Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Masa Lalu - Bagian III


__ADS_3

Xyon lantas masuk ke dalam kamarnya sendiri langsung menghela nafas panjang. Ia kemudian mengunci kembali pintunya dengan kunci yang sama, namun kali ini, ia memutarnya dengan perlahan hingga pintu tersebut akhirnya bisa terkunci rapat.


“Gadis itu memang benar, tidak semua hal harus disikapi dengan kasar,” gumamnya lagi sambil tersenyum kecil.


Hari itu dilalui oleh Xyon dengan latihan fisik di dalam kamar, dan tidak menyadari bahwa hari sudah semakin larut. Perutnya mendadak berbunyi dengan keras sehingga ia terpaksa menghentikan latihannya, lalu duduk di atas ranjang sambil menatap lurus ke depan.


“Aku … benar-benar lupa membawa uang Bumi,” ucapnya pelan.


Ia kemudian berbaring dan tertidur, sampai tidak menyadari bahwa pagi akan segera menjadi siang. Xyon bahkan masih menikmati mimpi-mimpi indah di dalam alam kapuk.


Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya.


"Xyon!" seru seorang perempuan dari balik pintu tersebut.


Namun, pria muda itu masih belum terbangun juga.


"Xyon! Hei!" teriak perempuan tersebut sambil masih mengetuk pintu kamar dengan semakin keras.


Kali ini Xyon terbangun, dan langsung membuka kedua matanya lebar-lebar, lalu melihat ke luar jendela sambil masih berbaring di atas ranjangnya.


"Xyon!! Bangunlah!!" seru perempuan itu lagi, sambil mengetuk pintu dengan semakin keras.


"Astaga!! Ini sudah hampir siang hari!" gumam Xyon, dan dengan terburu-buru, ia bangun dari ranjangnya lalu berseru, "Tunggu sebentar!!"


Ia lantas berlari mendekati pintu dan membukanya dengan tergesa-gesa, lalu menatap ke arah seorang perempuan yang wajahnya mulai kesal karena sudah lama menunggunya di depan pintu kamarnya sejak tadi.


"Yang Mulia! Astaga, maafkan aku!!!" seru Xyon sambil melotot, kemudian ia membungkukkan badannya di hadapan perempuan tersebut.


"Astaga, Xyon!" balas wanita itu yang rupanya adalah Klara sambil membawa sebuah kantung kecil dengan tangan kanannya, “ada apa denganmu? Mengapa kau baru bangun siang hari begini?!”


“Maafkan aku, Yang Mulia,” ucap pria muda tersebut dengan wajah yang memerah karena menahan malu.

__ADS_1


“Ini tidak seperti dirimu, astaga. Tadinya kami ingin mengajakmu untuk pergi bersama, namun ia sudah mengetuk pintu kamarmu berkali-kali tanpa jawaban, jadi kami memutuskan untuk pergi berdua saja,” ujar Klara dengan wajah yang kesal.


Ia kemudian memberikan kantung kecil tersebut untuk kepada Xyon. Pria muda itu lalu berdiri tegak, mengambilnya dari tangan Klara dengan perlahan dan memasukkan benda tadi ke dalam saku celana panjang kanan berwarna coklat yang sedang dipakainya pagi itu.


"Maafkan aku, Yang Mulia! Aku benar-benar berterima kasih!" seru Xyon sambil mulai membungkukkan badannya kembali di hadapan Klara.


"Astaga, kecilkan suaramu! Manusia yang berada di sini bisa saja mendengar kau memanggilku dengan sebutan itu!" bisik Klara.


"Baiklah, Yang Mulia," ucap Xyon yang kemudian berdiri tegak kembali, lalu berkata lagi, "Yang Mulia, aku akan segera bersiap-siap."


"Tidak perlu, Xyon. Pangeran Mahkota sedang berada di sebuah perpustakaan sambil menungguku untuk kembali. Kami ingin menikmatinya berdua saja di sini. Nah, karena kau memiliki waktu untuk sendirian, gunakanlah sebaik-baiknya, termasuk uang Bumi yang kuberikan tadi, jangan dihabiskan dengan cepat. Kalau begitu, aku akan pergi terlebih dahulu," balas Klara dan setelah itu, ia berjalan meninggalkan Xyon yang masih berdiri di sana.


Xyon hanya bisa menghela nafas pendek begitu melihat sang Putri Mahkota kini sudah pergi. Tiba-tiba, Hyerin keluar dari dalam kamarnya yang berada persis di sebelah kamar Xyon. Kedua mata pria muda itu langsung menatap ke arah gadis berambut hitam tersebut.


Hyerin langsung tersadar bahwa Xyon sedang memperhatikannya, dan dengan senyum, ia menatapnya sambil mengunci pintu kamar.



Senyuman Hyerin benar-benar membuat jantung Xyon berdetak cepat hingga ia kebingungan dengan apa yang harus ia katakan untuk membalas ucapan selamat pagi darinya.


“Baiklah kalau begitu, aku akan pergi terlebih dahulu. Sampai jumpa lagi!” ujar Hyerin sambil masih tersenyum lebar, lalu mengambil langkah perlahan untuk keluar dari gedung penginapan tersebut.


"Ah, tunggu!" seru Xyon yang tiba-tiba mencengkram lengan kiri Hyerin hingga gadis itu berhenti melangkah dan menoleh ke arahnya.


Mereka kini saling menatap satu sama lain dengan wajah yang memerah, namun setelah beberapa detik, Hyerixn langsung melepaskan cengkraman tersebut hingga membuat Xyon panik.


“Astaga, maafkan aku, Hyerin,” ucap pria muda tersebut dengan wajah yang memerah.


Hyerin tersenyum kecil, kemudian membalas, “Apa ada yang bisa kubantu lagi, Xyon?"


"Aduh! Mengapa aku berkata seperti itu?!" seru Xyon dalam pikirannya hingga ia terdiam untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Xyon?" tanya Hyerin lagi sambil menatap pria muda itu dengan wajah yang penuh kebingungan.


"Ah, ah, matahari sudah hampir di atas kepala, bukankah ini sudah siang hari?" tanya Xyon, dan entah mengapa ia sendiri kebingungan dengan apa yang baru saja ditanyakannya.


Hyerin tertawa kecil, lalu menjawab, "Ya, aku harus masuk kerja sekitar siang hari, atau pemilik restoran itu akan memarahiku jika datang terlalu telat."


"Pemilik restoran?" tanya Xyon lagi sambil mengernyitkan dahinya.


"Aku bekerja di salah satu restoran yang berada di dekat sini. Sejak kedua orang tuaku sudah tiada, aku pindah ke kota kecil ini dan mulai bekerja untuk menghidupi diriku sendiri, lalu dengan gajiku, aku akhirnya bisa menyewa sebuah kamar untuk tinggal," jawab Hyerin.


"Ah, maafkan pertanyaanku barusan, Hyerin," balas Xyon dengan wajah yang tampak gusar.


Hyerin tersenyum kembali, kemudian berkata, "Ah, tidak masalah, Xyon. Aku senang bisa berteman denganmu. Baiklah, kalau begitu, aku akan pergi terlebih dahulu."


Ia kemudian berjalan dengan cepat untuk keluar dari gedung penginapan tersebut, namun Xyon tidak bisa berhenti menatapnya. Pria muda itu lantas menutup pintu kamarnya dan terdiam untuk sesaat.


"Restoran?" gumamnya pelan.


Setelah beberapa menit, Xyon kemudian berlari keluar, menuju ke jalan utama.


“Restoran, restoran,” ucapnya sendiri.


Sambil memperhatikan sekelilingnya, ia terus melangkah dengan terburu-buru, hingga kedua matanya menatap ke arah sebuah restoran yang jaraknya tidak terlalu jauh dari penginapan tadi. Tanpa keraguan, ia langsung berlari ke sana dan masuk ke dalamnya, kemudian duduk di sebuah kursi di bagian samping kanan restoran tersebut, sambil memperhatikan sekeliling serta meletakkan kedua tangan di atas meja yang ada di hadapannya.


Seorang gadis terlihat berjalan mendekatinya, lalu memberikannya sebuah buku menu dari restoran tersebut. Xyon langsung menoleh dan menatapnya dengan wajah yang datar. Tentu saja gadis itu membalas tatapannya.


"Xyon?!" ucapnya pelan.


"Hyerin?" gumam Xyon, "ah, rupanya kau bekerja untuk restoran ini."


"Astaga, kau mengejutkanku. Baiklah, apa yang ingin kau pesan?" tanya Hyerin sambil merogoh sebuah buku dan pensil dari saku rok pendek putihnya di bagian kiri.

__ADS_1


Xyon lantas membuka buku menu tersebut dan membacanya dengan perlahan, lalu setelah beberapa saat, ia menjawab, "Aku ingin segelas kopi dan kue kecil."


__ADS_2