Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Sang Raja dari Silverian


__ADS_3

"Sialan," gumam pria bertopeng itu pelan sambil menahan emosinya.


Ia benar-benar ketakutan begitu melihat aksi Victory Higarashi yang dengan mudahnya menghempaskan seluruh prajurit-prajuritnya, hingga yang tersisa hanyalah dirinya sendiri sebagai lawannya.


“Ini adalah kejadian yang pertama kali kulihat seumur hidupku. Televatia! Keira benar-benar melakukannya! Apakah ia tidak menyadari bahwa energi antimaterinya bisa habis dengan cepat jika ia terus menerus melakukan hal itu?!” seru Xyon di dalam hatinya sambil masih melotot tajam ke arah Higarashi.


Setelah berhasil menghempaskan seluruh prajurit Silverian yang hendak menyerangnya, Higarashi lalu menatap ke arah pria bertopeng tersebut dan tersenyum sinis.


"Hmm, tampaknya sudah tidak ada lagi yang menghalangi kita. Bagaimana jika kita mulai saja?" tanyanya.


"Sialan! Baiklah! Akan kulayani kemauanmu!" teriak pria bertopeng tersebut, kemudian, ia mulai melesat ke arah Higarashi sambil mengangkat pedang kosmiknya ke depan.


Pria bertopeng itu mulai menyerangnya dengan brutal, namun, sebanyak apapun serangan yang dilancarkan olehnya, justru dengan mudah ditepis oleh Victory Higarashi. Tentu saja, karena lawannya tersebut lebih unggul karena memiliki dua buah pedang kosmik dan sepasang sayap yang besar.


"Sialan!" gumam pria bertopeng itu.


Ia mulai merasa lelah dan fokusnya mulai terpecah. Victory Higarashi langsung mengambil kesempatan tersebut untuk menyerang balik dirinya.


“Bersiaplah kau!” teriak Raja dari Halida itu


Kemudian, dengan cepat, ia mengarahkan salah satu pedang kosmiknya dan berhasil merobek topeng yang sedang dipakai oleh lawannya tersebut.


“Tidak mungkin!” gumam pria bertopeng itu dengan mata yang melotot tajam ke arah Victory Higarashi.


Angin yang berhembus dengan kencang kemudian membuka topeng itu perlahan-lahan, membuat wajah di baliknya terlihat … jelas. Victory Higarashi dan pria bertopeng tersebut lalu berhenti menyerang dan saling menatap satu sama lain dengan wajah yang tampak terkejut. Mereka terdiam, walaupun suasana di antara keduanya mendadak semakin tegang.


“Kau!!” teriak Raja dari Halida tersebut dengan nada tinggi, karena ia tentu saja mengingat siapa pria bertopeng yang sudah menyerangnya berkali-kali itu.


Pria itu kemudian tersenyum sinis ke arah lawannya tersebut.

__ADS_1


"Victory Higarashi. Benar-benar kemampuan yang luar biasa. Namun sebaiknya kau pergi dari planet ini bersama dengan Perdana Menteri bodoh itu. Kau sudah terlalu banyak mencampuri urusan pribadi planet ini," balasnya.


“Aerim!! Siapakah dirimu di sini? Apakah kau Raja dari Silverian, atau kau adalah pengawal pribadinya? Atau apakah kau adalah jenderalnya?” seru Victory Higarashi masih dengan wajah yang tampak terkejut.


“Hah! Dasar Raja yang bodoh!” seru pria itu, yang rupanya adalah … Aerim, dengan wajah yang terlihat kesal.


Victory Higarashi kemudian tersenyum sinis dan membalas, "Rupanya benar, kau adalah pria bertopeng itu. Kau yang sudah membunuh kedua orang tuaku. Bukankah kau juga yang sudah membunuh kedua orang tua dan bibi angkat Keira? Ternyata dugaanku tidak salah. Luka sayatan di lengan kirimu sudah membuatku curiga sejak awal kita bertemu di pantai pada waktu itu."


Xyon langsung melotot begitu mendengar perkataan Victory Higarashi barusan, kemudian ia bertanya, "Apakah pria ini pernah menyerangmu juga?!"


"Tentu saja. Ia bahkan pernah menyerang Keira ketika kami sedang berada di pantai," jawab Victory Higarashi.


Aerim tiba-tiba tertawa keras untuk beberapa saat, lalu ia menatap Xyon dengan wajah yang serius dan berteriak, "Berisik sekali kalian! Pergilah dari planet ini! Ah, tidak. Sebaiknya kau mati!”


Kemudian, ia melesat ke arah Xyon dan mulai menyerang pria tua itu karena tahu bahwa ia akan kalah jika melawan Victory Higarashi.


“Paman Xyon!” seru Raja dari Halida itu dengan wajah yang terlihat panik.


“Oh, Perdana Menteri tua yang masih lincah!” seru Aerim.


Ia langsung menyerang Xyon dengan brutal dengan pedang kosmiknya, dan sesekali waktu, mata mereka berdua bertemu sangat dekat, hanya terhalang oleh senjata kosmik masing-masing.


"Aerim! Kau adalah seorang Silverian, seharusnya kau tahu bahwa perang ini hanya antara raja dari planetmu dan aku, lantas, mengapa kau harus menargetkan Keira dan orang-orang terdekatnya?!" tanya Xyon dengan nada tinggi.


"Karena … akulah raja dari planet ini, dasar pria tua bodoh!!” balas Aerim dengan wajah yang dipenuhi dengan amarah.


Xyon sangat terkejut dengan jawaban itu, dan sambil masih sambil bertarung dengan Aerim, ia bertanya lagi, "Kau adalah anak dari Ryena dan Flerix? Tidak mungkin!"


__ADS_1


Aerim tidak menjawab, ia justru terus menyerang Xyon dengan brutal, lalu ketika Perdana Menteri dari Palladina itu lengah, ia berhasil menyayat lengan kanan pria tua itu.


“Argh!!” teriak Xyon sambil menahan rasa sakitnya.


Mereka kemudian berhenti menyerang dan berdiri saling berhadapan satu sama lain. Aerim lalu tersenyum sinis dan menoleh ke arah Victory Higarashi, namun, wajah Aerim langsung berubah menjadi panik.


“Ke mana Raja sialan itu?!” gumamnya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.


Xyon tiba-tiba tertawa kecil sambil memegang luka sayatan di lengan kanannya, hingga Aerim menoleh ke arahnya, lalu menatap pria tua itu dengan wajah yang kesal.


“Ada apa? Apa yang sedang kau tertawakan?” tanya Aerim.


Xyon tidak menjawab, namun, ia justru tersenyum sinis kepada Aerim hingga pada akhirnya, pria muda itu menyadari bahwa memang ada sesuatu yang salah.


"Sialan! Victory Higarashi!!!" teriak Aerim dengan wajah yang benar-benar panik, setelah menyadari bahwa Raja dari Halida itu sudah berhasil masuk ke dalam planetnya dan kemungkinan, ia sudah tiba di dalam lingkungan istana planet itu.


Aerim tidak tinggal diam. Ia kemudian melesat dengan cepat ke arah istananya, meninggalkan Xyon yang sedang terluka, sendirian.


“Aerim? Apakah ia benar-benar adalah anak yang dilahirkan oleh Ryena?” gumam Xyon.


Sementara itu, Demira yang sedang duduk di dalam ruang kerja Aerim, langsung terkejut begitu ia mendengar suara-suara keras dari luar istana. Ia kemudian menoleh ke arah jendela, lalu melihat keluar. Kedua matanya langsung terbuka lebar begitu melihat satu per satu prajurit-prajurit Silverian ternyata sedang terjatuh dari atas langit dan mendarat di atas tanah dengan kencang.


"Sialan! Apa yang sudah terjadi, Aerim?! Apakah kita sudah kalah?! Gawat sekali! Tidak mungkin!" seru Demira, dengan wajah yang panik.


Ia lantas menoleh lagi ke arah jendela dan melihat Aerim yang sudah mendarat di halaman depan istana dan langsung berlari masuk ke dalam.


“Apa yang sedang terjadi?!” gumam Demira, dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajahnya.


Aerim langsung menyusuri seluruh lorong dan ruangan istana untuk mencari keberadaan Victory Higarashi. Istana itu memang sepi, karena memang tidak banyak pengawal dan pelayan yang bekerja di sana. Hampir seluruh penduduk planet gelap itu sudah menjadi prajurit yang diwajibkan untuk berkorban demi sang Raja.

__ADS_1


“Di mana Raja bodoh itu?!” gumamnya.


__ADS_2