
“Sialan! Wanita itu sedang mengelabuiku!!” teriak Dovrix dengan wajah kesal.
Ia kemudian dengan cepat berlari menuju ke ruang bersalin tadi, dan begitu ia tiba di sana, ia mendorong pintu dengan kasar dan melihat ke dalam ruangan tersebut, namun, sudah tidak ada siapa pun di sana.
Dovrix hanya bisa melotot tajam dan berdiri di dalamnya sambil menahan emosi.
"Sialan!! Sialan!!" serunya dengan wajah yang memerah.
Ia lalu berjalan keluar, dan … benar apa yang sudah Demira katakan, ia tidak bisa berlama-lama di sana karena para prajurit Palladina dipastikan akan segera datang kepadanya.
“Aku harus segera pergi!” gumamnya.
Kabut-kabut hitam lantas menyelimuti seluruh tubuhnya, dan Dovrix dengan cepat menghilang dari sana.
Sementara itu di dalam istana sementara kerajaan Silverian, seorang pria yang berambut abu-abu dengan bola mata emas, memakai kemeja, jas, dan celana panjang berwarna hitam, terlihat sedang berjalan menuju ke kamar di mana Keira sedang berada, sambil membawa sebuah gaun pendek yang berwarna abu-abu.
Ia kemudian membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalamnya dengan langkah pelan. Keira yang sedang duduk di atas ranjang, lantas menoleh ke arah pria itu dengan wajah datar.
"Aerim," ucap Keira pelan.
"Sayang," balas pria tersebut, Aerim, dengan wajah yang serius.
Ia kemudian berjalan mendekati Keira, lalu berlutut di hadapannya.
“Jangan panggil aku seperti itu. Mendengarnya saja, aku sudah ingin muntah,” ujar Keira dengan wajah tanpa ekspresi.
Aerim kemudian menyerahkan gaun yang ia bawa tersebut kepada Keira, lalu berkata, "Kau akan menceraikan Raja bodoh itu, bukan?"
__ADS_1
“Ia adalah Yang Mulia Raja Higarashi dari Halida, Aerim,” balas Keira.
Aerim tiba-tiba berdiri hingga Keira harus mengangkat kepala untuk menatapnya, lalu, dengan wajah yang kesal, ia berseru, "Aku cemburu dengan keberuntungannya, maka dari itu, aku tidak akan pernah sudi memanggil namanya lagi!"
Keira lalu tersenyum sinis dan membalas, "Kau mungkin bisa memiliki fisikku, namun, kau tidak akan pernah bisa memiliki hatiku!"
Aerim kemudian membungkuk hingga matanya sejajar dengan mata Keira, kemudian, ia memegang wajah perempuan yang dicintainya itu dengan lembut.
"Aku tidak mungkin bisa berbuat kasar kepadamu, sayang. Lagi pula, kau sudah datang jauh-jauh ke sini hanya untuk diriku. Aku sangat berterima kasih akan hal itu. Nah, sekarang, pakailah gaun ini, dan aku akan menunggumu di depan pintu. Berjalanlah bersamaku, lalu … kita akan meresmikan hubungan kita, di halaman belakang istana gelap ini," bisik Aerim pelan.
Wajah Keira langsung menjadi tampak kesal. Ia kemudian menyingkirkan tangan Aerim dari wajahnya, lalu berdiri sambil menatap Aerim dengan sorot mata yang tajam.
"Pernikahan? Sebentar, aku datang kemari karena kukira kau akan mengambil seluruh energi kosmik yang kumiliki, bukan sebuah pernikahan, Aerim! Tidak mungkin aku akan menikahimu! Kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan kepada Demira! Aerim, ia sedang mengandung anakmu! Aku sendiri tidak akan pernah menceraikan Higarashi!" serunya dengan nada tinggi.
Aerim lalu berdiri tegak, kemudian tersenyum sinis dan berkata, "Demira? Tentu saja, aku sudah mengakui bahwa anak yang sedang ia kandung adalah anakku, lalu, mengapa aku harus bertanggung jawab lagi kepadanya? Aku tidak mencintainya sama sekali. Ini semua karena dirimu, Keira. Jika kau menerima perasaanku sejak awal, tidak mungkin semua kekacauan ini terjadi."
"Kau pikirkan baik-baik setelah ini, Keira. Ini semua adalah kesalahanmu, jadi, hanya dirimu yang harus bertanggung jawab. Nah, aku akan menunggumu di luar. Jangan kecewakan aku," ucap Aerim pelan, kemudian ia memutar badannya dan berjalan keluar dari kamar itu, meninggalkan Keira sendirian di dalamnya.
Ia lantas menutup pintu, setelah itu, Aerim berdiri di sana sambil menunggu sikap Keira.
“Ia tida mungkin bisa menolak kali ini,” gumamnya sambil tersenyum.
Di dalam kamar, Keira menangis pelan.
Ia mulai menyeka air mata yang membasahi wajah dengan kedua tangannya, dan dengan perasaan sedih serta ketakutan yang besar, ia bergumam, "Aku … yang kuinginkan hanyalah hidup normal seperti yang lainnya. Namun, usiaku tidak mungkin sepanjang itu. Aku rasa … aku harus menceraikan Higarashi, karena ia pasti akan hidup hingga seratus tahun lamanya. Sementara aku tidak mungkin bisa menemaninya selama itu. Aku hanyalah seorang Crossbreed yang tidak pernah diinginkan oleh alam semesta, bukan?
Di sisi lain, di luar Planet Silverian, Higarashi, Xyon, Nordian, Weim, dan Arex ternyata sedang berusaha untuk masuk ke dalam planet gelap tersebut. Mereka terus melesat masuk, dan begitu berhasil menembus atmosfernya, mereka justru terkejut begitu mengetahui bahwa tidak ada satu pun pasukan Silverian dan angin topan yang menghalangi mereka untuk masuk ke sana.
__ADS_1
Kelimanya kemudian berhenti melesat dan kini hanya melayang di tengah-tengah atmosfer Planet Silverian, sambil memperhatikan sekeliling.
"Bisa jadi ini adalah jebakan," ucap Xyon dengan wajah yang tampak gusar.
"Sungguh aneh, terakhir kali aku dan Perdana Menteri Xyon masuk ke dalam atmosfer ini, pasukan-pasukan Silverian itu sudah menunggu dan langsung menyerang kami. Benar-benar aneh sekali!" balas Higarashi sambil mengernyitkan dahinya.
Tiba-tiba, kabut-kabut hitam muncul tidak jauh di hadapan mereka, lalu dari baliknya, keluarlah seorang wanita berambut hitam yang Higarashi kenal baru saja. Wanita itu lantas melayang di depan mereka, sambil tersenyum kecil.
"Viora!" seru Higarashi dengan senyum lebar dan wajah yang senang.
Xyon langsung menoleh ke arah Higarashi dan memperhatikan wajah Raja dari Halida itu, kemudian, ia mengernyitkan dahi. Sementara ketiga bawahannya justru menatap Viora dengan wajah yang serius.
“Sebenarnya, ada berapa orang wanita Silverian yang dikenalnya? Ia justru tampak senang melihat mereka. Aneh sekali!” gumam Xyon di dalam hatinya.
“Viora, apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Higarashi dengan senyum.
Viora hanya tertawa kecil sambil menoleh ke arah Higarashi dengan wajah yang tampak ceria.
“Ah, Higarashi dan paman-paman dari Keira?” tanyanya pelan.
Xyon kemudian menoleh ke arah Viora, lalu mendadak, ia melotot tajam dengan wajah yang tampak terkejut.
"Viora? Wajahnya mirip sekali dengan gadis yang pernah kutemui, namun, siapa namanya? Astaga, sudahlah, itu sudah lama sekali!” seru Xyon di dalam pikirannya sendiri.
Viora kemudian menoleh ke arah Xyon, lalu berkata, "Aerim akan segera menikah dengan Keira. Ah, yang kudengar, Keira datang ke sini atas kemauannya sendiri."
Mereka langsung terkejut setelah mendengar hal itu, bahkan, wajah Higarashi yang tadinya senang atas kemunculan Viora, kini tampaknya berubah menjadi kesal.
__ADS_1
"Keira menyerahkan dirinya sendiri? Tidak mungkin," ucap Xyon sambil mengernyitkan dahinya.