Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Masa Lalu - Bagian XXIX


__ADS_3

Darkerio kemudian berjalan keluar dari kamar itu, namun rupanya ia memang sengaja melakukan hal tersebut di depan Hyerixon yang masih menatap ke arahnya tadi.


Begitu ia melihat “Xyon” yang pergi begitu saja tanpa menolong ibunya sama sekali, Hyerixon kecil kini menangis sambil berteriak karena ketakutan. Tiba-tiba, seorang pria berbadan besar keluar dari dalam kabut-kabut hitam yang mendadak muncul di sampingnya.


Hyerin masih berusaha untuk berteriak, namun mulutnya masih terkunci dan tubuhnya masih terasa kaku.


"Nak, tenanglah," ucap pria berbadan besar itu, yang tentu saja adalah … Darkerio.


Hyerixon kemudian menoleh ke samping, namun masih menangis keras. Ia berusaha untuk membuka kedua matanya, namun air mata menghalangi pandangannya. Darkerio lalu berlutut dan menyeka pelan air mata itu, sehingga cucunya tersebut kini bisa melihat dengan jelas.


"Aku adalah kakekmu, Nak. Apakah kau tahu bahwa ayahmu, Xyon, yang baru saja membunuh ibumu? Lihatlah, ibumu itu sudah tidak lagi bernyawa," tanya Darkerio, dengan senyum sinis.


"Kakek? Mengapa Ayah membunuh Ibu?" tanya Hyerixon kecil sambil menahan tangisnya.


"Karena ayahmu tidak menyukaimu. Kau adalah seorang Crossbreed, dan ia sangat tidak menyukai hal itu," jawab Darkerio, tentu saja dengan penuh kebohongan.


Hyerin langsung berusaha untuk menggelengkan kepala agar Hyerixon melihat ke arahnya, namun Hellix Dagger yang masih menancap di dalam dadanya itu justru semakin cepat menghisap seluruh energi kosmik yang dimilikinya hingga tubuh perempuan berambut hitam tersebut menjadi semakin lemas.


"Kakek, apa itu Crossbreed?" tanya Hyerixon, namun kali ini tangisannya sudah sedikit menghilang karena rasa penasaran.


"Ikutlah bersamaku , dan aku akan mengajarkan segala hal tentang alam semesta ini, bagaimana?" tanya Darkerio dengan senyum lebar kali ini.

__ADS_1


Hyerixon kecil yang polos, langsung saja mengangguk, tanpa tahu apapun. Darkerio kemudian mengangkat cucunya itu lalu menggendongnya. Kabut-kabut hitam tiba-tiba menyelimuti tubuh keduanya, dan mereka langsung menghilang tanpa jejak.


Hyerin yang masih tersungkur di atas lantai dengan kedua mata yang masih melotot, rupanya belum tewas. Belati hitam kecil yang masih menancap di dalam dadanya itu masih terus mengeluarkan kabut-kabut hitam.


“Darkerio sialan!!! Sialan!!! Hellix Dagger ini menghisap materi gelapku! Sialan!!” teriak Hyerin di dalam pikirannya.


Pintu kamarnya terbuka lebar, namun belum ada satu orang pun yang melewati kamarnya. Darah masih mengalir keluar dari dalam luka tusuk yang dideritanya, namun ia benar-benar tidak bisa berteriak sama sekali, padahal ia merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya.


Tiba-tiba muncul lagi kabut-kabut hitam di hadapannya, dan seorang wanita berambut hitam kemudian keluar dari sana. Ia langsung berlutut di hadapan Hyerin dengan wajah sendu, dan tentu saja, Hyerin langsung melotot ke arahnya, dengan sorot mata yang tajam.


"Ayahmu sudah membawa anak laki-lakimu kepadaku, dan ia memintaku untuk mengurusnya. Hyerin, ia adalah cucuku, dan aku sangat mencintainya. Aku akan menjaganya baik-baik, jadi kau bisa tenang untuk sementara waktu," bisik wanita itu pelan.


Ia kemudian memperhatikan dada anak perempuan satunya itu dengan wajah yang tampak panik.


Hyerin masih tidak bisa menggerakkan bibirnya.


"Hyerin, aku benar-benar meminta maaf kepadamu. Untung saja belati hitam tersebut tidak menembus ke jantungmu, dan aku tidak bisa berbuat apapun, karena jika aku mencabutnya dan memberikanmu materi gelap tidak murni, Darkerio akan membunuh anak itu. Hyerin, aku harus menyelamatkanmu dan pria dari Palladina itu. Tutuplah kedua matamu, dan aku akan segera berteriak," bisik Sira lagi.


Hyerin kemudian menutup kedua matanya seolah-olah ia telah tewas.


Sira kemudian berlari keluar dari kamar itu hingga ke ujung lorong gedung penginapan tersebut sambil berteriak, "Tolong! Tolong! Ada yang terluka di dalam kamar itu!! Tolong!"

__ADS_1


Aksinya itu berhasil membangunkan seluruh penghuni kamar lainnya, bahkan wanita pemilik penginapan tersebut juga ikut keluar dari dalam kamarnya setelah mendengar teriakannya, termasuk Arnea dan Klara, karena terkejut. Mereka semua langsung berlari mendekati Sira dengan wajah yang panik.


Sira langsung menghentikan langkahnya dan sekali lagi, dengan wajah yang penuh kepanikan, ia berteriak, "Tolong! Cepat tolong perempuan yang berada di kamar paling depan itu! Seorang pria berbadan besar tiba-tiba saja masuk dan menusuknya, serta menculik anaknya!!!"


"Penculikan?! Astaga!!" seru salah seorang penghuni kamar penginapan itu.


"Cepat tolong wanita itu! Ia bisa tewas kehabisan darah!" seru Sira sambil menunjuk-nunjuk kamar Hyerin yang berada di dekat pintu keluar penginapan tersebut.


Mereka langsung berlari menuju ke kamar milik Hyerin, termasuk Arnea dan Klara, dengan kepanikan yang sangat terlihat di wajah-wajah mereka. Begitu tiba di depan kamar Hyerin, pintu yang masih terbuka lebar, membuat semua orang bisa melihat tubuh perempuan berambut hitam yang masih tersungkur di atas lantai dengan darah yang membasahi baju bagian atasnya.


Wanita pemilik penginapan tersebut tiba-tiba muncul dari barisan belakang bersama dengan Sira, lalu keduanya dengan tergesa-gesa berjalan mendekati Hyerin dan berlutut di hadapan perempuan itu. Arnea dan Klara mulai memperhatikan apa yang sedang terjadi, di barisan paling depan. Beberapa penghuni kamar lainnya kini saling bergantian mengintip ke dalam kamar.


"Hyerin!! Apa yang sudah terjadi kepadamu?!" seru sang Nyonya dengan wajah yang benar-benar panik.


Sementara Xyon terlihat baru saja masuk ke dalam gedung penginapan itu setelah sebelumnya ia keluar untuk membeli sarapan bagi istri dan anaknya. Namun, setelah ia melihat banyak orang sedang berkumpul di depan kamar Hyerin, ia langsung mengernyitkan dahinya.


“Ada apa ini?” gumamnya pelan.


Ia lalu berlari hingga menerobos kerumunan orang-orang yang sedang penasaran dengan kejadian tersebut. Begitu Xyon tiba di depan pintu kamar Hyerin, kedua matanya langsung melotot tajam. Kantong kain berisi makanan yang sedang ia pegang langsung jatuh ke atas lantai. Ia sangat terkejut melihat Hyerin sedang tersungkur di atas lantai dengan darah yang masih terus keluar dari dalam luka tusuk di bagian dada istrinya itu.


Xyon langsung memperhatikan ke dalam kamar tersebut, namun tidak melihat Hyerixon di sana. Wajahnya langsung berubah menjadi panik dan pucat. Ia hendak berjalan masuk ke dalam kamar itu namun, Arnea tiba-tiba mencengkram lengannya, hingga ia menoleh ke arah Pangeran Mahkota tersebut dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Lepaskan aku, Yang Mulia!” ucap Xyon dengan nada pelan dan wajah yang tampak kesal.


Arnea kemudian menggelengkan kepalanya sambil mengernyitkan dahi. Xyon langsung mengerti maksudnya. Ia lalu menoleh lagi ke depan dan melihat dua orang wanita yang sedang berlutut di hadapan Hyerin dengan wajah yang sangat tegang. Jenderal muda itu masih melotot tajam ke arah Hyerin sambil berusaha untuk menahan sikapnya.


__ADS_2