Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Seorang Pria Misterius


__ADS_3

Bus yang mereka tunggu akhirnya datang juga dan berhenti tepat di depan halte itu. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam bus bersama-sama, lalu berdiri berdampingan karena tempat duduk yang sudah penuh dengan orang-orang dari halte sebelumnya.


Setelah semua orang sudah masuk ke dalam, bus itu kemudian berjalan, namun beberapa kali, supir bus agak sedikit kasar mengerem bus berukuran sedang tersebut karena banyak pengendara sepeda yang tidak berkendara pada jalur yang benar. Keira selalu menahan tubuhnya sambil menggenggam erat pegangan bus tersebut ketika sang supir melakukan pengereman mendadak, hanya agar tubuhnya tidak terjatuh ke arah orang lain.


Namun, kali ini supir bus benar-benar menginjak dalam-dalam remnya, karena hampir saja menabrak seorang pengendara sepeda, hingga genggaman Keira lepas dari pegangan, dan ia hampir terjatuh. Namun Higarashi berhasil menahan gadis itu dengan memeluknya. Wajah keduanya memerah.


Setelah bus tersebut berhenti total, mereka berdua kembali berdiri tegak.


“Ehm, terima kasih,” bisik Keira pelan, dengan wajah yang memerah.


“Ah, iya,” balas Higarashi.


Mereka berdua terdiam setelah itu. Bus tersebut kemudian berjalan lagi, dan mereka berdua, tetap terdiam sepanjang perjalanan, tidak mampu menatap satu sama lain. Setelah beberapa saat, akhirnya bus tersebut tiba di halte tujuan mereka.


Begitu turun dari bus, Keira tampak tergesa-gesa berjalan keluar. Jantungnya masih berdetak sangat kencang dan cepat. Higarashi juga berjalan dengan terburu-buru, hendak mengikuti langkah gadis itu. Ia kemudian berjalan di samping Keira, namun mereka berdua masih terlihat canggung.


Mereka berdua kini berjalan bersama menuju ke sekolah.


“Ehm, maafkan aku, aku spontan melakukan itu tadi,” ucap Higarashi yang berusaha memecah keheningan di antara mereka berdua.


“Uhm, tidak masalah. Aku juga meminta maaf, peganganku tidak terlalu kuat tadi,” balas Keira.


Mereka berdua kemudian kembali terdiam, namun setelah beberapa saat, Higarashi sepertinya memberanikan diri untuk bertanya satu hal kepada Keira.


“Keira, apakah mereka masih merundungmu?” tanyanya.


Wajah Keira langsung berubah menjadi sendu.

__ADS_1


“Mereka sudah tidak merundungku lagi, terima kasih atas perbuatanmu, namun, aku rasa hal itu tidak akan bertahan lama. Sebentar lagi mereka pasti akan membutuhkanku untuk mengerjakan tugas-tugas mereka,” jawabnya.


“Uh, menyebalkan sekali. Sebenarnya apa yang mereka inginkan darimu? Kau sangat cantik, rambutmu sangat indah, apa mereka iri kepadamu karena kau pintar?” tanya Higarashi.


Keira tersipu malu setelah mendengar pertanyaan tersebut.


“Aku … tidak mengerti mengapa Chexy bisa seperti itu,” jawabnya pelan.


Karena yakin bahwa Keira tidak nyaman dengan pertanyaannya, Higarashi lalu bertanya hal yang lain, “Keira, apakah aku bisa menjadi temanmu saja terlebih dahulu? Jadi kita bisa pergi dan pulang sekolah bersama-sama. Lagi pula aku juga sendiri, kau juga demikian. Ehm, ya setidaknya aku ingin sedikit mengenalmu lebih jauh.”


Keira terdiam sebentar, kemudian ia menjawab, “Jika hanya ketika pulang dan pergi saja, baiklah.”


Higarashi tersenyum lebar, namun tidak dengan Keira. Senyuman kecil di wajahnya hanya sekadar untuk membalas ucapan pria itu saja, tidak lebih.


“Apakah pria ini akan mengetahui bahwa aku bukanlah manusia mortal? Astaga, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar takut …,” gumam Keira di dalam hatinya.


Karena hal tersebut, Chexy menjadi kesal. Ia bahkan tidak bisa meminta Keira lagi untuk menyelesaikan pekerjaan rumah miliknya. Demira sendiri juga merasa kesal, karena Higarashi selalu menghindari dirinya, bahkan seluruh pesan teks yang ia kirimkan, tidak pernah ada satupun yang dibalas oleh pria itu.


Keira dan Higarashi semakin akrab, walaupun gadis itu masih sedikit ketakutan akan perasaannya sendiri. Sudah hampir dua bulan lamanya mereka berdua selalu bersama-sama ketika pergi dan pulang dari sekolah. Hal ini mulai membuat Aerim dan Demira gundah, karena Keira dan Higarashi semakin lama, justru semakin dekat.


Pada suatu siang, ketika sekolah sudah sepi dari murid-murid dan para guru, Aerim dan Demira terlihat sedang berada di belakang gedung sekolah. Mereka berdua saling berhadap-hadapan, dengan wajah Aerim yang terlihat sangat kesal kepada Demira.


"Kau sudah menyerah?" tanya Aerim dengan nada kesal.


"Astaga! Higarashi selalu menghindar! Ia akan langsung bertemu dengan anak Crossbreed itu baik saat istirahat ataupun pulang sekolah! Bahkan seluruh pesan teks yang kukirimkan, sama sekali tidak ada yang dibalas oleh pangeran bodoh itu!" seru Demira dengan penuh amarah.


Aerim menghela nafas panjang sambil memalingkan wajahnya ke arah yang lain.

__ADS_1


"Lantas kau sendiri, mengapa tidak berhasil menghalangi Higarashi pada waktu itu, agar ia tidak bertemu dengan anak Crossbreed tersebut? Semua ini bukan salahku! Kau juga turut bersalah di dalamnya, Aerim!" seru Demira.


Mereka berdua lalu terdiam sesaat, namun masih saling memandang satu sama lain dengan sorot mata yang tajam. Aerim kemudian menatap Demira dengan wajah yang serius setelah beberapa saat.


"Kita perlu rencana lain," ucap Aerim pelan.


“Rencana seperti apa?” tanya Demira.


Aerim tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sinis sambil melihat ke arah gedung sekolah yang sepi.


Keesokan paginya, Higarashi terlihat terburu-buru meninggalkan rumahnya karena ia bangun terlalu siang, bahkan hingga ia lupa mengunci pintunya.


“Astaga! Aku kesiangan!” serunya sambil berlari menuju ke halte bus terdekat.


Setelah Higarashi pergi, beberapa lama kemudian, seorang pria yang memiliki postur tubuh tinggi dan memiliki otot yang lumayan kekar, serta mempunyai rambut berwarna ungu tua dengan kedua bola matanya yang berwarna abu-abu, masuk ke dalam rumah tersebut. Karena pintunya tidak dikunci, ia dengan mudahnya masuk ke dalam dan menutup pintunya rapat-rapat, kemudian duduk di atas sebuah kursi di dekat meja makan sambil memperhatikan isi rumah itu.


“Hmm,” gumam pria itu sambil menatap ke arah pintu kamar pribadi Higarashi.


Ia lantas menunggu sampai Higarashi kembali, sambil duduk dengan santai di sana.


Ketika siang hari sudah semakin terik, Higarashi yang baru saja kembali dari sekolah, terlihat berlari dengan tergesa-gesa menuju ke rumahnya. Wajahnya terlihat sangat panik, bahkan keringat sudah membasahi wajahnya.


"Aduh! Aku baru teringat tadi! Bisa-bisanya kunci pintu rumah itu tidak kubawa! Atau jangan-jangan aku lupa menguncinya sejak pagi! Astaga!!" serunya dengan nada tinggi.


Begitu ia tiba di depan rumah, dengan cepat ia meraih gagang pintu dan membuka pintunya. Benar saja, ia tidak menguncinya sejak ia pergi tadi pagi.


"Astaga!" serunya.

__ADS_1


Ia lalu masuk ke dalam dan melihat ke depan. Higarashi langsung terkejut dengan kehadiran seorang pria yang sedang duduk di atas kursi dekat meja makan. Namun, sepertinya ia sudah mengenal dengan baik pria tersebut hanya dengan melihatnya dari belakang, karena warna rambutnya. Wajahnya yang tadi terlihat panik, kini berubah menjadi serius. Ia menatap punggung pria tersebut dengan sorot mata yang tajam.


__ADS_2