
Arex kemudian berjalan mendekati Keira, lalu ia melihat sebuah ember dengan kain bersih dan air di dalamnya. Ia lalu mengambil ember itu, memasukkan tangan kanannya dan mengambil kain yang basah di sana, namun, ia terkejut begitu tahu bahwa kain dan air itu sudah dingin entah sejak kapan.
"Weim, sepertinya Keira sedang demam dan Higarashi sepertinya tidak tahu jika airnya sudah terlalu dingin. Sebaiknya kau memasak air hangat lagi, dan aku akan berjaga di sini," ucap Arex.
Ia kemudian mengambil ember itu dan berjalan mendekati Weim, lalu memberikannya kepada sahabatnya tersebut.
"Ah, baiklah, aku akan turun ke dapur," balas Weim, lalu ia mengambil ember itu dari tangan Arex, dan berjalan keluar dari kamar, menuju ke dapur yang berada di lantai satu.
Weim yang kini sudah berada di dapur, kemudian meletakkan ember tadi di atas meja makan, sambil menatap ke arah alat-alat masak yang digantung tepat di atas tempat cuci piring, seperti panci, wajan dan mangkuk.
"Aduh, bagaimana caranya? Peralatan masak yang ada di sini sungguh … membuatku kebingungan!" gumamnya sendiri dengan wajah yang terlihat kebingungan.
Ia mulai mengambil panci yang berada di atas meja dapur, menoleh ke arah keran air, lalu membukanya. Setelah panci tersebut penuh dengan air, ia kemudian membawanya dan meletakkannya di atas kompor. Setelah itu, Weim mendadak terdiam.
“Astaga, bagaimana cara menggunakan benda ini?!” serunya sambil menggaruk kepala.
Karena sudah menunggu agak lama namun Weim belum juga memberikan air hangat kepadanya, Arex yang masih berada di dalam kamar bersama Keira, kemudian memutuskan untuk turun ke bawah.
"Astaga lama sekali dirimu, Weim! Ini sudah hampir satu jam! Apa yang sedang ia lakukan sebenarnya? Sebaiknya aku turun saja!" gumam Arex sambil berjalan menuruni anak tangga.
Begitu tiba di sana, ia langsung terkejut melihat Weim dan … dapur yang berantakan.
“Astaga, Weim!” teriak Arex.
Weim lalu menoleh ke belakang dan melihat Arex yang sedang berjalan mendekatinya, lalu berkata, “Arex, aku tidak mengerti cara menggunakan benda ini! Aku sudah mencobanya sejak tadi namun masih belum mengerti juga!”
Arex lalu berdiri di samping Weim, dan membalas, “Astaga, aku … aku hanya pernah melihat Keira menggunakan benda itu, dan ia bisa menyala!”
__ADS_1
“Sebaiknya kita coba lagi,” ucap Weim.
Karena mereka sibuk mencari cara untuk menyalakan kompor, di dalam kamar kini hanya ada Keira sendirian yang masih berbaring di atas ranjang. Tiba-tiba, kabut-kabut hitam muncul di samping Keira dan seorang pria bertopeng mendadak keluar dari dalamnya
Perempuan berambut biru itu kemudian membuka matanya perlahan-lahan, lalu menoleh ke arah pria itu.
“Kau …,” bisik Keira, namun, ia tidak melanjutkan ucapannya karena masih merasa lemas.
Pria bertopeng itu kemudian membungkuk dan meletakkan tangan kanannya di atas kedua mata Keira yang masih terpejam.
“Jadilah milikku, Keira. Bunuhlah mereka semua,” bisik pria bertopeng tersebut.
Kabut-kabut hitam lantas muncul dari balik telapak tangan pria bertopeng itu, masuk ke dalam kedua mata Keira. Setelah merasa sudah banyak kabut-kabut hitam yang ia berikan kepada Permaisuri dari Halida itu, pria bertopeng tersebut kemudian menurunkan tangannya dan kembali berdiri tegak.
Kedua mata Keira tiba-tiba terbuka lebar dan kedua bola matanya juga berubah warna, yang tadinya berwarna biru muda, kini menjadi hitam pekat.
Ia kemudian bangun dari ranjangnya perlahan-lahan, seolah sakitnya mendadak hilang. Pria bertopeng itu lalu melangkah mundur satu langkah ke belakang, dan Keira kini berdiri di hadapannya. Pria bertopeng tersebut kemudian memberikan tangan kanannya kepada Keira.
Dengan pandangan kosong, Keira kemudian bertanya, "Siapa dirimu? Mengapa aku harus mengikutimu?"
Pria bertopeng itu kemudian mendekatkan wajahnya di samping telinga Keira dan berbisik, "Aku adalah anak dari mendiang Raja Flerix, pemimpin Planet Silverian terdahulu. Kau dan aku, kita sudah dijodohkan sejak kecil oleh ayahku, dan seharusnya kau menjadi milikku, jadi, ikutlah bersamaku, Keira."
Perempuan Crossbreed itu terdiam sebentar, lalu menatap pria bertopeng itu, masih dengan tatapan kosong.
"Baiklah kalau begitu, aku akan ikut denganmu," kemudian Keira mengambil tangan pria bertopeng tersebut.
Dengan senang hati, pria bertopeng itu lalu menggandeng Keira serta memeluknya, kemudian tubuh mereka diselimuti oleh kabut-kabut hitam yang pekat, dan menghilang begitu saja tanpa jejak.
__ADS_1
Sementara itu, Weim yang sedang berada di dapur, akhirnya berhasil merebus sepanci air hangat dengan bantuan Arex. Mereka kemudian memindahkan air hangat tersebut ke dalam ember tadi. Arex kemudian menghela nafas panjang setelah pekerjaan tersebut kini telah selesai.
Ia lantas menoleh ke arah Weim dan berseru, "Astaga, sebaiknya kita belajar cara untuk menggunakan peralatan masak di sini! Benar-benar teknologi yang aneh!"
“Sudahlah, sebaiknya kita cepat, mungkin saja Keira sudah terbangun!” balas Weim.
Arex menggelengkan kepalanya, kemudian mengambil ember yang kini sudah berisi air hangat itu dan memegangnya erat-erat. Mereka lalu berjalan menuju ke lantai dua dengan tergesa-gesa. Weim lantas membuka pintu kamar dan membiarkan Arex untuk masuk terlebih dahulu, dan langsung menoleh ke arah ranjang.
“Keira, maafkan kami …,” ucap Arex, namun, matanya langsung melotot tajam.
“Keira? Astaga? Ke mana anak itu?!” seru Weim yang juga ikut terkejut.
Arex kemudian meletakkan ember yang dibawanya di atas sofa yang terletak di samping pintu, lalu berjalan mengelilingi kamar itu untuk mencari keberadaan Keira bersama dengan Weim, namun, Keira tidak ada di mana pun, termasuk kamar mandi yang berada di dalam kamar tidur tersebut.
Karena kebingungan, mereka lantas berdiri di tengah-tengah kamar, lalu menoleh ke arah jendela yang ada di samping ranjang.
“Arex, jendela itu tidak terbuka,” ucap Weim.
“Tidak mungkin Keira melarikan diri, untuk apa? Ia sendiri bisa keluar dari kamar dan turun ke lantai satu. Lagi pula, Keira sedang sakit, tidak mungkin ia bisa dengan mudah membuka kaca yang berat itu!” balas Arex.
"Namun, Keira memiliki Starlet, Arex!" seru Weim.
Arex terdiam sebentar, lalu bertanya, "Ah, aku benar-benar lupa akan hal itu. Weim, mungkin ia sudah tersadar dan langsung kembali menuju ke Planet Halida?"
"Apa? Tanpa memberitahukan apapun kepada kita?" tanya Weim.
"Tapi anak itu sedang sakit, Weim. Mungkin ia hanya ingin bertemu dengan suaminya," balas Arex lagi.
__ADS_1
Kali ini Weim menghela nafas panjang, lalu berkata, "Arex! Lebih baik kita pergi menuju ke Planet Halida terlebih dahulu, siapa tahu Keira memang berada di sana!"
Arex kemudian mengangguk, lalu berdua bergegas keluar dari kamar, berjalan turun menuju ke lantai satu dan setelah itu, keluar dari rumah tersebut dan mengunci pintunya. Karena tidak ada orang sama sekali di sekitarnya, mereka lantas berubah menjadi dua buah bintang kecil yang berwarna abu-abu, lalu melesat ke luar angkasa.