
“Paman Xyon,” gumam Keira sambil berusaha untuk tetap tenang, walaupun sebenarnya, ia sedang menahan seluruh rasa takutnya karena pedang kosmik milik pria bertopeng itu, sedikit lagi akan melukai wajahnya.
Xyon kemudian menoleh ke arah pria bertopeng tersebut dengan wajah yang penuh dengan amarah.
"Lepaskan Keira! Siapa dirimu?!" serunya.
Pria bertopeng itu tertawa sesaat, kemudian menjawab, "Ah, siapakah diriku, menurutmu, Perdana Menteri Xyon yang bodoh?”
"Lepaskan Keira! Atau kau akan berhadapan denganku!” seru Xyon lagi sambil mengernyitkan dahinya.
Pria bertopeng itu langsung tersenyum sinis, sambil semakin memeluk Keira hingga Permaisuri dari Halida tersebut tidak bisa menggerakkan kedua lengannya.
“Perdana Menteri Xyon dari Palladina. Ah, ini adalah kali pertamaku bertemu denganmu secara langsung. Bagaimana jika … kuberikan sebuah saran untukmu? Sebaiknya kau urus saja Raja bodoh itu. Ah, ia sebenarnya pernah bertemu dan berbicara langsung dengan seorang Silverian, namun, ia tidak mengatakan apapun kepadamu tentang hal tersebut. Bukankah itu adalah suatu pengkhianatan, Paman?” ucap pria bertopeng itu.
Xyon tiba-tiba mengangkat tangan kanan dan sebuah pedang kosmik muncul di dalam genggamannya. Ia kemudian mengarahkan ujung benda tajam tersebut kepada pria bertopeng itu, sambil menggeram.
"Sialan! Hei, Silverian! Lepaskan Keira! Jika kau ingin membalaskan dendam atas planetmu, maka aku adalah lawan yang tepat, bukan anak itu!” seru Xyon sambil mengernyitkan dahinya.
"Kau hanyalah pria tua, yang sudah seharusnya pensiun, bukan? Sudah, aku tidak ada waktu untuk berbagi cerita denganmu! Selamat tinggal!" balas pria bertopeng itu.
Lalu dengan cepat, tubuh pria bertopeng tersebut dan Keira, diselimuti oleh kabut-kabut hitam. Mereka kemudian menghilang begitu saja, entah ke mana, membiarkan Xyon sendirian di sana dengan wajah yang tampak terkejut.
“Silverian sialan!!” teriak Xyon dengan kedua mata yang melotot tajam, penuh dengan amarah.
Ia kemudian menurunkan tangan kanannya, lalu, setelah pedang kosmik miliknya menghilang, Xyon langsung berubah menjadi sebuah bintang kecil yang melesat ke luar angkasa dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam sebuah bola hitam raksasa yang gelap gulita, gumpalan besar kabut-kabut hitam mendadak muncul di tengah-tengahnya. Dua orang dewasa, seorang pria dan seorang perempuan, kemudian keluar dari dalam kabut-kabut hitam tersebut dan menginjakkan kaki di atasnya.
Perempuan tersebut langsung melepaskan dirinya dari pelukan pria itu dengan kasar, setelah kabut-kabut hitam tadi menghilang. Ia lalu memutar tubuhnya ke belakang dan berusaha untuk menatap ke arah pria tersebut dengan sorot mata yang tajam, namun, ia hanya bisa merasakan kehadiran lawannya itu.
"Kau! Katakan padaku ke mana kau membawaku kali ini?!" serunya.
Pria itu tertawa sesaat, kemudian membalas, "Karena kau tidak mau menerima cintaku, maka aku dengan terpaksa, akan memaksamu untuk menerima seluruh perasaanku, Keira!”
Perempuan tersebut, Keira, lalu melangkah mundur, hendak menjauhi pria tersebut. Namun, bola hitam raksasa itu tidak memiliki sudut, serta gelap gulita, sehingga ia sendiri terhenti setelah beberapa langkah akibat terpojok.
"Apa … apa yang akan kau lakukan?!" tanya Keira dengan nada tinggi, sementara keringat dingin mulai mengalir, membasahi wajahnya.
Ia sama sekali tidak bisa melihat apapun selain merasakan kehadiran pria bertopeng tersebut di dekatnya.
"Tentu saja hal-hal yang menyenangkan, Keira. Kita hanya berdua di dalam bola hitam raksasa ini, bukan? Lagi pula, di dalam sini tidak terlalu terang," jawab pria tersebut, yang adalah pria bertopeng tadi, dengan nada rendah.
“Ada apa ini? Apakah aku sudah kehabisan energi bintang?!” gumam Keira sambil menatap ke arah Star Baton miliknya itu dengan wajah yang panik serta kebingungan, dan masih berusaha untuk mengayunkannya ke kiri serta ke kanan.
Wajahnya menjadi semakin gusar begitu ia bisa merasakan bahwa pria bertopeng tersebut kini semakin berada dekat dengannya.
"Tidak mungkin energi bintang yang ada di dalamnya habis! Aku jarang menggunakannya!" gumam Keira.
Pria bertopeng itu langsung tertawa, kemudian ia berkata, "Keira! Energi bintang tidak akan bisa digunakan di sini!"
Ia kemudian meraih Star Baton itu dari tangan Keira lalu menjatuhkannya, hingga benda tersebut berubah menjadi debu halus dan menghilang begitu saja.
__ADS_1
“Kau …!” seru Keira.
“Aku adalah seorang Silverian, Yang Mulia. Sudah biasa bagiku untuk melihat di dalam kegelapan,” balas pria bertopeng itu.
Kedua mata Keira yang tadinya melotot tajam ke arah Star Baton miliknya, kini ia justru menatap lawan yang sedang berada di hadapannya, dengan rasa takut yang besar.
Punggungnya tiba-tiba membentur dinding dingin bola hitam raksasa itu. Ia lalu menelan ludahnya sendiri sambil melotot tajam ke arah pria bertopeng tersebut.
“Kau, sebaiknya menjauhlah dariku!” serunya dengan wajah yang terlihat panik, sambil menatap lurus ke depan dan menebak-nebak di mana posisi lawannya itu.
Pria bertopeng tersebut kemudian berdiri di hadapan Keira dan mendekatkan wajahnya hingga sangat dekat dengan hidung perempuan Crossbreed itu, namun, Keira langsung membuang wajahnya ke samping sambil mengernyitkan dahinya.
"Sayang, biar kuberitahu sesuatu. Energi bintang tidak akan bisa digunakan di dalam planet ini," bisik pria bertopeng tersebut, lalu dengan kasar, ia meraih wajah Keira dengan tangan kanan, memaksa Keira untuk menatapnya.
Keira kemudian tersenyum sinis sambil melotot ke arah pria bertopeng itu walaupun ia tidak bisa melihat dengan jelas.
"Planet Silverian? Haha! Planet yang seharusnya berwarna abu-abu, namun ternyata … gelap, tanpa cahaya. Sangat tidak cocok dengan namanya sendiri, Silverian!" serunya.
Wajah pria bertopeng tersebut langsung terlihat kesal setelah mendengarkan ucapan itu. Ia lalu mencengkram wajah Keira dengan kasar.
"Ya! Seharusnya planet ini berwarna abu-abu dan seharusnya juga, kami menggunakan energi dari bulan-bulan milik kami! Namun lihat apa yang sudah kalian semua lakukan! Hanya karena bulan-bulan itu mendapatkan cahaya dari Goldinian, kalian lantas menghancurkannya, dengan alasan hanya boleh ada satu planet yang bisa memakai energi cahaya, yakni hanya planetmu, Planet Palladina. Seharusnya, kau bertanya kepada Xyon mengapa ia justru membiarkan penduduk Planet Silverian sengsara, dan menjadikan kami seperti ini!" seru pria bertopeng tersebut dengan nada tinggi sambil melotot tajam.
“Menjauhlah dariku!” teriak Keira.
Ia lantas mendorong tubuh pria bertopeng tersebut hingga lawannya itu terjungkal, lalu, salah satu pedang kosmik miliknya muncul di dalam genggaman tangan kanannya.
__ADS_1
“Silverian sialan!” serunya, dan dengan cepat, ia mengarahkan ujung benda tajam itu tepat di depan batang hidung pria bertopeng tersebut, karena yakin bahwa lawannya tadi sudah tersungkur di hadapannya.
Pria bertopeng itu terdiam, lalu, ia menatap Keira sambil tertawa untuk beberapa saat.