
Nordian lalu menatap ke arah Aerim dengan sorot mata yang tajam dan berkata, "Aku akan mengantarkanmu ke sana, bersama dengan Weim."
Aerim mengangguk. Nordian kemudian berjalan terlebih dahulu menuju ke ruang perawat, diikuti oleh Raja dari Silverian itu, sementara Weim berjalan di belakang Aerim dengan wajah yang penuh kecurigaan.
Di salah satu lorong istana, Arex yang sedang berjalan mengikuti Xyon, tiba-tiba berseru, "Xyon!! Keira tidak mungkin tewas secepat itu! Kau harus memperhatikan semua kemungkinan terlebih dahulu, sama seperti beberapa waktu yang lalu, bukan?! Rupanya ia sedang berada di dalam planet es yang terpencil itu? Mengapa kau tidak pergi dan memeriksa apakah Keira berada di sana atau tidak?!"
Tanpa menghentikan langkahnya, Xyon kemudian membalas dengan wajah yang serius, "Arex, dengan ledakan energi antimateri yang begitu besar, tidak mungkin Keira akan memiliki energi kosmik yang cukup untuk pergi sejauh itu ke sana."
Arex lalu terdiam setelah mendengarkan hal itu.
“Xyon, aku tahu bahwa kau juga sedang bersedih atas hilangnya Keira. Kau baru saja akan membawa prajurit dan pelayan ke sana, bukan?” tanyanya pelan.
Xyon hanya bisa menghela nafas panjang, dengan wajah yang sendu, namun, ia terus melangkah menuju ke ruang pribadinya tanpa air mata di wajahnya. Ia berusaha untuk menahan emosi dan kesedihan, serta duka yang mendalam akibat kejadian yang cepat itu.
Sementara itu di dalam ruang perawat, Nordian terlihat sedang berbicara dengan seorang perawat perempuan, bersama dengan Aerim dan Weim yang berdiri di belakangnya. Perawat perempuan yang memakai baju terusan berwarna putih itu kemudian berjalan menuju ke sebuah ruangan yang terletak di bagian pojok. Begitu ia tiba di depan ruangan tersebut, perawat perempuan tadi lalu mengetuk pintunya.
"Permisi, Nona. Aku sedang bersama dengan Jenderal Senior Nordian ingin melihat bayi laki-laki itu," ucap perawat perempuan itu.
"Aku akan membawanya," sahut seorang perawat perempuan lainnya yang berada di dalam ruangan tersebut.
Setelah beberapa saat menunggu, pintu ruangan itu kemudian terbuka, dan seorang perawat perempuan yang sedang menggendong seorang bayi laki-laki lalu keluar dari dalam sana. Aerim langsung menatap ke arah mereka, dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Perawat perempuan itu lantas menghentikan langkahnya dan berdiri di hadapan Aerim sambil membungkukkan sedikit badannya, dan mereka kini saling berhadapan. Ia kemudian kembali berdiri tegak, lalu menatap Raja dari Silverian itu sambil berusaha untuk menenangkan bayi laki-laki yang masih berada di dalam gendongannya.
__ADS_1
“Ini adalah bayi laki-laki yang dilahirkan oleh perempuan itu, Tuan,” ucapnya pelan.
"Aku … ingin sekali menggendongnya," ujar Aerim dengan senyum lebar.
“Serahkan saja bayi itu sebentar kepadanya, Perawat,” balas Nordian dengan wajah datar.
Perawat perempuan tersebut kemudian membiarkan Aerim untuk menggendong bayi laki-laki itu. Begitu ia berhasil menggendongnya, Aerim langsung meneteskan air mata. Senyum yang lebar tiba-tiba muncul di wajahnya.
“Ah, selama ini dirimu selalu terkenal karena ulah jahatmu kepada planet lain, dan baru kali ini, aku melihatmu bisa tersenyum lebar seperti itu, Aerim,” ucap Weim dengan wajah yang tampak terkejut.
“Perawat, apakah bayi ini sudah memiliki nama?” tanya Aerim sambil menatap perawat tersebut dengan wajah yang gusar.
“Tuan, perempuan itu mengatakan kepadaku bahwa nama bayi laki-laki ini adalah Reix,” jawab perawat itu.
Aerim kemudian menoleh ke arah bayi laki-laki tersebut, lalu berbisik dengan wajah sendu, "Reix, maafkan ayahmu ini, Nak. Aku … sudah berbuat banyak hal yang tidak baik. Aku harap kau akan memaafkan ayahmu yang bodoh ini suatu saat nanti, Reix …."
"Ibumu … Demira … tidak, ini semua adalah ulah Dovrix! Aku akan membalaskan dendam ibumu kepada pengkhianat itu! Aku … akan melindungimu dari pria itu, Reix! Aku berjanji padamu, aku akan membuktikan bahwa aku sangat pantas untuk menjadi ayah bagimu!!" seru Aerim dengan air mata yang mulai mengalir dan membasahi wajahnya.
Ia kemudian menyerahkan bayi Reix kembali kepada perawat tadi, hingga perawat perempuan itu terkejut dan langsung menggendongnya. Aerim lalu menoleh ke arah Nordian dan Weim dengan sorot mata yang tajam.
"Aku ingin bertemu dengan Xyon secepatnya! Aku harus bertemu dengan Xyon!" serunya dengan wajah yang serius.
“Apa yang ingin kau lakukan sekarang, Aerim?” tanya Weim sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
“Aku harus memberitahukan kepadanya tentang … Dovrix, dan … hal lainnya!” jawab Aerim.
"Aku akan mengantarkanmu menuju ke ruang kerja pribadinya. Kemungkinan besar ia sedang berada di sana," ucap Nordian,.
Aerim mengangguk. Ia, Nordian, dan Weim kemudian berjalan keluar dari ruang perawat tersebut, lalu berjalan dengan cepat, menuju ke ruang pribadi Xyon.
Sementara itu di ruang hampa udara, di luar angkasa, sebuah kereta antar planet terlihat sedang melaju pelan ke arah Galaksi Bima Sakti setelah melewati lubang cacing. Di dalamnya, Yang Mulia Permaisuri Rexi dari Diamona terlihat sedang duduk berhadapan dengan suaminya, Yang Mulia Raja Gerofin dari Diamona.
“Akhirnya, kita bisa berlibur di hari yang indah ini, setelah sudah beberapa lama tidak melakukannya,” ucap Rexi dengan wajah yang tampak senang.
“Ah, sebaiknya kita pergi terlebih dahulu dari Tata Surya Goldinian, karena ledakan energi kosmik yang besar dari Planet Silverian tadi sudah mengguncang Planet Diamona. Mengerikan,” balas Gerofin dengan wajah yang gusar.
Rexi tersenyum lebar, kemudian ia menatap keluar jendela dengan wajah yang tampak bahagia. Namun tiba-tiba dari kejauhan, ia melihat tubuh dari seorang perempuan yang sedang melayang pelan, searah dengan laju kereta antar planet miliknya. Dengan rasa penasaran, ia kemudian memicingkan kedua matanya ke sana.
Rambut biru tua dari perempuan yang tubuhnya melayang-layang di ruang hampa udara itu membuat Rexi mengingat-ingat sesuatu, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.
“Ada apa, sayang?” tanya Gerofin sambil mengernyitkan dahinya.
Namun, begitu Rexi memperhatikan sekali lagi rambut biru tua tersebut, ia mendadak berdiri dan menunjuk-nunjuk ke arah tubuh perempuan itu dengan wajah yang tampak ketakutan.
"Yang Mulia Permaisuri Keira dari Halida!!!!!" teriaknya dengan nada yang tinggi hingga suami dan beberapa orang pelayannya langsung menoleh ke arahnya dan melotot tajam karena terkejut.
Gerofin bahkan berdiri, lalu dengan wajah yang gusar, ia bertanya dengan nada tinggi, "Istriku! Ada apa denganmu?! Yang Mulia Ratu Keira dari Halida?! Apa maksudmu?!"
__ADS_1
Rexi yang terus menerus menunjuk-nunjuk keluar jendela kereta antar planet miliknya itu dengan badan yang gemetaran, membuat Gerofin menjadi sangat penasaran. Ia lalu melihat keluar dari jendela yang sama, dan mulai memperhatikan sekitarnya dari kejauhan.
Gerofin lantas melihat tubuh seorang perempuan berambut biru tua yang sedang melayang-layang pelan di ruang hampa udara, dalam keadaan tidak sadarkan diri, dan tiba-tiba, ia mengangkat tangan kanannya, lalu melotot tajam, menunjuk-nunjuk ke sana dan berteriak, "Itu, itu adalah Yang Mulia Ratu Keira dari Halida!!!”