
Sementara itu di dalam Planet Palladina, Anexta terlihat berlari dengan sangat terburu-buru, menuju ke halaman belakang istana. Xyon mengejar di belakangnya, dengan wajah yang terlihat sangat panik.
“Yang Mulia!” seru Jenderal Senior itu, dengan langkah yang cepat.
“Tidak bisa, aku harus pergi sekarang!” balas Anexta.
Mereka berdua akhirnya tiba di halaman belakang istana, namun, Xyon justru berdiri di depan sang ratu dan menghalangi pandangannya.
“Apa yang sedang kau lakukan? Aku hanya ingin mengetahui di mana anak itu berada, Jenderal Senior Xyon!” seru Anexta dengan wajah yang terlihat kesal.
“Yang Mulia! Hari sudah malam, dan bisa saja manusia-manusia itu masih tertidur di sana!” balas Xyon.
“Kita membutuhkan waktu untuk mencapai kota kecil itu, bukan? Kau yang berkata bahwa ia sudah berada di sana, dan aku harus segera memastikannya sendiri! Jika aku pergi pada siang hari, seluruh orang yang ada di dalam istana ini akan segera bertanya-tanya lagi di mana Yang Mulia Ratu sedang berada!” seru Anexta lagi.
Xyon menghela nafas panjang, namun, Anexta dengan cepat mengubah dirinya menjadi sebuah bintang yang langsung melesat ke luar angkasa.
“Yang Mulia! Astaga!” seru Xyon.
Namun, tiba-tiba, seorang pria berteriak dari kejauhan, “Xyon! Tunggu! Apa yang sedang terjadi? Mengapa kau terlihat begitu panik? Ini sudah malam, dan kau membuat keributan di sana!”
Jenderal Senior itu langsung menoleh kepada pria tersebut dan berteriak dengan nada yang tegas, “Arex! Ikutlah denganku! Cepat! Yang Mulia Ratu pergi begitu saja menuju ke Planet Bumi sehingga aku tidak sempat membawa prajurit!”
“Astaga! Baiklah,” ucap pria itu, yang rupanya adalah Arex.
Mereka berdua kemudian mengubah dirinya masing-masing menjadi sebuah bintang yang dengan cepat melesat ke luar angkasa, untuk mengejar sang ratu.
Di dalam Planet Bumi, rupanya Silvir sudah mendarat terlebih dahulu di dalam hutan lebat yang sudah dibicarakan sebelumnya. Flerix terlihat berjalan keluar dari dalam pesawat luar angkasa itu, diikuti oleh Dovrix dan beberapa orang prajurit-prajuritnya.
Raja dari Silverian itu lantas memperhatikan sekelilingnya dengan sangat fokus.
__ADS_1
“Malam hari menjelang subuh dan manusia-manusia itu pasti masih tertidur pulas. Sebaiknya kita bergerak cepat, Yang Mulia, sebelum mereka semua bangun pada pagi hari. Kita bisa menyusuri hutan ini terlebih dahulu untuk mencari apakan masih ada desa lainnya, Yang Mulia,” ucap Dovrix.
Flerix mengangguk sekali, lalu berkata, “Ide yang bagus, Dovrix. Sebaiknya kita berpencar saja, kau akan membawa beberapa pasukan bersama denganmu, pergilah ke arah yang berbeda.”
“Baik, Yang Mulia,” balas Dovrix, namun, ia menghela nafas pendek dan kembali bertanya, “namun, Yang Mulia, kita tidak tahu apakah Xyon benar-benar membawa seorang anak ke mari, atau tidak, apakah ini jebakan? Lagi pula, aku tidak melihat wajah anak itu, selain daripada sebuah bintang kecil yang berwarna biru muda.”
Flerix terdiam sesaat, lalu berkata, “Kita bisa merasakan aura dari energi kosmik yang dimiliki oleh anak itu, Dovrix. Bahkan dari kejauhan, walaupun ia adalah seorang Crossbreed sekali pun, karena tetap saja ia lahir dari seorang immortal.”
Dovrix kemudian mengangguk dan membalas, “Baiklah, Yang Mulia.”
Ia lalu menoleh ke belakang, dan menatap prajurit-prajurit Silverian yang sudah berbaris rapi sejak tadi.
“Kalian, ikutlah bersamaku,” serunya sambil mengajak beberapa orang prajurit untuk mengikutinya.
“Baik, Tuan!” seru prajurit-prajurit itu.
Setelah Dovrix terlebih dahulu pergi dan sudah tidak terlihat lagi, Flerix kemudian berteriak, “Ayo!”
“Baik, Yang Mulia!” seru prajurit-prajurit yang berada di belakangnya.
Ia kemudian berjalan dengan cepat ke arah yang berbeda dengan Dovrix, sambill diikuti oleh prajurit-prajurit tersebut. Kedua matanya sangat fokus memperhatikan sekeliling, bahkan ia sama sekali tidak berhenti berlari demi mencari apa yang ingin ia ketahui.
Tiga buah bintang kemudian terlihat memasuki langit malam Planet Bumi yang indah dan mendarat di tengah hutan lebat, kemudian berubah menjadi sosok Anexta, Xyon, dan Arex.
“Di mana anak itu berada, Jenderal Senior Xyon?” tanya Anexta sambil mengernyitkan dahinya.
“Yang Mulia, jika anda mau menyusuri hutan ini agak dalam, anda akan menemukan gerbang dari sebuah kota kecil yang letaknya di ujung dari hutan lebat ini,” jawab Xyon.
“Baiklah!” seru sang ratu dari Palladina itu dengan wajah yang terlihat semangat.
__ADS_1
Ia langsung berlari masuk ke dalam hutan dengan tergesa-gesa hingga Xyon dan Arex hampir saja terlambat mengejarnya. Mereka bertiga terus berlari, hingga tiba-tiba, pada suatu titik di dalam hutan lebat itu, Arex justru melihat Flerix dan prajurit-prajuritnya dari kejauhan.
“Silverian!” teriak Arex yang mendadak berhenti sambil mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke samping, hingga Anexta dan Xyon mendadak berhenti berlari sambil menatap ke arah yang ditunjuk oleh jenderal tersebut.
Rupanya Flerix mendengar teriakan tersebut sampai ia terkejut dan menghentikan langkahnya, termasuk juga prajurit-prajurit yang ikut bersama dengannya. Ia langsung menatap ketiga orang dari Palladina itu dengan senyum sinis yang mendadak muncul di wajahnya.
Mereka kini saling berhadapan, namun, dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
Xyon dan Arex langsung mengeluarkan pedang kosmik milik mereka, dan berdiri di hadapan sang ratu sambil menatap Flerix dengan wajah yang serius.
“Sialan, mengapa bsia-bisanya mereka berada di sini?!” gumam Flerix di dalam hatinya.
Ia sebenarnya ketakutan karena Anexta dan Xyon bukanlah lawan yang bisa ia remehkan, apalagi, ia sendiri tidak bersama dengan Dovrix dan prajurit yang ikut dengannya, tidak terlalu banyak. Namun, Flerix berusaha untuk tetap tenang di hadapan mereka.
"Kau, apa yang sedang kau lakukan di sini?!" tanya Anexta sambil mengernyitkan dahinya, dengan nada yang sedikit kencang.
"Aku? Hah? Lantas kau sendiri, apa yang kau sendiri sedang lakukan di sini?!" tanya Flerix balik kepada sang ratu dari Palladina itu.
Anexta lalu berbisik dengan nada yang sangat pelan kepada Xyon, “Apakah mereka tahu bahwa kau menyembunyikan Keira di sini?”
“Tidak mungkin, tidak ada satu orang pun yang berada di luar angkasa pada saat aku membawanya,” jawab Xyon dengan suara yang sangat kecil.
Keringat dingin Anexta mulai membasahi wajahnya. Ia sangat takut jika keberadaan Keira diketahui oleh para Silverian itu.
“Mungkin mereka hanya sedang ingin mencari sumber energi baru di sini, Yang Mulia,” ucap Xyon lagi.
Anexta masih merasa curiga kepada Raja dari Silverian itu. Ia bahkan sangat kesal terhadap Flerix yang tidak menjawab sama sekali pertanyaannya. Tiba-tiba, Anexta kemudian mengeluarkan pedang kosmik miliknya yang berwarna biru muda, sambil menggenggamnya erat-erat dan menatap ke arah Flerix dengan wajah yang terlihat kesal.
“Aku tidak jadi menemui Keira. Aku harus membereskan mereka terlebih dahulu di sini. Mereka tidak boleh tahu bahwa aku menyembunyikan seorang Crossbreed, anakku sendiri, di dalam planet ini,” ucap Anexta dengan nada pelan kepada Xyon.
__ADS_1