Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Pembunuhan di Dalam Istana


__ADS_3

"Aku bisa melihat kepalanya, nyonya!" seru salah seorang perawat perempuan dengan senyum lebar.


“Benarkah?!” gumam Demira sambil masih berusaha untuk mendorong bayinya.


“Sekali lagi, Nyonya!” seru perawat perempuan lainnya yang sedang memegang kepala sang bayi.


Setelah beberapa menit dan satu dorongan terakhir dari ibunya, bayi tersebut berhasil keluar dan tangisnya membuat ruang bersalin itu riuh. Seluruh perawat yang ada di sana tersenyum lebar setelahnya.


"Seorang bayi laki-laki, selamat, nyonya!!" seru seorang perawat, yang lalu mengambil bayi tersebut dan menyerahkannya kepada Demira.


Dengan wajah yang bahagia walaupun sakit masih terasa, Demira kemudian menggendong bayi laki-laki yang baru saja ia lahirkan tersebut. Perawat lain kemudian memberikannya gunting, dan Demira langsung meraihnya, lalu memotong tali pusar bayi itu dan mengembalikan gunting tadi kepada perawat sebelumnya.


"Seorang bayi laki-laki. Walaupun Aerim tidak mencintaiku, namun aku sangat berharap, suatu hari ia akan menyadari kesalahannya dengan melihat wajahmu, sayang," bisiknya kepada bayi laki-laki yang masih menangis kencang di dalam pelukannya itu.


Demira kemudian mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah pintu, namun, tanpa sengaja, ia bisa melihat seorang pria berambut hitam sedang berdiri di depan ruang bersalin tersebut dari balik jendela. Walaupun hanya sekilas, namun, ia tahu siapa pria itu.


Hatinya seolah mengetahui bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Ia lantas tersenyum sinis sambil mulai meneteskan air mata.


“Ternyata, Aerim sudah menyuruhnya kemari. Baiklah,” gumam Demira pelan.


Setelah seluruh proses persalinan selesai dan beberapa perawat juga sudah berhenti membantunya serta kembali ke pekerjaannya masing-masing, seorang perawat perempuan kemudian mendekati Demira dan berkata, "Nyonya, maafkan aku, tapi aku harus segera mengambil bayi ini untuk memeriksa kondisinya dan menyelimutinya dengan kain bersih. Sesuai perintah Perdana Menteri Xyon, kami tidak bisa menyerahkan bayi ini kepadamu terlebih dahulu.”


Namun, Demira tiba-tiba meraih lengan perawat tersebut dan menggenggamnya erat-erat, lalu menarik perawat itu agar dekat dengannya, kemudian ia berbisik, "Perawat, dengarkan aku baik-baik. Aku mungkin akan segera tewas setelah ini. Tolong dengarkan permintaan terakhirku. Serahkan anak ini kepada Perdana Menteri Xyon dan sampaikan kepadanya bahwa nama anak ini adalah Reix. Ingat baik-baik. Bayi laki-laki ini adalah anak dari Demira dan Aerim, yang bernama Reix."


Tanpa curiga, perawat perempuan itu mengangguk. Demira kemudian menyerahkan bayi laki-laki itu dan perawat tersebut langsung menggendongnya dengan hati-hati.


“Kalau begitu, aku akan pergi dahulu dari sini, Nyonya,” ucap perawat perempuan tersebut.

__ADS_1


“Tidak. Kau, jangan keluar dari ruangan ini dulu,” balas Demira.


“Nyonya?” tanya perawat perempuan itu dengan wajah yang kebingungan.


Demira kemudian berdiri, lalu berbisik di samping telinga perawat perempuan itu, "Seorang Silverian sedang menungguku di luar ruangan ini. Aku akan menarik perhatiannya, sementara kau harus berlari keluar dari ruangan ini dengan cepat.”


Dengan wajah yang panik setelah mendengar hal tersebut, perawat itu kemudian mengangguk. Demira kemudian berjalan keluar dari ruang bersalin, sementara perawat tadi hanya bisa terdiam dengan tubuh yang gemetar karena ketakutan sambil menggendong bayi Reix.


Begitu ia membuka pintu, Demira langsung menoleh ke arah seseorang yang sudah sejak tadi menunggunya di luar ruang bersalin tersebut, seorang Silverian … yang sedang menyamar sebagai seorang pelayan pria. Demira kemudian kembali menutup pintunya rapat, lalu menatap pria tersebut dengan wajah yang serius.


“Aerim menyuruhmu untuk datang ke sini, bukan? Dovrix,” ucap Demira.


Namun, tanpa menjawab sama sekali, Dovrix tiba-tiba meraih dan menggandeng tangan Demira, lalu berlari membawanya jauh dari ruang bersalin tersebut. Mereka kemudian berhenti di sebuah lorong yang sepi. Demira lantas dengan cepat menyingkirkan tangan Dovrix darinya.


Mereka kini berdiri saling berhadapan satu sama lain, dengan suasana yang tegang.


Demira langsung tersenyum sinis, kemudian ia membalas, "Rencana Yang Mulia? Rencana Aerim, maksudmu? Ah, bukankah aku di sini untuk menghancurkan Planet Palladina dan membantunya?”


“Kau di sini hanya untuk dirimu sendiri, dasar wanita sialan!” seru Dovrix sambil melotot tajam.


Demira tertawa kecil, lalu berkata, “Ah, begitu menurutmu. Baiklah, apa yang Aerim inginkan dariku?”


"Aku datang ke sini, untuk mengambil anak itu," jawab Dovrix sambil mengernyitkan dahinya.


Demira kembali tertawa. Ia kemudian menatap Dovrix dengan wajah yang serius, setelah beberapa saat.


"Katakan padaku, Dovrix, bukankah sebenarnya kau yang ingin datang kemari, atas inisiatif sendiri, untuk membunuh aku dan anak itu? Ah, sungguh kasihan dirimu. Kau sebenarnya sangat menginginkan tahta itu ketika Raja Flerix meninggal, bukan? Maka dari itu kau terus menerus membujuk Aerim untuk terus membunuh, agar semua orang … ingin membunuhnya, lalu, kau bisa mendapatkan tahta istana Silverian, bukan?"

__ADS_1


Dovrix terdiam, namun masih menatap Demira dengan sorot mata yang tajam.


Demira kemudian berucap lagi, "Kau di sini … tanpa sepengetahuan Aerim, benar, bukan? Tujuanmu sebenarnya juga adalah ingin membunuhku dan anakku. Ya, agar Aerim tidak memiliki keturunan dan dengan mudah, ia akan mewariskan tahta istana Planet Silverian. Namun, apakah kau tahu bahwa perang besar akan segera dimulai, Dovrix? Rencana yang … bodoh sekali!"


Tiba-tiba, ia mengangkat tangan kanan dan sebuah sebuah pedang kosmik berwarna hitam muncul di dalam genggamannya.


“Mati saja kau, Dovrix!!” teriak Demira.


Ia langsung mengarahkan pedang kosmik tersebut kepada Dovrix, namun, pria itu rupanya berhasil menghindar.


"Sialan!" seru Demira.


Ia hendak menoleh ke arah Dovrix, namun, tiba-tiba dengan sangat cepat, pria Silverian itu menusuk jantungnya dengan sebuah anak panah kosmik yg entah sejak kapan muncul di dalam genggaman tangan Dovrix.


Demira terdiam, dengan anak panah kosmik milik pria Silverian tersebut yang kini sudah menancap di dadanya. Dovrix kemudian mendekatkan wajahnya di samping telinga Demira, dengan senyum sinis sambil perlahan menarik senjatanya itu keluar.


Wanita Silverian tersebut melotot tajam ke arah Dovrix, lalu berbisik, “Terkutuklah kau, Dovrix.”


Ia kemudian tersungkur di atas lantai, dengan darah yang mulai mengalir keluar dari dalam lukanya. Anak panah kosmik milik Dovrix mendadak berubah menjadi debu, lalu, pria Silverian itu lantas menatap Demira dengan wajah yang serius. Setelah beberapa saat, Demira tiba-tiba tertawa sinis kepadanya.


"Kau salah, Dovrix. Keira tidak akan pernah membunuh Aerim. Kau, justru kau yang akan menjadi debu halus selanjutnya," bisik Demira pelan.


Dovrix kemudian melotot dengan sorot mata yang tajam, lalu ia menginjak dada Demira hingga wanita Silverian itu berteriak kesakitan.


"Kau perempuan sialan! Seharusnya sudah kubunuh kau dari dulu!" serunya dengan wajah yang benar-benar dipenuhi amarah.


Demira hanya tersenyum sinis, kemudian, ia menutup kedua matanya dan tewas seketika. Tubuhnya lantas berubah menjadi debu-debu halus yang langsung menghilang begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2