Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Kabar yang Akhirnya Terdengar


__ADS_3

Raja dari Halida itu dan Aerim kemudian menoleh ke arah suara pria tersebut.


“Perdana Menteri Xyon,” ucap Higarashi dengan wajah sendu.


“Ia menunggumu sejak lama,” balas pria itu, Xyon, dengan wajah yang serius.


Pria tua itu kemudian memutar badannya, lalu berjalan menuju ke kamar di mana Keira sedang berada. Higarashi langsung berjalan mengikutinya, meninggalkan Aerim sendiri di sana. Mereka terus melangkah bersama, hingga tiba di sebuah lorong yang sepi.


"Perdana Menteri Xyon," ucap Higarashi, namun Xyon langsung memotongnya dengan berkata, "Energi antimateri yang dimiliki Keira, mungkin hanya tinggal seperempatnya saja. Ia tidak akan bertarung dulu untuk sementara, demi kedua janin yang sedang dikandungnya. Tepatilah janjimu untuk melindungi Keira, walaupun kau mungkin merasa lebih lemah darinya."


Mereka terdiam, namun terus berjalan hingga tiba di depan sebuah pintu kamar, mereka lantas menghentikan langkahnya.


"Perdana Menteri Xyon," ujar Higarashi, namun Xyon langsung berjalan meninggalkan dirinya yang kini yang hanya bisa menatap punggung Perdana Menteri dari Palladina itu dengan wajah gusar.


“Apakah kau merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Keira? Apakah kau berpikir bahwa Keira akan menua dengan cepat, Perdana Menteri Xyon?” tanya Higarashi hingga Xyon terpaksa berhenti berjalan akibat pertanyaan itu.


Xyon terdiam sebentar, kemudian membalas, “Kau tidak akan mengerti sakitnya hati ini ketika mengetahui fakta bahwa alam semesta sedang mengutuknya tanpa henti.”


Ia lalu kembali berjalan tanpa menoleh ke belakang.


"Perdana Menteri Xyon, aku akan berusaha untuk melindungi Keira lebih sering setelah ini!" seru Higarashi dengan wajah yang serius.


Setelah Xyon pergi, Raja dari Halida itu lantas mengetuk pintu kamar sebanyak dua kali, lalu membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Begitu ia melihat Keira yang sedang berbaring di atas ranjang sambil tertidur pulas, Higarashi kemudian menutup pintu secara perlahan.


Ia lalu berjalan mendekati Keira, berlutut di samping ranjang tersebut, berusaha untuk tidak membangunkan istrinya itu. Namun, air matanya tiba-tiba jatuh begitu ia menatap wajah Permaisuri dari Halida tersebut.

__ADS_1


“Baru kali ini aku melihatmu tidur pada siang hari, padahal biasanya, kau adalah perempuan yang sangat bersemangat dan tidak suka berdiam diri. Kau sangat suka memasak ataupun berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu, Keira,” gumamnya di dalam hati dengan wajah yang sendu.


Higarashi lantas berusaha menahan tangisannya. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepala dua kali. Namun, suara tangisnya itu justru membuat Keira terbangun, lalu menoleh ke arahnya dan menatap Raja dari Halida tersebut dengan senyum kecil.


"Higarashi, aku … kehilangan Starletku di sana, maafkan aku," ucapnya pelan dengan wajah yang sedih.


Higarashi terkejut mendengar ucapan itu, kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap Keira dengan wajah yang basah karena air mata.


“Mengapa kau harus melakukan ledakan energi kosmik itu walaupun kau tahu bahwa kau sedang mengandung, Keira? Apakah kau tidak mencintaiku? Mengapa kau harus merahasiakan hal ini dariku?” tanyanya sambil menggenggam tangan kiri istrinya itu dengan erat.


Keira tersenyum lebar, lalu bertanya, “Kau sudah berada di sini bersama denganku, Higarashi. Maukah kau menemaniku untuk mengambil Starlet itu di sana?”


Higarashi kemudian melepaskan genggamannya dari tangan Keira, lalu merogoh saku celana dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Ia lantas memperlihatkannya kepada Keira dan Permaisuri dari Halida tersebut langsung terkejut dan melotot tajam.


"Setelah kami tiba di sana, kau sudah tidak ada. Hanya Aerim yang sedang memegang Starlet ini, dan ia langsung memberikannya kepadaku," jawab Higarashi sambil menatap Starlet tersebut dengan wajah yang masih sendu.


“Terima kasih sudah menjaganya untukku, sayang,” balas Keira dengan senyum kecil.


Ia hendak mengambil benda tersebut, namun Higarashi tiba-tiba menggigit ujung jari telunjuk kanannya dengan sangat keras hingga mengeluarkan darah. Aksinya itu membuat Keira terkejut dan kembali melotot tajam.


“Higarashi, apa yang sedang kau lakukan?!” tanya Keira sambil mengernyitkan dahinya.


Raja dari Halida itu kemudian mengarahkan ujung jarinya yang sudah berdarah tadi di atas Starlet milik Keira, lalu menekan lukanya hingga tiga tetes darah jatuh, masuk ke dalam benda kecil tersebut perlahan-lahan.


“Higarashi!” seru Keira dengan wajah yang tampak gusar.

__ADS_1


Tiba-tiba, Starlet itu bersinar dengan sangat terang, namun sinarnya tidak menyilaukan mata, kemudian, benda tersebut melayang-layang di udara, lalu masuk ke dalam dada Keira dan sinar tadi mendadak hilang begitu saja.


Keira yang baru saja melihat hal tersebut, langsung menjadi terkejut hingga ia bertanya dengan wajah gusar, "Higarashi, apa yang sedang kau lakukan sebenarnya?!"


"Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi, Keira. Starlet itu … adalah milikmu selamanya," jawab Higarashi dengan senyum kecil di wajahnya.


Namun, wajah Keira masih terlihat sangat gusar. Ia kemudian menatap Higarashi dengan tatapan yang tajam, hingga suaminya itu menjadi kebingungan.


“Ada apa, sayang?” tanya Higarashi.


"Aku bisa merasakan energi cinta yang besar darimu sebelum ini, namun …, mengapa energi itu tiba-tiba melemah, Higarashi? Ada apa?" tanya Keira dengan wajah yang serius kali ini.


Mereka berdua terdiam sesaat, lalu setelah itu, Higarashi menghela nafas panjang dengan jantung yang mulai berdetak cepat.


“Apakah ia tahu apa yang sudah kukatakan kepada Viora di sana?” tanyanya di dalam hati.


“Higarashi, ada apa? Apakah kau …,” ucap Keira sambil mengernyitkan dahi, namun suaminya itu langsung memotongnya dengan berkata, “Maafkan aku. Aku mengira kau sudah … tewas ….”


Suasana sedikit tegang, namun setelah itu, Keira menghela nafas pendek dan wajahnya kini tampak sendu.


"Ah, aku tidak ingat apapun tentang kejadian itu. Yang kuingat hanyalah ketika Raja dan Permaisuri dari Planet Diamona membawaku masuk ke dalam kereta antar planet milik mereka. Seluruh paman-pamanku dan bahkan Aerim, sudah berusaha untuk memberitahukan hal ini kepadamu, namun mereka mengatakan kepadaku bahwa kau telah nmenutup istanamu dan kubah raksasa itu menghalangi mereka," balasnya.


Higarashi langsung berdiri, kemudian memeluk istrinya tersebut erat-erat dan membelai rambutnya sambil berbisik, "Maafkan aku, Keira. Aku selalu berkata bahwa aku akan melindungimu, namun pada akhirnya, kau yang selalu berkorban untukku. Aku … tidak akan mengulangi kecerobohan seperti itu lagi! Keira, aku akan segera membawamu beserta anak-anak kita untuk kembali ke Planet Halida!”


Keira tiba-tiba melepaskan pelukan dari suaminya itu, lalu dengan wajah sendu, ia menatap Higarashi sambil berkata, "Paman Xyon tidak mengizinkanku keluar dari planet ini, karena aku sedang mengandung. Ia bahkan tidak memperbolehkanku memegang senjata untuk sementara. Menurut Neuroxeth aneh itu, aku sedang mengandung dua orang anak laki-laki, dan tentu saja bebanmu akan semakin berat setelah ini, karena … bukankah kau sudah berkata pada seluruh Halida, bahwa aku sudah tiada? Mereka akan mempertanyakan banyak hal jika aku tiba-tiba kembali ke sana dalam keadaan sehat, bahkan sedang mengandung!”

__ADS_1


__ADS_2