Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Kecemburuan


__ADS_3

"Paman Arex dan Paman Nordian sudah mengatakannya kepadaku ketika mereka bertemu denganmu tadi di tengah perjalanan mereka ke sini," ucap Keira sambil menatap tajam suaminya itu.


“Apa maksudmu, Keira?” tanya Higarashi sambil mengernyitkan dahi.


“Mereka tidak sengaja melihatmu di sana bersama dengan Viora, sambil berpelukan," jawab Keira, datar tanpa ekspresi.


Higarashi terdiam. Wajahnya memerah. Ia bahkan mulai menelan ludahnya sendiri.


"Keira! Aku akui bahwa aku memang pernah menyukai Viora, namun perasaan itu sudah sangat lama hilang, dan aku tidak ingin menyakiti hatimu lagi! Tolong jangan membicarakan hal ini terus menerus! Aku tidak sengaja bertemu dengannya dan ia langsung memelukku setelah aku menawarkan kepadanya untuk menjadi pelayan di istana kerajaan Halida!" seru Higarashi.


Keira tersenyum sinis, lalu membalas, “Kau menawarkan kepadanya untuk menjadi pelayan istana?”


“Ya, karena ia takut jika Aerim tahu bahwa ia pernah membantuku menemukan dirimu. Ia selama ini hidup berpindah-pindah dan aku …,” ucap Higarashi, namun Keira langsung memotongnya dengan berkata, “Kau tidak ingin kehilangan dirinya lagi.”


Higarashi kembali terdiam. Keira tiba-tiba memeluknya dengan erat.


“Terima kasih untuk mendekatkan dirinya kepadamu, Higarashi. Aku akan segera mengakhiri ini semua dan mengembalikan apa yang seharusnya kau dapat sejak lama,” bisiknya pelan.


Raja dari Halida itu melotot tajam, kemudian membalas, “Keira, apa yang sedang kau bicarakan?”


“Aku tidak bisa lagi melakukan Televatia kepadamu, maka dari itu, aku akan segera menceraikanmu. Tunggu saja hingga waktunya tiba. Setelah ini semua berakhir, aku akan membuatkan sebuah dunia yang tidak akan pernah lagi menyakitimu dan anak-anak kita,” ujar Keira sambil meneteskan air matanya.


Higarashi tidak membalas ucapan tersebut. Ia justru kebingungan dengan apa yang baru saja dikatakan istrinya, namun, perceraian itu membuatnya ketakutan. Ia langsung melepaskan pelukan tersebut dan menatap Keira dalam-dalam sambil mencengkram kedua bahu perempuan berambut biru tua itu.


“Namun, aku tidak ingin melepaskanmu!” seru Higarashi dengan mata yang memerah.


“Kau tidak bisa terus menerus bersama dengan seorang Crossbreed yang dikutuk oleh alam semesta, Higarashi!!” balas Keira dengan nada tinggi dan wajah yang tampak kesal, walaupun suaminya itu bisa melihat jelas air mata yang mengalir membasahi wajahnya.

__ADS_1


Sementara itu, di dalam istana Blackerian, Meteorix terlihat sedang berdiri sambil menggenggam satu gelas yang berisi minuman, tepat di depan sebuah jendela besar yang memperlihatkan langit hitam dengan garis-garis emas planet itu.


"Nyonya, apa rencana anda setelah ini?" tanya Dovrix yang tampak berlutut di belakang wanita tersebut.


"Sudah waktunya, Dovrix. Aku akan membuat perhitungan mereka semua setelah ini," balas Meteorix dengan wajah yang kesal.


Ia mendadak dengan cepat melemparkan gelas yang sedang digenggamnya, ke arah meja yang berada agak jauh di depannya hingga Dovrix menoleh ke arah pecahan gelas tersebut. Wajah Meteorix memerah, seolah sedang menyimpan banyak amarah.


“Andaikan saja Flerix yang bodoh itu berhasil, aku tidak perlu sampai harus turun tangan seperti ini. Sungguh merepotkan sekali! Ia justru membuat seorang Crossbreed lahir dan mengacaukan rencanaku untuk menghancurkan Xyon! Sialan! Aku mengumpulkan energi gelap dengan susah payah dan memberikan pil-pil hitam itu kepadanya, dan ia justru membuat semuanya berantakan!” teriak Meteorix sambil melotot tajam.


Hyerixon tiba-tiba keluar dari salah satu ruangan di sana, dan langsung terkejut begitu ia melihat ke arah meja yang di bawahnya kini banyak pecahan gelas. Ia lantas menoleh ke arah Meteorix dan menatap istrinya itu dengan wajah yang serius.


"Astaga, sayang!" gumam Hyerixon.


"Sayang?! Tolong jangan pernah lagi memanggilku dengan panggilan bodoh seperti itu! Kau tidak pernah mencintaiku, bukan?!" seru Meteorix dengan wajah yang benar-benar kesal sambil melotot ke arah suaminya.


"Pernikahan kita hanya terjadi karena keinginan untuk membalas dendam kepada Xyon saja, tidak lebih!" balas Meteorix dengan nada tinggi, “jangan lagi kau memanggilku dengan sebutan seperti itu! Memalukan saja!”


Wajah Hyerixon langsung berubah menjadi kesal.


"Baiklah, Dovrix, kau bisa pergi sekarang. Aku akan memberitahukan kepadamu rencana berikutnya," ucap Meteorix sambil menoleh ke arah Dovrix.


"Baiklah, Nyonya,” balas Dovrix, kemudian ia berdiri dan langsung berjalan menuju ke halaman depan istana.


Meteorix lalu melangkah menuju ke kamar pribadinya, namun tiba-tiba, Hyerixon mendekatinya serta langsung mencengkram lengannya erat-erat hingga ia terpaksa berhenti berjalan. Ia lantas menoleh ke arah suaminya itu dengan wajah yang serius.


Hyerixon menatap dalam-dalam Meteorix dengan wajah yang penuh amarah, lalu berbisik, "Tidak bisakah kau berhenti menyukai pria tua itu?"

__ADS_1


"Mengapa? Apakah kau cemburu dengannya?" tanya Meteorix dengan nada tinggi.


"Bisakah kau melupakan pria tua menyebalkan itu, Meteorix?! Ia bahkan membunuh wanita yang sudah melahirkan anaknya, lalu pergi begitu saja setelah menelantarkan anak itu, dan tidak juga berusaha untuk mencarinya! Mengapa kau masih memikirkan pria seperti dirinya?!" seru Hyerixon sambil menunjukkan emosi.


Meteorix langsung mengernyitkan dahinya dan bertanya, "Anak? Xyon memiliki seorang anak? Wanita? Tidak mungkin. Ia tidak pernah menikah, karena untuk menjadi seorang jenderal senior bagi kerajaan Palladina, tentu saja istri dan anak adalah masalah besar. Ia tidak bisa meninggalkan raja dan permaisurinya, bahkan hanya untuk beristirahat! Apakah kau sedang berbohong, Hyerixon?”


Tuan dari Blackerian itu terdiam. Meteorix lantas melepaskan genggaman suaminya itu dan kembali berjalan menuju ke kamar.


Sementara itu di Planet Bumi, di dalam kamarnya, Keira dan Higarashi terlihat sedang duduk di atas sofa yang letaknya tidak jauh dari ranjang, sambil memandang ke arah anak-anak mereka sedang tertidur pulas. Malam hari semakin pekat, dan mereka tidak bisa tidur sama sekali. Suasana di antara keduanya justru terasa tegang, tanpa kemesraan.


"Kita akan kembali ke istana, pada esok pagi," bisik Keira pelan, memecah keheningan di antara mereka.


Higarashi langsung menatapnya dengan wajah serius dan bertanya, “Ada apa denganmu, Keira?”


Jantungnya berdetak sangat cepat dan ia mendadak merasa ketakutan setelah mendengar keputusan dari istrinya barusan. Keira kemudian menoleh ke arah Higarashi dan tersenyum sinis.


“Apakah kau sangat takut jika aku bertemu dengan wanita yang bernama Viora itu?” tanyanya.


“Ah, tidak, bukan itu. Aku tidak akan menemuinya lagi. Aku …, aku hanya tidak ingin bercerai darimu,” jawab suaminya itu dengan bibir yang gemetar.


“Kau berbohong, Higarashi. Kau hanya menginginkan kekuatanku saja, bukan?” balas Keira.


Higarashi melotot tajam, lalu berucap, “Tidak, Keira. Aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu dan ingin menikah denganmu!”


“Kalau begitu, jelaskan kepadaku mengapa aku tidak bisa lagi melakukan Televatia kepadamu?” tanya Keira sambil mengernyitkan dahinya.


Raja dari Halida itu terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut, bahkan keringat dingin mendadak mengalir dan membasahi wajahnya.

__ADS_1


“Ada yang aneh dengan dirimu, sayang,” bisik Keira lagi, pelan.


__ADS_2