
Setelah beberapa jam, Higarashi kemudian memutuskan untuk membeli makan siang di sebuah restoran yang memang hanya satu-satunya ada di pantai itu, sementara Xyon kini terlihat sedang berbaring di atas pasir pantai yang seluruhnya berwarna putih, sambil menikmati hangatnya cahaya matahari yang mulai berada di atas kepalanya.
Weim dan Sey tampak sedang bercanda berdua sambil beristirahat karena lelah setelah bermain bola, agak jauh dari pinggir pantai. Keira sendiri terlihat sedang berjalan menyusuri bibir pantai sambil mengumpulkan cangkang-cangkang kerang yang berwarna-warni, namun, tanpa disadari, ia justru sudah berada semakin jauh dari posisi paman-pamannya sekarang.
Tiba-tiba air laut mulai pasang, namun seperti tidak ada yang menyadarinya. Air semakin tinggi, dan Keira yang tidak tahu, justru berjalan mendekati air laut. Entah mengapa kakinya seolah terangkat sendiri, hingga ia akhirnya terseret oleh ombak yang tidak terlalu besar.
“Ahhh!!!” serunya, namun sayang, tidak ada yang melihatnya.
Ia mulai tenggelam perlahan-lahan ke dalam lautan, dan semakin ia berusaha keras untuk berenang hingga ke atas, air laut seperti semakin menariknya ke bawah.
Beberapa kali Keira berhasil mengambil nafas di udara sambil mengumpulkan tenaga, akhirnya ia berhasil berteriak, "Tolong!"
Masih tidak menyadari bahwa ada yang salah, Weim, Sey, dan Xyon justru masih terlihat bersantai, hingga beberapa orang mulai menyadari bahwa ada seorang gadis yang mulai terbawa air laut dan sudah menjauh dari bibir pantai serta berusaha menyelamatkan dirinya sendiri sambil berteriak minta tolong.
“Hei! Hei! Seseorang tenggelam!!” teriak seorang pria dari kejauhan sambil menunjuk-nunjuk ke arah Keira yang sedang berusaha untuk meraih permukaan air laut dengan kedua tangannya.
Karena mendengar suara teriakan itu, semua orang termasuk Weim, Sey, dan Xyon langsung berkumpul mendekati pria yang berteriak tadi.
“Hei, Xyon, itu Keira!!!” teriak Weim.
Xyon melotot tajam ke arah Keira yang masih berusaha untuk menyelamatkan dirinya sendiri, dan orang-orang mulai membuat keributan karena panik, sementara mereka sendiri tidak bisa menolongnya.
“Astaga, mungkinkah ini adalah kutukan dari alam semesta untukku? Haruskah aku mati dengan cara seperti ini?” gumam Keira di dalam hatinya.
Seorang pria dengan rambut berwarna abu-abu dan bola mata emas, serta tubuh yang atletis, kemudian berlari dengan cepat ke arah Keira setelah orang-orang mulai berkerumun dan ribut di sekitar bibir pantai sambil menunjuk-nunjuk ke arah gadis itu.
__ADS_1
Orang-orang langsung menoleh ke arah pria tersebut, dan ia tanpa rasa takut, langsung berenang dengan cepat untuk menyelamatkan Keira.
“Oh, penjaga pantai! Cepat selamatkan gadis itu!” teriak beberapa orang dengan wajah yang panik.
Keira sendiri mulai kehabisan tenaga. Ia kini sudah pasrah dan membiarkan air laut menelannya begitu saja. Tubuhnya yang lemas perlahan mulai tenggelam semakin dalam.
Namun, kedua matanya justru melihat seorang pria berambut abu-abu yang sedang berenang dengan cepat ke arahnya.
"Higarashi," gumamnya dalam hati, kemudian ia mulai menutup kedua matanya karena perih yang tidak lagi bisa ditahannya.
Pria tersebut akhirnya berhasil meraih tubuh Keira, kemudian mencium bibirnya untuk beberapa saat untuk memberikannya nafas sementara agar gadis itu tidak tewas, lalu berenang menuju ke atas dengan seluruh tenaganya sambil memeluk tubuh Keira.
Tentu saja Keira masih bisa merasakan ciuman dari bibir pria itu, namun, ia justru berpikir bahwa pria tersebut adalah Higarashi.
Begitu mereka berhasil tiba di permukaan ait laut, pria itu kemudian berenang sambil memeluk Keira menuju ke bibir pantai. Setelah ia tiba di sana, pria tersebut lalu menggendong Keira dan membawanya jauh dari bibir pantai itu.
Wajah Xyon, Weim dan Sey terlihat benar-benar panik, karena mereka tahu bahwa mereka juga sama seperti manusia, makhluk darat yang tidak bisa bertahan hidup di dalam air. Mereka bertiga hanya bisa terdiam dengan wajah yang dilanda kepanikan luar biasa sambil memperhatikan pria misterius tersebut, yang sedang menolong Keira.
Sementara dari kejauhan, Higarashi yang baru saja membeli makan siang untuk mereka semua, kemudian melihat kerumunan orang yang sedang berkumpul beramai-ramai.
"Hmm, ada apa di sana?" tanyanya, lalu ia berjalan dengan cepat mendekati keramaian itu karena penasaran, dan mulai memperhatikan seorang pria yang sedang memberikan nafas buatan untuk seorang gadis berambut biru tua yang terlihat pingsan dan berbaring di atas pasir pantai.
"Keira!" serunya, lalu ia menjatuhkan makanan yang sedang dibawanya, kemudian berlari ke arah Keira dan pria itu.
Begitu ia tiba di sana, Higarashi langsung menerobos kerumunan orang-orang, lalu berlutut di belakang pria tersebut sambil berteriak, "Ada apa ini, apa yang sudah terjadi? Keira!"
__ADS_1
Pria itu masih terus memberikan nafas buatan dari mulut ke mulut kepada Keira yang masih belum juga tersadar, sambil masih memompa jantungnya.
Higarashi sepertinya cemburu, ia tiba-tiba menepis tangan pria itu dari tubuh Keira hingga pria tersebut menoleh ke belakang dan menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Hei! Gadis ini belum sadar sudah hampir sepuluh menit!" seru pria itu sambil mengernyitkan dahinya.
Higarashi langsung melotot ke arah pria tersebut, dan pria itu juga membalas tatapannya dengan wajah yang kesal.
"Aerim?!" seru Higarashi, kali ini wajahnya berubah dari panik dan kesal, menjadi sangat terkejut.
Pria itu, Aerim, kemudian melanjutkan pertolongan pertama kepada Keira yang masih belum juga tersadar. Setelah memompa jantung gadis itu untuk beberapa waktu, akhirnya ia membuka kedua matanya. Aerim langsung membantunya untuk duduk, dan akhirnya Keira memuntahkan seluruh air laut yang terminum olehnya.
“Syukurlah,” ucap beberapa orang yang berkerumun di sekitar mereka.
Setelah itu, orang-orang mulai meninggalkan mereka dan kembali beraktivitas seperti semula. Weim, Xyon, dan Sey lalu mendekati Keira dan berlutut di hadapannya.
"Keira! Maafkan kami, kami benar-benar tidak mengira itu dirimu!" seru Weim.
Karena masih agak lemah, Keira terduduk dengan sedikit terhuyung, dan Higarashi dengan cepat, mendekatinya dan menahan tubuh gadis itu. Ia kemudian menoleh ke arah Aerim dan menatapnya dengan wajah serius.
"Terima kasih sudah menyelamatkan Keira, Aerim," ucapnya.
"Ah untung saja aku melihatnya. Ternyata menjadi seorang penjaga pantai, tidak semudah kelihatannya," balas Aerim, "sebaiknya kita pindah dari sini. Duduklah agak jauh dari bibir pantai sebelum air pasang kembali tiba."
Aerim kemudian membantu Higarashi untuk berdiri bersama dengan Keira. Namun tanpa sengaja, Higarashi melihat bekas luka pada lengan kiri pria itu, dan langsung teringat perkelahiannya dengan seorang pria misterius yang terjadi beberapa waktu lalu di dalam rumahnya pada malam hari.
__ADS_1
Bekas luka sayatan yang sama persis letak dan panjangnya seperti milik pria misterius tersebut, yakni di lengan kiri. Sangat jelas bahwa itu adalah luka sayatan yang dibuat oleh Divine Sword miliknya, karena bentuknya yang sangat khas.