
Mari kita bermain dengan ruang dan waktu, untuk mundur ke masa lalu.
Xyon, seorang pria muda berusia delapan belas tahun, yang berasal dari Planet Palladina. Ayahnya bernama Derix, adalah seorang pria berambut putih dengan bola mata coklat, yang memiliki gelar Jenderal Senior satu-satunya pada saat itu, dihormati oleh seluruh rakyat karena keberanian, kerajinan, dan kesetiaannya dalam menjaga Galaksi Metal serta kerajaannya. Usianya sekitar enam puluh tahun dan masih terlihat tampan.
Ibunya bernama Wyona, seorang kepala pelayan dengan rambut dan bola mata berwarna ungu muda yang sangat dihormati para penghuni istana karena ketegasannya. Usianya kurang lebih sama dengan Derix, namun kecantikannya masih membuat pria tergoda.
Sejak Xyon berulang tahun yang kedelapan belas, ayah dan ibunya memberikan sebuah cincin yang terbuat dari logam palladium, serta terukir namanya sendiri, “XYON”, sebagai hadiah atas kedewasaannya. Ia selalu mengenakan cincin itu di jari manis kirinya, sementara ia bertarung menggunakan pedang kosmik dengan tangan kanannya.
Pemimpin kerajaan Palladina yang berkuasa saat itu adalah Yang Mulia Raja Treya, pria berusia tujuh puluh tahun dengan rambut biru tua dan bola mata abu-abu, serta istrinya, Yang Mulia Permaisuri Veina yang berusia sama dan memiliki rambut putih dengan bola mata biru muda.
Pada saat itu, Arnea masih adalah seorang pangeran dengan gelar Yang Mulia Pangeran Mahkota, dengan istrinya, Yang Mulia Putri Mahkota Klara. Karena kedekatannya dengan Arnea, dan kepintaran serta kemahirannya dalam bertarung, Xyon kemudian diminta oleh sang Raja untuk menjadi pengawal pribadi Pangeran Mahkota.
“Berhati-hatilah setelah kau menjadi pengawal pribadi untuk Pangeran Mahkota, Xyon,” bisik ayahnya sebelum ia memutuskan untuk menerima tawaran tersebut.
Pada suatu hari, Arnea menemui Xyon di halaman belakang istana. Kebetulan saja pada saat itu, Xyon sedang berlatih dengan pedang kosmiknya, sendirian. Pangeran Mahkota tersebut lalu mendekati Xyon dan berdiri di sampingnya dengan senyum yang lebar.
"Yang Mulia, tolong katakan saja langsung kepadaku, apa yang sedang Anda inginkan," ucap Xyon sambil menatap Arnea dengan wajah serius setelah membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada Pangeran Mahkota itu dan kembali berdiri tegak setelahnya.
"Ah, kau selalu bisa menebak isi pikiranku, lebih daripada istriku!" seru Arnea.
Xyon hanya terdiam tanpa membalas seruan tersebut.
"Kau memang selalu dingin, ya? Baiklah, begini. Aku sudah berbicara dengan ayahku, agar aku bisa tinggal di Planet Bumi untuk sementara waktu bersama dengan Klara," jawab Arnea.
"Tinggal di dalam Planet Bumi?" tanya Xyon sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Aku adalah seorang Pangeran Mahkota, dan tentu saja, aku juga adalah seorang penjaga galaksi, bukan? Nah, aku ingin mempelajari seluruhnya tentang manusia mortal yang tinggal di sana," ujar Arnea sambil tersenyum kecil.
Xyon menghela nafas pendek, lalu membalas, “Anda hanya menginginkan bulan madu bersama dengan Yang Mulia Putri Mahkota, bukan?”
Arnea terdiam, kemudian tertawa sebentar dan berkata, “Ya, sebenarnya, bisa saja kau anggap ini adalah bulan madu, karena kami baru saja menikah bulan lalu.”
"Jika demikian, Yang Mulia, aku tidak akan ikut bersamamu," balas Xyon.
"Ah, jangan begitu. Aku dan Klara baru saja menikah, dan aku sangat membutuhkanmu untuk berdiskusi tentang para manusia itu. Ayolah, Xyon. Ayah tidak akan mengizinkanku jika aku hanya pergi berdua dengan istriku, jadi, aku berkata kepadanya bahwa kau setuju untuk ikut," ucap Arnea dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Xyon memutar bola matanya sekali, karena ia yakin bahwa alasan tersebut dibuat-buat.
“Baiklah, Yang Mulia. Kapan aku bisa ikut menemanimu pergi ke sana?" tanyanya dengan wajah datar.
"Besok pagi," jawab Arnea.
"Dan di mana anda akan tinggal, Yang Mulia?" tanya Xyon lagi.
Xyon menghela nafas pendek lagi, kemudian kembali bertanya, "Jadi, apakah aku akan tinggal satu kamar bersama Anda dan istri Anda, Yang Mulia?"
Arnea langsung terkejut mendengar pertanyaan itu, lalu ia menjawab, "Astaga, tidak, tidak, Xyon! Yang benar saja! Aku akan menyewakan kamar yang berbeda untukmu!”
Wajah Xyon sama sekali tidak terlihat memiliki ekspresi, karena ajaran dari ayahnya yang sangat keras sejak kecil, sehingga yang ia tahu hanyalah cara bertarung. Ia tampak dingin, walaupun beberapa pelayan perempuan banyak yang menyukai fisik tampannya.
“Baiklah, Yang Mulia,” balas Xyon.
Arnea tersenyum lebar setelah mendengar persetujuan tersebut. Keesokan paginya, ia dan Klara sudah tampak berdiri di samping kereta antar planet yang akan mengantar mereka. Treya serta Veina, tentu saja juga berada di sana untuk mengantar keduanya.
__ADS_1
"Astaga, ke mana Xyon? Di mana dia?!" gumam Arnea sambil melihat sekelilingnya, mencari-cari keberadaan pengawal pribadinya itu.
Tiba-tiba, Derix dan Xyon terlihat berlari keluar dari dalam istana dengan terburu-buru. Mereka kemudian berdiri di hadapan Treya dan langsung membungkukkan badan sebentar sebelum kembali berdiri tegak.
"Yang Mulia! Maafkan atas keterlambatan kami!" ucap Derix dengan wajah serius.
Wajah Arnea menjadi begitu gembira setelah melihat Xyon yang baru saja tiba.
"Karena Xyon sudah tiba di sini, kami akan segera pergi, Ayah, Ibu,” ujarnya dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Yang Mulia! Aku berharap Xyon dapat memberikan perlindungan bagi Anda berdua!" seru Derix sambil kembali membungkukkan badannya di hadapan Arnea.
"Maka dari itu, aku meminta Xyon untuk menemaniku, Jenderal Senior Derix!" balas Arnea sambil tersenyum.
Derix lalu kembali berdiri tegak, kemudian Arnea menatap ayah dan ibunya dan berkata, "Baiklah kalau begitu, Ayah, Ibu, aku akan pergi terlebih dahulu. Masuklah, Xyon!"
Ia lantas membungkukkan badan di hadapan Treya dan Veina, bersama dengan istrinya dan Xyon, lalu kembali berdiri.
"Ayah, Ibu, kami akan pergi sekarang,” ucap Klara, hanya untuk berpamitan dengan sopan.
“Masuklah, dan jangan lupa, jaga diri kalian baik-baik!” seru Treya dengan wajah yang gembira.
Setelah Arnea dan Klara masuk terlebih dahulu, dan Xyon setelahnya. Pintu kereta antar planet itu kemudian tertutup rapat, dan dengan cepat berubah menjadi sebuah bintang kecil yang melesat ke atas langit, meninggalkan Planet Palladina, mengarah ke Planet Bumi.
Tidak butuh waktu lama, alat transportasi tersebut kemudian memasuki atmosfer Planet Bumi yang langitnya masih gelap karena hari itu masih subuh, lalu mendarat di sebuah taman yang sepi dengan pepohonan yang lebat di dalam kota kecil yang indah dan sederhana.
Arnea dan Klara keluar terlebih dahulu, dan Xyon setelahnya, sambil masing-masing menggendong barang-barang pribadi dengan beberapa tas yang berukuran besar dengan punggung.
__ADS_1
“Jangan sampai kalian tersesat. Ikuti saja langkahku,” ucap Arnea.
Mereka kemudian berjalan menuju ke sebuah gedung penginapan yang dimaksud oleh Arnea sebelumnya, yang berada di pinggir jalan utama. Bangunan tersebut tampak kecil, namun memiliki banyak kamar dan beberapa darinya sudah tersewa oleh para pendatang.