Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Perasaan Terlarang


__ADS_3

Dengan kembalinya Xyon ke Planet Palladina, Anexta dan kedua jenderal yang menemaninya, Sey dan Weim, serta beberapa pelayan pribadi dan prajurit-prajuritnya, kini sedang berada di dalam sebuah desa yang terpencil, di Planet Bumi, Galaksi Bima Sakti.


Anexta sebenarnya ingin sekali cepat kembali karena dilatasi waktu yang tidak jauh berbeda di antara Planet Palladina dan Planet Bumi. Satu minggu saja berada di planet biru tersebut, sudah sama dengan delapan hari di dalam Planet Palladina.


Ia bahkan memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk segera bergegas membereskan semua kekacauan yang dibuat oleh para Silverian di dalam desa itu, walaupun Anexta tidak pernah menunjukkan sikap buru-burunya itu di hadapan para penduduk desa ataupun Keiri.


Ratu dari Palladina itu juga membantu untuk merawat para penduduk yang sedang sakit, terluka, bahkan sesekali, ia mempelajari hidup manusia mortal. Keiri, sang kepala desa yang juga ikut dalam pemulihan desanya, tampaknya mulai luluh kepada Anexta.


Pria manusia itu bahkan mulai memberanikan diri untuk menawarkan bantuan kepada Anexta. Sesekali, ia bahkan memandang ratu dari Palladina itu dari kejauhan dengan senyum lebar di wajahnya. Padahal, wanita itu sebenarnya memang sedang berusaha untuk menghasut hatinya.


“Ternyata mereka memang tulus, berniat untuk membantu. Seharusnya aku tidak memperlakukan mereka seburuk itu pada awalnya,” gumam Keiri pelan sambil berdiri dari kejauhan dan memandang ke arah Anexta yang sedang memasak bersama dengan para wanita, di depan sebuah tungku perapian.


Tanpa disengaja, Sey memperhatikan sikap Keiri kepada Anexta selama beberapa hari ini.


“Pria manusia itu, mengapa ia terus menerus memperhatikan Yang Mulia? Astaga, Xyon, ini berbahaya sekali!” gumamnya dalam hati, sambil dari pojok sebuah rumah, ia memandang ke arah Keiri.


Weim sepertinya belum memahami situasi di antara Keiri, Anexta, dan Sey. Ia tampak terlalu fokus membantu pemulihan desa, agar secepatnya mereka bisa kembali ke Planet Palladina.


Pada suatu sore, Anexta terlihat sedang membawa sebuah panci besar keluar dari sebuah rumah, sendirian. Keiri langsung berjalan menghampirinya, dan meraih pegangan panci itu. Tanpa sengaja, tangan mereka berdua bertemu. Anexta langsung menoleh ke arah Keiri, begitu juga sebaliknya. Mereka berdua terdiam, memandang satu sama lain dengan wajah yang memerah.


“Biarkan aku saja yang membawa panci besar dan berat ini. Kau … kau bisa beristirahat terlebih dahulu,” ucap Keiri dengan wajah yang tersipu malu.


Anexta langsung melepaskan kedua tangannya dari genggaman panci tersebut, lalu berusaha untuk mengatur sikapnya di depan sang kepala desa.

__ADS_1


“Ah, iya, baiklah kalau begitu. Aku … aku akan membersihkan rumah sementara di sana terlebih dahulu,” balas Anexta.


Namun, tampaknya mereka berdua tidak bisa mengalihkan pandangannya dari satu sama lain. Wajah mereka yang memerah, sepertinya menyimpan sebuah perasaan untuk masing-masing.


“Membersihkan?” tanya Keiri dengan penuh keberanian.


“Ah, iya. Karena sibuk, aku tidak sempat membersihkan rumah sementara milikku sendiri yang baru saja selesai dibangun oleh pelayan dan prajuritku dua hari lalu. Tampaknya, aku harus tidur di tempat lain setelah ini,” jawab Anexta dengan senyum kecil di wajahnya.


Keiri langsung meletakkan panci besar yang sedang digenggam dengan kedua tangannya itu, ke atas sebuah tungku perapian. Ia lalu kembali menatap Anexta dengan wajah yang masih memerah.


“Kau sudah berhari-hari tidur di dalam rumah milik wanita tua itu. Apakah kau baik-baik saja di sana?” tanya Keiri.



Ia lalu menatap ke atas langit dan tampaknya, malam ini akan menjadi malam yang penuh dengan bintang. Wajahnya mendadak berubah menjadi sendu setelah melihat langit malam yang begitu indah. Karena melihat Anexta yang tiba-tiba sedih setelah menatap langit malam, Keiri tiba-tiba menghela nafas panjang, seolah sedang memberanikan dirinya sendiri.


“Apakah kau ingin kembali?” tanya Keiri pelan.


“Ya, aku sudah berada di sini hampir satu minggu dan sebentar lagi, desa ini akan kembali pulih. Aku … aku hanya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat begitu indahnya langit malam yang penuh bintang dari desa terpencil ini. Jarang sekali aku bisa merasa lega dan bernafas dengan tenang di bawah cahaya bulan yang bersinar terang menembus ke mari,” jawab Anexta pelan.


Mereka berdua kini saling berdiri di samping satu sama lain sambil menatap indahnya langit malam. Sementara Anexta memandang ke arah langit, Keiri justru menatap sang ratu dari Palladina itu sambil berusaha untuk memberanikan diri.


“Anexta … apakah kau ingin melihat indahnya langit malam ini dari sebuah tempat yang tinggi?” tanya Keiri dengan wajah yang tersipu malu.

__ADS_1


Anexta kemudian menoleh ke arah Keiri dan tersenyum kepadanya.


“Di mana? Apakah desa ini memiliki banyak kejutan?” tanyanya.


Keiri menelan ludahnya, “Ada sebuah tempat yang agak tinggi, namun sedikit jauh dari desa ini. Aku memiliki sebuah tenda di sana, ketika aku hanya ingin sendirian saja, aku akan berada di sana,” ucapnya pelan.


“Kalau begitu, ajaklah aku ke sana, malam ini juga. Aku mungkin akan kembali besok atau lusa, dan tentu saja, aku tidak ingin melewatkan malam yang indah ini sendirian juga,” balas Anexta dengan senyum lebar di wajahnya.


“Apakah tidak masalah bagimu untuk berjalan bersama seorang pria pada malam hari yang gelap seperti ini?” tanya Keiri.


Anexta menggelengkan kepalanya. Keiri langsung tersenyum lebar, lalu ia meraih tangan kanan milik sang ratu dari Palladina itu, kemudian mengajaknya berlari masuk ke dalam hutan yang lebat. Dari kejauhan, Sey rupanya sudah memperhatikan sikap sang ratu dan kepala desa itu. Wajahnya mulai terlihat panik begitu ia melihat mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan menuju entah ke mana.


“Hei, hei! Dasar pria manusia gila! Apa yang hendak ia lakukan kepada Yang Mulia?!” serunya di dalam hati sambil mengernyitkan dahinya dalam-dalam.


Ia memutuskan untuk mengikuti mereka berdua dari belakang, namun, Sey justru kehilangan jejak. Anexta dan Keiri kini sudah tidak lagi berada di dalam pandangannya, dan hal ini membuatnya berhenti melangkah dan berubah menjadi kesal.


“Xyon! Astaga! Mengapa kau harus kembali terlebih dahulu? Manusia mortal itu mulai menghasut Yang Mulia! Astaga!!” serunya.


Anexta dan Keiri yang sudah berlari untuk beberapa saat menembus hutan, akhirnya tiba di ujung dari sebuah jurang, yang letaknya jauh dari desa tadi. Mereka berdua kemudian berhenti berlari di samping sebuah tenda yang terlihat sudah ada di sana untuk waktu yang cukup lama, dan ukurannya tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil.


Karena tersadar bahwa ia sudah lama menggenggam tangan Anexta, Keiri mendadak melepaskannya dan menatap wanita itu dengan wajah yang memerah.


“Astaga, maafkan aku! Aku .. aku tidak bermaksud …,” ucap Keiri, namun, Anexta justru tersenyum kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2