Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Ketegangan


__ADS_3

Pria-pria itu langsung tersenyum begitu mendengar bahwa Keira kini sudah baik-baik saja. Higarashi lalu menghela nafas pendek, kemudian menatap Yeria dengan wajah yang ceria.


“Kalau begitu, aku akan menjenguknya besok. Ia pasti sudah sangat lelah hari ini dan ingin bertemu denganmu secepatnya, Higarashi. Aku akan kembali sekarang,” ucap Xyon dengan wajah yang tampak dingin sambil menundukkan kepalanya sebentar, lalu kembali menatap Higarashi.


“Baiklah, Perdana Menteri Xyon. Terima kasih atas bantuanmu. Aku sangat menghargainya,” balas Higarashi.


Xyon hanya mengangguk sekali, lalu pergi bersama dengan Arex, Nordian, Weim, dan Yeria, menuju ke halaman depan istana. Kini hanya Higarashi dan Aerim yang berada di sana, berdua saja.


“Aku akan menemuinya sekarang. Terima kasih sudah berkunjung, Aerim,” ujar Raja dari Halida itu.


Ia hendak melangkah, namun Aerim tiba-tiba meraih dan menarik lengan kirinya, mencengkram kerah bajunya dengan dua tangan sambil menatapnya dengan wajah yang tampak penuh amarah.


"Kau, sebaiknya ceraikan Keira sekarang juga, sebelum kau melukai fisiknya lagi, setelah kau melukai hatinya barusan!" seru Aerim dengan nada tinggi.


Higarashi langsung melotot tajam dan berucap dengan wajah yang kesal, "Kau sendiri membunuh Demira yang sudah melahirkan anakmu, lalu, apakah kau juga akan membunuh Keira setelah ini?!"


"Aku tidak pernah membunuh Demira!" balas Aerim dengan nada tinggi, namun ia mendadak curiga dan kembali bertanya, “mengapa kau bisa tahu bahwa Demira sudah dibunuh oleh seseorang?”


“Perdana Menteri Xyon memberitahukannya kepadaku. Jika aku menyerahkan Keira kepadamu, apakah kau tidak akan membunuhnya setelah ia melahirkan anak-anakku?” tanya Higarashi dengan wajah yang serius.


Aerim hanya bisa terdiam sambil masih menatap Higarashi dengan wajah yang memerah.


“Lalu siapa yang sudah membunuh Demira jika bukan dirimu? Lagi pula tidak mungkin aku menceraikan Keira! Kami sudah memiliki dua orang anak sekarang! Aku adalah ayah mereka dan aku masih hidup!” seru Higarashi dengan nada tinggi.


“Hah! Jelaskan kepadaku, apa hubunganmu dengan Viora, Higarashi? Mengapa kau tiba-tiba membentak Keira dan bergumam memanggil Viora di dalam kamar sendirian?” tanya Aerim sambil tersenyum sinis.


Higarashi terkejut dengan ucapan tersebut, lalu ia mendorong tubuh Aerim dengan kasar hingga Raja dari Silverian itu mundur tiga langkah darinya.


“Itu adalah urusan pribadiku yang kau seharusnya tidak ikut mencampurinya!” seru Raja dari Halida tersebut sambil mengangkat tangan kanan dan menunjuk-nunjuk ke arah Aerim.


Ia kemudian menurunkan tangannya, lalu berjalan meninggalkan Aerim di sana.

__ADS_1


“Dasar bodoh! Keira seharusnya tidak pernah menikah denganmu!” teriak Aerim sambil mengepalkan telapak tangan kirinya.


Setelah tiba di depan kamar, Higarashi kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia lalu menutup kembali pintunya, berjalan mendekati Keira yang sedang menggendong salah satu bayi laki-laki mereka sementara bayi yang lain tampak sedang tidur di samping Permaisuri dari Halida itu.


Higarashi lantas berdiri di samping Keira dengan senyum lebar, kemudian meraih serta menggendong bayi laki-lakinya yang lain. Keira lalu menatap suaminya tersebut dengan bola mata yang berkaca-kaca.


“Baru saja salah satu perawat mengantarkan mereka kemari. Ah, apakah kau sudah memiliki nama untuk mereka? Yang sedang berada di dalam pelukanmu itu adalah bayi yang lahir terlebih dahulu,” ujarnya.


Higarashi mengangguk, lalu menjawab sambil menatap bayi yang sedang digendongnya, “Bayi laki-laki dengan rambut berwarna biru tua dan bola matanya yang berwarna biru muda, sama seperti dirimu. Aku akan memberikannya gelar Pangeran dari Halida, dan namanya adalah … Xavion.”


Keira tersenyum lebar, kemudian ia menatap bayi laki-laki yang berada di dalam pelukannya.


“Yang ini lahir setelah Pangeran Xavion,” ucap Permaisuri dari Halida itu.


“Rambut berwarna merah terang dengan bola matanya yang juga berwarna merah. Ah, ia sama seperti diriku. Baiklah, pangeran kecil yang ini akan kuberi nama Xevion. Pangeran Xevion dari Halida. Mereka berdua adalah kembar, bukan?” jawab Higarashi dengan senyum lebar.


Ia kemudian duduk di samping Keira, dan mereka tampak bahagia bersama. Di sisi lain, di dalam Planet Palladina, Xyon yang kini terlihat sedang berada di dalam ruang kerja pribadinya sambil duduk di atas kursi yang terletak di balik meja, mendadak dikejutkan dengan ketukan pintu.


Seorang wanita kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam, lalu kembali menutup rapat pintunya. Ia lantas membungkukkan badan dan kembali berdiri tegak setelah beberapa detik.


“Tuan,” ucapnya.


“Kepala Perawat Yeria. Katakan saja langsung,” balas Xyon dengan wajah datarnya.


“Yang Mulia Permaisuri Keira dari Halida mengatakan kepadaku bahwa kedua pangeran tersebut … adalah immortal,” ujar Yeria dengan wajah serius.


Xyon langsung menatap tajam Kepala Perawat tersebut, kemudian menghela nafas panjang.


“Ya, ia sudah pernah berkata kepadaku tentang hal itu. Lalu, bukankah kondisinya sekarang sudah baik-baik saja setelah menggunakan tabung Curelix?” tanya Xyon.


“Tuan, tabung Curelix itu memang mampu menyembuhkan luka dan penyakit, namun melihat Yang Mulia Permaisuri begitu segar setelah menggunakan alat tersebut …,” jawab Yeria, namun Xyon langsung memotong dengan berkata, “Kau curiga bahwa ia sebenarnya sedang sakit, bukan?”

__ADS_1


Yeria mengangguk. Xyon lalu memutar bola matanya sekali.


“Curelix tidak bisa … membuat antimateri, bukan?” tanya Perdana Menteri dari Palladina itu.


“Tuan!” seru Yeria dengan wajah yang tampak panik.


“Rahasiakan ini dari semua orang, tidak boleh ada yang tahu tentang kondisinya. Kau harus benar-benar merahasiakan hal ini, Kepala Perawat,” balas Xyon dengan wajah yang dingin.


Yeria kemudian membungkuk dan berseru, “Baik, Tuan! Aku tidak akan mengatakan hal ini kepada siapa pun!”


“Terima kasih sudah memberitahukan hal ini kepadaku, Kepala Perawat,” ucap Xyon.


“Baik, Tuan,” balas Yeria yang kini sudah kembali berdiri tegak, “kalau begitu, aku akan kembali terlebih dahulu.”


Ia lantas berjalan keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintunya. Wajah Xyon langsung berubah menjadi gusar setelah mendengar laporan tersebut.


“Viora dan Dovrix belum ditemukan. Sialan. Keira tidak boleh mengetahui hal ini,” gumamnya pelan.


Dua hari kemudian, Aerim terlihat baru saja mendarat di halaman depan istana kerajaan Halida, lalu mengubah fisiknya kembali seperti semula. Tiba-tiba saja, seorang pelayan perempuan berjalan mendekatinya dan berdiri di hadapannya, kemudian menundukkan kepala sebentar.


"Yang Mulia Raja dari Silverian, maafkan aku atas ketidaksopananku ini, namun Yang Mulia Permaisuri memintaku untuk memberitahukan kepada Anda untuk menemuinya di halaman belakang istana," ucap pelayan perempuan itu.


“Ah, baiklah. Terima kasih. Aku akan menemuinya sekarang,” balas Aerim.


Ia langsung berlari menuju ke halaman belakang istana. Sesampainya ia di sana, Aerim lantas melihat seorang perempuan berambut biru tua sedang duduk sambil memejamkan matanya di atas sebuah kursi panjang berwarna coklat yang terletak di samping pohon besar, di tengah-tengah halaman tersebut.


Ia kemudian berjalan dengan cepat ke arah perempuan tersebut dan berdiri di hadapannya.


“Keira,” ucap Aerim.


Perempuan berambut biru tua itu, Keira, lalu membuka mata dan menatapnya dengan senyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2