Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Masa Lalu - Bagian XXX


__ADS_3

"Nyonya! Aku melihat seorang pria berbadan besar masuk ke dalam kamar ini, yang tidak terkunci sama sekali, ketika aku hendak masuk ke dalam penginapan untuk bertemu dengan saudaraku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara teriakan dan pria itu tiba-tiba berlari keluar sambil menggendong seorang anak laki-laki! Aku langsung berlari ke ujung lorong dan berteriak, namun pria tersebut menghilang dengan sangat cepat!" seru Sira, tentu dengan ekspresi panik, sambil berusaha untuk membohongi mereka semua.


Xyon ingin sekali mendekati istrinya itu, walaupun ia sangat terkejut setelah mendengar ucapan Sira barusan.



“Penculikan? Apa maksudnya?!” seru Jenderal muda itu di dalam pikirannya sambil masih melotot tajam, sementara Arnea tampak terus menggenggam lengan kanannya agar ia tidak melakukan tindakan yang bodoh.


"Astaga, Hyerin! Cepat, cepat bawa dia ke gedung kesehatan terdekat! Ini adalah masalah serius, penculikan anak-anak!" seru wanita pemilik penginapan tersebut dengan nada tinggi.


Ia kemudian meletakkan tangannya di depan hidung Hyerin, lalu berteriak lagi, "Ia sudah tidak bernafas!! Tolong, cepat bantu aku untuk membawanya!"


Tentu saja hal itu mengagetkan semua orang, termasuk Xyon yang kedua bola matanya mulai berkaca-kaca. Sebenarnya Hyerin masih tersadar, namun ia tahu ia harus berpura-pura tewas di depan semua orang.


Sambil sesekali mengintip untuk melihat wajah Xyon, Hyerin bergumam di dalam pikirannya, “Jika ia tahu bahwa aku masih hidup, ia akan meneruskan masalah ini, dan pasti akan mencari pelakunya. Tidak bisa. Akan sangat berbahaya bagi Xyon jika ia berhadapan dengan Darkerio. Kekuatan kosmik materi gelap tidak bisa dilawan dengan energi cahaya. Maafkan aku, Xyon. Selamat tinggal.”


Hyerin masih menatap ke arah Xyon dengan membuka sedikit matanya. Namun, begitu beberapa pria termasuk Xyon hendak berjalan dengan tergesa-gesa untuk mengangkat tubuhnya, lengan suaminya itu justru ditarik oleh seorang pria yang berdiri di sebelahnya dan langsung membawa Jenderal muda tersebut pergi menjauhi kamar Hyerin, diikuti oleh seorang perempuan muda.


"Xyon, aku harap kau tidak mencari siapa pelakunya. Darkerio akan segera membunuhmu, dan kekuatan kosmikmu tidak sebanding dengan makhluk immortal mengerikan itu, dan aku juga tidak ingin kau tewas di tangannya. Semoga suatu hari nanti, kau akan menemukan seorang perempuan yang lebih baik daripada diriku. Aku mencintaimu, sayang,” ucap Hyerin dalam pikirannya lagi, sambil meneteskan air mata.


Rambut Hyerin yang tadinya berwarna hitam pendek yang indah, mendadak berubah warna menjadi … putih, perlahan-lahan, dari atas ke bawah.

__ADS_1


Sementara itu, Arnea yang tadi menarik lengan Xyon dan membawanya berlari masuk ke dalam kamar miliknya bersama dengan Klara, menjauhi kerumunan orang-orang yang berada di sana, kini mulai menatap Jenderal muda itu dengan sorot tajam sambil mengernyitkan dahi.


Klara kemudian menutup rapat kamarnya, lalu kembali berdiri di sebelah suaminya dan berkata dengan wajah gusar, "Sebenarnya ada apa ini? Penculikan anak?"


"Xyon, katakan padaku, siapa perempuan dan anak laki-laki itu?!" tanya Arnea dengan wajah yang serius.


"Yang Mulia, biarkan aku kembali ke sana," jawab Xyon sambil menundukkan kepala.


Tentu saja Arnea mulai terlihat kesal, ia bahkan menghela nafas pendek sambil melotot ke arah pria muda tersebut.


"Anak laki-laki itu memiliki warna rambut yang sama denganmu, Xyon," ucap Arnea lagi.


"Yang Mulia, maafkan aku, tapi bisakah aku kembali ke sana sebentar saja?" tanya Jenderal muda itu dengan wajah sendu.


"Yang Mulia, kumohon,” balas Xyon sambil masih menundukkan kepalanya.


Sepertinya Klara langsung mengerti apa yang sudah terjadi kepada Xyon, sehingga ia berniat untuk menyudahi kecurigaan Arnea kepada pengawal pribadinya tersebut. Ia kemudian menghela nafas panjang, lalu menatap kedua pria itu dengan wajah yang serius.


"Ia adalah seorang manusia, bukan? Perempuan itu sudah tewas. Kita sudah melihatnya sendiri. Sementara anak laki-laki yang kau sebutkan, diculik oleh seseorang yang tidak dikenal, seperti kata wanita tadi. Besar kemungkinan, anak itu juga tidak akan selamat, Xyon. Sebaiknya kita lupakan saja masalah ini, lalu secepatnya kembali ke Planet Palladina," ujar Klara.


Arnea dan Xyon sama-sama tidak menjawab, namun setelah beberapa saat, akhirnya Pangeran Mahkota itu berkata, "Baiklah, sebaiknya kita lupakan saja kejadian ini. Lagi pula wanita itu sudah tewas, dan anak laki-laki itu juga pasti bernasib sama. Aku sudah membayar kamar-kamar ini kemarin malam, jadi sebaiknya kita pergi secepatnya.”

__ADS_1


Xyon hendak berkata sesuatu setelah Arnea mengucapkan hal itu, namun Klara langsung mencengkram lengan Jenderal muda itu sambil menatapnya dengan wajah serius dan menggelengkan kepala.


"Kita akan kembali sekarang. Jangan membuat masalah dengan penduduk Planet Bumi lagi. Biarkanlah kenangan itu tinggal di sini," ucap Klara pelan kepada Xyon.


Arnea kemudian mengambil tas punggung besar miliknya dan menggendongnya, begitu juga dengan Klara.


"Kita akan pergi dari sini melewati pintu belakang," ujar Klara dengan wajah serius.


Xyon sebenarnya masih belum bisa menerima kejadian yang menimpa istri dan anak laki-lakinya itu. Hatinya mulai terasa sakit, bahkan dadanya sesak ketika ia melihat tubuh Hyerin yang penuh dengan darah dan tergeletak di atas lantai dalam keadaan sudah tewas, menurutnya.


Arnea dan Klara lalu berjalan keluar dari kamar, dan Xyon sendiri mengikuti mereka dari belakang. Wajahnya tampak sangat sedih hingga ia tidak mampu menatap ke depan, ataupun mengangkat kepalanya dengan tegak. Di sepanjang perjalanan menuju ke kereta antar planet milik yang sudah menunggu mereka di dalam sebuah taman yang penuh dengan pepohonan, tidak sekali pun Xyon berucap.


Bahkan hingga ia masuk ke dalam alat transportasi itu bersama dengan Arnea dan Klara, ia masih menundukkan kepala sambil menahan tangis. Begitu kereta antar planet tersebut berubah menjadi bintang kecil yang langsung melesat ke luar angkasa, Xyon masih juga tidak berbicara. Ia hanya duduk di atas sebuah sofa yang empuk, dengan tatapan kosong, seolah masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.


Sikap jenderalnya itu mulai membuat Arnea gusar. Ia kemudian mendekati Xyon, lalu duduk di sebelahnya dengan sedikit jarak.


"Xyon, kau sudah membaca begitu banyak buku kosmik. Kau juga adalah salah satu lulusan terbaik kerajaan, dalam banyak hal, kau sangat jauh di atasku," ucap Arnea pelan.


"Terima kasih atas pujiannya, Yang Mulia," balas Xyon dengan suara kecil.


"Xyon, apa yang sudah terjadi kepadamu di dalam Planet Bumi, entah itu hari ini atau enam tahun lalu? Tentu saja, aku dan Klara akan merahasiakannya dari semua orang. Kami semua memperhatikanmu, jadi  jangan berkecil hati, karena tanpa dirimu, kami tidak bisa menjalankan roda pemerintahan dengan rasa tenang dan aman," bisik Arnea dengan wajah gusar.

__ADS_1


Jenderal muda itu tiba-tiba menoleh ke samping dan menatap sang Pangeran Mahkota dengan wajah sendu.


"Yang Mulia, bisakah aku meminta sesuatu kepada Anda? Mohon maaf atas kelancanganku ini," bisik Xyon pelan.


__ADS_2