
Gadis berambut hitam itu lantas memutar bola matanya sekali dan kembali berkata, “Berputarlah, aku akan segera mengganti handuk itu.”
Xyon tidak lagi melawan kata-kata Hyerin, karena gadis tersebut tampak benar-benar mengkhawatirkannya. Ia kemudian memutar tubuhnya hingga membelakangi Hyerin dan membuka bajunya, tanpa sepatah kata pun.
Hyerin lalu membuka ikatan kain panjang yang sudah melingkar tubuh Xyon seharian itu. Ia melingkarkan lengannya berkali-kali, ke depan dan ke belakang, hingga akhirnya kain tersebut lepas seluruhnya. Namun ia ketika ia membuka handuk kecil yang menutupi luka itu dan memperhatikannya baik-baik, rupanya luka tadi sudah kering dengan cepat padahal baru sekitar satu hari ia menutupnya agar tidak kembali berdarah.
“Aku akan segera mengambil air bersih untuk membersihkan luka di punggungmu," bisik gadis itu pelan.
"Aku … merasa kedinginan," balas Xyon.
Hyerin langsung terkejut dengan ucapan itu dan melotot tajam, kemudian berkata, "Astaga, aku lupa bahwa kau sedang demam!"
Xyon tiba-tiba memutar tubuhnya, kembali menghadap Hyerin. Tentu saja aksi cepatnya itu membuat wajah wajah gadis tersebut memerah, karena ia tanpa sengaja, melihat Xyon yang sedang bertelanjang dada. Hyerin langsung memalingkan wajahnya sambil tersipu malu.
"Aku sudah baik-baik saja. Luka di punggungku juga sudah mengering, bukan?" ucap Xyon.
"Ah, iya, baiklah, baiklah," balas Hyerin sambil memejamkan matanya.
Mereka terdiam dengan wajah-wajah yang memerah.
Xyon kemudian memecah keheningan di antara mereka berdua dengan berkata, "Maafkan aku atas ucapanku kemarin."
Hyerin langsung menoleh ke arah Xyon dan bertanya dengan wajah yang penuh rasa penasaran, "Maaf untuk kemarin?"
"Ya, aku kemarin berkata bahwa aku menyukaimu. Maafkan perkataanku itu jika membuatmu tidak nyaman. Aku hanya tidak ingin menyembunyikan perasaanku kepadamu," jawab pria muda yang dingin itu.
__ADS_1
Hyerin terdiam sambil menatap lawan bicaranya tersebut dengan wajah yang sendu.
"Aku juga menyukaimu, Xyon," balasnya dengan wajah yang memerah.
Pria muda itu langsung terkejut setelah mendengarkan pengakuan tadi, namun, ia tiba-tiba menghela nafas panjang dan memperhatikan Hyerin sambil menggenggam tangan kanan gadis berambut hitam tersebut.
"Aku … bukan manusia, Hyerin. Aku juga bisa saja meninggalkan planet ini untuk waktu yang lama. Maafkan aku. Lupakan saja perasaan itu," ujarnya pelan.
Wajah Hyerin tiba-tiba menjadi kesal, lalu ia menatap kedua mata Xyon dengan serius, sambil berkata, "Apa? Maksudmu, kau tidak akan bertanggung jawab, ataupun meminta maaf kepadaku, karena sudah membuatku jatuh hati kepadamu?! Jadi, kau hanya memanfaatkanku, begitu?! Astaga!”
Hyerin langsung memalingkan wajahnya dari hadapan Xyon. Namun tiba-tiba, pria muda itu meraih dagunya dan menatap kedua mata gadis itu dengan wajah yang serius hingga Hyerin tersipu malu karena aksi cepat Xyon barusan.
"Aku mungkin sudah jatuh cinta kepadamu. Senyuman di wajahmu ini sudah menarik hatiku dalam-dalam, dan seumur hidupku, belum pernah ada gadis yang berani tersenyum seperti itu kepadaku,” bisik Xyon dengan wajah yang datar, masih tanpa ekspresi.
“Kau …,” balas Hyerin, namun mendadak, pria muda itu mencium bibirnya hingga membuatnya terkejut.
"Astaga, mengapa tubuhmu sepanas itu?! Aku akan mengambil air hangat untuk menurunkan panasmu!" seru Hyerin.
Ia hendak melepaskan pelukannya, namun, Xyon langsung memeluk erat Hyerin hingga gadis itu kesulitan untuk bergerak.
"Tidak perlu," bisik Xyon tepat di telinga Hyerin, "pelukanmu saja sudah menghangatkan tubuhku. Tetaplah seperti ini untuk beberapa saat."
Hyerin terdiam begitu ia mendengar bisikan tersebut. Ia kemudian kembali memeluk pria muda tersebut perlahan.
"Aku tidak akan memaksamu untuk membalas perasaanku, namun, aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri. Maafkan aku, Hyerin. Aku mencintaimu. Memelukmu seperti ini saja sudah membuat keadaanku sangat membaik," ucap Xyon lagi, masih dengan wajah yang datar.
__ADS_1
"Kau tidak perlu meminta maaf, karena aku juga mencintaimu," bisik Hyerin.
Wajah Xyon memerah begitu ia mendengar pengakuan cinta dari gadis itu. Ia tidak pernah berpikir bahwa ia akan jatuh cinta kepada seorang manusia mortal dan perasaannya pun terbalas.
"Terima kasih sudah membalas perasaanku, Hyerin!" seru Xyon dengan senyum kecil di wajahnya.
Ia lantas melepaskan pelukan tadi, lalu mencium lagi bibir Hyerin dengan lembut, dan tentu saja, Hyerin membalas ciuman itu. Xyon kemudian membaringkan tubuh gadis tersebut di atas ranjang sambil masih mencium hangat bibirnya.
Tiba-tiba Hyerin melepaskan ciuman itu, lalu melingkarkan kedua lengannya di tubuh Xyon, sambil bertanya, "Bisakah kau membawaku pergi bersamamu saja?"
"Namun kita berbeda, Hyerin. Kau akan segera tewas begitu keluar dari Planet Bumi ini. Aku akan mengunjungimu jika tidak sedang sibuk bertugas sebagai prajurit. Maafkan aku, Hyerin. Perjalanan ke sana sangat panjang,” bisik Xyon, dan Hyerin langsung membalas, "Aku tidak ingin mencintai pria lain selain dirimu. Jadi aku pasti akan menunggumu kembali kepadaku. Jangan terlalu lama, ya?”
Xyon kembali mencium bibir Hyerin dan gadis itu menikmatinya. Tampak seperti dunia di dalam kamar tersebut hanya menjadi milik keduanya. Ia bahkan mulai menyentuh tubuh Hyerin perlahan-lahan. Mereka kemudian berbagi cinta pada malam itu, dengan penuh kehangatan. Pakaian yang berserakan di mana-mana serta ranjang yang kini sudah berantakan, menjadi bukti bahwa Xyon dan Hyerin sangat merindukan satu sama lain.
Pria muda yang polos dan belum mengerti apapun tentang alam semesta, sepertinya belum tersadar akan bahaya yang menanti dirinya jika makhluk immortal … memiliki hubungan dengan seorang manusia mortal.
Matahari mulai terbit dan cahayanya langsung menembus jendela kamar milik pria muda itu, yang hanya ditutupi oleh selembar kain tebal. Sorot cahaya matahari harus membuat Xyon terpaksa membuka kedua matanya perlahan karena silau.
Ia lalu menoleh ke samping, melihat Hyerin yang sedang tidur dengan salah satu lengan gadis itu memeluk tubuhnya setelah apa yang mereka lakukan semalam. Tubuh keduanya hanya tertutup oleh satu buah selimut tebal, dan Xyon sepertinya merasa bahwa ia sudah tidak lagi demam pagi ini.
Ia tidak membangunkan Hyerin, namun justru ia menatapnya dengan wajah serius, lalu berkata di dalam pikirannya, "Apa bisa aku tidak kembali lagi ke sana? Aku hanya ingin bersama gadis ini, apa bisa? Aku masih ingin bersamanya dan berbagi cinta dengannya, bahkan untuk seterusnya, dan selamanya!"
Xyon tiba-tiba memeluk tubuh Hyerin hingga gadis tersebut terbangun karena terkejut. Namun pria muda itu tidak melepaskan pelukannya, ia bahkan mulai sedikit meneteskan air mata.
"Xyon, ada apa?" tanya Hyerin dengan nada pelan.
__ADS_1
"Aku … rasanya tidak ingin kembali ke sana. Aku hanya ingin bersamamu di sini. Bisakah aku menjadi kekasihmu untuk seterusnya? Aku …," ucap Xyon dengan wajah sendu.