
"Higarashi! Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Viora dengan wajah yang memerah.
Raja dari Halida itu terdiam. Jantungnya mendadak berdetak cepat. Mereka kemudian saling menatap satu sama lain dengan wajah yang memerah.
"Sebenarnya, aku sedang kebingungan … dengan perasaan yang kumiliki ini kepadamu. Aku senang bisa melihat wajahmu dan mendengar suaramu lagi, Viora, namun sepertinya … ada sebuah perasaan yang terlarang di dalam diriku," bisik Higarashi.
Viora terdiam. Ia tidak bisa berkata apapun setelah mendengar pengakuan tersebut.
"Namun … kau sudah memiliki Keira, dan aku dengar, ia akan segera melahirkan, Higarashi. Kau tidak boleh berbuat seperti ini. Kau adalah Raja dari Halida, dan ia adalah permaisurimu. Maafkan aku, namun aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun kepadamu. Aku hanya ingin bebas dari istana Aerim, itu saja, tidak lebih," balas Viora dengan wajah gusar, "kau harus hentikan ini semua sekarang, Higarashi. Berhentilah untuk memiliki perasaan kepada wanita yang lebih tua daripada dirimu. Sadarlah, Higarashi!”
Higarashi tiba-tiba melotot tajam, lalu melepaskan genggamannya dari lengan Viora, kemudian ia berkata, "Maafkan aku, namun perasaanku kepada Keira menjadi berubah setelah kau hadir di dalam hidupku, Viora."
"Kembalilah, Higarashi. Sebaiknya kita jangan bertemu lagi. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian," ucap Viora sambil mengernyitkan dahinya, kemudian ia berlari meninggalkan Higarashi sendiri di sana.
Higarashi hanya bisa menatap punggung Viora, dengan wajah yang tampak kecewa, kemudian ia mengubah dirinya menjadi sebuah bintang kecil yang lalu melesat keluar angkasa. Namun, setelah merasakan bahwa Raja dari Halida itu sudah pergi, Viora tiba-tiba menghentikan langkahnya dan tersenyum sinis.
"Lihat saja, Xyon. Kau akan melihat kehancuran planetmu sendiri. Rasakanlah apa yang sudah kurasakan selama ini. Kau mengambil nyawa ibuku dan para Silverian tidak bersalah itu, dan sekaranglah kau akan mengalaminya sendiri!" gumamnya.
Sementara itu di dalam istana kerajaan Halida, Higarashi yang sedang gusar, terlihat sedang berjalan sepanjang lorong yang menuju ke kamarnya, dengan wajah kesal. Begitu tiba di depan kamar, ia langsung membuka pintu dengan kasar, hingga Keira yang sedang duduk di atas ranjang, terkejut dan menoleh, serta melotot ke arahnya.
“Higarashi?” tanya Keira dengan wajah yang penuh kebingungan.
Raja dari Halida itu lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya, juga dengan kasar, sambil mengernyitkan dahinya. Higarashi kemudian berjalan ke arah kamar mandi dan masuk ke sana, tanpa menatap ke arah istrinya sama sekali.
__ADS_1
“Higarashi? Higarashi? Ada apa?” tanya Keira lagi, sambil berusaha untuk berdiri dari ranjang dan berjalan mendekati suaminya itu.
Keira lalu memperhatikan Higarashi yang sedang berdiri di depan kaca dengan wajah yang tampak penuh dengan amarah.
"Apa yang sudah terjadi, Higarashi? Mengapa kau terlihat begitu kesal?" tanya Permaisuri dari Halida itu sekali lagi, kali ini dengan wajah yang sangat gusar karena khawatir.
Namun, tanpa menoleh ke arah Keira, Higarashi tiba-tiba berseru, "Tinggalkan aku sendiri!"
"Ada apa denganmu, sayang? Aku sangat khawatir begitu melihatmu masuk ke dalam kamar dengan wajah yang …," ucap Keira, namun Higarashi langsung menoleh dan menatapnya dengan sorot mata tajam sambil berteriak dengan nada tinggi, "Tinggalkan aku, sekarang juga!!! Keluar dari sini!"
Keira langsung terkejut. Matanya melotot tajam ke arah Higarashi, sambil meletakkan tangan kanan di dadanya dan tangan kiri di perutnya yang sudah terlihat besar. Ia tiba-tiba melangkah mundur perlahan, namun suaminya itu justru kembali menoleh ke arah kaca sambil menundukkan kepala.
“Ada apa dengannya? Ia baru saja memarahiku untuk pertama kalinya! Apakah ia sudah bosan kepadaku?” tanya Keira di dalam pikirannya sendiri, dengan bola mata yang berkaca-kaca dan rasa takut yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.
Ia lantas berjalan mendekati pintu, lalu keluar dari kamar dengan wajah yang sendu. Air matanya mulai menetes, sambil melangkah menyusuri lorong istana yang sepi. Ia terus menerus memegang perutnya sudah membesar dengan tangan kirinya, walaupun badannya justru tampak semakin kurus.
Tiba-tiba ia merasa tubuhnya lemas dan jantungnya mulai berdetak terlalu cepat. Ia kemudian menghentikan langkahnya, lalu berlutut sambil masih memegang perutnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanan memegang dinding di sebelahnya. Keira lantas menundukkan kepala dan menangis dalam diam.
Air mata yang mengalir deras, kini jatuh hingga membasahi baju terusan berwarna biru muda yang sedang dipakainya.
"Aku …. Aku …," gumamnya lagi.
Ia hampir saja menyandarkan kepalanya ke dinding yang ada di sebelahnya karena merasa sangat lemas, namun seorang pria langsung memeluknya dari samping. Keira lalu menoleh ke arah pria tersebut dan menatapnya dengan wajah yang terlihat sendu. Tangan kanannya kini ikut memegang perut, sambil menahan sakit di kepala yang mendadak dirasakannya.
__ADS_1
"Aerim," ucap Keira pelan hingga hampir saja pria itu tidak bisa mendengarnya.
"Keira! Keira! Apa yang sedang kau lakukan di sini?!" seru pria tersebut yang rupanya adalah Aerim, dengan wajah yang tampak panik.
Ia kemudian melihat ke bawah, lalu terkejut begitu melihat darah yang mulai mengalir dan membasahi kedua lutut Keira hingga baju bagian bawahnya menjadi penuh dengan noda merah. Aerim lantas menoleh, menatap lagi Permaisuri dari Halida tersebut, yang terlihat mulai kehilangan kesadaran.
"Keira!! Apa yang sudah terjadi kepadamu?! Astaga!" seru Aerim lagi dengan wajah yang benar-benar dipenuhi kepanikan.
Ia kemudian melihat sekelilingnya, mencari-cari seseorang yang mungkin sedang berada di lorong tersebut.
“Aerim, Biasanya … Higarashi menatapku dengan penuh cinta, namun …,” bisik Keira, lalu tiba-tiba ia memejamkan kedua matanya dan pingsan.
Raja dari Silverian itu lalu kembali menatap Keira dan bertanya sambil mengernyitkan dahi, “Namun? Keira? Keira?!!”
Ia kemudian baru tersadar bahwa Keira sudah pingsan, begitu tangan perempuan Crossbreed itu terjatuh perlahan.
“Tidak! Keira!” seru Aerim dengan mata yang melotot tajam, lalu ia menatap lurus ke depan dan berteriak, “Pelayan! Siapa pun yang berada di sana! Pelayan!!! Pelayan! Seseorang! Tolong aku!”
Dua orang pelayan perempuan yang sedang berjalan di salah satu lorong, tiba-tiba terkejut dan menghentikan langkahnya.
“Apakah kau dengar suara teriakan itu?” tanya salah seorang pelayan perempuan tersebut.
“Seperti tidak jauh dari sini,” jawab pelayan perempuan lainnya, sambil mengernyitkan dahi.
__ADS_1
Aerim mulai meneteskan air mata, lalu ia menghela nafas pendek, dan kembali berteriak, “Tolong aku!! Yang Mulia Permaisuri tidak sadarkan diri!”
Begitu yakin bahwa mereka telah mendengar suara teriakan Aerim yang sepertinya berasal dari lorong lainnya, salah satu dari pelayan perempuan tadi kemudian menepuk bahu temannya dan berkata sambil melotot, “Yang Mulia Permaisuri!”