
“Tidak, Yang Mulia. Kau sedang berada di dalam Planet Palladina, Galaksi Metal, dan hidup bersama dengan para immortal. Neuroxeth ini tidak mungkin melakukan kesalahan, karena kami selalu mengembangkan kemampuan dan basis datanya setiap waktu,” balas Yeria dengan nada tegas.
Keira kembali terdiam. Ia benar-benar terkejut dengan kabar tersebut.
“Tidak mungkin melakukan kesalahan?” gumamnya dengan keringat dingin yang mendadak turun membasahi wajahnya.
Tiba-tiba, ia berdiri, lalu mencengkram kedua bahu Yeria hingga Kepala Perawat tersebut melotot karena sikapnya itu.
Keira kemudian menatap Yeria dengan tatapan tajam, sambil berbisik, “Dengarkan perintah dariku baik-baik, Kepala Perawat Yeria. Jangan pernah kau membocorkan kabar ini kepada siapa pun! Termasuk kepada Yang Mulia Raja Higarashi dari Halida dan Perdana Menteri Xyon! Siapa pun! Kabar ini hanyalah rahasia untuk kita berdua saja, mengerti?! Biarkan aku yang memberitahukan hal ini nanti kepada semua orang, ketika waktunya tepat. Aku tidak ingin mereka khawatir karena aku, aku akan melindungi kedua anak ini dengan energi antimateri milikku, agar mereka bisa terlahir sebagai immortal.”
“Yang Mulia! Hal itu terlalu berbahaya! Anda bisa kehabisan energi antimateri, mengapa Anda melakukan hal itu?” tanya Yeria dengan wajah yang tampak terkejut.
“Ya, aku tidak ingin kedua anak ini menjadi mortal, atau Crossbreed, tentunya. Aku akan mengubah energi antimateriku menjadi energi dari materi, kepada mereka,” jawab Keira dengan nada tegas.
“Namun, Yang Mulia …,” balas Yeria, dan Keira langsung memotongnya dengan berkata, “Kau tidak perlu memikirkan diriku. Aku bisa mengendalikan energi kosmik mana yang akan kugunakan, jadi, aku harap, kau tidak menyebarkan kabar ini ke mana pun. Aku masih harus berurusan dengan para Silverian, dan jika mereka mengetahuinya, tentu saja galaksi ini bisa menjadi lebih kacau. Benar begitu, bukan, Kepala Perawat Yeria?”
“Yang Mulia, kabar tentang kehamilan anda ini harus segera disebarkan, karena ada aturan …,” ucap Yeria, dan sekali lagi, Keira langsung berbisik, “Ini adalah perintah!”
Yeria terdiam sesaat, namun, ia akhirnya mengangguk dengan wajah yang masih terlihat gusar. Keira kemudian melepaskan cengkramannya dari kedua bahu Yeria, lalu menatapnya sambil tersenyum kecil.
"Dengarkan aku. Ini adalah perintah dan permohonanku. Aku yang akan memberitahukan hal ini sendiri kepada mereka. Kau bisa kembali sekarang. Terima kasih sudah berjanji, Kepala Perawat,” ucapnya pelan.
"Baiklah, Yang Mulia. Namun, izinkan aku untuk membantu dalam kehamilan pertama Anda ini,” balas Yeria sambil mengernyitkan dahinya.
“Aku akan meminta bantuanmu secara diam-diam, tolong jangan bawa siapa pun ikut bersama denganmu jika kau hendak menemuiku,” ujar Keira.
Yeria mengangguk, kemudian, ia membungkukkan badannya sebentar dan kembali berdiri tegak, lalu, ia melangkah keluar dari ruangan tersebut. Setelah Yeria menutup rapat kembali pintunya, Keira kemudian berbaring kembali di atas ranjangnya.
__ADS_1
“Dua anak laki-laki? Ah, bagaimana ini?” gumamnya pelan.
Ranjang tersebut tiba-tiba menyala, dan Keira lalu memejamkan kedua matanya. Ia lantas meletakkan tangan kanan di atas perutnya sambil tersenyum kecil.
“Aku akan melindungi semua orang. Alam semesta, lihat saja. Aku akan menunjukkan kepadamu bahwa aku mampu melepaskan kutukan ini,” ucapnya.
Ia kemudian tertidur sambil mengisi ulang energi cahaya miliknya. Dua hari berlalu dengan damai, tanpa ada yang mengganggu tidurnya. Keira lalu terbangun begitu ia merasa energi cahayanya sudah terisi penuh, dan berdiri di samping ranjangnya.
Ia lantas berjalan keluar dari Light Chamber tersebut, masuk ke dalam istana, dan terus melangkah hingga akhirnya tiba di depan sebuah ruangan yang berada di salah satu lorong, lalu dengan perlahan, ia mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk saja," seru seorang pria dari dalam ruangan tersebut.
Keira kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan kecil itu, lalu kembali menutup pintunya rapat-rapat. Ia kini menatap seorang pria yang sedang duduk di atas kursi dari balik meja kerja, dengan wajah yang gusar.
"Uh, maafkan aku sudah mengganggumu, Paman Xyon," ucap Keira pelan.
“Aku akan kembali ke Planet Halida terlebih dahulu, sambil merencanakan sesuatu untuk Planet Silverian,” jawab Keira.
Xyon kemudian menghela nafas panjang, tanpa mencurigai apapun darinya.
“Aku tidak akan melarangmu, namun, bukankah kau masih merasa lelah?” tanya Xyon.
Keira menggelengkan kepalanya dua kali, lalu menjawab, “Aku sudah sangat segar, Paman.”
“Baiklah, jika nanti kau sudah memiliki rencana lainnya, katakan kepadaku secepat mungkin,” balas Xyon.
Keira mengangguk sambil tersenyum, kemudian, ia berjalan keluar dari ruangan itu dan berlari menuju ke halaman belakang istana, dengan langkah yang berhati-hati, karena ia tahu bahwa kini, ia sedang mengandung.
__ADS_1
Setelah tiba di sana, ia langsung mengubah dirinya menjadi sebuah bintang kecil dan melesat keluar Planet Palladina dengan kecepatan tinggi. Tidak butuh waktu lama, Keira lantas memasuki atmosfer Planet Halida dan mendarat di halaman depan istana tersebut, lalu mengubah dirinya kembali seperti semula.
Ia kemudian berlari kecil untuk masuk ke dalam istana, dan tanpa sengaja, ia bertemu dengan Higarashi di salah satu lorong. Kejadian itu membuatnya harus menghentikan langkahnya, bahkan suaminya tersebut tampak terkejut ketika melihat istrinya tiba-tiba sudah berada di hadapannya.
“Keira! Aku baru saja hendak menemuimu!” seru Higarashi dengan mata yang melotot.
Keira tersenyum, lalu membalas, “Aku merindukanmu, maka dari itu, aku langsung ke sini setelah energi cahayaku sudah penuh.”
Higarashi langsung memeluk istrinya itu dengan erat, kemudian berbisik, "Apakah … kau ingin mengunjungi Planet Bumi? Aku sudah selesai di sini, dan Leino akan mengurus kerajaan untuk beberapa waktu. Aku … aku hanya ingin berdua denganmu saat ini.”
Keira lantas membalas pelukan itu, lalu menjawab, “Aku ingin tinggal untuk sementara waktu di sana, rumahku sendiri.”
Higarashi lalu membelai lembut rambut Keira sambil berkata, “Baiklah, kita akan tinggal di sana untuk sementara. Aku akan terus bersama denganmu, kali ini.”
Ia kemudian melepaskan pelukannya, lalu menatap Keira dengan wajah yang tampak penasaran.
“Aku memanggil Kepala Perawat Yeria dari Palladina pada waktu itu, untuk memeriksa dirimu. Apakah ia sudah memberikan diagnosisnya?” tanya Higarashi.
Wajah Keira langsung terlihat panik. Ia bahkan tertawa kecil karena terkejut akan pertanyaan tersebut.
Ia lantas menjawab dengan wajah yang memerah, "Ah, iya. Ia hanya berkata aku sedang kelelahan, ya, itu saja, tidak ada yang lain."
"Ah, begitu. Pantas saja kau meminta untuk kembali ke rumahmu. Baiklah, memang sebaiknya seperti itu. Lagi pula, kemarin kau sudah menghabiskan banyak energi kosmik, dan aku juga merasakan hal yang sama setelah kejadian kemarin di dalam Planet Silverian," balas Higarashi sambil mengangguk dua kali.
Keira langsung menelan ludahnya, menghela nafas, dan tersenyum, sambil berusaha untuk tetap tenang.
“Haruskah aku memberitahukan kabar tentang kandungan ini, atau haruskah aku diam saja? Karena cepat atau lambat, perutku akan semakin membesar dan semua orang nantinya akan mengetahuinya! Aku harus segera memikirkan cara agar perang ini bisa dihentikan, atau nasib anak-anak ini bisa berada dalam bahaya,” gumam Keira di dalam hati.
__ADS_1