
Sementara itu di dalam istana kerajaan Halida, Keira yang kini sudah berada di dalam kamarnya, terlihat sedang duduk di atas ranjang sambil memeluk kedua lututnya. Wajahnya tampak sendu. Ia bahkan berusaha untuk tidak menangis, walaupun sepertinya air mata ingin mengalir.
"Jika memiliki kekuatan yang besar saja tidak mampu untuk melindungi orang-orang yang kucintai, untuk apa aku memilikinya? Sangat tidak berguna. Aku … mulai membenci diriku sendiri …!" gumamnya.
Higarashi sendiri sedang berada di dalam kamar mandi sambil berendam dan berusaha untuk menenangkan pikirannya.
“Aku harus menjadikan istriku sebagai permaisuri agar tidak ada lagi yang berani bermain-main dengannya!” seru Higarashi di dalam hatinya.
Hatinya benar-benar menjadi penuh amarah … dan dendam kepada Silverian yang sudah membunuh kedua orang tuanya serta mengacaukan istananya.
Masa-masa yang tenang kemudian berlalu, dan tanpa terasa, sudah empat puluh hari terlewat, dan pada hari ke empat puluh satu, semua orang di dalam Planet Halida akhirnya bisa melepaskan pita hitam yang terikat di lengan mereka sebagai tanda berkabung semesta.
Sudah sejak seminggu lalu, Higarashi memerintahkan Leino untuk mengirimkan undangan kepada semua pemimpin, pejabat tinggi, hingga bangsawan dari planet lainnya kecuali Planet Silverian, untuk datang dan menjadi saksi atas pembacaan surat wasiat yang ditinggalkan oleh ayahnya, mendiang Yang Mulia Raja Neriya dari Halida.
Istana kerajaan Planet Halida tampak sangat sibuk sudah seminggu ini, dan pada akhirnya, pagi itu, para tamu undangan yang sudah tiba di depan halaman istana kerajaan Halida, satu per satu berjalan masuk menuju ke ruang utama. Leino lalu berjalan mendekati altar dan berdiri di samping, sambil menantikan kehadiran Higarashi dan Keira.
Setelah tamu-tamu undangan sudah banyak yang berkumpul di sana, Higarashi kemudian berjalan memasuki ruang utama itu, didampingi oleh istrinya, Keira, menuju ke altar. Sang Pangeran Mahkota dari Halida tersebut lalu naik ke atas altar, dan Keira mengikutinya.
__ADS_1
Mereka lantas berdiri di tengah-tengah altar tersebut, lalu, Leino berjalan mendekati Higarashi dan memberikannya sebuah kertas kosmik yang terlipat. Higarashi langsung mengambil benda itu, kemudian menatap lurus ke arah tamu-tamunya.
“Terima kasih sudah berkenan hadir di sini dan menjadi saksiku, Yang Mulia, para pejabat, dan bangsawan serta seluruh rakyat yang kucintai. Empat puluh hari masa berkabung semesta sudah kita lewati bersama, dan sekarang, aku akan menunjukkan kepada kalian, surat wasiat yang ditinggalkan oleh ayahku, mendiang Yang Mulia Raja Neriya,” serunya.
Ia lalu membuka lipatan tersebut, kemudian, kertas kosmik itu melayang di hadapan dirinya dan menampilkan sosok seorang pria yang mereka kenal, yakni mendiang Yang Mulia Raja Neriya.
"Aku, Yang Mulia Raja Neriya dari Halida, menyatakan bahwa surat wasiat ini aku buat dengan sendiri, disaksikan oleh istriku, Yang Mulia Permaisuri Klafina dari Halida. Dengan surat ini, aku memerintahkan kepada seluruh pelayan, pengawal, prajurit, bahkan seluruh pejabat hingga penduduk yang Planet Halida untuk menjalankan titahku ini segera setelah aku tiada. Aku akan menjadikan anak pertamaku dan anak laki-lakiku satu-satunya, Yang Mulia Pangeran Mahkota Higarashi dari Halida, untuk meneruskan pemerintahanku, sehingga ia akan menjadi Yang Mulia Raja Higarashi dari Halida. Istriku akan bergelar Yang Mulia Ratu Agung Klafina dari Halida. Demikian surat wasiat ini kubuat. Tertanda, Yang Mulia Raja Neriya dari Halida,” seru sosok Neriya di dalam surat tersebut.
Kertas kosmik itu kemudian terjatuh, dan Higarashi langsung menangkapnya, lalu melipat kembali benda tersebut dan menyerahkannya kepada Leino. Sekertaris Kerajaan itu lantas menatap lurus tamu-tamu undangannya, sambil menghela nafas panjang.
Ia kemudian menoleh ke samping dan menatap ke arah salah satu pelayan untuk menyerahkan mahkota raja yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Leino dan Higarashi sebenarnya sudah terlebih dahulu membaca surat wasiat tersebut, dua minggu sebelumnya, dan untuk menyingkat waktu, mereka memutuskan untuk melakukan penobatan langsung, agar tidak terjadi kekosongan pemerintahan yang terlalu lama.
Pelayan tadi dengan cepat memberikan mahkota raja kepada Leino. Ia kemudian mengangkat benda itu dengan hati-hati, lalu menoleh ke arah Higarashi.
"Dengan demikian, akan kumulai proses penobatan anda, Yang Mulia Pangeran Mahkota Higarashi dari Halida," serunya.
Higarashi kemudian berlutut. Leino lalu meletakkan mahkota raja itu di atas kepala tuannya dengan sangat hati-hati, lalu, ia berdiri tegak sambil menatap Higarashi dengan wajah yang serius.
__ADS_1
"Yang Mulia Pangeran Mahkota Higarashi, apakah anda bersumpah bahwa anda akan menjadi pemimpin yang bijak dan adil bagi Planet Halida, serta ikut membantu Planet Palladina dalam menjaga kedamaian bagi Galaksi Metal, sebagai sekutunya?" tanya Leino dengan nada tinggi.
Higarashi kemudian menghela nafas panjang, dan menjawab dengan nada tegas, "Aku, Yang Mulia Pangeran Mahkota Higarashi dari Halida, bersumpah akan menjadi pemimpin yang bijak dan adil bagi seluruh rakyat Halida, dan akan selalu membantu Planet Palladina dalam menjaga kedamaian bagi Galaksi Metal!"
"Dengan demikian, aku akan menobatkanmu sebagai raja, sesuai dengan isi surat wasiat yang ditulis oleh mendiang Yang Mulia Raja Neriya. Aku nyatakan dengan ini, Yang Mulia Pangeran Mahkota Higarashi, secara resmi adalah raja untuk kerajaan Halida, dengan gelar Yang Mulia Raja Higarashi dari Halida. Wahai rakyat Halida, berlututlah sekarang di hadapan raja baru planet ini!" seru Leino, kemudian ia berlutut di hadapan Higarashi, diikuti oleh semua penduduk Planet Halida.
Higarashi lalu berdiri tegak dan menoleh ke arah tamu-tamunya. Bagi mereka yang bukan adalah penduduk dari Planet Halida, mereka hanya akan membungkukkan badan kepadanya sebagai tanda hormat.
"Hidup Yang Mulia Raja Higarashi!" seru para penduduk, termasuk yang berada di luar istana … dan juga Keira, yang berlutut di belakang suaminya.
Setelah beberapa saat, semua orang kemudian kembali berdiri tegak. Higarashi lalu menatap lurus mereka semua dengan wajah yang serius.
"Aku, Yang Mulia Raja Higarashi, berterima kasih kalian semua telah meluangkan waktu untuk datang ke acara ini. Sebagai raja yang baru, aku sangat berharap dukungan dari kalian semua kepada pemerintahanku, untuk ke depannya. Lalu, agar tidak membuang waktu kalian, detik ini juga, aku akan langsung menobatkan istriku, Yang Mulia Putri Mahkota Keira, sebagai permaisuri dari kerajaan Halida yang baru!" seru Higarashi.
Keira dan para tamu undangan langsung terkejut akan hal itu, karena mereka berpikir bahwa Keira adalah seorang Crossbreed dan apa yang sudah terjadi di dalam Planet Halida kemarin adalah sebuah kengerian. Suasana langsung berubah menjadi riuh dan tegang.
Xyon sendiri langsung melotot begitu mendengar Higarashi akan menjadikan Keira sebagai ratu, bahkan beberapa orang mulai berbicara akan kekuatan milik Keira yang mereka rasa, sangat menakutkan. Azure Shield bagi Planet Halida membuat semua orang terkejut akan energi antimateri milik Keira.
__ADS_1