Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Keinginan sang Crossbreed


__ADS_3

Suasana di antara Keira dan Higarashi justru menjadi semakin tegang. Permaisuri dari Halida itu bahkan kini mengarahkan salah satu pedang kosmiknya di bawah dagu sang suami. Pria muda tersebut hanya bisa terdiam dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.


"Aku tidak mencintai Viora, Keira. Kau benar-benar sudah salah paham," ucap Higarashi pelan.


"Namun kau menyukainya, dan terima kasih sudah jujur sehingga aku mengetahui perasaanmu yang sebenarnya. Maka dari itu, izinkan aku dan anak-anak untuk tinggal di Planet Bumi," balas Keira, namun kali ini kedua pedang kosmik miliknya tiba-tiba menghilang.


Ia kemudian menurunkan tangannya dari hadapan Higarashi dan menatapnya dengan bola mata yang kini sudah kembali berubah warna seperti semula, biru muda.


"Aku tidak akan menceraikanmu. Aku akan memikirkan hal itu nanti, namun, saat ini, aku hanya butuh ketenangan," ucap Keira lagi dan wajahnya menjadi sendu.


Tubuh Higarashi langsung terasa lemas setelah mendengarkan ucapan dari istrinya itu. Ia mendadak berlutut di hadapan Keira sambil menatapnya dengan air mata yang mulai menetes.


"Maafkan aku. Aku selalu berkata bahwa aku ingin melindungi dan akan mengorbankan segalanya untukmu. Aku memang mencintaimu, sangat mencintaimu, namun …,” ujar Higarashi pelan, sayang, ia tidak bisa melanjutkan ucapannya barusan.


"Kau bisa melindungi anak-anak kita, dengan membiarkan kami tinggal di dalam Planet Bumi. Tentu saja kau boleh berkunjung di waktu yang kau inginkan,” balas Keira dengan wajah yang datar.


Di sisi lain, di dalam istana kerajaan Palladina, Nordian terlihat berlari dengan terburu-buru, menuju ke ruang kerja pribadi milik Xyon. Ia bahkan membuka pintunya dengan kasar dan nafas yang terengah-engah hingga Xyon yang tadinya sedang duduk sambil membaca sebuah buku kosmik, langsung terkejut, serta menatapnya dengan wajah kesal.


"Xyon!" seru Nordian dengan nafas pendek.


Xyon kemudian membanting pelan buku kosmik tersebut ke atas meja kerja yang berada di depannya, lalu berseru, "Astaga! Mengapa semua orang yang ada di sini selalu membanting pintu ruang kerjaku seperti itu?! Katakan, ada apa lagi kali ini?!"


Nordian lantas mengatur nafasnya dan menutup kembali pintu ruangan tersebut perlahan.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, ia melanjutkan, "Aku baru saja menyadari sesuatu ketika sedang berpatroli di luar angkasa hingga ke ujung Galaksi Metal ini!"


"Apakah ada sesuatu yang menarik, sehingga membuatmu berlari seperti itu kemari?!" tanya Xyon sambil mengernyitkan dahi.


"Sebuah lubang hitam raksasa sedang berotasi di luar angkasa sana, namun, semakin aku mengamatinya bertahun-tahun selama berpatroli, aku semakin merasa bahwa lubang hitam itu justru semakin dekat dengan tata surya kita! Benda tersebut pada awalnya berada di ujung, dan semakin lama, ia justru semakin berada di tengah galaksi ini! Aku bisa melihat dengan jelas bahwa jalur rotasinya mengarah ke Tata Surya Goldinian!" seru Nordian dengan wajah yang panik.


Xyon menghela nafas pendek, lalu bertanya, “Ah, hanya sebuah lubang hitam. Lagi pula bukankah memang benda itu selalu sama di mana pun di alam semesta ini?”


“Astaga, Xyon! Lubang hitam raksasa itu semakin mendekati tata surya kita, bukankah seharusnya kau takut? Ia bisa saja menelan kita semua hidup-hidup!” balas Nordian dengan nada tinggi.


“Ah, hanya lubang hitam …,” ujar Xyon, namun tiba-tiba ia terdiam hingga membuat Nordian kebingungan.


Perdana Menteri dari Palladina itu mendadak berdiri dan melotot tajam ke arah Nordian, kemudian berseru, “Lubang Hitam? Apakah kau melihat sebuah planet gas kecil di dekatnya?”


“Planet gas kecil?!” tanya Nordian sambil mengernyitkan dahinya.


Wajahnya tampak panik, ia bahkan kembali berkata, “Sudah berapa lama kau mengamatinya? Bukankah lubang hitam memang seperti itu? Lagi pula, gravitasi dari Tata Surya Goldinian bisa jadi akan membelokkannya ke arah lain jika ia terlalu dekat kemari.”


Nordian langsung berjalan mendekati Xyon, kemudian berdiri di sebelahnya dan mencengkram kedua bahu pria tua itu.


“Ini adalah lubang hitam raksasa, Xyon! Dengan sebuah planet gas kecil yang berotasi di dekatnya!” bisiknya dengan nada tinggi.


Xyon terdiam sambil melotot, namun di dalam pikirannya, ia berujar, “Apakah ini ulah para Blackerian? Namun tidak mungkin mereka bisa mengendalikan lubang hitam raksasa, lagi pula mereka hanya bisa mengendalikan materi gelap. Siapa yang bisa mengendalikan benda luar angkasa dengan massa yang sebesar itu, selain daripada seorang Crossbreed? Satu-satunya Crossbreed yang hidup di alam semesta ini hanyalah Keira!”

__ADS_1


Dengan wajah yang kembali tenang, Perdana Menteri dari Palladina itu kemudian duduk di atas kursinya dan berkata, “Nordian, aku rasa kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Bintang Induk Goldinian dan planet-planet di dalamnya juga akan berotasi semakin jauh dari lubang hitam raksasa tersebut. Kita akan semakin mendekati pusat galaksi, bukan? Ya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kalau begitu. Jika kau mau, kau bisa memperhatikannya lebih dekat, namun … berhati-hatilah terhisap ke dalamnya.”


Nordian langsung menyadari sesuatu setelah mendengar ucapan tersebut.


Ia lalu menghela nafas pendek dan membalas, “Xyon, ada baiknya kita berhati-hati.”


Jenderal Senior tersebut kemudian berjalan keluar dengan wajah yang kecewa. Namun, begitu Nordian pergi, Xyon justru terlihat sangat gusar.


“Lubang hitam yang semakin mendekati Tata Surya Goldinian? Blackerian? Meteorix? Tidak mungkin ini adalah kutukan dari lam semesta untuk seorang Crossbreed, bukan?” gumamnya pelan sambil mengernyitkan dahi dalam-dalam.


Malam harinya, Xyon terlihat sedang berdiri sambil membaca begitu banyak buku kosmik demi mencari informasi tentang para Blackerian, di dalam perpustakaan istana yang besar. Walaupun buku-buku tersebut hanya perlu disentuhnya sekali dan akan melayang-layang di hadapannya, ia justru merasa kelelahan dan mulai menggelengkan kepalanya beberapa kali agar tetap terjaga.


Tiba-tiba, seorang perempuan muncul di sampingnya dan menatap Perdana Menteri dari Palladina itu dengan senyum kecil.


“Paman, bisakah aku berbicara denganmu, berdua saja?” tanyanya pelan.


Xyon langsung menoleh ke samping dan memperhatikan perempuan berambut biru tua tersebut, kemudian membalas, “Keira? Bukankah ini sudah malam hari?! Mengapa kau berada di sini?”


Perempuan itu, Keira, lalu menghela nafas pendek dan menjawab, “Aku pergi ke ruang kerja pribadimu namun Paman Arex berkata bahwa kau sedang berada di sini. Paman, aku ingin tinggal di dalam Planet Bumi saja, seperti sebelum kita bertemu ….”


"Ada apa, Keira? Apa yang sudah terjadi? Bukankah sekarang kau sudah memiliki pangeran-pangeran kecil yang masih membutuhkan dirimu?" tanya Xyon dengan wajah yang gusar.


Keira tersenyum lagi, kemudian menggelengkan kepalanya dan membalas, "Paman, aku hanya ingin sedikit ketenangan.”

__ADS_1


Perdana Menteri dari Palladina itu hanya bisa terdiam. Ia sangat tahu ada sesuatu yang salah dengan anak angkatnya tersebut dan Higarashi, hingga permintaan tadi keluar dari mulut Keira.


Perempuan berambut biru tua itu justru menatapnya dengan wajah yang serius untuk beberapa saat hingga Xyon bergumam, “Keira, apa yang sedang kau pikirkan?”


__ADS_2