Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Kota Kecil yang Indah


__ADS_3

Anexta kemudian membuka laci yang ada di sebelahnya dan meraih sebuah kertas kosmik, merobeknya menjadi dua, lalu berkata, “Keira.”


Ia lalu menyerahkan kertas kosmik itu kepada Xyon, dan berucap, “Masukkan ini ke dalam selimutnya.”


Xyon lalu mengambil kertas kosmik itu dan memasukkannya ke dalam selimut bayi perempuan tersebut, dan kembali menggendongnya dengan hati-hati.


“Pergilah, Jenderal Senior Xyon. Hari sudah mulai malam,” ucap Anexta.


Ia memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dengan Yeria, dan air mata mulai mengalir pelan membasahi wajahnya. Xyon kemudian mengambil bayi perempuan yang masih tertidur pulas itu dari gendongan Yeria, lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintunya.


Anexta berusaha menahan kesedihannya.


“Kau bisa keluar sekarang, Yeria. Tinggalkan aku sendiri saja,” ujar Anexta.


“Baiklah, Yang Mulia,” balas Yeria.


Kepala Perawat itu kemudian berdiri, diikuti oleh pelayan-pelayan wanita tadi. Mereka lalu berjalan keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya rapat-rapat.


Anexta mulai menangis pelan, agar tidak ada yang bisa mendengarkannya. Ia mulai membayangkan bayi perempuan itu lagi di dalam kepalanya.


“Bola mata biru muda yang indah, seperti milikku. Rambut biru tua yang persis seperti diriku. Namun, anak itu … anak itu terkutuk, dan aku yang sudah melahirkannya. Katakan, apakah dadaku yang sakit sekarang ini, sudah merupakan kutukan dari alam semesta?” gumamnya pelan.


Sementara itu, Xyon terlihat sedang menggendong bayi perempuan yang baru saja dilahirkan oleh sang ratu tadi, dengan hati-hati, menuju ke halaman belakang istana. Kedua matanya selalu melihat ke kanan dan ke kiri, memperhatikan apapun yang bisa jadi membuat aksinya itu ketahuan.

__ADS_1


Setelah sampai di pojok halaman belakang istana, mendadak, ia justru menjadi gusar.


“Anak ini, astaga, harus kubawa ke mana? Di mana aku bisa menempatkannya? Planet Bumi itu luas sekali, astaga!” gumamnya dengan keringat dingin yang mulai mengalir membasahi wajahnya.


Xyon lalu menatap bayi perempuan yang masih tertidur pulas di dalam gendongannya. Wajahnya tiba-tiba menjadi sendu, dan ia mulai sedikit merasa kasihan. Namun, setelah beberapa saat, ia justru menggeleng-gelengkan kepalanya sebanyak dua kali, dan wajahnya kembali terlihat serius.


“Tidak. Anak ini hanya akan menjadi alat untuk balas dendam atas tewasnya raja dan ratu sebelumnya. Aku harus segera menyembunyikannya sebelum orang lain mengetahui hal ini,” gumamnya lagi.


Ia kemudian mengubah dirinya dan bayi perempuan itu, menjadi sebuah bintang kecil yang berwarna ungu dan biru tua. Mereka kemudian melesat ke luar angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi, namun, yang tidak disangka-sangka adalah, seorang pria dari kejauhan rupanya memperhatikan aksi Xyon barusan.


“Ini sudah malam, apa yang sedang terjadi?” tanya pria itu dengan wajah yang terlihat gusar.


Setelah melesat di luar angkasa, Xyon akhirnya tiba di dalam Planet Bumi setelah berhasil menembus atmosfernya. Ia kemudian mendarat di tengah hutan lebat yang sama seperti sebelumnya, karena kebingungan. Ia lalu mengubah fisiknya kembali seperti semula, memperhatikan sekelilingnya sambil masih menggendong bayi perempuan itu.


Ia hendak melangkah, namun, mendadak justru Xyon mengurungkan niatnya. Wajahnya kembali terlihat gusar.


“Tidak bisa. Desa itu sudah hancur, dan hari sudah subuh. Para Silverian itu pasti suatu saat akan kembali ke sana, aduh! Lalu aku harus kemana lagi?! Astaga, baru kali ini dalam seumur hidupku, seseorang memberikan tugas yang seberat ini! Aku bahkan tidak memiliki peta planet ini!” gumamnya dengan nada kesal.


Setelah beberapa saat, ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam hutan dan mulai berjalan dengan cepat. Entah ke mana tujuannya, ia membiarkan kedua kakinya melangkah begitu saja. Sudah berjam-jam ia berjalan tanpa tujuan hingga pagi tiba, akhirnya Xyon keluar dari hutan tersebut dan tiba di depan gerbang dari sebuah kota kecil.


Kedua kakinya langsung berhenti melangkah, sementara kedua matanya justru terpana dengan keindahan pemandangan pada pagi hari di sana. Berbeda dari desa sebelumnya yang sangat primitif, kota kecil ini terlihat menyenangkan. Anak-anak kecil yang sedang bermain di pinggir jalan, sementara orang-orang dewasa melakukan aktivitasnya sendiri-sendiri. Satu per satu pertokoan kecil seperti toko roti, toko buku, toko buah, dan lainnya, yang baru saja dibuka pada pagi itu.


Karena tertarik, ia memutuskan untuk melangkah lebih jauh, masuk ke dalam kota kecil tersebut. Xyon juga mulai serius memperhatikan setiap bangunan-bangunan dan orang-orang di sekitarnya. Tidak ada satu orang pun yang curiga kepadanya, karena pada pagi itu, hampir semua orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

__ADS_1


"Ah, di sini sangat indah dan nyaman,” gumamnya pelan.


Ia lalu melangkah lebih jauh di dalam kota kecil itu, dan mendadak berhenti di ujung jalan ketika ia menemukan seorang wanita yang sedang berdiri di depan sebuah kios minuman, menarik perhatiannya. Wanita itu sepertinya sudah mulai berumur, dengan rambut berwarna hitam-abu dan bola mata coklat serta memakai pakaian berwarna hitam, sepertinya ia baru saja kembali dari sebuah pemakaman.


Seorang pria terlihat keluar dari dalam toko minuman, juga dengan rambut berwarna abu-abu dan bola mata coklat, serta baju yang berwarna hitam. Wanita tersebut menatapnya dengan sendu. Pria itu langsung memeluk sang wanita begitu ia melihat wanita itu menangis, dan ikut bersedih bersama dengannya.


“Apa yang terjadi kepada mereka?” tanya Xyon di dalam hatinya.


Karena penasaran, ia berjalan menuju ke toko minuman itu, lalu mendekati pria dan wanita tadi. Ia lalu berhenti tepat di depan mereka dan sang pria langsung terkejut dan melepaskan pelukannya kepada wanita tersebut, begitu melihat ada seseorang yang datang kepada mereka.


“Ah, maafkan kami, Tuan, namun, kami baru akan membuka toko ini sebentar lagi,” ucap pria itu.


“Tidak apa-apa, suamiku,” ucap wanita tersebut, lalu ia menoleh ke arah Xyon dan bertanya, “Apa yang sedang ingin anda minum saat ini, Tuan?”


Wanita itu menyeka air matanya dan mulai menatap ke arah Xyon dengan senyum palsunya, sementara pria yang bersama dengan wanita tersebut barusan, langsung masuk ke dalam untuk membawa beberapa kaleng minuman yang akan dipajang di depan etalase tokonya.


"Ah, aku baru saja tiba di kota ini, namun, perjalanan yang jauh membuatku kehausan. Kebetulan aku melihat toko minuman ini, namun sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat. Maafkan aku, nyonya,” ucap Xyon.


Wanita itu langsung menyeka kembali air matanya dan tersenyum kepada Xyon.


"Ah. Aku baru saja kembali dari pemakaman anak perempuanku satu-satunya. Aku dan suamiku sudah menunggu kehadirannya sudah lama sekali hingga dua puluh tahun, namun anak itu selalu saja sakit-sakitan sejak lahir. Ini adalah hari ketujuh setelah kematiannya,” ucapnya pelan.


Xyon tidak membalas ucapan itu, namun, ia sekarang sudah tahu bahwa wanita tersebut sedang berduka.

__ADS_1


Dengan perasaan tidak enak setelah mendengar jawaban dari wanita itu, Xyon lantas berkata, "Maafkan aku, nyonya. Aku turut berduka untuk anak perempuanmu, dan aku benar-benar minta maaf telah bertanya seperti itu."


__ADS_2