
Xyon langsung melotot tajam melihat sekelilingnya setelah mendengarkan ucapan tersebut. Tidak ia duga bahwa pemandangan mengerikan justru menyambut kedatangan mereka di dalam desa yang terpencil itu.
Dengan pelan, ia melangkah maju, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Jasad manusia yang tergeletak begitu saja dimana-mana, walaupun jumlahnya tidak banyak, tampak tidak membuatnya ketakutan.
Xyon justru merasa curiga dan bertanya di dalam hatinya, “Apakah benar ini adalah ulah para Silverian itu? Mengapa mereka berani sekali melakukan hal ini?”
Ia kemudian berhenti di depan jasad seorang manusia pria. Xyon lalu berutut dan mengamati jasad itu perlahan-lahan. Sambil mengernyitkan dahinya, ia memperhatikan luka-luka yang ada di sekujur badan manusia itu. Luka-luka akibat goresan pedang tajam, hingga darah yang mengalir dari dalam luka sayatan tersebut menghitam.
Xyon menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas panjang. Setelah itu, ia berdiri, dan kembali memperhatikan sekelilingnya. Sey dan Weim yang mengikutnya di belakang, hanya bisa berdiri sambil melihat sikap dari sang jenderal senior itu.
“Luka-luka sayatan yang ada di badan manusia ini, juga manusia-manusia lainnya di sini, semuanya adalah bekas sayatan pedang yang diayunkan dengan cepat. Sepertinya pembunuh ini sedang terburu-buru. Darah-darah yang mengalir keluar dari dalam luka-luka tusuk mereka, langsung menghitam, seolah bukan pedang biasa yang merobek kulit mereka,” ucap Weim dengan wajah yang serius.
Xyon mengangguk, “Ya. Ini sudah pasti senjata-senjata kosmik dari energi gelap milik para Silverian. Mereka membunuh manusia dengan energi yang belum bisa disentuh oleh para mortal, sehingga darah mereka langsung membeku dan menghitam seperti itu.”
Dengan wajah yang serius, Sey kemudian menoleh ke arah Weim dan bertanya, “Weim, lantas mengapa kau bisa berada di sini?”
Weim menghela nafas panjang, lalu menjawab, “Setelah aku berteriak bahwa itu adalah pesawat luar angkasa yang kami duga milik para Silverian tersebut, Yang Mulia Ratu langsung berlari ke sana. Namun, begitu kami hampir tiba, pesawat luar angkasa tersebut mendadak berubah menjadi kilatan gelap yang melesat ke atas langit.”
“Lalu? Apakah kalian sama sekali tidak melihat para Silverian itu membunuh manusia-manusia ini?” tanya Sey dengan nada yang sedikit tinggi.
__ADS_1
Weim menghela nafas pendek dan berkata, “Ah, masalahnya, setelah kami tiba di sini, kami pun sama seperti kalian yang langsung menghentikan langkah dan terkejut begitu kami melihat tubuh manusia-manusia ini sudah tergeletak di atas tanah dan beberapa rumah yang terbakar. Yang Mulia Ratu kemudian berlari masuk ke dalam desa ini, dan memerintahkan kepada kami untuk memeriksa, apakah masih ada manusia yang bisa diselamatkan atau tidak.”
“Lalu, di mana Yang Mulia Ratu sekarang?” tanya Xyon tanpa menoleh ke belakang.
“Seorang manusia wanita terlihat sedang memeluk anak laki-lakinya sedang berada di balik sebuah rumah. Ia menangis dalam diam sambil berusaha untuk menenangkan anak laki-laki itu. Yang Mulia lalu menemukannya, dan ia sekarang sedang berada di sana bersama dengan wanita manusia tersebut,” jawab Weim dengan tegas.
“Tunjukkan kepadaku di mana rumah manusia itu,” balas Xyon.
Weim mengangguk. Ia lalu berjalan dengan cepat ke arah sebuah rumah yang terletak di paling pojok desa tersebut, diikuti oleh Sey dan Xyon, beserta prajurit-prajurit yang memang sudah sejak tadi bersama dengan sang jenderal senior itu.
Namun tiba-tiba, seorang pria manusia yang tubuhnya berlumuran darah, mendadak muncul dari samping sebuah rumah yang terbakar dan berdiri di hadapan Weim, hingga mereka semua berhenti melangkah karena terkejut akan kehadiran pria manusia itu.
Pria manusia itu lalu mengangkat belati tersebut dan mengarahkannya kepada Weim sambil berseru dengan penuh amarah, “Apa yang sedang kalian cari di dalam desa ini? Dari negara manakah kalian semua?!”
“Negara?” tanya Weim dengan wajah yang panik, namun, mendadak, Xyon dengan tegas berseru, “Apa yang sudah terjadi di sini?”
Pria manusia itu lalu menjawab dengan nada tinggi, “Bukankah ini ulah dari pasukan-pasukan kerajaan kalian? Kami tiba-tiba saja diserang oleh segerombolan orang keluar dari sebuah benda raksasa yang melayang di atas desa kami! Sekarang kalian juga terlihat membawa begitu banyak pasukan, apakah kalian sedang saling berperang? Lalu, mengapa harus menyerang dan membunuh kami semua yang ada di desa ini?"
Tanpa disangka-sangka, pria manusia itu lalu maju dua langkah dan menghunuskan belati yang sedang ia genggam dengan tangan kirinya, tepat di ujung hidung Weim hingga beberapa prajurit yang sedang berdiri di belakang Xyon dan Sey, terlihat mengangkat tangan dan hampir saja mengeluarkan pedang-pedang kosmik milik mereka.
__ADS_1
Mellihat hal itu, dengan cepat, sang jenderal senior tersebut mengangkat tangan kanan sejajar dengan kepalanya, sambil berseru, “Tahan!”
Seluruh prajurit yang terlihat panik itu kemudian perlahan-lahan kembali menurunkan tangan-tangan mereka.
“Hah! Rupanya kalian adalah pasukan yang sama seperti mereka semua! Katakan kepadaku, kalian ini berasal dari negara yang mana? Apakah negara timur, atau negara barat? Ya, aku akui bahwa desa ini adalah desa yang terpencil dan banyak negara ingin menguasai desa ini, hanya karena sumber daya yang melimpah dalam hutan ini! Sekarang, kalian sudah lihat sendiri desa ini hancur berantakan, lalu untuk apa lagi kalian berada di sini? Pergilah!” teriak pria manusia itu dengan penuh emosi.
Xyon, Sey, dan Weim hanya bisa melotot tajam menatap pria manusia itu dengan suasangan yang masih tegang di antara mereka semua.
Sementara itu di bagian hutan yang lain, tampak sebuah pesawat luar angkasa besar yang berwarna hitam, terparkir tepat di sebelah sebuah sungai yang airnya terlihat jernih.
Seorang pria terlihat berdiri di samping pesawat luar angkasa itu sambil menatap ke arah sungai dengan wajah yang kesal.
Seorang pria lainnya yang sedang berdiri di sampingnya, kemudian menghela nafas pendek dan bertanya, “Yang Mulia, bagaimana sekarang? Apakah anda masih akan mengambil energi yang ada di dalam desa itu?”
“Para Palladina sialan itu, dari mana mereka bisa tahu keberadaan kita di sini? Dovrix, apakah kau sangat yakin bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang berada di dekat Planet Silverian ketika Silvir melesat keluar?” tanya pria itu, yang rupanya adalah Flerix.
“Aku sudah memeriksa bagian luar Planet Silverian berkali-kali, Yang Mulia. Aku bisa memastikan bahwa mereka tidak sedang berpatroli di sekitar kita,” jawab Dovrix.
Flerix menghela nafas panjang. Wajahnya terlihat amat kesal hingga ia mengepalkan tangan kanannya sambil melotot tajam ke arah sebuah pohon.
__ADS_1
“Yang Mulia, apakah anda masih menginginkan energi panas planet ini?” tanya Dovrix dengan wajah yang dipenuhi keraguan.