Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Rencana Baru


__ADS_3

“Kau sebaiknya lihat saja ke sana sendiri dengan kedua mata kepalamu, Xyon,” ucap Sey dengan wajah yang terlihat kesal.


Xyon menghela nafas pendek, lalu berkata, “Aku akan mencobanya.”


Sey, Arex, Nordian, dan Weim kemudian berjalan meninggalkan Xyon sendiri di sana, tanpa membalas ucapan dari sang Jenderal Senior itu.


Xyon menghela nafas panjang. Ia lalu berjalan menuju ke ruang kerja pribadinya, sendirian. Namun, di sepanjang jalan, ia merasa ada yang tidak beres dengan semua kejadian yang terjadi kepada Ryena.


“Tidak mungkin Yang Mulia Ratu sama sekali tidak bertindak apapun setelah tahu bahwa Ryena sudah dibunuh oleh Flerix,” gumamnya pelan.


Ia akhirnya tiba di depan sebuah ruangan. Dengan perlahan, ia membuka pintunya, lalu masuk ke dalam dan langsung terkejut begitu ia melihat seorang wanita yang sedang berdiri di sebelah sofa, entah sudah berapa lama wanita itu berada di sana.


“Yang Mulia,” ucap Xyon pelan sambil menundukkan kepalanya sebentar, lalu dengan cepat, ia menutup pintu dan menatap kembali wanita yang sedang berdiri di hadapannya.


Wanita tersebut rupanya adalah Anexta. Wajahnya terlihat serius, tampak sama sekali tidak sedih atas kematian adik angkatnya, Ryena.


“Aku sebenarnya ingin membawa Ryena kembali ke sini ketika kami bertemu di Planet Bumi pada waktu itu, dan meminta Ratu dari Halida untuk melakukan Memovilate kepadanya,” ucapnya pelan.



“Lalu, apa yang akan anda lakukan sekarang, Yang Mulia?” tanya Xyon.


“Tidak ada,” jawab Anexta tegas.


Xyon tampak tidak terkejut sama sekali dengan jawaban itu.


“Karena Ryena sudah bukan lagi adalah seorang Palladina dan statusnya hanya rakyat biasa, lantas mengapa aku harus memikirkannya? Bukankah lebih baik sekarang kita mencari cara untuk bisa masuk ke dalam Planet Silverian dan merebut anak itu dari tangan Flerix?” tanya Anexta dengan wajah yang serius.

__ADS_1


“Aku akan mencobanya, Yang Mulia,” jawab Xyon.


Anexta tersenyum kecil, setelah itu, ia berjalan mendekati pintu dan membukanya dengan perlahan.


“Aku akan menunggu kabar darimu, Jenderal Senior Xyon. Untuk saat ini, aku tidak akan mengadakan hari berkabung untuk Ryena, namun, sebagai gantinya, kita akan melakukan balas dendam langsung kepada Flerix,” ucapnya pelan.


Ia kemudian berjalan keluar dari ruang kerja pribadi milik sang Jenderal Senior itu dengan langkah yang tegas. Xyon hanya bisa menatap pintu yang perlahan menutup dengan sendirinya, sambil menghela nafas panjang.


“Aku harus segera ke sana dan melihat sendiri apa yang sudah berubah dari planet abu-abu itu. Sudah hampir enam puluh tahun lamanya aku tidak lagi memperhatikannya, bahkan dari kejauhan,” gumamnya pelan.


Ia lalu mengurungkan niatnya untuk beristirahat di dalam ruang kerja pribadinya dan memutuskan untuk keluar, kemudian berlari menuju ke halaman depan. Ia hendak mencari keempat jenderal bawahannya, yang mungkin ia pikir masih sedang berada di sana.


Sesampainya ia di halaman depan, ia justru tidak menemukan keempatnya. Xyon hanya bisa berdiri di tengah-tengah sambil memperhatikan sekelilingnya.


“Aku akan mencobanya sendiri, kalau begitu. Apa susahnya?” tanyanya di dalam hati.


Tidak butuh waktu lama, ia akhirnya tiba tepat di depan Planet Silverian dan langsung masuk ke dalam atmosfernya.


Dengan berani, ia kemudian mengubah fisiknya kembali seperti semula, sambil mulai berusaha untuk menembus atmosfer planet tersebut.


Namun, rupanya tidak mudah untuk menembusnya. Angin ****** beliung yang berputar dengan kencang dan berkali-kali menghempaskan tubuhnya kembali ke luar angkasa, mulai membuat Xyon kebingungan. Ia kini hanya bisa melayang-layang di sekitar planet hitam itu dengan perlahan.


“Apa yang sudah terjadi dengan planet ini?” tanyanya.


Ia kemudian berusaha untuk masuk lagi ke dalam atmosfer Planet Silverian, namun mendadak, pasukan-pasukan Silverian yang menyadari bahwa ada seseorang sedang mencoba masuk ke dalam atmosfer mereka, langsung menyerang Xyon tanpa ampun, dengan tombak dan anak-anak panah yang diarahkan kepadanya.


Kedua mata dan tangan Xyon yang sudah terlatih, langsung menghalau seluruh benda tajam itu dengan pedang kosmiknya, namun, karena terlalu banyak serangan yang dilancarkan kepadanya, ia akhirnya menyerah dan memutuskan untuk melesat keluar dari atmosfer planet hitam itu.

__ADS_1


Ia kini hanya bisa melayang-layang di atas planet tersebut sambil sesekali menggelengkan kepalanya.


“Ada apa dengan planet ini? Apa ini semua karena energi gelap itu?” gumam Xyon pelan.


Ia menghela nafas panjang, lalu kembali berusaha untuk masuk ke dalam atmosfer planet hitam itu. Kali ini, ia justru dihadapkan dengan petir-petir yang mulai menyambar ke arahnya.


“Sialan!!!” teriaknya dengan kedua mata yang melotot lebar-lebar.


Sebelum petir-petir itu berhasil menyambarnya, ia langsung melesat kembali ke luar angkasa, menjauh dari atmosfer planet berbahaya itu.


“Mengapa susah sekali hanya untuk menembus atmosfernya? Astaga, aku harus meminta bantuan kepada prajurit-prajurit lainnya untuk menyerang atmosfer planet terkutuk ini! Sialan!” serunya dengan wajah yang terlihat kesal.


Ia lalu mengubah dirinya lagi menjadi sebuah bintang kecil yang langsung melesat kembali menuju ke Planet Palladina.


Setelah kejadian itu, Anexta tidak pernah terlihat keluar sekali pun dari istananya karena sibuk merencanakan banyak hal untuk menyerang Flerix.


Xyon sendiri sibuk untuk terus menerus mencari cara, memutar otaknya, bagaimana untuk menembus masuk ke dalam Planet Silverian dan mengambil anak yang sudah dilahirkan Ryena pada waktu itu dari tangan Flerix.


Segala cara sudah ia tempuh untuk menembus atmosfer Planet Silverian, namun, semua prajurit yang ia perintahkan untuk masuk ke dalam planet hitam itu banyak yang tewas, bahkan sebelum mereka bisa menembus atmosfernya yang penuh dengan banyak rintangan seperti gas beracun, benda-benda keras, dan juga para pasukan Silverian yang jumlahnya tidak sebanding dengan prajurit miliknya, yang selalu menjaga atmosfer planet itu.


Xyon bahkan meminta keempat jenderal bawahannya untuk secara bergantian, menembus atmosfer Planet Silverian, dan sepertinya, ia sudah hampir menyerah dengan cara-cara itu, bahkan Anexta mulai mendapat desakan dari para pejabat istana untuk menghentikan seluruh usahanya dalam merebut anak itu dari tangan Flerix, karena korban dari Palladina sudah terlalu banyak.


Anexta tidak menyerah begitu saja, walaupun ia memang memerintahkan Xyon untuk menghentikan aksinya.


Ia bahkan berkata kepada Xyon ketika mereka tanpa sengaja bertemu di halaman belakang istana, “Biarkan saja Flerix keluar dengan sendirinya. Membesarkan seorang anak pasti membutuhkan banyak energi dan sumber daya, apalagi jika ia hendak menjadikan anak itu sebagai alat untuk mencapai tujuannya.”


Xyon hanya menundukkan kepalanya. Sang ratu dari Palladina itu kemudian berjalan meninggalkan Jenderal Senior itu sendiri di sana.

__ADS_1


Anexta akhirnya memutuskan untuk bersabar. Ia lantas meminta Arex, Weim, Sey, dan Nordian, untuk melatih para prajurit baru, sambil memikirkan sebuah rencana bersama dengan Xyon di dalam ruang kerja pribadi milik sang Jenderal Senior itu.


__ADS_2