Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Gadis Berambut Biru Tua


__ADS_3

Sudah satu jam sejak perintah dari sang raja diturunkan, dan para pelayan kini sudah selesai menyiapkan kereta antar planet yang akan segera membawa mereka menuju ke Planet Bumi. Salah satu pelayan kemudian berjalan menuju ke ruang kerja pribadi sang raja dengan tergesa-gesa.


Ia lalu membuka pintu ruangan itu dengan terburu-buru tanpa mengetuknya hingga Neriya dan Klafina serta Higarashi yang berada di dalamnya terkejut. Mereka bertiga langsung menatap pelayan tersebut dengan mata yang melotot ke arahnya.


Pelayan itu kemudian membungkukkan badannya di hadapan Neriya dan berkata, “Semua sudah siap, Yang Mulia!”


Dengan senyum lebar di wajahnya, Neriya lalu berdiri dari kursinya dan berseru, "Cepat, istriku, semuanya sudah siap rupanya! Sudahkah kau ambil uang Planet Bumi dari dalam lemariku?”


“Tentu saja, Yang Mulia,” jawab Klafina dengan senyum di wajahnya.


“Cepat! Cepat!” seru Neriya.


Ia langsung berjalan keluar dari ruangan kerja pribadinya itu dengan tergesa-gesa, diikuti oleh Klafina dan Higarashi serta pelayan yang baru saja melaporkan hal tersebut kepadanya, menuju ke halaman depan istana.


Begitu mereka tiba di sana, Neriya bahkan langsung melangkah masuk ke dalam kereta antar planet yang sudah menunggu mereka sejak tadi.


“Cepatlah!” serunya.


Klafina kemudian masuk ke dalam kereta antar planet itu, kemudian disusul oleh Higarashi. Pelayan-pelayan pribadi dari sang raja dan permaisuri juga terlihat masuk ke dalam gerbong lain, dan setelah semuanya siap, pintu kereta antar planet itu langsung tertutup rapat.


Alat transportasi itu kemudian melesat ke atas langit, menembus atmosfer Planet Halida menuju ke Planet Bumi. Mereka bertiga menikmati perjalanan itu, dengan melihat-lihat pemandangan dari Galaksi Metal dan Galaksi Bima Sakti yang dipenuhi dengan bintang-bintang dan planet-planet, baik yang berpenghuni maupun tidak.


Setelah berhasil menembus atmosfer Planet Bumi, kereta antar planet milik kerajaan Halida itu kemudian mendarat di tengah hutan yang lebat. Pepohonannya ditembus oleh sinar matahari yang terang karena masih siang pada hari itu.


Neriya, Klafina, dan Higarashi kemudian keluar dari dalam kereta antar planet tersebut sambil membawa sendiri barang-barang yang memang sudah disiapkan sebelumnya untuk menginap selama tiga hari di sini.


Beberapa pelayan hendak mengikut mereka, namun, Neriya justru berkata, “Jangan terlalu dekat denganku. Membaurlah dan berpencar, agar tidak ada satu orang pun yang mencurigai kalian. Jangan semua ikut denganku, tiga orang cukup, sisanya silakan kembali ke Planet Halida.”

__ADS_1


“Baiklah, Yang Mulia,” jawab salah seorang pelayan yang baru saja keluar dari salah satu gerbong kereta antar planet tersebut.


Setelah tiga orang dari mereka semua keluar dari salah satu gerbong, kereta antar planet tersebut langsung berubah menjadi sebuah bintang kecil yang melesat kembali ke luar angkasa. Neriya kemudian memberikan ketiganya sebuah kantung kecil berwarna merah yang berisi uang Bumi. Setelah itu, mereka berjalan kaki menuju ke sebuah kota kecil yang letaknya tepat di pinggir hutan.


"Apakah ayah masih ingat jalan menuju ke kota kecil itu?" tanya Higarashi sambil berjalan pelan mengikuti langkah ayahnya.


"Tentu saja! Walaupun sudah lebih dari empat tahun, aku masih sangat ingat jalan menuju ke sana!" seru Neriya dengan nada agak kesal karena Higarashi seolah meremehkan ingatannya.


Klafina tertawa kecil setelah mendengar suami dan anaknya yang saling mengejek tadi, lalu berujar, "Ayahmu masih sangat muda, Higarashi.”


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka bertiga tiba di depan gerbang masuk kota kecil itu, kemudian mereka terus berjalan hingga menemukan sebuah gedung penginapan yang tidak terlalu besar kelihatannya. Ketiga pelayan yang mengikuti di belakang mereka tadi, langsung berpencar ke arah yang berbeda.


“Ayo, cepat, sebelum mereka kehabisan kamar,” seru Neriya yang mulai berlari, diikuti oleh Klafina dan Higarashi.


Mereka lalu masuk ke dalam penginapan tersebut, lalu dengan cepat, Neriya bertemu dengan seorang wanita yang adalah pemilik penginapan itu, dan mendapatkan sebuah kamar dengan dua buah ranjang, setelah membayar beberapa uang kepadanya.


Mereka kemudian berjalan ke sana, lalu dengan terburu-buru, Neriya membuka kunci pintu kamar tersebut dan mereka langsung masuk ke dalamnya. Mereka setelah itu membereskan barang-barang bawaan, dan berbaring di atas ranjang yang sama.


“Bagaimana jika kita berjalan-jalan di kota kecil ini?” tanya Neriya.


“Bukankah memang itu tujuanmu, Ayah?” tanya Higarashi dengan wajah yang dingin.


“Ah! Tentu saja! Ayo, cepat!” seru sang raja.


Ia langsung berdiri dan menggandeng tangan istrinya. Mereka kemudian keluar dari kamar tersebut dan mengunci pintunya rapat-rapat, lalu memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati kota kecil itu. Kota kecil yang indah, di mana sinar matahari yang berada di atasnya, sudah menunjukkan bahwa waktu sudah tepat siang hari. Neriya bersama istri dan anaknya, tampak sangat menikmati pemandangan alam yang ada di dalam kota kecil tersebut.


Mereka terus berjalan, hingga mereka mulai kelelahan dan kehausan.

__ADS_1


“Hei, bagaimana jika kita ke sana?” tanya Neriya sambil menunjuk ke arah sebuah toko minuman yang letaknya tidak begitu jauh dari posisi mereka saat ini.


“Tampak segar,” balas Klafina begitu ia melihat kaleng-kaleng minuman yang dipajang di sana,  begitu warna warni hingga menarik perhatiannya.


Mereka kemudian berjalan menuju ke toko minuman tersebut. Klafina dan Higarashi lalu duduk di atas kursi yang berada di dekat pintu masuknya.


Neriya kemudian mendekati etalase toko minuman itu dan berseru, “Permisi!”


Seorang pria dan seorang wanita kemudian keluar dari balik etalase minuman dingin yang berada di hadapan Neriya.


“Ah, maafkan kami, Tuan. Apa yang ingin anda minum pada hari ini?” tanya Eleina, wanita pemilik toko minuman itu.


“Aku ingin tiga botol jus jeruk saja, Nyonya,” jawab Neriya dengan senyum di wajahnya.


“Akan kuambilkan segera,” ucap Dairu, yang langsung berjalan menuju ke arah kulkas di belakangnya.


Selagi Neriya sedang membeli minuman, Higarashi mulai merasa bosan. Ia justru memperhatikan bagian samping dari toko minuman itu.


Seorang gadis kecil yang memiliki rambut berwarna biru tua dengan panjang sebatas dada, dan kedua bola matanya yang berwarna biru muda, tiba-tiba saja keluar dari bagian samping toko minuman tersebut. Gadis kecil itu terlihat membawa sebuah keranjang yang berwarna coklat.


Langsung saja, gadis kecil itu menarik perhatian Higarashi. Warna rambut dan bola matanya begitu mencolok dibandingkan manusia-manusia lain pada umumnya. Gadis kecil tadi terlihat berjalan sendiri menuju entah ke mana, sambil membawa keranjang coklat di tangan kirinya.


Higarashi tampaknya tidak ingin kehilangan jejak gadis kecil itu karena penasaran akan dirinya. Ia mendadak berdiri dari kursi hingga Klafina terkejut dengan aksinya barusan.


“Higarashi, mau ke mana dirimu?” tanya sang permaisuri dari Halida itu dengan wajah yang terlihat kebingungan.


“Sebentar, Ibunda. Aku ingin berkeliling sebentar di sekitar sini,” jawab Higarashi.

__ADS_1


__ADS_2