
Pria muda itu tiba-tiba berlari sambil menggandeng tangan gadis tersebut, dan dengan sengaja, Xyon menabrak salah satu pria berbadan besar tadi sambil melangkah dengan sangat cepat, hingga kantung kecil yang sedang digenggam Hyerin, terjatuh.
“Serang!!” seru salah seorang preman tersebut setelah temannya tersungkur akibat ulah pria muda itu.
Mereka itu langsung berlari ke arah Xyon, dan mulai menghalangi langkahnya, kemudian menyerangnya dengan brutal. Namun, rupanya pria dari Palladina itu sangat lincah. Walaupun ia sedang menggandeng Hyerin sambil berusaha berlari keluar dari gang kecil tersebut, namun ia mampu mengayunkan pedang kosmik miliknya dengan sangat cepat, menghindari serangan-serangan yang dilancarkan oleh mereka.
“Xyon! Astaga!!!” seru Hyerin sambil menahan rasa takutnya, dan berkali-kali ia mendekatkan dirinya kepada Xyon untuk menghindar dari ayunan senjata milik seorang pria berbadan besar lainnya.
Xyon dengan cepat menyadari ada seorang pria yang sedang menyerang Hyerin dari belakang. Ia langsung memeluk erat tubuh Hyerin sambil memutar badannya, lalu mengayunkan pedang kosmiknya ke arah pria tersebut hingga merobek lengan kiri lawannya itu.
“Arghhh!!” teriak pria berbada besar tadi dengan nada tinggi.
Masih sambil memeluk Hyerin, Xyon kemudian mengangkat tubuh Hyerin ke atas, dan menggendong gadis itu menggunakan kedua tangannya, dengan hati-hati.
“Xyon!” bisik Hyerin dengan wajah yang memerah, akibat aksi spontan dari pria muda itu barusan, namun karena ketakutan, ia langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Xyon dengan sangat erat.
“Pria kecil sialan!” seru seorang pria berbadan besar lainnya.
Xyon sebenarnya mulai terdesak karena mereka kali ini mulai menyerangnya dengan cepat, namun tanpa berpikir panjang, ia mengayunkan lagi pedang kosmiknya untuk menghindar dari seluruh senjata-senjata tajam milik preman-preman tersebut.
Ia bahkan berhasil melukai tiga orang dari mereka sambil berlari keluar dari gang kecil itu, melewati dua orang pria lainnya, namun, salah satu dari preman tersebut berhasil menusuk dan merobek punggung Xyon dengan pisau lipat miliknya.
“Ah!” seru pria muda itu sambil menahan rasa sakitnya.
__ADS_1
Namun ia tidak berhenti berlari. Hyerin bahkan melihat punggung kiri Xyon, dan darah yang mulai mengalir dari dalam lukanya tersebut.
“Xyon! Astaga!” seru Hyerin dengan wajah yang panik, namun karena pria muda itu tidak menyerah dengan mudah, keduanya kini berhasil keluar dari sana.
Pedang kosmik milik Xyon langsung menghilang dan kali ini, ia menggendong Hyerin dengan kedua tangan sambil masih berlari, dan dengan darah yang masih terus mengalir dari dalam luka robek di punggungnya.
Hyerin hanya bisa menatap luka yang diderita pria itu dengan wajah yang gusar. Jam makan siang, di mana orang-orang sedang berada di dalam restoran atau tempat kerjanya, untuk menikmati makan siang, sehingga jalanan sepi dan hampir tidak ada yang mencurigai mereka. Beberapa orang tanpa sengaja, memperhatikan Xyon yang sedang berlari sambil menggendong Hyerin, dengan darah yang masih terus mengalir dari luka di punggungnya.
“Apa yang terjadi dengan pria muda itu?” bisik seorang wanita yang sedang berjalan di seberang jalan ketika ia melihat keduanya.
Xyon berlari hingga akhirnya ia tiba di depan gedung penginapan, lalu setelah itu, ia berjalan pelan masuk ke dalam. Energi kosmiknya sudah terkuras banyak, dan ia sudah merasa lelah, apalagi sambil menahan rasa sakit. Ia kemudian berhenti melangkah serta menurunkan Hyerin di depan pintu kamarnya.
Nafasnya terengah-engah. Hyerin langsung menjadi sangat panik begitu ia melihat Xyon yang hampir pingsan di hadapannya.
“Xyon! Bertahanlah! seru Hyerin, namun sepertinya pria muda itu tidak lagi kuat menahan rasa sakitnya.
“Bertahanlah! Aku akan membawamu masuk terlebih dahulu!” seru gadis berambut hitam itu sambil mengernyitkan dahinya, walaupun tubuhnya gemetar karena melihat darah yang mengalir semakin banyak dari luka tusuk yang diderita pria muda tersebut.
Hyerin merogoh saku celananya untuk mengeluarkan kunci pintu, lalu memasukkannya ke lubang kunci, memutarnya, kemudian membuka pintu dan mencabut kunci tersebut, serta meletakkannya kembali ke saku celana.
Sambil merangkul Xyon dengan badannya, ia lalu berbisik, “Berjalanlah perlahan, masuklah ke dalam. Aku akan membantumu.”
Xyon memegang erat bahu Hyerin, lalu mereka masuk ke dalam kamar. Gadis itu langsung menutup pintunya rapat-rapat. Ia kemudian membantu Xyon untuk berbaring di atas ranjangnya sendiri.
__ADS_1
“Lukamu berada di punggung bagian kiri, tidurlah dengan posisi miring ke kanan. Aku akan membersihkannya,” ucap Hyerin pelan, namun wajahnya jelas menunjukkan kepanikan.
Pria muda tersebut lantas melakukan apa yang dikatakan oleh gadis berambut hitam itu. Hyerin lalu berjalan menuju ke kamar mandi, mengambil sebuah ember dan kain bersih, kemudian mengisinya dengan air sampai penuh. Setelah itu, a berjalan kembali kepada Xyon yang kini sedang berbaring di atas ranjang sambil masih menahan sakit.
“Uh, Xyon, tolong … bukalah bajumu,” bisik Hyerin pelan dengan wajah yang memerah.
Pria dari Palladina itu menghela nafas panjang, kemudian berkata, "Hyerin, kau tidak perlu melakukannya. Aku tidak akan tewas dengan cara seperti ini, jadi kau tidak perlu khawatir.”
Ia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sakitnya kepada Hyerin, namun, gadis berambut hitam itu tiba-tiba menjadi kesal setelah mendengarkan ucapannya tadi.
"Huh! Kau benar-benar menyebalkan, ya? Jelas-jelas kau sedang menahan sakit karena luka robek itu, namun wajahmu benar-benar, astaga, tanpa ekspresi! Kau memang menyebalkan!!" seru Hyerin dengan nada tinggi, namun terlihat gusar.
"Aku berkata yang sebenarnya, Hyerin. Kau tidak perlu khawatir, lagi pula ini hanya luka kecil," balas Xyon, lalu ia berusaha untuk bangkit, namun Hyerin langsung meletakkan ember tadi di atas meja kecil yang ada di sebelah ranjang, kemudian menepuk bahu pria muda itu dan memaksanya untuk tetap berbaring.
“Baiklah, baiklah,” ujar pria dari Palladina tersebut, kemudian ia memutuskan untuk duduk di atas ranjang sambil menatap Hyerin dengan wajah yang datar.
Mereka terdiam sesaat, lalu setelah itu, Hyerin tampak memperhatikan Xyon seolah sedang mencari-cari sesuatu.
"Uh, sebentar, bukankah tadi kau sedang menggenggam sebuah pedang? Apakah kau membuangnya di tengah jalan? Namun aku tidak melihatmu melakukan itu," tanya Hyerin sambil mengernyitkan dahinya.
"Ah, aku sudah pernah berkata kepadamu bahwa aku adalah seorang pesulap," jawab Xyon.
Wajah Hyerin mulai terlihat kesal lagi, lalu ia membalas, "Itu adalah pedang yang sama seperti yang kau gunakan kemarin! Jika kau membuangnya di tengah jalan, pemerintah kota ini akan mencari-cari dirimu dan melayangkan denda yang amat besar kepadamu!"
__ADS_1
"Pemerintah? Ah, manusia. Pria-pria berbadan besar yang hendak melecehkanmu itu jelas-jelas adalah preman, bukan? Namun pemerintah kota sama sekali tidak melindungi dirimu," ujar Xyon dengan wajah yang benar-benar datar.
Hyerin hanya bisa menghela nafas panjang dengan wajahnya memerah sambil berkata, "Jika kau seperti ini terus, tidak akan ada wanita yang mau menjadi kekasihmu!"