Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Pengakuan


__ADS_3

Lonceng pertanda sekolah sudah berakhir terdengar, dan murid-murid langsung berlarian keluar dari dalam ruang kelasnya masing-masing. Higarashi langsung mencari keberadaan Keira di ruang kelas tiga-empat, namun ia sama sekali tidak menemukan gadis itu di mana pun. Dengan berat hati, ia akhirnya berjalan sendirian menuju ke halte bus terdekat agar bisa pulang.


"Di mana lagi ia berada? Astaga, aku terus menerus kehilangan dirinya! Tidak bisa begini terus! Aku … Aku harus segera mengikatnya!" gumam Higarashi dalam hatinya.


Sudah dua kali berganti bus, dan ia terus memperhatikan sekelilingnya berharap bisa bertemu dengan Keira. Namun, sayang sekali. Ia tidak menemukan gadis berambut biru tua itu di mana pun. Dengan penuh kekecewaan, Higarashi kemudian berjalan menuju ke rumah sementaranya.


Ia lalu membuka pintu dan masuk ke dalam, membiarkan pintu tadi menutup sendiri. Dengan tergesa-gesa, ia masuk ke dalam kamar dan berjalan menuju ke ranjang, kemudian berbaring di atasnya setelah membuka sepatu.


“Keira … aku tidak menyangka sama sekali … sebentar. Gadis berambut pirang itu sepertinya bukan manusia. Aku bisa merasakan energi immortal dari dalam dirinya. Aku juga bisa merasakan hal yang sama kepada Keira. Apakah mereka berasal dari planet yang sama? Mengapa mereka berada di sini?” gumamnya pelan.


Sementara itu di dalam istana Planet Silverian, seorang pria terlihat sedang duduk di atas sebuah kursi di depan meja kerja miliknya. Seorang wanita juga terlihat duduk di sebelahnya sambil memeluk pria tersebut dengan erat.


"Jadi, Higarashi sudah menemukan anak Crossbreed itu?" tanya pria tersebut dengan wajah datar.


"Seberapa kuat usahamu untuk tidak mempertemukan mereka berdua, tetap saja pada akhirnya alam semesta yang menentukan," jawab wanita itu.


"Aku benar-benar tidak menyangka pangeran bodoh itu akan benar-benar datang. Ia hanyalah seorang anak kecil pada waktu itu, yang tidak kuperhitungkan sama sekali. Benar-benar sialan, mengacaukan rencanaku saja," ucap pria tersebut dengan kesal.


Wanita itu kemudian menghela nafas panjang dan melepaskan pelukannya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan? Aku sudah berusaha menarik hatinya, namun ia tampaknya tidak bergeming sama sekali. Aku takut kau akan cemburu karena hal ini, sayang," bisiknya.


"Tidak. Itu memang rencana yang tidak terduga, dan mau tidak mau harus dijalankan karena hanya kau yang bisa melakukannya," ujar pria itu dengan suara yang pelan.


Wanita tersebut terlihat kesal dan berseru, “Lalu sampai kapan kita harus menyamar menjadi murid sekolah? Kita sudah berusia dua puluh dua tahun, sayang. Mereka akan segera mencurigai kita, Aerim!!”

__ADS_1


Pria itu ternyata Aerim. Ia kemudian berdiri dan menatap wanita tersebut dengan senyum sinis, lalu memeluknya erat-erat.


“Bantu aku lagi, Demira,” bisiknya.


Wanita tersebut rupanya adalah Demira. Ia hanya bisa memejamkan kedua matanya, lalu mencium bibir Aerim. Mereka sangat menikmati suasana romantis di dalam ruangan itu, berdua saja. Demira bahkan tidak melawan sama sekali, dan menikmati setiap sentuhan jari-jemari pria itu pada tubuhnya.



Kembali ke Planet Bumi yang kini sudah berganti hari. Higarashi pergi bersekolah pada pagi ini … dengan penuh harapan bahwa Keira akan muncul lagi di dalam bus yang sama dengan dirinya seperti kemarin, namun ternyata tidak.


“Ternyata tidak semua kebetulan,” gumamnya.


Begitu ia tiba di sekolah, Higarashi langsung mencari Keira hingga ke dalam ruang kelas tiga-empat dan atap sekolah, namun masih tidak menemukan gadis berambut biru tua itu. Lonceng pertanda masuk kelas belum berbunyi, sehingga ia memutuskan untuk terus mencari Keira hingga ke halaman belakang sekolah yang sepi.


Namun, begitu ia tiba di sana, ia justru melihat Chexy bersama dengan Keira, dari kejauhan. Langsung saja, Higarashi bersembunyi di balik sebuah pohon besar di dekat mereka, sambil berusaha untuk mengintip dan mendengarkan keduanya.


Chexy langsung meraih rambut Keira, lalu menariknya sambil berkata, "Jangan mendekati pria itu lagi. Kau tidak cocok dengannya. Aku lebih pantas untuk Higarashi, karena aku adalah gadis tercantik di sekolah ini. Mengerti?"


"Aku tidak ingin bersekolah lagi. Aku akan berhenti sampai di sini, apakah itu cukup untukmu?" seru Keira.


Chexy tertawa kecil, lalu ia membalas, “Untuk apa? Ujian akhir sudah di depan mata. Aku tidak sekejam itu, yang kuinginkan hanyalah kau menjauhi Higarashi karena ia dan aku sudah berjodoh.”


“Berjodoh? Apakah kau … dijodohkan dengannya? Tidak mungkin. Aku bahkan melihatnya kemarin bersama dengan seorang murid perempuan lainnya,” ucap Keira.


Chexy langsung merasa kesal setelah mendengar ucapan tersebut.

__ADS_1


“Perempuan sialan! Jaga mulutmu!” serunya sambil mendorong Keira hingga gadis berambut biru tua itu terjatuh di atas tanah.


Karena melihat hal itu, Higarashi langsung keluar dari persembunyiannya dan berlari dengan cepat mendekati Keira. Ia kemudian berdiri di depan gadis itu sambil menatap Chexy dengan sorot mata yang tajam dan wajah yang serius, hingga gadis berambut pirang itu terkejut akan kedatangannya.


"Aku sudah bilang kemarin, bukan? Jangan pernah menyentuh Keira lagi!" seru Higarashi.


Ia kemudian memutar tubuhnya ke belakang dan membantu Keira untuk berdiri, lalu kembali menatap tajam Chexy yang masih terlihat kesal kepada Keira.


"Siapakah dirimu memangnya? Apakah kau berhak mencampuri urusanku dan gadis bodoh itu?" tanya Chexy dengan nada tinggi.


"Ya, aku sangat berhak!" ucap Higarashi, lalu ia merangkul bahu Keira dan melanjutkan, "Keira adalah kekasihku. Kali ini tidak akan kubiarkan lagi kalian menyakitinya! Kau berkata bahwa kita sudah dijodohkan, tolong, tidak perlu mengarang cerita seperti itu. Aku sangat paham bahwa gadis-gadis di sini … menyukaiku.”


Pernyataan Higarashi barusan, membuat Keira terkejut. Bukan hanya Keira, bahkan Chexy juga ikut melotot tajam ke arah pria itu.


"Hei, Higarashi, aku rasa kau harus menarik ucapanmu …,” ucap Keira, namun, belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Higarashi dengan cepat mencium bibirnya di hadapan Chexy.


Jantung Keira mulai berdetak sangat kencang, bahkan ia tiba-tiba sama sekali tidak bisa menggerakan tangannya. Namun, ia tiba-tiba mendorong tubuh Higarashi dan berdiri agak jauh dari pria itu.


"Mengapa kau harus melakukan hal sejauh itu, sementara kita tidak memiliki hubungan apapun?" tanya Keira dengan wajah yang memerah sambil menatap Higarashi.


Higarashi menatap Keira dengan wajah yang serius dan menjawab, "Karena sejak pertama kali aku bertemu denganmu di kota kecil itu, aku memang sudah menyukaimu. Namun ketika aku bertemu lagi denganmu sekarang, aku sudah merasakan cinta kepadamu."


Chexy langsung tertawa setelah mendengar pengakuan cinta itu, untuk beberapa saat.


"Sialan!" ujarnya, “Baiklah. Aku akan membiarkan kalian berdua untuk kali ini, namun, aku akan membawamu kembali pulang, untuk menikah denganku.”

__ADS_1


Chexy kemudian memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua, dengan senyum sinis dan wajah yang terlihat penuh dengan amarah.


“Akan kubuat kau menderita, Keira. Seorang Crossbreed tidak bisa memiliki seorang pangeran dari planet yang ada di dalam Galaksi Metal. Mereka adalah makhluk terkutuk!” gumamnya pelan.


__ADS_2