadi?" tanya Arex dengan wajah yang dipenuhi dengan kebingungan.

__ADS_1


Weim sendiri menggaruk kepalanya, lalu menjawab, "Ada apa dengan mereka?"


__ADS_2