Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Aura Gelap


__ADS_3

Xyon dan keempat jenderal lainnya bahkan sudah menunggu kedatangan sang ratu sambil berdiri di depan pintu masuk kereta antar planet tersebut. Setelah menunggu untuk beberapa saat, Anexta terlihat sedang berjalan keluar dari dalam istana, menuju ke kereta antar planet yang sudah menunggunya sejak lama.


“Yang Mulia,” seru semua orang yang sedang berada di sana sambil membungkukkan badan mereka untuk beberapa saat, kemudian mereka kembali berdiri tegak dan melanjutkan pekerjaannya masing-masing.


Anexta tiba-tiba berhenti melangkah di hadapan Xyon yang terlihat sedang menundukkan kepalanya.


“Kau sudah tahu apa tujuanku pergi untuk menemui Ryena pada hari ini di dalam Planet Bumi, bukan, Jenderal Senior Xyon?” tanyanya dengan wajah yang serius.


“Tentu saja, Yang Mulia. Aku akan lebih berhati-hati kali ini,” jawab Xyon.


“Kita akan membawa Ryena kembali ke sini, dan menjadikan anak yang sedang dikandungnya itu sebagai seorang Palladina,” ucap Anexta pelan.


“Baik, Yang Mulia. Aku akan mengurus para Silverian itu dengan sebaik mungkin,” balas Xyon.


Anexta kemudian melangkah masuk, diikuti oleh para prajurit yang juga mulai satu per satu masuk ke dalam gerbong-gerbong kereta antar planet tersebut kecuali kelima jenderal yang masih berada di luar.


Setelah semuanya sudah dirasa siap untuk berangkat, Xyon dan keempat jenderal bawahannya langsung mengubah dirinya masing-masing menjadi lima buah bintang kecil, kemudian kereta antar planet tersebut ikut berubah menjadi sebuah bintang kecil.


Mereka kemudian bersama-sama melesat ke atas, ke luar angkasa, dengan kecepatan yang luar biasa. Setelah melewati ratusan planet dan ribuan bintang, sebuah lubang cacing tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Lubang cacing itu langsung terbuka lebar begitu kereta antar planet milik Planet Palladina itu berada di dekatnya.


Begitu kereta antar planet tersebut sudah masuk ke dalamnya, lubang cacing itu dengan cepat menghilang tanpa jejak, dan kini, mereka melewati ruang dan waktu untuk mencapai tujuan mereka, yakni Galaksi Bima Sakti.


Tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya keluar dari ujung lubang cacing yang berada di pinggir Galaksi Bima Sakti, lalu kembali melesat dengan cepat menuju ke Planet Bumi. Ketika mereka memasuki atmosfer planet biru tersebut, awan tebal menghalangi wujud mereka sebagai bintang-bintang kecil, dari pandangan manusia.

__ADS_1


Mereka lalu mendarat di tengah hutan yang sama seperti pada waktu itu. Begitu mereka berubah kembali ke wujud asalnya, para pelayan dan prajurit langsung keluar dari gerbong-gerbong kereta antar planet tersebut. Mereka dengan cepat mendirikan tenda-tenda walaupun hari sudah semakin gelap.


Sementara itu, Weim, Arex, Nordian, dan Sey dengan cepat berjalan ke arah yang berbeda dan mengambil posisi masing-masing di sekitar perkemahan, untuk berjaga-jaga jika ada seorang manusia maupun makhluk immortal lainnya yang mungkin bisa mengancam mereka.


Anexta tiba-tiba keluar dari kereta antar planet miliknya, walaupun tenda pribadinya belum siap didirikan. Ia dengan cepat berjalan masuk ke dalam hutan. Karena terkejut, Xyon lalu memutuskan untuk mengikutinya perlahan dari belakang.


Karena keempat jenderal lainnya sedang berjaga di sisi perkemahan yang berbeda, mereka tidak menyadari hal ini. Bahkan para pelayan dan prajurit yang sibuk mendirikan tenda, juga sepertinya tidak melihat aksi cepat dari sang ratu barusan.


“Raja Flerix, lihat saja. Aku akan mengacaukan seluruh rencana yang sudah kau buat. Kau harus membayar seluruh perbuatanmu atas kedua orang tuaku dan tindakanmu terhadap planet-planet lemah yang ada di dalam Galaksi Metal,” ucapnya dalam hati.


Ia masih berlari dengan cepat menembus semak-semak dan pepohonan lebat, hingga akhirnya tiba di pinggir sebuah sungai yang tampak indah dan airnya terlihat sangat jernih. Kedua matanya langsung menatap ke arah seorang perempuan yang sedang duduk di atas sebuah pohon melintang tepat di seberang sungai tersebut.


"Ryena!!" teriaknya dengan wajah yang terlihat bahagia.


Perempuan itu, Ryena, langsung menoleh ke arah suara yang baru saja memanggil namanya. Ia tersenyum lebar begitu melihat seorang wanita yang sedang berdiri di seberang sungai sambil melambaikan tangan kepadanya.


Anexta langsung memperhatikan perut Ryena yang terlihat membesar, begitu adiknya menoleh ke arahnya.


“Aku akan segera ke sana, tunggu!” serunya.


Ia lalu berjalan dengan tergesa-gesa, hendak menghampiri Ryena yang berada di seberang sungai tersebut, dengan bantuan sebuah pohon yang melintang dan menghubungkan bibir sungai satu dengan yang lainnya.


Namun, begitu Anexta tiba di seberang sungai itu, tiba-tiba saja seorang pria berjalan keluar dari balik sebuah pohon besar yang letaknya tidak terlalu jauh dari posisi Ryena saat ini. Perempuan itu rupanya tidak sedang sendiri. Ia ternyata datang berdua bersama Flerix.

__ADS_1


Anexta langsung terdiam sambil menatap Flerix dengan sorot mata yang tajam. Wajahnya juga mendadak berubah menjadi sangat serius. Dari kejauhan, Xyon rupanya sedang memperhatikan mereka dari balik sebuah pohon besar yang tidak jauh dari bibir sungai tersebut.


Suasana mendadak berubah menjadi tegang. Anexta yang tadinya tersenyum kini berubah menjadi waspada. Flerix juga terlihat sedang menatap sang ratu dari Palladina itu dengan tatapan yang tajam.


Ryena langsung bisa merasakan ketegangan di antara keduanya, hingga ia berseru kepada Anexta, “Kakak, Flerix tidak akan melukai siapa pun. Kami hanya sedang berjalan-jalan di sini sebelum aku melahirkan, karena aku pasti akan bosan jika hanya berada di dalam kamar.”


Ia kemudian berjalan perlahan, hendak mendekati Anexta. Flerix tidak mengikutinya, karena ia sendiri juga sedang waspada terhadap ratu dari Palladina itu. Sambil masih menatap raja dari Silverian tersebut dengan sorot mata yang tajam, Anexta lalu memberanikan dirinya untuk berjalan ke arah Ryena.


Kedua kakak beradik itu kini saling berdiri di hadapan masing-masing. Wajah mereka terlihat bahagia, bahkan senyum lebar dari keduanya membuat suasana sedikit bisa mencair. Anexta bahkan memeluk Ryena sambil meneteskan air mata.


"Kakak!" seru Ryena dengan kedua bola matanya yang berkaca-kaca.


Anexta lalu melepaskan pelukannya, kemudian memperhatikan perut Ryena yang tampaknya sudah semakin membesar.


"Ryena! Aku sangat merindukanmu! Lihat, perutmu sudah membesar seperti ini. Aku sangat senang melihatnya! Selamat atas kehamilanmu!" ucap Anexta dengan senyum lebar di wajahnya sambil menggenggam erat kedua tangan adiknya itu.


Kedua bola matanya tidak berhenti menatap ke arah perut besar Ryena yang sepertinya sudah memasuki bulan terakhir kehamilannya.


"Kakak, ini sudah bulan terakhir dari kehamilanku. Maka dari itu, aku ingin melihatmu … mungkin untuk terakhir kalinya, sebelum aku akan sibuk nantinya setelah menjadi seorang ibu dan seorang permaisuri," ujar Ryena dengan wajah sendu.


Anexta masih tersenyum lebar, ia bahkan mengelus perut besar adiknya itu, namun tiba-tiba saja, senyumnya menghilang dan mendadak, wajahnya berubah menjadi gusar. Ia bahkan terdiam sambil masih memegang perut Ryena dengan tangan kanannya.


Sikap Anexta barusan langsung membuat Ryena menjadi terkejut.

__ADS_1


Ia kemudian bertanya, "Kakak, ada apa? Apakah ada sesuatu dengan kandunganku ini?”


Tanpa menjawab pertanyaan itu, Anexta mendadak berjalan mundur dan menjauhkan dirinya beberapa langkah dari Ryena. Setelah memberikan jarak untuk dirinya dan adiknya itu, ia lalu menatap Ryena dengan sorot mata yang tajam.


__ADS_2