
"Baiklah. Segelas kopi dan sebuah kue kecil untukmu, terima kasih!" balas Hyerin setelah mencatat pesanan dari pria muda itu.
Kemudian, ia bergegas menuju dapur dan merobek secarik kertas dari buku catatannya, memberikannya kepada seorang pria yang sedang berdiri di samping pintu dapur tersebut. Ia terlihat seperti seorang juru masak untuk restoran itu. Xyon tampak memperhatikan sekelilingnya sambil menunggu pesanannya datang.
Setelah beberapa saat, ia lalu melihat ke arah Hyerin yang sedang berdiri di sebelah meja yang terletak di pojok restoran tersebut, sambil mencatat pesanan dari tiga orang pria yang berbadan besar yang terlihat seperti preman. Mereka memakai anting-anting kecil pada telinga, dengan baju dan celana berwarna gelap yang berbeda.
"Hei, gadis cantik, bagaimana jika kau duduk bersama dengan kami, dan melayani kami?" tanya salah seorang pria tersebut sambil meraih lengan kiri Hyerin.
"Ah, Tuan, itu …," jawab Hyerin dengan wajah yang mulai terlihat ketakutan.
"Kau tampak masih sangat muda, Nona," ucap seorang pria lainnya, kali ini, ia meraih lengan kanan gadis pelayan itu.
"Bagaimana jika kau menemani kami bermain sehari ini saja? Kita akan bersenang-senang, nona!" ujar pria yang satu lagi sambil menatap Hyerin dengan senyum sinis.
Wajah Xyon mulai menunjukkan rasa kesal, namun ia masih berusaha untuk sabar dan memperhatikan mereka.
"Maafkan aku, Tuan. Aku harus segera memberikan pesanan kalian," balas Hyerin, lalu ia menjauhkan tangannya dari mereka, kemudian berjalan menuju ke dapur dan memberikan secarik kertas kepada pria berbaju putih di dalamnya.
Setelah itu, pria tadi mengambil kertas tersebut dan menyerahkan sebuah nampan yang berisi segelas kopi dan sepiring kue kepada Hyerin. Ia lantas menggenggam erat nampan itu dan membawanya keluar, lalu berjalan mendekati Xyon, dan meletakkan pesanan pria muda tersebut di atas meja makannya.
Xyon kemudian menatap Hyerin dengan wajah yang serius, namun Hyerin tiba-tiba berkata, “Ah, pesananmu sudah lengkap semua. Silakan menikmati, Tuan!”
“Terima kasih,” balas Xyon pelan, dengan wajah datar.
Hyerin lalu berjalan kembali menuju ke dapur untuk mengambil tiga cangkir teh, lalu ia bergegas mendekati tiga orang pria berbadan besar tadi sedang berada, dan meletakkan ketiga cangkir tersebut di atas meja makan mereka.
__ADS_1
Sambil menyeruput kopinya, Xyon memperhatikan sikap Hyerin. Gadis itu terlihat ketakutan setelah ia meletakkan semua minuman yang dipesan ketiga pria tersebut.
“Ini pesanan kalian, silakan menikmati,” ucap Hyerin pelan, namun salah seorang pria tersebut langsung meraih lengannya dengan kasar.
Hyerin semakin ketakutan, ia bahkan mulai menelan ludah, kemudian berkata, “Aku harus kembali bekerja, Tuan. Maafkan aku.”
Gadis tersebut langsung melepaskan genggaman tangan pria itu dan berjalan cepat menuju ke dapur. Kali ini, wajah Xyon mulai terlihat kesal, ia bahkan mengepalkan telapak tangan kanannya. Pria-pria berbadan besar itu kini tampak sedang berbicara satu sama lain sambil tertawa dengan keras.
Xyon yang baru saja selesai menyeruput habis kopi dan makan kue kecilnya, kini mulai memperhatikan sikap mereka dengan tatapan tajam. Hyerin tiba-tiba berjalan keluar dari dapur, lalu dengan langkah yang cepat, ia berjalan keluar dari restoran itu. Salah satu dari ketiga pria tadi rupanya melihat Hyerin.
"Gadis itu sudah keluar," bisik pria itu.
Mereka bertiga kemudian berdiri, lalu berjalan mengikuti gadis berambut hitam tersebut. Xyon yang mulai curiga, kemudian mengambil sekeping koin dari saku celananya dan langsung meletakkannya di atas meja. Ia lalu bangkit dan melangkah keluar dari restoran itu, sambil memperhatikan ke mana ketiga pria tadi hendak pergi, dengan wajah yang datar.
Mendadak, seorang pria berbadan besar muncul di hadapannya, dan Hyerin langsung berteriak, “Ahhh!!”
Ia langsung menghentikan langkah, lalu menatap pria tadi dengan wajah yang tampak ketakutan dan keringat dingin yang kini membasahi wajahnya. Hyerin melangkah mundur perlahan-lahan untuk menjauhinya, namun, pria itu justru berjalan maju semakin mendekat kepadanya.
"Hei, gadis cantik," ujar pria tersebut sambil tersenyum sinis.
"Apa yang anda inginkan, Tuan?" tanya Hyerin dengan bibir yang mulai gemetaran.
Tiba-tiba langkah mundur Hyerin terhenti, karena punggungnya menabrak seseorang yang sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan. Ia lantas menoleh ke belakang, dan menatap dua orang pria lainnya dengan mata yang melotot tajam.
Salah satu dari pria itu tiba-tiba memeluk Hyerin dari belakang, hingga ia kembali berteriak, "Tidak!! Tolong!! Tolong!!"
__ADS_1
Ia berusaha untuk melepaskan pelukan tersebut, namun tenaganya tidak sebesar pria-pria itu.
"Tidak perlu kasar, Nona, karena kami pasti akan memperlakukanku dengan sebaik mungkin," bisik salah satu pria tersebut di sebelah telinganya.
Hyerin mulai terdesak. Pelukan erat itu mulai membuat nafasnya terhalang, sementara dua pria lainnya mulai mendekati dirinya. Hyerin hanya bisa menutup kedua mata karena sudah yakin bahwa ketiga pria itu akan segera berbuat yang tidak baik kepada dirinya.
Namun, tiba-tiba sebuah pisau kecil yang dilempar dari ujung gang tersebut berhasil melukai wajah salah satu pria berbadan besar yang sedang berdiri di hadapan Hyerin. Ketiga pria itu langsung terkejut dan menoleh ke arah benda tajam yang berhasil menggores wajah salah satu dari mereka tadi, kini menancap di sebuah pohon yang terletak di belakang mereka.
"Sialan! Siapa itu!" seru pria yang sedang memeluk Hyerin sambil melotot tajam.
Ketiga pria itu kemudian memperhatikan sekeliling, namun tidak ada siapa pun di sana. Hyerin langsung membuka kedua matanya, sambil ikut menoleh ke kanan dan ke kiri dengan wajah yang penuh rasa takut.
"Tidak ada siapa pun di sini! Sialan, dari mana pisau ini dilempar?!" tanya seorang pria lainnya sambil mengernyitkan dahi dalam-dalam.
"Sudahlah! Sebaiknya mari kita mulai saja permainannya!" balas pria berbadan besar lainnya, lalu mereka menatap gadis berambut hitam itu dengan senyum sinis.
“Tuan, tolong, jangan,” bisik Hyerin dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.
“Kami akan melakukannya perlahan, jangan takut, Nona,” balas pria yang berdiri di sebelahnya.
Hyerin kembali menutup kedua mata sambil menahan seluruh rasa takutnya. Ketika ia hampir menyerahkan situasi tersebut kepada mereka, tiba-tiba dari atas atap salah satu rumah, seorang pria turun ke bawah dengan sangat cepat sambil menggenggam pedang kosmik berwana putih dengan tangan kanannya, dan langsung merobek punggung salah satu pria berbadan besar itu serta membuat mereka semua terkejut.
"Arghhh!!!" teriak pria tadi kesakitan, lalu ia tersungkur di atas tanah dengan darah yang mulai mengalir dari luka di punggungnya, dan pingsan setelahnya.
Hyerin langsung membuka kedua matanya. Kedua pria lainnya kini menjadi sangat panik, lalu salah satu dari mereka langsung mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku celananya dan mengarahkan benda tajam itu ke depan, sementara pria lainnya memeluk Hyerin dengan semakin erat. Mereka menoleh ke kiri dan kanan dengan wajah yang tampak gusar.
__ADS_1