Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Kesalahpahaman


__ADS_3

Setelah Chexy sudah tidak terlihat lagi, Higarashi kemudian mendekati Keira dan berdiri di sampingnya, hingga jantung gadis berambut biru tua itu berdetak semakin kencang dibuatnya. Mereka berdua kini menatap satu sama lain, dengan wajah yang memerah.


"Aku memang sudah mencarimu kemana-mana, menyukaimu sejak sepuluh tahun lalu, juga menantikan dirimu sampai detik ini," ujar Higarashi.


"Tapi kau sama sekali belum tahu perasaanku padamu, mengapa kau melakukan hal itu?" tanya Keira.


"Maafkan aku, Keira. Aku tidak ingin mereka mengganggumu lagi. Perundungan yang kau dapatkan itu sudah sejak lama sekali!" jawab Higarashi dengan wajah yang sedikit tertunduk.


"Kau berkata bahwa kau mencintaiku, tapi kau ini sebenarnya mencintaiku, atau mengasihani diriku?" tanya Keira lagi.


Mereka berdua terdiam. Keira mulai meneteskan air mata, lalu berlari meninggalkan Higarashi sendirian di sana.


“Ah, Keira!” seru Higarashi, namun gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya.


Ia menghela nafas panjang, lalu bergumam, “Apakah cintaku kepadanya ini tulus, atau hanya perasaan kasihan saja? Keira ada benarnya juga ….”


Higarashi hanya bisa kecewa pada dirinya sendiri. Keira memang benar, sebenarnya, ia mencintai gadis itu dengan tulus, atau hanya karena kasihan karena perundungan yang didapatkannya sejak masih kecil?


Lonceng pertanda sekolah sudah selesai akhirnya berbunyi, dan Higarashi yang agak terlambat keluar dari ruang kelasnya, sama sekali tidak menemukan Keira di mana pun.


Ia menghela nafas panjang di sepanjang perjalanannya menuju ke rumah, sambil bergumam, “Apakah perasaan ini … hanya rasa kasihan saja?”


Seharian itu, ia tampak tidak bisa tidur dengan tenang. Higarashi terus menerus memikirkan jawaban atas pertanyaan terakhir dari Keira, dengan hati yang sangat bimbang. Wajahnya juga terlihat kecewa, ia bahkan tidak menyentuh makanan instan yang berada di lemari dapurnya.


"Mungkin Keira tidak menyukaiku, aku mungkin juga telah salah melangkah. Mungkin juga aku terlalu agresif," gumamnya sambil berbaring di atas ranjang.


Ia kemudian menoleh ke arah jendela, sambil memandang langit malam yang indah dan penuh dengan bintang-bintang.


“Aku bahkan sudah menghabiskan banyak uang di sini. Astaga,” gumamnya lagi.

__ADS_1


Keesokan paginya, Higarashi memutuskan untuk tidak bersekolah. Memang, ponselnya terus menerus berdering, namun yang mengirimkannya pesan teks terus menerus adalah Demira.


“Astaga! Gadis gila ini membuatku … benar-benar kesal! Ah, apakah Keira memiliki ponsel?” tanyanya kepada diri sendiri.


Ia kemudian bangun dari ranjangnya dan mulai bersiap-siap. Ia bahkan memakai penutup kepala dan masker agar tidak terlalu mencolok. Higarashi bahkan membuat mi instan kesukaannya dengan terburu-buru, lalu membuang bungkusnya setelah ia selesai menghabiskannya. Ia lantas berjalan keluar dari rumah dengan tidak lupa mengunci pintu.


Entah apa yang ada di dalam pikirannya, namun ternyata Higarashi pergi menuju ke sekolah. Ia bahkan berkeliling terlebih dahulu di sekitar situ, sambil menunggu jam pulang sekolah. Dengan sabar ia menanti dari jarak yang agak jauh, loonceng tanda sekolah berakhir akhirnya berbunyi.


Seluruh murid-murid terlihat berlari keluar dari sekolah, termasuk Keira. Gadis berambut biru tua itu terlihat berjalan menuju ke halte bus terdekat dengan wajah datar tanpa ekspresi. Dari balik sebuah pohon besar yang ada di samping sekolah dan agak jauh, Higarashi memperhatikan Keira.


“Aku akan mengikutinya,” gumam Higarashi di dalam hati.


Ia mengikuti Keira dari belakang, dengan berusaha untuk tidak terlalu dekat dengannya, namun juga berhati-hati hingga tidak ada yang mencurigainya. Keira ternyata berjalan menuju ke halte bus terdekat dari sana, dan berganti bus sebanyak tiga kali untuk tiba di halte yang agak dekat dengan rumahnya.


Ia lalu berjalan dengan wajah yang sendu, menuju ke rumahnya. Namun, ketika Keira sedikit lagi tiba di depan rumahnya, ia melihat seekor kucing berwarna abu-abu sedang duduk di pinggir jalan, dengan luka pada bagian kakinya. Ia berhenti di depan kucing tersebut, lalu berlutut sambil tersenyum kecil.


“Kau tertabrak, huh?” tanyanya pelan.


“Apa yang sedang ia lakukan?” gumamnya.


Keira terlihat berusaha meraih kucing yang tampak kesakitan itu, lalu menggendongnya dengan erat di dalam dekapannya. Kucing itu memang sempat melakukan perlawanan hingga melukai jari telunjuknya, namun, tanpa memperdulikan perlawanan dari kucing tersebut, Keira langsung berlari hingga ke ujung jalan, dan menemukan sebuah klinik hewan di sana.


Ia kemudian masuk ke dalam klinik tersebut dan menyerahkan kucing yang terluka tadi kepada seorang perawat.


“Mungkin ia tertabrak. Aku akan membayar tagihannya,” ucap Keira setelah kucing tersebut mendapatkan perawatan.


Ia kemudian membayar semuanya dan membawa kembali kucing itu, lalu keluar dari klinik, dan berjalan kembali menuju ke rumahnya, dengan jari telunjuk yang masih terluka. Keira lantas berhenti di depan pagar rumahnya dan berlutut. Ia rupanya sedang membebaskan kucing tersebut di sana.


“Pergilah,” bisiknya pelan.

__ADS_1


Setelah kucing itu lepas dari pelukannya, Keira kemudian berdiri dan membuka pagar rumahnya. Ia lalu masuk ke dalam, dan begitu ia sudah menutup pintu, Higarashi langsung berlari menuju ke sana, dan berdiri di depan pagarnya.


“Sebenarnya, kau ini manusia, atau immortal, Keira?” tanya Higarashi pelan.


Tiba-tiba, Keira keluar dari rumah dengan membawa sebuah pot yang berisi air. Ia hendak menyiram tanaman-tanaman milik bibi angkatnya yang masih berada di sekitar rumah. Namun, kedua matanya langsung melotot ketika ia melihat Higarashi yang sedang berdiri di depan rumahnya entah sejak kapan.


“Siapa itu?!” seru Keira.


Higarashi sendiri juga kaget begitu ia melihat Keira, dipikirnya gadis itu tidak akan keluar dari dalam rumah, karena ia baru saja masuk tadi.


“Aduh,” gumam Higarashi.


Keira langsung meletakkan pot tersebut di samping pintu, dan berjalan mendekati pagar.


“Higarashi?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi.


Mereka berdua saling bertatapan dengan sangat canggung, bahkan Keira sepertinya mulai terlihat kesal.


Ia hendak memutar badannya dan kembali masuk ke dalam rumah, namun Higarashi langsung berteriak, "Tunggu! Keira!"


Keira menoleh lagi ke arah Higarashi, lalu menatap pria itu dengan wajah yang kesal.


"Aku tahu seharian ini kau tidak masuk sekolah. Oh, ternyata itu sengaja, bukan?" tanya Keira dengan nada yang kesal.


"Tidak, bukan, bukan seperti itu!" balas Higarashi dengan wajah yang dipenuhi kepanikan.


"Baiklah, katakan padaku apa yang sebenarnya kau inginkan dariku. Bibirku, atau tubuhku?" tanya Keira dengan tegas.


Pertanyaan itu langsung membuat wajah Higarashi berubah menjadi serius.

__ADS_1


"Aku sudah menunggumu selama dua belas tahun dan mencari selama tiga tahun terakhir ini, bahkan aku harus pindah dari sekolah lamaku ke sini, hanya untuk menemukan dirimu, lalu, kau berpikir bahwa aku hanya menginginkan tubuhmu? Apakah wajahku ini terlihat seperti pria yang selalu menganggap dirimu sebagai objek pemuas hasrat semata? Lalu, untuk apa menunggumu selama sepuluh tahun lamanya hanya demi sebuah hawa nafsu, bahkan dengan polosnya, aku menyimpan label botol minuman itu dengan harapan bisa bertemu lagi denganmu,?" tanya Higarashi dengan sorot mata yang tajam.


__ADS_2