Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Jebakan Untuk Higarashi


__ADS_3

“Paman-pamanku akan langsung panik jika mereka tahu bahwa aku tiba-tiba saja sakit, jadi, sebaiknya tidak,” balas Keira.


Higarashi lalu meletakkan gelas tadi di atas meja yang terletak di sebelah ranjang, lalu menyelimuti lagi istrinya dengan selimut tebal, sambil mengelus wajah Keira.


“Apa sebaiknya aku membelikanmu makanan yang enak agar kau cepat sembuh? Hmm … tapi makanan yang seperti apa? Ini masih pagi,” ucap Higarashi.


Keira tersenyum dengan pertanyaan itu, lalu ia membalas, “Ah, mungkin aku akan sembuh setelah itu. Boleh saja, mungkin juga rasa laparku akan muncul begitu aku melihat makanan enak. Apakah kau akan menggunakan Star Baton untuk menghidangkan makanan-makanan itu?”


Higarashi langsung tersenyum karena pertanyaan polos istrinya tersebut.


“Energi bintang itu sementara, dan makanan yang terbuat dari energi bintang itu juga hanya ilusi semata. Kau pikir kami adalah sekumpulan penyihir? Haha! Kalau begitu, akan pergi untuk membeli makan terlebih dahulu,” balasnya.


“Ah, begitu, baiklah, tapi jangan terlalu lama berada di luar …,” ucap Keira pelan.


Higarashi kemudian tersenyum, lalu ia berdiri dan berjalan keluar dari kamar, meninggalkan istrinya di sana.


“Makanan apa? Astaga, aku … tidak pernah melihat orang sakit di planet ini. Jika ia tinggal di dalam Planet Halida, mungkin para perawat akan segera membaringkannya di atas ranjang dan hanya dengan Neuroxeth, ia mungkin akan segera sembuh!” gumamnya.


Ia lantas turun ke lantai satu, dan berjalan keluar dari rumah, dengan tidak lupa menutup pintunya. Namun, di sepanjang perjalanan, Higarashi justru kebingungan.


“Makanan apa? Astaga, makanan apa yang bisa membuat orang sakit menjadi sehat lagi?” serunya.


Ia terus berjalan hingga ia sendiri tidak sadar bahwa ia sudah tiba di depan sebuah halte bus, namun, Higarashi tidak berhenti. Ia berjalan terus sambil melihat ke kanan dan ke kiri, restoran mana yang mungkin menarik hatinya.


Tiba-tiba saja, seorang perempuan muncul dan ikut berjalan bersamanya. Higarashi langsung menoleh ke samping dan menatap perempuan itu dengan wajah yang terlihat terkejut, namun, ia tidak juga menghentikan langkahnya.


“Chexy?!” seru Higarashi.


Perempuan itu, Chexy, kemudian tersenyum kepadanya. Mereka berdua kini saling berjalan berdampingan.

__ADS_1


“Kita berjumpa lagi, Higarashi,” ucap Chexy pelan.


Higarashi langsung berjalan ke samping untuk menjauhkan dirinya dari gadis berambut pirang itu, namun, Chexy tiba-tiba menarik lengannya hingga ia harus menghentikan langkahnya.


“Higarashi! Maafkan seluruh kejahatan yang pernah kulakukan kepadamu dan Keira! Aku sudah berubah sekarang, setelah mendapatkan hukuman itu, dan aku menyesalinya! Tolong, berikan aku kesempatan untuk … hanya menjadi temanmu! Kumohon!” seru Chexy dengan mata yang berkaca-kaca.


Orang-orang di sana mendadak melotot ke arah mereka. Higarashi yang tersipu malu kemudian memutuskan untuk tidak berkata apapun, namun, setelah beberapa saat, ia melepaskan genggaman tangan Chexy dari lengannya, dan melanjutkan langkahnya.


Chexy lalu kembali berjalan berdampingan dengan Higarashi. Dengan wajah datar, Higarashi sama sekali tidak menoleh ke arah Chexy, namun, gadis berambut pirang itu justru menatap sang Raja dari Halida tersebut dengan senyum di wajahnya.


"Apa yang kau inginkan kali ini?" tanya Higarashi dengan tegas.


"Ah, aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya kebetulan melihatmu berjalan di sekitar sini, dan ingin menyapamu saja," balas Chexy.


"Mengapa kau berada di sini? Bukankah Yang Mulia Raja Gerofin dari Diamona sudah menghukummu untuk menjadi bangsawan dan menghapus seluruh gelar kerajaanmu?” tanya Higarashi lagi.


Namun, Higarashi justru mencurigainya.


"Gadis ini, aneh sekali. Seperti ada yang tidak beres dengannya," gumamnya di dalam hati.


"Ah, lalu apa yang sedang kau lakukan di sini sendirian? Ke mana istrimu, Keira?" tanya Chexy.


"Permaisuri. Yang Mulia Permaisuri Keira dari Halida. Ia sedang sakit karena kami bermain dengan penuh semangat di pantai kemarin, dan aku sedang mencarikannya makanan yang menarik, agar ia mau makan dan cepat kembali sembuh," balas Higarashi dengan wajah kesal.


Chexy kemudian mengangguk, lalu bertanya lagi, "Ah, begitu. Lalu, mengapa kau masih berjalan-jalan di sini sejak tadi? Bukankah ada banyak restoran yang menarik?"


Higarashi menghela nafas pendek. Rasanya ia tidak ingin lagi gadis berambut pirang itu berada bersama dengannya.


"Jika kau sedang kesulitan untuk menari restoran yang cocok denganmu, bagaimana jika kubantu?" tanya Chexy dengan senyum lebar.

__ADS_1


Higarashi langsung menoleh ke arahnya dan menatap perempuan itu dengan wajah yang tegas sambil mengernyitkan dahinya.


"Kau tenang saja! Aku hanya berniat membantumu, tidak ada hal lain! Tenang, aku, Chexy, sudah berubah! Kau bisa memercayaiku kali ini!" ucap gadis berambut pirang itu, seolah tahu bahwa wajah serius Higarashi menandakan bahwa pria itu masih sangat mencurigainya.


"Baiklah, namun, aku tidak ingin berlama-lama denganmu," balas Higarashi.


Mereka kemudian terus berjalan berdampingan, dan Chexy selalu menunjuk ke arah restoran yang berbeda-beda, sambil menjelaskan makanan apa saja yang dijual oleh restoran itu. Seolah ia sangat mengerti jenis-jenis makanan yang ada di dalam Planet Bumi ini. Higarashi memperhatikannya dengan serius, bahkan, ia sangat mendengarkan Chexy.


Sementara itu di dalam rumah, Keira yang masih terbaring lemah, tiba-tiba merasakan dadanya sakit dan nafasnya menjadi berat.


"Apa yang dilakukan Higarashi? Mengapa ia lama sekali?" gumam Keira.


Ia lalu bangun dan duduk di atas ranjangnya.


“Apakah ia salah jalan? Higarashi baru saja berada di sini, dan ia mungkin tidak mengetahui jalan pulang. Atau, apakah Star Baton miliknya sudah kehabisan energi bintang sehingga ia tidak bisa membuat terowongan ajaib itu?” gumamnya lagi, tanpa berpikir bahwa suaminya itu pernah pergi dan pulang kembali ke rumahnya.


Keira lalu mengangkat tangan kanannya ke depan, dan tiba-tiba sebuah Star Baton berwarna biru muda muncul di dalam genggamannya.


Ia kemudian mengayunkan benda itu sambil berkata, "Tunjukkan padaku di mana Higarashi sedang berada. Bawalah aku ke sana."


Debu-debu halus kemudian keluar dari ujung Star Baton tersebut, lalu melayang-layang di hadapan Keira, dan tiba-tiba berkumpul menjadi sebuah gumpalan cahaya. Ia lantas mengayunkan Star Baton itu sekali lagi, dan kali ini, ia mengubah pakaian yang sedang ia kenakan.


Baju tidur yang tadi melekat di badannya, sekarang adalah baju biasa dengan jaket dan celana panjang. Star Baton itu kemudian menghilang setelah ia selesai menggunakannya.


“Setidaknya dengan gumpalan cahaya ini, aku bisa mencari Higarashi,” gumamnya.


Tiba-tiba gumpalan cahaya itu terbang melayang lurus ke depan. Keira lantas berdiri, kemudian berjalan mendekati pintu dan membukanya. Gumpalan cahaya itu lalu melesat pelan hingga ke lantai satu, dan ia kini mengikutinya, bahkan hingga keluar dari rumah.


Ia terus mengikuti gumpalan cahaya itu, walaupun ia tidak tahu akan sampai di mana benda tersebut akan membawanya.

__ADS_1


__ADS_2