
"Ah, kalau begitu, jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, silahkan keluar dari sini," ucap Higarashi, kemudian ia berjalan menjauhi pintu, dan membiarkan Xyon keluar dari rumahnya.
Xyon hanya menghela nafas pendek, lalu ia berjalan mendekati pintu dan membukanya, kemudian keluar dan membiarkan pintu itu tertutup dengan sendirinya. Higarashi sendiri masih terkejut bahkan setelah sang Perdana Menteri dari Palladina itu sudah tidak ada di sana, ia langsung merasa kedua lututnya lemas.
“Aku baru saja membentak seorang pemimpin dari planet sekutuku dengan keras, dan fakta bahwa Keira adalah seorang putri dari Palladina namun juga adalah seorang Crossbreed, serta pembunuhan orang-orang terdekat gadis itu, aku rasa … pantas saja wajahnya selalu terlihat sedih,” gumamnya pelan.
Ia kemudian berjalan menuju ke kamar dan membuka pintunya, lalu berlari menuju ranjang dan berbaring di atasnya.
“Apakah selama ini berarti, perang di antara para Silverian dan Palladina sama sekali belum selesai?” gumamnya lagi.
Hari semakin malam dan matahari mulai menghilang perlahan. Di dalam rumah Keira, rupanya Xyon dan Weim terlihat sedang menikmati makan malam mereka, tentunya bersama dengan gadis berambut biru tua itu. Mereka bertiga duduk berhadapan di meja makan, dan suasana terlihat sangat cair hingga tiba-tiba Xyon berhenti memakan makanannya dan menatap Keira dengan wajah yang serius.
"Keira, katakan padaku, sedekat apa hubunganmu dengan pria itu?" tanya Xyon.
Keira dan Weim langsung terdiam setelah mendengar pertanyaan itu. Mereka bahkan langsung menoleh ke arahnya.
"Xyon, bicarakan hal itu nanti. Keira sudah terlalu lelah bersekolah untuk hari ini, dan bahkan ia memasak semua makanan ini hanya untuk menjamu kita," ucap Weim pelan sambil masih mengunyah suapan terakhirnya.
Keira masih terdiam. Kedua bola matanya berkaca-kaca. Xyon kemudian menatap gadis itu dengan sorot mata yang tajam dan wajah yang datar.
"Baiklah, terima kasih untuk semua makanan ini. Keira, kami akan kembali terlebih dahulu. Aku harap kita bisa membicarakan tentang hal ini nanti," ucapnya pelan.
"Uh, baiklah kalau begitu. Aku akan mengantarkan kalian hingga ke depan," balas Keira.
__ADS_1
Xyon dan Weim kemudian berdiri dan berjalan keluar dari rumah itu. Keira hanya mengantarkan mereka hingga mereka melewati pintu depan saja, lalu mereka akan mencari tempat yang sepi tanpa ada satu orang pun di sana, untuk berubah menjadi bintang kecil yang lantas melesat ke luar angkasa.
Keira yang masih berdiri di balik pintu, lalu bergumam, “Paman Xyon sudah tahu semuanya? Apakah ia akan menegur Higarashi? Astaga, bagaimana ini? Haruskah aku berhenti sekarang?”
Keesokan harinya, Keira, seperti biasa, pergi menuju ke sekolah dengan bus yang biasanya juga. Namun, ketika ia turun dari bus pertama dan harus menunggu bus selanjutnya di halte kedua, biasanya Higarashi akan tiba di halte tersebut sebelum dirinya dan mereka akan pergi bersama menuju ke sekolah, setiap harinya.
Namun, hari ini pria itu sama sekali tidak datang, walaupun sudah dua bus terlewatkan olehnya.
"Mungkin ia ketiduran," gumamnya.
Hari itu ia lalui seperti biasanya, dan memang, sedang berlangsung ujian akhir selama tujuh hari ini, yang akan menentukan kelulusan. Chexy dan para gadis anggota kelompoknya tidak lagi merundungnya. Memang suatu hal yang baik untuk dirinya karena akhirnya ia menemukan kembali ketenangan batin, setelah sekian lama, dan ia kini bisa fokus belajar untuk ujian.
Setelah lonceng pertanda pulang dibunyikan, Keira kali ini merasa sendirian. Sudah lebih dari dua bulan ia selalu bersama dengan Higarashi baik itu pergi atau pulang dari sekolah, dan pria itu kini sedang tidak bersama dengannya. Ia kemudian pulang dengan wajah yang sendu, seperti biasa sebelum ia bertemu dengan Higarashi.
"Apa mungkin ia sedang sakit?" gumamnya pelan, dan pada hari itu juga, ia kembali melalui semuanya sendirian.
Higarashi sudah tidak terlihat sama sekali, bahkan hingga hari ke tujuh setelah terakhir Keira melihatnya. Gadis berambut biru tua tersebut lama kelamaan justru merindukan sosoknya, bahkan ketika ia sedang berbaring di atas ranjang pada malam hari, ia masih terbayang-bayang akan ciuman pertamanya dengan pria itu, dan juga pelukannya ketika Higarashi menahan tubuhnya yang hampir terjatuh setelah bus mengerem mendadak, pada waktu itu.
Jantungnya berdebar amat kencang ketika ia sedang memikirkan Higarashi.
“Mungkinkah aku tidak akan melihatnya lagi? Apakah Paman Xyon sudah mengetahui semuanya? Ah, pria yang sungguh sabar, dua belas tahun hanya untuk bertemu denganku lagi. Aku sangat … kagum padanya,” gumam Keira pelan sambil berbaring di atas ranjangnya.
Ia kemudian memejamkan kedua matanya, namun setelah beberapa saat, ia mendadak melotot sambil melihat lampu di atasnya.
__ADS_1
"Gawat. Aku rasa, aku mulai merindukan dirinya. Bahaya sekali perasaan ini, astaga. Ingin sekali rasanya hati ini meledak ketika mengingatnya. Tunggu, Keira, perasaan apa ini? Apakah hanya suka, atau cinta?!" gumamnya lagi.
Ia lalu berusaha untuk kembali memejamkan kedua matanya dan tertidur. Sungguh malam yang melelahkan.
Hari berikutnya, pagi ini Keira masih tidak menemukan Higarashi. Karena ujian kelulusan sudah selesai, maka hari ini ia masuk sekolah hanya untuk menyelesaikan beberapa administrasi. Namun, ketika ia hendak melewati pagar depan sekolah, Chexy langsung berdiri di depannya dan membuat Keira menghentikan langkahnya. Mereka berdua kini saling berhadapan dan menatap satu sama lain dengan wajah yang serius.
"Chexy, apa ada yang bisa kubantu?" tanya Keira pelan.
Gadis berambut pirang itu menatap Keira dengan sorot mata yang tajam dan wajah yang penuh dengan kekesalan. Ia kemudian meraih lengan Keira, dan membawanya menuju ke arah pepohonan yang terletak di samping sekolah, namun agak sedikit jauh dari sekolah itu. Setelah tiba di sana, dengan kasar, Chexy kemudian melepaskan lengan Keira.
“Chexy!” seru Keira.
"Kau sudah terlalu berani sejak Higarashi selalu bersamamu. Kau bahkan tidak lagi menawarkan bantuan kepada kami. Benar-benar gadis sombong!" seru Chexy, kemudian ia meraih rambut Keira dan menariknya.
"Chexy, hentikan! Sakit!" balas Keira sambil memegang rambutnya, namun, Chexy justru semakin erat menarik rambut biru tua panjang itu.
"Kau … jangan pernah lagi mendekati Higarashi! Ia adalah milikku. Aku dan dirinya, sudah dijodohkan oleh kedua orang tua kami setelah kelulusanku di sini. Kau hanya mengganggu saja! Dasar orang ketiga!" teriak Chexy, kemudian ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah gunting.
Keira langsung melotot ketakutan.
“Chexy, tidak. Hentikan. Kau bisa terkena sanksi jika pihak sekolah mengetahui hal ini!” seru Keira.
Chexy justru tersenyum sinis, kemudian membalas, "Seluruh pria hanya melihatmu cantik karena rambut sialan ini!”
__ADS_1
Ia mulai mengangkat gunting itu, namun, tiba-tiba dari belakangnya, seseorang dengan cepat mencengkram tangannya yang hendak memotong rambut Keira dengan gunting tersebut.