Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Teriakan Malam Hari


__ADS_3

Keira langsung menahan ayunan pedang kosmik milik anak laki-laki itu dengan salah satu pedang kosmik miliknya. Mereka berdua kemudian saling bertatapan dengan sorot mata yang tajam. Anak laki-laki itu bahkan terlihat sangat terkejut dengan aksi Keira barusan, untuk beberapa saat, namun ia justru tersenyum sinis setelahnya.


“Kau adalah anak Crossbreed itu, rupanya. Aura dari energi yang kurasakan pada dirimu sungguh kuat sekali, berbeda seperti immortal lainnya,” bisik anak laki-laki berambut abu-abu dengan bola mata emas tersebut.


Wajah Keira yang tadinya terlihat ketakutan, kini berubah menjadi sangat serius. Kedua bola matanya bahkan fokus menatap ke arah lawannya itu.


“Jangan pernah mendekati kedua orang tua angkatku, atau aku yang akan menyerangmu,” balas Keira.


“Hmm, seorang gadis kecil yang sangat berani. Dari mana kau mendapatkan keberanianmu itu, Keira?” tanya anak laki-laki itu lagi.


Tiba-tiba, seseorang dari luar perkebunan bunga krisan itu berteriak, “Keira! Apakah kau masih berada di sana?”


Anak laki-laki tersebut langsung berjalan mundur dua langkah dan menjauhi Keira karena terkejut dengan teriakan itu, kemudian ia berkata, “Kita akan bertemu lagi, Keira. Sampai jumpa!”


Seluruh tubuhnya lalu diselimuti oleh kabut-kabut hitam, dan ia langsung menghilang entah ke mana. Sementara Keira, kedua bola matanya mendadak berubah kembali menjadi biru muda, dan dua buah pedang kosmik yang ada di dalam genggaman kedua tangannya juga ikut menghilang begitu saja.


“Huh?” gumam Keira yang terlihat sedikit kebingungan, “Apa yang sudah terjadi kepadaku barusan?”


Seorang wanita kemudian masuk ke dalam perkebunan bunga krisan itu dan tersenyum kepadanya, lalu berkata, “Keira, sudah waktunya untuk pulang.”


Keira langsung menoleh ke arah wanita tersebut dan membalas, “Baiklah, Ibu.”


Wanita itu adalah Eleina, dan Keira kemudian mengikuti langkah ibu angkatnya itu, untuk kembali pulang ke toko minuman milik mereka.


Sementara itu di dalam istana Planet Palladina, seorang pria terlihat berlari dengan terburu-buru menuju ke ruang kerja pribadi Xyon.

__ADS_1


Ia bahkan membuka pintu ruangan itu dengan kasar dan masuk ke dalam dengan tergesa-gesa, kemudian berteriak, "Xyon! Ada pergerakan dari dalam Planet Silverian! Akhirnya!”


Xyon yang sedang duduk di atas sofa sambil membaca sebuah buku kosmik, langsung saja terkejut dengan teriakan pria tersebut barusan, namun setelah ia melihat siapa yang datang, wajahnya langsung berubah menjadi serius.


"Ada apa kali ini, Weim? Bukankah Flerix sudah tewas? Atau jangan-jangan, kali ini adalah ulah dari pria Silverian yang bernama Dovrix itu?" tanya Xyon.


Weim mengambil nafas panjang terlebih dahulu, lalu menjawab dengan cepat, "Aku melihat sebuah bintang kecil yang keluar dari dalam planet itu dan melesat dengan cepat menuju ke Galaksi Bima Sakti!"


Xyon menghela nafas pendek, lalu bertanya, “Apakah kau yakin bintang itu melesat ke sana?”


“Lubang cacing mana lagi yang ujungnya adalah Galaksi Bima Sakti, Xyon?” tanya Weim dengan wajah yang terlihat kesal.


Xyon menghela nafas panjang kali ini, lalu ia berdiri dan menatap Weim dengan wajah yang serius.


“Sudah enam tahun lebih sejak tewasnya Flerix, dan mendiang Yang Mulia Ratu hanya berkata kepadaku untuk berhati-hati dengan seorang pria Silverian yang bernama Dovrix. Lantas, apakah pria itu sudah memutuskan untuk keluar dan merencanakan sesuatu?” gumam Xyon dengan nada yang sedikit tinggi.


Xyon mengernyitkan dahinya, lalu menjawab, “Aku hanya takut akan satu hal, yakni mereka bisa saja mengetahui keberadaan dari anak Crossbreed itu.”


“Akankah kau ke sana, Xyon? Kau bahkan tidak pernah kembali ke Planet Bumi walaupun hanya untuk melihat Putri Keira dari kejauhan. Yang kau lakukan hanyalah meminta kami berempat secara bergantian untuk menjaganya,” ucap Weim dengan nada yang sedikit kesal.


Xyon terdiam untuk sesaat, lalu ia kemudian kembali berkata, “Kita akan ke sana. Aku harus memastikan bahwa anak Crossbreed itu baik-baik saja dan mereka tidak sedang mengincarnya.”


Ia lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut, dan Weim mengikutinya dari belakang. Wajah Perdana Menteri dari Palladina itu tampak terlihat penuh dengan kekhawatiran, sehingga langkahnya menjadi agak sedikit terburu-buru.


“Apa para Silverian itu sudah tahu dimana anak Crossbreed tersebut berada? Atau apakah mereka hanya sedang menginginkan sumber daya Planet Bumi saja?” gumam Xyon di dalam hatinya.

__ADS_1


Di dalam Planet Bumi, seorang wanita terlihat sedang berjalan dengan santai sambil membawa sebuah tas kecil, lalu ia berhenti tepat di depan perkebunan bunga krisan milik Eleina dan Dairu. Wajahnya mendadak berubah menjadi kebingungan karena pagarnya tidak tertutup sama sekali.


“Hmm, tidak biasa sekali bagi Eleina dan Dairu. Mengapa mereka tidak menutup pagarnya? Walaupun ini sudah malam hari, mereka juga tidak menyalakan lampu di depan,” gumam wanita itu.


Ia lalu masuk ke dalam, dan tanpa sengaja ia melihat tubuh Eleina dan Dairu yang sudah terbujur kaku di atas tanah dengan darah yang mulai mengalir dari dalam luka-luka mereka tepat di tengah-tengah perkebunan bunga krisan itu. Kedua matanya langsung melotot tajam, dan wajahnya kini berubah menjadi penuh rasa ketakutan.


"Kyaaaaa!!! Tolong! Tolong!" teriak wanita itu berkali-kali sambil berjalan mundur keluar dari perkebunan bunga krisan tersebut, dan teriakannya itu membuat beberapa orang keluar dari rumah mereka yang berada di sekitar situ karena terganggu.


Mereka kemudian berkumpul dan mengelilingi wanita itu dengan wajah-wajah yang terlihat kesal, namun juga penasaran dengan apa yang sudah dilihat olehnya.


Seorang pria lantas menghampiri wanita itu kemudian bertanya dengan nada tinggi, "Berisik sekali! Ini sudah malam hari! Ada apa memangnya di sana hingga kau berteriak dan ketakutan seperti itu?"


"Mereka berdua adalah pemilik toko minuman di sana!" seru wanita tersebut sambil menunjuk-nunjuk ke dalam perkebunan bunga krisan itu, dan membuat beberapa orang yang penasaran kemudian berjalan mendekati pagarnya.


Seorang pria lain yang baru saja berhasil melihat dari dekat apa yang ada di dalam perkebunan bunga krisan tersebut, langsung terkejut dan berteriak, "Mereka berdua sudah tewas!!!”


“Siapa yang membunuh mereka?” tanya seorang wanita.


“Astaga, kapan mereka dibunuh? Mengapa tidak ada yang melihat kejadiannya?” tanya seorang pria.


Orang-orang mulai terkejut dan mereka bahkan berspekulasi tentang kematian Eleina dan Dairu. Namun, wanita yang pertama kali menemukan jasad mereka, terlihat berusaha untuk kembali tenang dan berdiri dengan tegak.


“Aku harus memberitahukan hal ini kepada anak angkat mereka, yang mungkin masih menunggu di sana!” serunya.


Ia kemudian berlari menuju ke toko minuman milik Eleina dan Dairu, meninggalkan kerumunan orang yang masih berada di sekitar perkebunan bunga krisan tersebut.

__ADS_1


“Jam malam sudah diberlakukan, siapa yang membunuh mereka secara diam-diam tanpa diketahui orang lain? Astaga, mengerikan,” ujar seorang wanita tua sambil melirik ke dalam perkebunan itu.


Tidak ada yang berani masuk ke dalamnya. Mereka hanya memperhatikan dari luar, namun, justru tiba-tiba, semakin banyak orang yang berkumpul di sana karena rasa penasaran.


__ADS_2