Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Keinginan Untuk Kembali


__ADS_3

“Cepat arahkan kereta ini ke sana!! Cepat, pelayan!!” teriak Gerofin sambil masih melotot tajam keluar jendela.


“Baik, baik, Yang Mulia!” balas salah satu pelayan yang berada di dekatnya, dengan wajah yang tampak panik.


Ia kemudian berlari menuju ke ruang kontrol dan memberitahukan kepada pengemudi kereta antar planet itu untuk berbelok menuju ke arah tubuh perempuan berambut biru tua yang berada tidak jauh dari sana.


Dengan cepat, kereta antar planet tersebut melesat, dan berhenti di samping tubuh perempuan tersebut. Rexi dan Gerofin, serta beberapa orang pelayan lalu membuka pintu dan keluar dengan tergesa-gesa.


Sementara para pelayang menunggu di depan pintu, sepasang suami istri itu lantas melayang di ruang hampa udara, melesat pelan mendekati tubuh perempuan berambut biru tua tersebut. Rexi kemudian meraih tubuhnya dan langsung memperhatikan wajahnya.


"Ia adalah Yang Mulia Ratu Keira dari Halida!!! Suamiku, astaga! Ia sedang tidak sadarkan diri!" teriaknya dengan wajah yang tampak panik.


Gerofin kemudian melihat wajah perempuan tersebut, lalu terkejut dan berkata, “Bagaimana caranya ia bisa berada sejauh ini dari Galaksi Metal? Ini sudah adalah wilayah Galaksi Bima Sakti!”


“Kita harus membawanya kembali, atau tubuhnya akan terus melayang jauh tanpa tujuan di alam semesta ini!” seru Rexi sambil mengernyitkan dahinya.


Gerofin lalu menoleh dan berteriak kepada pelayan-pelayannya yang berada di pintu masuk, "Kalian! Cepat bawa masuk Yang Mulia Permaisuri Keira ke dalam! Cepat!! Dengan sangat hati-hati!!"


Beberapa pelayan kemudian dengan cepat melayang mendekati Rexi, lalu meraih tubuh Keira dan membawanya masuk ke dalam kereta antar planet dengan tergesa-gesa. Gerofin dan Rexi lantas mengikuti mereka dari belakang.


Begitu mereka sudah kembali berada di dalam kereta antar planet dan menutup pintunya, Rexi kemudian berseru sambil menunjuk ke samping, “Baringkan tubuhnya perlahan di atas sofa itu.”


“Baik, Yang Mulia,” balas beberapa pelayan yang menggendong tubuh Keira secara bersama-sama, dan setelah itu, mereka membaringkannya di atas sebuah sofa yang empuk di hadapan Rexi.


Sepasang pemimpin dari Diamona tersebut kemudian memperhatikan luka-luka lecet di tubuh Keira dengan wajah gusar.


"Mengapa tubuhnya bisa berada di ruang hampa udara? Lalu harus bagaimana kita sekarang, apakah kita harus mengantarkannya menuju ke Planet Halida, atau Planet Palladina?! Sayang, tubuhnya begitu banyak luka, astaga, apa yang sudah terjadi?" tanya Rexi dengan wajah yang panik.

__ADS_1


"Palladina …," jawab Keira yang tiba-tiba membuka kedua matanya perlahan, membuat Gerofin dan Rexi mendadak melotot dan terkejut karena ucapannya barusan.


"Yang Mulia Permaisuri Keira dari Halida, apa yang sudah terjadi kepadamu, mengapa kau pingsan dan melayang-layang di ruang hampa udara?!" tanya Gerofin pelan dengan wajah yang gusar.


Namun, wajah sendu Keira justru membuat keduanya semakin panik. Permaisuri dari Halida itu tampaknya tidak mampu berbicara terlalu banyak. Kedua matanya tidak bisa membuka terlalu lebar, sementara tubuhnya masih terasa kaku.


"Tolong … aku …," ucap Keira dengan sangat pelan.


"Aku rasa Yang Mulia Ratu Keira tidak memiliki banyak energi kosmik, sayang. Ia terlihat sangat lemah dan tubuhnya penuh dengan luka. Sebaiknya kita membawanya kembali menuju ke Planet Palladina seperti permintaannya," ujar Gerofin kepada istrinya.


Rexi kemudian mengangguk, lalu membalas, “Baiklah, Yang Mulia.”


Gerofin lantas menoleh ke arah Keira dan berbisik, “Setidaknya dengan begini, semoga saja Anda bisa memaafkan seluruh perbuatan putri kami, Chexy.”


Keira tersenyum kecil tanpa membalas ucapan tersebut. Rexi lalu menoleh ke arah pelayan yang sedang berdiri di ujung lorong, dengan wajah yang serius.


“Baik, Yang Mulia!” balas beberapa pelayan sambil menundukkan kepala mereka.


Dengan cepat, mereka kemudian berlari menuju ke ruang kontrol dan tidak butuh waktu lama, Kereta antar planet milik kerajaan Planet Diamona itu langsung melesat kembali menuju ke arah lubang cacing yang membawa mereka kembali ke Galaksi Metal.


Begitu alat transportasi tersebut memasuki Tata Surya Goldinian, tiba-tiba saja Gerofin dan Rexi yang sedang berada di ruang kontrol dengan kaca yang terletak di seluruh bagian ruangan tersebut, melotot tajam ke arah sebuah planet yang berwarna abu metalik, dengan wajah yang tampak terkejut.


“Pelankan laju kereta ini!!” seru Rexi, dan pilot yang sedang mengendalikan kereta antar planet itu lantas memperlambat laju alat transportasi tersebut.


Mereka yang ada di sana, termasuk para pelayan dan pilot, langsung terkagum-kagum begitu mata mereka menatap ke arah Planet Silverian.


“Planet itu … apakah itu Planet Silverian?” tanya Gerofin dengan wajah yang tampak terkejut.

__ADS_1


Rexi lantas menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu berlari mendekati salah satu kaca dan memperhatikan Planet Osmia. Ia lalu menoleh ke arah Gerofin dengan wajah yang tampak panik.


“Sayang, tidak ada planet lain di belakang Planet Osmia! Itu berarti, Planet Silverian … sudah pindah ke posisi ketiga?” tanyanya balik kepada suaminya itu.


“Warnanya! Warnanya sudah kembali, seperti yang pernah kulihat ketika aku masih kecil! Abu metalik! Namun, bukankah mereka masih memiliki energi gelap?” seru Gerofin dengan wajah yang gusar.


“Ledakan energi kosmik itu!" tanya Rexi dengan wajah yang dipenuhi rasa penasaran.


“Tidak ada yang mampu melakukannya selain seorang Crossbreed! Apa yang terjadi sebenarnya dengan Planet Silverian … sebelum kita pergi?” balas Gerofin sambil mengernyitkan dahinya.


"Apakah ini adalah akhir dari perang antar planet yang selama ini melibatkan Planet Silverian?" tanya Rexi dengan wajah gusar.



Pintu ruang kontrol yang terbuka itu membuat Keira bisa mendengarkan semua ucapan mereka, walaupun ia hanya berbaring di atas sofa yang letaknya tidak jauh dari sana. Ia tersenyum, seolah merasa senang karena ucapan tersebut membuktikan bahwa pengorbanan yang dilakukannya tidaklah sia-sia.


“Aku … mengubahnya menjadi energi gravitasi,” gumamnya dengan nada yang pelan, namun pelayan perempuan yang memakai baju terusan berwarna merah muda, yang sedang berdiri di sampingnya dan mendengarkan ucapan tersebut mendadak melotot karena terkejut.


“Yang Mulia?” ucap pelayan perempuan itu dengan wajah yang gusar.


Keira hanya tersenyum kepadanya, namun tidak membalas ucapan itu.


Karena sudah merasa puas setelah beberapa saat memperhatikan Planet Silverian yang kini sudah berbeda, Gerofin lantas menghela nafas panjang, lalu menoleh ke arah pilot-pilotnya. Wajahnya kini menjadi lebih serius.


“Sudah, kita tidak memiliki waktu untuk berlama-lama di sini. Cepat melesat menuju ke Planet Palladina!” serunya sambil mengernyitkan dahi.


“Baik, Yang Mulia!” balas para pilot yang berada di sana.

__ADS_1


Kereta antar planet itu lantas kembali melesat dengan kecepatan cahaya, menuju ke planet yang berstatus sebagai penjaga galaksi tersebut.


__ADS_2