
Keringat dingin mulai membasahi wajah Chexy beserta gadis-gadis anggota kelompoknya itu. Namun, tiba-tiba saja Chexy justru tertawa kecil untuk sesaat. Ia lalu menatap Higarashi dengan senyum sinis di wajahnya.
"Apakah kau mengenal Keira? Bukankah kau adalah murid baru? Ah, ia berjanji untuk mengerjakan pekerjaan kelompok yang seharusnya kami kerjakan bersama, namun ia malah memikirkan pria-pria tampan yang ia pikir mungkin menyukai dirinya, dan melakukan banyak kesalahan sehingga guru menghukum kelompok kami, tapi tidak menghukumnya! Apa kau pikir itu adil untuk kami?!" seru Chexy dengan nada yang tinggi.
Namun sebenarnya ia sedang ketakutan menghadapi seorang pria yang tinggi badannya sekitar seratus delapan puluh sentimeter tersebut, sementara ia sendiri hanyalah gadis dengan tinggi badan sekitar seratus enam puluh sentimeter.
"Kalian satu kelompok, jika Keira melakukan kesalahan, tidak mungkin guru hanya menghukum kalian, kecuali kalian yang memintanya untuk mengerjakan tugas personal yang seharusnya kalian kerjakan sendiri!" balas Higarashi yang semakin erat mencengkram tangan Chexy hingga membuat kulitnya memerah.
"Lepaskan! Hei! Kau adalah seorang pria, dan aku tidak memiliki kekuatan yang setara denganmu!" teriak Chexy, masih dengan sorot mata yang tajam ke arah pria itu.
Higarashi lalu melepas cengkramannya dari tangan Chexy. Suasana mulai terasa tegang di antara mereka, bahkan keduanya kini saling menatap satu sama lain dengan wajah yang penuh kekesalan.
Chexy kemudian tertawa kecil sebentar, lalu berseru, “Hah! Keira sendiri yang selalu merasa dirinya di atas angin, wajar saja kami merundungnya! Ia terlalu sombong hanya karena rambut berwarna biru tua panjang yang ia miliki, berbeda dari kami semua. Murid-murid pria mulai meliriknya, dan ia mulai merasa bahwa mereka menyukainya. Banyak gadis yang tidak menyukainya karena sifatnya yang sombong itu, dan kami hanya memberikannya sedikit pelajaran!"
Higarashi tertawa kecil, lalu perlahan mendekati Chexy. Semakin Higarashi mendekatinya, Chexy akan semakin melangkah mundur hingga akhirnya ia terpojok.
"Dengar, aku adalah teman masa kecil Keira, sebelum aku pindah ke kota besar ini. Keira bukan gadis seperti itu. Aku sangat mengenalnya, jadi kalian tidak perlu memberikan alibi palsu kepadaku, karena aku sama sekali tidak memercayai kalian. Satu lagi, jika kalian berani menyentuhnya, maka kalian semua akan berhadapan denganku," bisik Higarashi dengan nada yang tegas.
Chexy yang terpojok, memutuskan untuk menyerah, karena keringat dinginnya mulai benar-benar membasahi wajahnya.
“Baiklah, mari kita keluar saja!” serunya.
Ia kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya, lalu keluar dari sana, diikuti oleh gadis-gadis lainnya. Kini hanya tinggal Higarashi dan Keira berdua saja yang masih berada di atas atap sekolah. Higarashi kemudian mendekati gadis berambut biru tua itu dan membantunya berdiri.
__ADS_1
Keira lalu menyeka air matanya sambil menundukkan kepalanya, kemudian berkata, “Terima kasih.”
“Uh, ah, Keira, apakah kau baik-baik saja?” tanya Higarashi.
Keira menggelengkan kepalanya.
“Uh … apakah kau masih mengingat diriku?” tanya pria itu lagi.
Keira lalu menatapnya dengan wajah yang datar. Higarashi kemudian merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sebuah label botol minuman yang bergambar bunga krisan, kemudian menyerahkannya kepada Keira, namun gadis itu malah mulai menangis setelah mengambil label minuman tersebut, dan membuat Higarashi sedikit panik.
"Keira, astaga, maafkan aku! Aku tidak bermaksud membuatmu menangis," ujar Higarashi sambil berusaha untuk menenangkan Keira dengan menepuk-nepuk bahu gadis itu.
Keira tiba-tiba tersenyum, walaupun masih menangis. Ia kemudian menyeka air matanya sambil menatap ke arah label botol minuman itu.
"Aku dan ibu angkatku selalu membuat minuman dari kelopak-kelopak bunga krisan yang kami kumpulkan di perkebunan milik kami sendiri. Namun sekarang mereka sudah tiada, termasuk bibi angkatku yang telah membawaku ke kota besar ini dan menyekolahkanku juga di sini. Maafkan aku," balas Keira.
"Maafkan aku, aku tidak tahu tentang itu. Aku mencarimu tiga tahun lalu di kota kecil itu namun tidak menemukanmu di sana. Maafkan aku," ucap Higarashi.
Keira menggelengkan kepalanya dan tersenyum, lalu berkata, "Hmm, rupanya kau adalah orang yang sama yang pernah melindungiku dari perundungan anak-anak nakal waktu itu. Aku sangat senang, setidaknya ada seseorang yang masih mengingat diriku walaupun sudah lama. Terima kasih masih mengingatku, dan sudah membawakanku label botol minuman ini, Higarashi. Sungguh penuh dengan kenangan.”
Ia tersenyum kecil menatap label botol minuman itu, dan hatinya mulai terisi banyak kenangan indah bersama kedua orang tua angkatnya. Higarashi lalu tersenyum kepadanya, sambil memperhatikan wajah Keira yang kali ini terlihat ceria.
"Senyuman itu, jangan hilang lagi dari wajahmu. Mereka akan merundungmu lagi, dan aku yakin kau tidak akan mengatakan apapun kepada orang-orang soal perundungan yang kau dapatkan. Aku akan berjalan bersamamu, mulai sekarang, agar tidak ada lagi yang berani merundungmu," ucap Higarashi pelan, dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
Keira langsung tersenyum ke arah Higarashi, dan senyuman itu membuat jantung pria tersebut semakin berdebar dengan kencang.
"Ehm, bagaimana jika kita turun dari sini, bersama-sama?” ucap Higarashi lagi.
Keira mengangguk, mengiyakan ajakan tersebut. Seperti berada di sebuah taman bunga, tentu saja hati Higarashi terasa seperti dipenuhi oleh bunga-bunga yang baru saja mekar setelah Keira menerima ajakannya.
Mereka berdua kemudian pergi dari sana, berjalan menuju ke ruang kelasnya masing-masing. Begitu Higarashi tiba di dalam ruang kelasnya kemudian duduk di atas kursinya sendiri, Demira langsung menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Kemana saja dirimu?" tanyanya.
Higarashi langsung menoleh ke arah Demira dan bertanya, "Mengapa kau harus tahu?"
"Kau adalah calon kekasihku, aku harus tahu kau ada di mana, sayang," jawab Demira.
Higarashi menghela nafas panjang, lalu berkata, "Aku sudah bertemu dengan seorang gadis yang sudah lama kucari-ca, dan hatiku sekarang dipenuhi oleh senyumannya, mohon maaf."
Dengan kesal, Demira lalu membuang wajahnya dari hadapan Higarashi setelah ia mendengar jawaban itu. Aerim lalu menatapnya dengan wajah yang datar, sambil memegang sebuah buku di tangannya.
"Jadi, apakah kau sudah menemukannya?" tanya Aerim.
Higarashi lalu menoleh ke arah pria tersebut dan menjawab, "Ah, iya, dia adalah gadis yang sudah kunanti selama ini. Aku senang sekali bisa bertemu dengannya hari ini dan ternyata kami bersekolah di sini. Aku sangat tidak menyangka akan hal itu.”
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini? Menjadikannya sebagai kekasihmu? Ehm, lalu bagaimana dengan Demira? Ia tampak menyukaimu," tanya Aerim lagi.
__ADS_1
"Akan kupikirkan nanti, tidak, namun, secepatnya. Untuk Demira, mohon maaf, aku tidak bisa membalas perasaannya," jawab Higarashi.
Aerim hanya mengangguk pelan. Kegiatan belajar mengajar kembali dilanjutkan ketika seorang guru pria masuk ke dalam ruang kelas tersebut.