Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Masa Lalu - Bagian VI


__ADS_3

"Hmm, aku adalah seorang pesulap, namun masalahnya, aku hanya bisa menyulap sebuah pedang, itu saja keahlianku," jawab Xyon dengan wajah datar.


Hyerin tertawa kecil, lalu membalas, "Maafkan aku, Xyon. Baru kali ini ada seseorang yang membuatku tertawa lagi setelah kepergian kedua orang tuaku. Terima kasih sudah menemaniku hari ini."


"Adalah suatu kehormatan bagiku untuk bisa membuatmu tertawa lagi, Nona," balas pria muda itu, masih tanpa ekspresi sama sekali.


Gadis berambut hitam itu lantas tersenyum. Mereka kemudian kembali berjalan hingga akhirnya tiba di depan gedung penginapan. Keduanya lalu melangkah lagi menuju ke kamar masing-masing.


"Terima kasih, Xyon. Sampai jumpa besok," ucap Hyerin, lalu ia merogoh saku celananya dan membuka kunci pintu, masuk ke dalam, lalu menutup kembali pintunya rapat-rapat.


Setelah itu, Xyon melakukan hal yang sama. Kali ini, kunci pintu miliknya tidak macet seperti kemarin sehingga ia dengan mudah masuk ke kamar pribadinya. Ia langsung menutup pintu dan duduk di atas lantai sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.


“Aku tidak mengerti perasaan apa ini. Apakah aku sedang sakit? Mengapa jantungku berdetak cepat setelah melihat senyumannya? Ah, tidak mungkin. Bukankah memang sudah tugasku untuk melindunginya?” gumam Xyon sambil menggelengkan kepalanya sekali.


Sementara di dalam kamar lainnya, Hyerin juga terlihat sedang duduk di atas lantai yang dingin sambil menyandarkan tubuhnya di samping ranjang. Wajahnya memerah begitu ia mengingat-ingat lagi Xyon yang melawan para pria berbadan besar tadi demi menyelamatkannya.


"Aku … baru kali ini melihat seorang pria yang begitu pandai bertarung. Ia sangat berani, benar-benar tidak ada rasa takut yang terlihat di wajahnya, padahal badan preman itu besar-besar!" gumam Hyerin dengan bola mata yang berkaca-kaca.


Ia tiba-tiba mengingat ketika Xyon menggandeng tangannya erat-erat dan mereka berlari bersama hingga tiba di tepi danau yang indah itu.


"Astaga, apa yang sedang kupikirkan? Xyon melakukan itu semua karena memang ia adalah seorang pria! Sudah seharusnya ia melindungi seorang gadis sepertiku, bukan? Astaga!" serunya dengan nada pelan.


Hari semakin gelap dan tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Xyon. Untung saja ia belum tertidur, dan langsung berjalan mendekati pintu, lalu membukanya.


"Yang Mulia," ucap Xyon sambil membungkukkan badannya untuk beberapa saat, lalu ia kembali berdiri tegak.

__ADS_1


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu," bisik Arnea, yang kali ini datang sendiri tanpa ditemani oleh istrinya, Klara.


"Silakan masuk, Yang Mulia," balas pengawal pribadinya itu, sambil mempersilakan sang Pangeran Mahkota untuk masuk ke dalam kamarnya.


Arnea kemudian melangkah ke dalam, dan Xyon langsung menutup rapat pintunya.


"Duduklah di mana pun Anda merasa nyaman, Yang Mulia," ucap Xyon lagi.


"Ah, tidak perlu. Aku akan cepat saja, Xyon. Uh, begini …, aku sebenarnya bersama Klara, datang kemari hanya ingin berbulan madu. Ayah tidak mengizinkanku untuk tinggal di sini walaupun untuk sementara," ujar Arnea dengan wajah yang sedikit kesal.


"Jadi apakah penelitian Anda tentang manusia di Planet Bumi ini hanyalah sebuah alasan, Yang Mulia?" tanya Xyon dengan wajah datar.


Arnea langsung menghela nafas pendek begitu ia melihat wajah pengawal pribadinya itu.


"Astaga, Xyon. Wajahmu mengapa selalu datar dan dingin tanpa ekspresi seperti itu? Tidak akan ada wanita yang mau mendekatimu! Ah, alasan, katamu?" balasnya.


"Astaga, Xyon! Kau tidak bisa kembali terlebih dahulu! Ayah akan memarahiku jika ia tahu aku di sini hanya untuk bersenang-senang saja! Kau benar-benar tidak bisa membaca pikiran, rupanya," jawab Arnea dengan wajah memerah.


"Baiklah, Yang Mulia," jawab Xyon, masih dengan wajah yang datar.


Arnea tersenyum lebar, kemudian ia merogoh saku celana bagian kanan dan mengeluarkan sebuah kantong kecil yang berisi koin-koin perak. Entah berapa jumlah koin perak yang ada di dalamnya, namun ia langsung menyerahkan benda tersebut kepada Xyon.


"Kalau begitu, ini, ambillah. Kau bisa menggunakannya untuk berbelanja, membeli makanan dan minuman, atau apapun itu! Bersenang-senanglah untuk dirimu sendiri sebelum kita kembali, Xyon! Anggap saja sekarang adalah waktu berlibur untukmu, bukankah begitu? " tanya Arnea dengan nada rendah.


Xyon mengangguk, kemudian ia berkata, "Begitu rupanya. Baiklah, Yang Mulia. Aku tidak akan mengganggu Anda dan Yang Mulia Putri Mahkota.”

__ADS_1


“Nah, begitu! Sekarang, aku akan pergi terlebih dahulu! Klara sudah menungguku di sana!” seru Arnea.


Dengan cepat, Arnea berjalan keluar dan membiarkan pintunya terbuka, meninggalkan Xyon yang sedang kebingungan dengan kantong berisi koin-koin perak yang baru saja diberikan oleh majikannya tadi.


"Astaga," gumamnya pelan, lalu ia menutup kembali pintu kamarnya rapat-rapat dan melanjutkan, “Apakah Yang Mulia sedang mendesak diriku untuk tidak mengganggunya dengan koin-koin perak ini?"


Ia lalu memasukkan kantong itu ke dalam saku celananya. Kemudian, ia berbaring di atas ranjang sambil memejamkan mata. Namun tiba-tiba saja Hyerin muncul di dalam pikirannya hingga ia kembali membuka mata lebar-lebar. Jantungnya langsung berdetak dengan cepat dan wajahnya kini memerah.


"Astaga, gadis itu lagi. Tidak, bisa. Aku tidak boleh seperti ini. Aku adalah penerus ayah satu-satunya, dan aku harus mengambil ujian untuk menjadi seorang jenderal setelah ini. Lagi pula, gadis tersebut adalah manusia," gumamnya pelan dengan wajah yang serius.


Xyon akhirnya terlelap setelah ia merasa gelisah dan terus menerus berganti posisi tidur. Malam yang pekat membawanya masuk ke dalam ketenangan dan kedamaian saat tidurnya semakin dalam. Keesokan paginya, Xyon terlihat duduk di atas ranjang sambil menatap ke arah jam dinding yang terpaku di atas pintu kamarnya.


Begitu jarum jam tersebut menunjuk angka sepuluh, ia lalu berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya. Ia juga tidak lupa mengunci pintunya kali ini, dengan perlahan-lahan. Ia kemudian berdiri sambil menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu setelah beberapa saat, Hyerin tampak keluar dari dalam kamarnya. Gadis itu lantas mengunci pintu, kemudian menoleh ke samping.


"Ah, Xyon! Selamat pagi!" ucap Hyerin sambil tersenyum kecil.


Wajah Xyon kembali memerah setelah senyuman tersebut membuatnya terdiam sebentar.


"Apakah kau akan segera pergi bekerja?" tanya pria muda itu pelan.


"Tentu saja, karena kemarin aku pulang terlalu cepat, jadi mungkin hari ini, aku akan pulang agak sedikit lebih telat. Tuan dan Nyonya pemilik restoran sangat baik kepadaku. Aku sudah lama menganggap mereka sebagai ayah dan ibuku sendiri," ucap Hyerin.


“Ah, begitu …,” balas Xyon dengan wajah datarnya.


Hyerin kemudian menghela nafas pendek, lalu berkata, “Kalau begitu, aku akan pergi terlebih dahulu. Sampai jumpa kembali!"

__ADS_1


Hyerin kemudian berjalan, hendak keluar dari gedung penginapan itu namun tiba-tiba saja Xyon meraih tangannya. Ia langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pria muda tersebut.


"Ada apa, Xyon? Mengapa kau selalu menarik lengan orang lain seperti itu?" tanya Hyerin dengan wajah yang memerah.


__ADS_2