
Hari ini memang sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar lagi. Namun, hari ini adalah hari pengumuman kelulusan untuk murid-murid tingkat akhir. Para murid terlihat berkumpul dan beramai-ramai melihat secarik kertas berisi pengumuman kelulusan yang sudah ditempelkan oleh pihak sekolah sejak tadi pagi di depan kelas mereka masing-masing. Keira bahkan harus berebut hanya untuk melihat namanya, apakah tertulis di atas kertas itu atau tidak.
“Astaga, namaku!” serunya.
Sementara, karena Higarashi sudah mengundurkan diri dari sekolah, ia memutuskan untuk menunggu Keira dengan berkeliling sekolah tersebut. Tiba-tiba, seorang perempuan terlihat mendekatinya dan menggandeng lengan kanannya.
“Ikutlah denganku!” seru perempuan itu.
“Hei!” balas Higarashi.
Perempuan tersebut memaksa Higarashi untuk mengikutinya entah ke mana, padahal, Keira yang baru saja selesai mengurus administrasi sekolah dan sudah mencari-cari keberadaan Higarashi sejak tadi, ternyata sedang berdiri di kejauhan dan melihat hal tersebut.
“Higarashi? Siapa perempuan itu?” gumamnya pelan.
Ia lantas memutuskan untuk mengikuti mereka berdua dari belakang. Higarashi dan perempuan itu terus berjalan hingga kemudian berhenti di belakang gedung sekolah yang sepi, lalu mereka berdua saling bertatapan dengan wajah yang serius.
Keira sendiri bersembunyi di balik tembok dengan jarak yang tidak jauh dari mereka, sambil memperhatikan keduanya.
"Higarashi, kau harus bertanggung jawab!" seru perempuan itu.
"Hah? Bertanggung jawab untuk apa?" tanya Higarashi dengan wajah yang kebingungan.
"Kau tidak pernah membalas pesan teks yang kukirimkan untukmu, seluruhnya! Kau juga tidak pernah membalas perasaanku, namun, aku kini sedang mengandung, akibat ulahmu!" seru perempuan tersebut.
Kali ini wajah Higarashi berubah menjadi kesal setelah mendengar perkataan itu.
"Hei, Demira. Kau sendiri yang berkata bahwa aku tidak pernah membalasmu, lalu mengapa kehamilanmu menjadi tanggung jawabku? Aku tidak pernah menyentuhmu, bahkan kita hanya beberapa kali bertemu! Dengar, aku mematikan ponselku karena aku pikir pada awalnya, aku bisa mencari informasi mengenai gadis itu di sana, namun ternyata tidak. Aku sudah menemukannya jadi aku pikir ponsel itu tidak lagi berguna untukku!" serunya, dengan nada kesal.
__ADS_1
"Tapi ini semua ulahmu! Kau harus bertanggung jawab!" sahut perempuan itu lagi, yang ternyata adalah Demira.
Higarashi kemudian menghela nafas panjang, kemudian menatap Demira dengan wajah yang terlihat kesal
"Sebenarnya kau ini kenapa? Aku mulai mencurigaimu. Mengapa kau sangat memaksaku untuk menyukaimu, dan bahkan kali ini memaksaku untuk mengakui kandunganmu walaupun aku tidak pernah menyentuhmu sama sekali? Ehm, begini saja, aku akan membantumu untuk menemukan pria yang tidak bertanggung jawab itu, sebagai tanda terima kasihku karena waktu itu kau sudah membantuku untuk menemukan ruang kelas tiga-satu," balas Higarashi, masih dengan wajah yang kesal.
Demira hanya bisa terdiam sambil menatap pria itu dengan penuh amarah. Ia bahkan mengepalkan telapak tangan kanannya, namun, ia mendadak mengurungkan niat untuk berdebat dengan Higarashi. Ia kemudian menghela nafas panjang sambil menatap pria itu dengan wajah yang sendu.
"Tidak perlu, aku hanya … aku … sudahlah," ucap Demira pelan, kemudian ia berjalan meninggalkan Higarashi begitu saja.
Setelah Demira sudah tidak terlihat lagi, Higarashi kemudian menoleh ke belakang.
"Keluar saja, Keira. Aku sudah melihatmu mengikutiku sejak tadi,” ucapnya.
Keira langsung keluar dari balik tembok tersebut dan dengan ragu, ia berjalan mendekati Higarashi, lalu berdiri agak jauh darinya.
"Aku tidak perlu mengatakan apapun lagi kepadamu, Keira. Demira itu …," ucap Higarashi, namun Keira langsung memotongnya, "Demira adalah nama gadis itu? Entah mengapa aku merasakan aura yang kuat dari dalam dirinya.”
"Ah, sudahlah, Keira. Bagaimana, kau lulus, bukan?" tanya Higarashi dengan senyum yang lebar di wajahnya.
"Hmm, iya, aku lulus, dan upacara kelulusan akan diadakan satu minggu dari sekarang," jawab Keira.
"Nah, besok sudah libur sebelum hari kelulusan, bukan? Bagaimana jika kita bersenang-senang untuk tujuh hari ke depan, sebelum upacara kelulusan? Sekali-kali, Keira, kau membutuhkan sedikit liburan," ucap Higarashi pelan.
Keira hanya tersenyum, namun Higarashi langsung menggandeng tangannya dan berseru, "Baiklah, jalan-jalannya akan dimulai dari … sekarang!!"
Lalu ia menarik Keira dan membawanya berjalan-jalan, walaupun hanya sekadar makan siang bersama, atau melihat-lihat toko di sepanjang jalan, namun mereka tampaknya hari ini tidak akan pulang cepat.
__ADS_1
Keira tampaknya senang dengan ajakan tersebut, walaupun sesekali, ia merasa gusar.
“Bagaimana ini … bagaimana?” gumamnya di dalam hati.
Sementara itu di dalam istana planet Silverian, Aerim terlihat sedang berada di dalam ruang kerja pribadinya, sambil duduk di atas kursi dan membaca sebuah buku kosmik yang melayang di hadapannya. Tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka dengan kasar, dan Demira langsung masuk ke dalam dan berdiri di hadapan Aerim.
"Aerim! Kau harus bertanggung jawab! Aku sedang mengandung anakmu!" serunya dengan lantang.
"Duduklah terlebih dahulu, dan tutuplah pintunya," balas Aerim tanpa menoleh kepadanya.
Demira kemudian menutup rapat pintunya, lalu menatap kembali Aerim dan berseru lagi, "Kau, sebaiknya kau tegaskan padaku, tentang status hubungan kita ini!"
"Apa yang kau inginkan, apakah menjadi seorang permaisuri?" tanya Aerim dengan santai.
"Aku hanya ingin anak ini memiliki status yang jelas, karena ini adalah anakmu!" balas Demira dengan wajah yang kesal.
Aerim kemudian berdiri dan berjalan mendekati Demira, sementara buku kosmik tadi mendadak jatuh di atas kursi yang baru saja didudukinya. Ia lalu berdiri di samping wanita itu dan memeluk pinggangnya.
"Anak ini adalah anakku, tidak mungkin aku tidak mengakuinya. Baiklah, kau sudah berusaha banyak untuk diriku dan planet ini dan kau sedang mengandung, beristirahatlah terlebih dahulu, sementara aku akan merencanakan hal lain agar gadis Crossbreed itu bisa menjadi penolong bagi kita … dan anak yang ada di dalam kandunganmu," ucap Aerim pelan.
“Aerim …,” bisik Demira.
Perasaannya kepada pria itu membuat hatinya luluh. Aerim kemudian menggandengnya dan membawanya menuju ke sebuah kamar yang ada di pojok kanan salah satu lorong istana. Lalu, ia dengan perlahan membuka pintunya dan kembali menatap Demira.
"Beristirahatlah di dalam sini, dan jadikan kamar ini sebagai kamar pribadimu di dalam istana ini," ucap Aerim.
Demira sepertinya sudah tidak kesal lagi, ia bahkan tersenyum dan memeluk Aerim sambil berkata, "Ah, baiklah, terima kasih, sayang!"
__ADS_1
Aerim hanya tersenyum sinis sambil memperhatikan Demira yang terlihat senang setelah ia masuk ke dalam kamar tersebut dan menjadikan kamar itu sebagai kamar pribadinya, setelah sekian lama ia hanya beristirahat di dalam sebuah ruangan bagi para pelayan.
“Dasar bodoh. Ya, satu lagi wanita bodoh yang hanyut dalam energi cinta. Energi mortal seperti itu, tidak berguna sekali. Lihat saja, ia bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih,” gumam Aerim di dalam hatinya.