
Neriya kemudian berjalan mendekati anak dan istrinya itu sambil membawa tiga botol yang berisi jus jeruk di kedua tangannya, namun, begitu ia melihat Higarashi yang hendak pergi, wajahnya mulai terlihat kebingungan.
“Hei, mau ke mana dirimu, Nak?” tanyanya sambil menyerahkan salah satu botol jus jeruk kepada Klafina.
“Aku bosan sekali, biarkan aku berjalan-jalan sendiri di sekitar sini, Ayah. Aku akan kembali ke penginapan sebelum malam nanti,” jawab Higarashi.
Neriya kemudian memberikannya satu botol jus jeruk, yang langsung dibuka dan diteguk olehnya dengan cepat. Higarashi kemudian meletakkan botol kosong tersebut ke dalam tong sampah yang ada di sebelah kirinya.
“Baiklah, kembalilah sebelum malam! Dasar anak-anak!” seru Neriya, yang kemudian duduk di atas kursi, di samping istrinya.
"Terima kasih, Ayah, Ibunda!" seru Higarashi, kemudian dengan cepat, ia berlari ke arah gadis kecil berambut biru tua itu, dan mulai mengikutinya dari belakang.
Namun, di sepanjang perjalanan, gadis kecil berambut biru tua itu justru mendapat perundungan dari beberapa anak lain yang berada di sekitarnya. Ia bahkan berjalan tergesa-gesa, agar tidak bertemu dengan anak-anak yang berada di sekitar lingkungan tersebut.
Tampak beberapa anak menertawakan warna rambutnya “Dasar alien!”
Atau bahkan meneriakinya, "Anak buangan, hei kau!"
Gadis kecil itu seolah tidak mendengar semua ejekan yang ditujukan kepadanya, bahkan mengacuhkan kertas-kertas yang dilemparkan kepadanya. Ia terus saja berjalan, seolah memang sudah biasa ia menerima seluruh rundungan itu, walaupun wajahnya tampak sedih dan sedikit ketakutan.
Ia terus melangkah hingga akhirnya tiba di perkebunan bunga krisan milik kedua orang tua angkatnya yang dipagari oleh pagar kayu di sekelilingnya. Gadis kecil itu kemudian membuka pintu yang terletak di samping kiri pagar-pagar kayu tersebut, dan masuk ke dalamnya, namun karena ketakutan, ia lupa menutup kembali pintu tersebut.
Higarashi rupanya juga sudah tiba di depan perkebunan bunga krisan itu dan melihat pintu yang tidak dikunci. Ia kemudian berdiri di baliknya sambil memperhatikan gadis kecil tadi yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam perkebunan itu.
“Apakah aku … bukan manusia? Mengapa mereka tidak menyukai warna rambutku?” tanya gadis itu dengan wajah yang sendu.
__ADS_1
Angin yang bertiup tidak terlalu kencang, meniup pelan rambut biru tua panjangnya. Ia lalu mengeluarkan sebuah gunting dari dalam keranjang coklat tersebut dan mulai menggunting kelopak-kelopak bunga krisan yang ia rasa sudah siap untuk dipanen.
Entah mengapa Higarashi ingin sekali melangkah masuk ke dalam perkebunan bunga krisan itu, namun, ia sendiri tersipu malu dan mengurungkan niatnya, sambil mengepalkan tangan kanannya ketika ia memperhatikan gadis kecil tersebut dari balik pintu.
Gadis kecil itu kemudian menengok ke atas, ke arah sebuah pot yang berisi banyak bunga krisan di dalamnya.
“Astaga, seharusnya aku memanennya dari kemarin!” serunya dengan wajah yang terlihat panik.
Ia lalu naik ke atas sebuah kursi, dan hendak memotong setangkai bunga krisan yang berada di dalam pot tersebut, walaupun ia tahu posisi pot itu agak lebih tinggi daripada dirinya.
Namun, tampaknya ia kesulitan untuk meraih kelopak bunga krisan tersebut agar tidak potnya tidak bergoyang atau jatuh mengenai dirinya. Begitu ia rasa sudah kembali aman dan mulai menggunting kelopaknya, tiba-tiba saja pot itu bergoyang dan menyenggol pot kecil yang ada di sebelahnya.
Pot kecil itu kemudian terjatuh, dan membuatnya terkejut hingga ia tidak bisa mempertahankan kedua kakinya lagi di atas kursi. Ia lalu melompat ke bawah karena terkejut.
“Hei!” teriak Higarashi, yang lalu berlari dengan cepat ke arah gadis kecil tersebut dan langsung menangkap tubuhnya sebelum ia benar-benar jatuh menyentuh tanah.
Pot kecil tersebut memang terjatuh agak jauh di sebelah kanan Higarashi, namun untung saja tidak pecah. Sementara ia dan gadis kecil itu kini saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat.
“Oh, ah, maafkan aku,” ucap Higarashi yang langsung melepaskan tubuh gadis kecil tersebut dari rangkulannya.
Gadis kecil tersebut kemudian kembali berdiri dengan tegak di sebelah Higarashi, dan menatapnya dengan senyum kecil di wajahnya.
“Terima kasih sudah menolongku, Tuan Muda,” balas gadis kecil itu.
“Ah, iya, baiklah,” ucap Higarashi setelah melihat senyuman darinya, serta ucapan terima kasih yang baru pertama kali ia dengar dari orang lain.
__ADS_1
Wajah Higarashi memerah. Ia tersipu malu, bahkan tidak bisa berkata-kata, dan hanya terdiam sambil menatap kembali gadis kecil itu dengan wajah yang terlihat kebingungan.
Gadis kecil tersebut kemudian menatapnya dengan wajah yang ceria dan berkata, "Sekali lagi, aku berterima kasih kepadamu, Tuan Muda. Aku sudah melihat anda dan kedua orang tua anda membeli minuman di toko minuman milik kedua orang tuaku, dan aku adalah anak dari pemilik toko minuman itu. Aku akan berbicara kepada kedua orang tuaku untuk memberikan anda sebuah minuman gratis sebagai tanda terima kasih karena sudah menolongku barusan!”
Wajah Higarashi langsung terlihat terkejut begitu ia mengetahui bahwa gadis kecil tersebut adalah anak dari pemilik toko minuman tadi.
“Ah, ternyata kau adalah anak dari pemilik toko minuman tadi. Maafkan aku, aku mengikutimu sampai ke sini hanya karena penasaran dengan pemandangan di sepanjang jalan. Ah, iya, kebetulan saja aku dan kedua orang tuaku sedang berlibur di kota kecil ini," balas Higarashi dengan bibir yang sedikit gemetar.
Keira kemudian mengulurkan tangannya ke depan dan tersenyum, lalu berkata, “Kalau begitu, kau adalah pengunjung dari kota lainnya, bukan? Mari berkenalan! Namaku Keira.”
Higarashi langsung terkejut dengan sesuatu yang disebut bersalaman itu. Ia hanya bisa melotot ke arah telapak tangan Keira yang kini berada di hadapannya.
Ia kemudian meraih telapak tangan Keira dengan canggung, lalu membalas, “Higarashi! Namaku Higarashi! Aku … ya, aku berasal dari kota sebelah!”
Keira tersenyum kecil setelah itu, lalu ia menjauhkan tangannya dari Higarashi sambil menundukkan kepala. Wajahnya kembali terlihat sendu, sehingga membuat anak laki-laki itu kebingungan akan sikapnya.
"Ah, Keira, jangan memanggilku dengan sebutan Tuan Muda. Aku bukan orang kaya yang memiliki banyak pelayan, panggil saja aku dengan namaku, Higarashi," ucap Higarashi yang berusaha untuk mencairkan suasana di antara dirinya dan gadis kecil tersebut.
Keira kemudian menatap Higarashi dengan wajah yang sendu, lalu berkata, “Baiklah, Higarashi. Karena aku sudah selesai mengambil kelopak-kelopak bunga krisan ini, aku harus segera kembali ke toko minuman itu. Aku akan mengunci pagarnya, jadi, sebaiknya kita keluar terlebih dahulu.”
Ia kemudian berjalan keluar, dan Higarashi mengikutinya dari belakang. Dengan perlahan, Keira lalu menutup pagar dan menguncinya kembali.
Keira hendak memasukkan kunci pagar tersebut ke dalam saku bajunya, namun tiba-tiba, Higarashi bertanya kepadanya, “Ah, Keira, aku sudah mengikutimu sejak kau keluar dari toko minuman tadi, namun, mengapa anak-anak itu merundungmu di sepanjang jalan?”
Keira langsung terdiam begitu Higarashi menanyakan hal tersebut kepadanya.
__ADS_1