Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Kabar Bahagia di Waktu yang Salah


__ADS_3

Xyon kemudian berjalan keluar dari Light Chamber tersebut, dan tidak lupa menutup kembali pintunya. Higarashi yang masih berada di dalam bersama dengan Keira, lalu menghela nafas panjang begitu ia melihat pria tua tersebut sudah tidak lagi bersama dengan mereka.


“Pasti ada cara untuk memutus kutukan itu,” gumam Raja dari Halida tersebut sambil mengernyitkan dahinya.


Higarashi lantas berdiri, kemudian berjalan mendekati Keira dan duduk di sebelah istrinya itu. Keira menghela nafas pendek, sambil menatap suaminya dengan wajah yang tampak gusar.


"Aku akan menemanimu di sini sampai energi cahayamu kembali penuh," bisik Higarashi dengan wajah yang memerah.


"Aku … baik-baik saja, Higarashi. Kau harus segera kembali ke Planet Halida. Leino akan sangat khawatir jika ia tidak mendapatkan kabar darimu, termasuk rakyat Halida yang pasti bertanya-tanya ada apa dengan rajanya," balas Keira dengan nada pelan.


“Tugasku memang adalah menemani kalian untuk menjaga galaksi ini, bukan? Kau tenang saja, Keira. Begini saja, kita akan berlibur untuk seumur hidup, bagaimana?" tanya Higarashi dengan wajah yang tampak sendu.


Keira tersenyum kecil, kemudian menjawab, “Aku sudah memutuskan untuk ikut dalam perang ini, lantas mengapa aku harus mundur ketika aku masih merasa mampu?”


Higarashi langsung meraih tangan kanan istrinya itu dan menggenggamnya erat, lalu mengernyitkan dahinya sambil berkata, “Tidak, Keira. Perdana Menteri Xyon benar. Energi antimateri milikmu tidak bisa diisi ulang, dan aku … aku sangat ….”


Ia tiba-tiba memeluk istrinya dengan air mata yang menetes membasahi wajahnya. Keira terkejut, namun, Permaisuri dari Halida tersebut kemudian menepuk-nepuk punggung Higarashi untuk menenangkannya.


“Aku … hanya merasa tidak enak badan, sayang. Kau harus segera kembali ke Planet Halida terlebih dahulu, aku akan pergi ke sana nanti setelah energi cahayaku sudah kembali penuh. Aku … hanya ingin tidur satu hari ini saja,” bisik Keira.


Higarashi kemudian melepaskan pelukan itu dan menatap istrinya tersebut sambil menghela nafas pendek.


“Aku akan memanggil seorang perawat ke sini untuk memeriksa dirimu, lalu kembali dengan cepat setelah urusanku di sana bisa kuserahkan kepada Leino untuk sementara waktu,” balas Higarashi.


Keira mengangguk dan tersenyum kepadanya. Higarashi kemudian melepaskan genggaman dari tangan istrinya itu, lalu berjalan keluar dengan langkah yang cepat. Keira hanya bisa menatap pintu yang kini sudah tertutup rapat, dengan dirinya sendiri di dalam Light Chamber tersebut.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, seorang perawat wanita yang mengenakan baju perawat putih dan memiliki warna rambut yang berwarna sama, masuk ke dalam dan berjalan mendekatinya. Keira kemudian tersenyum, dan perawat wanita itu kini sudah berdiri di hadapannya.


“Yang Mulia Permaisuri dari Halida,” ucap perawat wanita tersebut sambil membungkukkan badannya, “Aku adalah Kepala Perawat Yeria, datang atas perintah Yang Mulia Raja dari Halida.”


“Terima kasih sudah datang, Kepala Perawat Yeria,” balas Keira.


Yeria lalu kembali berdiri tegak dan menatap Keira dengan kedua bola matanya yang berwarna hitam, sambil tersenyum kecil dan merogoh saku kiri baju perawatnya. Ia lantas mengeluarkan Neuroxeth dari dalam saku bajunya tersebut.


“Yang Mulia, silakan berbaring terlebih dahulu. Aku akan memeriksa kondisi kesehatan Anda,” ujar Yeria sambil menggenggam Neuroxeth itu erat-erat.


Keira mengangguk sekali, kemudian berbaring di atas ranjang. Yeria langsung mengayunkan Neuroxeth mengelilingi tubuhnya, dan alat itu tiba-tiba menyala. Lampu yang sinarnya berwarna putih dari alat tersebut tiba-tiba berubah menjadi merah, dan keduanya lantas terkejut.


Yeria lantas mendekatkan alat itu di hadapannya dan membaca hasil diagnosa yang ada di layar kecil Neuroxeth tersebut. Ia langsung melotot tajam setelahnya, dan membuat Keira panik karena sikapnya.


“Ada apa, Kepala Perawat Yeria? Mengapa kau … menjadi sangat terkejut?!” tanya Keira sambil mengernyitkan dahinya.


Keira langsung terbangun dan duduk di atas ranjang, sambil menatap Yeria dengan wajah yang serius.


“Katakan kepadaku, apa yang membuatmu tampak panik, Kepala Perawat?” tanya Keira lagi.


“Yang Mulia …, itu …,” balas Yeria dengan bibir yang gemetar.


“Katakan saja, aku sudah siap mendengarkannya,” balas Keira.


Yeria menelan ludahnya, dengan keringat dingin yang kini membasahi wajahnya.

__ADS_1


“Apakah Anda … merasa tidak nafsu makan, serta mual, dalam beberapa hari ini?” tanyanya.


“Aku memang tidak begitu menyukai makanan yang ada di sini, dan baunya saja sudah membuatku mual. Sebenarnya, ada apa, Kepala Perawat? Apakah aku sakit keras?” tanya Keira, kali ini dengan wajah yang tampak panik.


Yeria kemudian kembali berdiri tegak dan menatap Keira dengan wajah yang tampak gusar. Ia bahkan menelan ludahnya sekali lagi sambil mengernyitkan dahi.


“Maafkan aku, Yang Mulia … maafkan pertanyaanku yang lancang ini, namun, sebagai makhluk mortal, apakah Anda sudah datang bulan?” tanyanya dengan bibir yang masih gemetar.


Keira tersenyum kecil, lalu menjawab, “Ah, kalian para immortal tidak pernah merasakan lagi yang namanya datang bulan seperti manusia, bukankah begitu? Pantas saja kalian harus menggunakan Wormbye. Ah, aku tidak begitu ingat, karena terlalu sibuk, astaga. Aku terus disibukkan dengan banyak hal, sampai aku lupa kapan tepatnya aku terakhir datang bulan. Apa itu sudah terjadi dua bulan lalu?”


“Yang Mulia, kami para immortal bisa saja hamil dan melahirkan dengan cara mortal seperti … mendiang Yang Mulia Ratu Anexta, ibu kandung Anda, namun, hanya jika ia punya tekad yang sangat kuat dan energi kosmik yang ada di dalam tubuhnya … cukup,” balas Yeria.


Ia menghela nafas panjang setelah itu, sementara Keira tampaknya berusaha untuk tidak tegang dengan menertawakan dirinya sendiri untuk beberapa saat.


“Ah, katakan padaku, apakah separah itu penyakitku? Jika memang demikian, aku harap, kau untuk tidak … memberitahukan kepada siapa pun mengenai hal ini, dan tentu saja, ucapanku barusan adalah perintah,” ucap Keira dengan wajah yang tampak ceria.


“Anda tidak sedang sakit, Yang Mulia, Anda sangat sehat, namun …,” ucap Yeria, namun, ia mendadak berhenti berkata-kata.


“Oh, apakah aku kelelahan berat? Aku memang merasa sakit perut dan mual, juga pusing. Aku rasa aku harus mengambil liburan untuk beberapa hari, untuk mengatasi rasa lelah ini,” balas Keira dengan canda.


Namun, Yeria langsung menatapnya dengan wajah yang serius kali ini, hingga Permaisuri dari Halida itu tiba-tiba menjadi gusar karena tatapan dari sang Kepala Perawat.


“Anda sedang mengandung dua orang anak laki-laki, Yang Mulia. Anak kembar,” ujar Yeria dengan sorot mata yang tajam.


Keira terdiam. Matanya melotot ke arah Yeria, dengan wajah yang tampak terkejut. Badannya mendadak gemetar dan jantungnya kini berdetak kencang.

__ADS_1


“Tidak mungkin. Tidak ada satu orang dokter pun di Planet Bumi yang bisa memberikan diagnosa yang sangat akurat seperti itu, Kepala Perawat. Lagi pula … jika memang aku sedang mengandung, berarti usia kandungan ini mungkin satu atau dua bulan. Tidak mungkin kau bisa mengetahui jenis kelamin anak itu sebelum berusia tiga atau empat bulan bukan?” tanya Keira sambil mengernyitkan dahinya.


__ADS_2