
Anexta kemudian kembali melangkah hingga akhirnya mereka tiba di dalam desa tadi. Ia kemudian berhenti di depan sebuah rumah yang sudah hancur, lalu menghela nafas pendek.
“Aku akan berada di sini untuk beberapa waktu sampai desa ini kembali seperti semula, Jenderal Senior Xyon. Kau bisa kembali terlebih dahulu,” ucapnya.
Xyon langsung mengetahui maksud dari ucapan Anexta barusan.
Sambil menundukkan kepala, ia berseru, “Yang Mulia! Anda tidak bisa melakukan ini! Tidak bisa! Alam semesta mengutuk keberadaan makhluk itu! Pasti ada cara lain untuk menghentikan Flerix, Yang Mulia!”
“Diam! Energi gelap milik mereka menguasai tujuh puluh persen alam semesta, lantas apa yang bisa kita lakukan selain ini, Jenderal Senior Xyon?! Apakah kau tidak tahu bahwa aku baru saja naik tahta dan masalah dari Silverian itu sudah membuatku hampir putus asa?!” seru Anexta tanpa menoleh kepada Xyon.
Jenderal Senior itu hanya bisa menghela nafas panjang. Ia sebenarnya sangat ketakutan, karena meyakini, bahwa jika seorang Crossbreed benar-benar lahir ke dunia ini, maka alam semesta bisa saja memberikan hukuman bagi Anexta. Namun, ia tidak bisa membantah kemauan dari sang Ratu. Xyon justru berusaha untuk memercayainya.
“Yang Mulia, aku akan berada di sini untuk membantu anda,” balasnya.
Anexta terdiam sesaat, lalu berkata, “Kita tidak bisa menggunakan Healing Renovatio bagi makhluk mortal, jadi, sebaiknya kita membereskan semua ini dengan cara manual, Jenderal Senior Xyon.”
“Baiklah, Yang Mulia,” ucap Xyon pelan.
Ia lalu berjalan ke arah kanan, dan mulai memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk membersihkan puing-puing serta membangun kembali rumah-rumah yang sudah hancur. Dari kejauhan, Weim dan Sey melihat sikap dari Xyon barusan, dengan wajah yang sendu.
“Aku rasa, Yang Mulia Ratu sudah memiliki rencana lain,” bisik Sey.
“Xyon tampak kecewa, namun, aku hanya bisa berharap perang antar planet tidak terjadi lagi. Manusia bisa menjadi korban, dan peradaban kita bisa saja diketahui oleh makhluk-makhluk mortal ini,” balas Weim.
__ADS_1
Dari kejauhan, seorang pria tampak sedang mengamati desa tersebut. Ia memperhatikan gerak-gerik Anexta dan Xyon dengan sangat fokus.
Pria itu adalah Dovrix. Tentu saja, Flerix tidak mungkin membiarkan Planet Silverian terus menerus kekurangan sumber daya. Ia masih mengincar desa itu, dan sedang menunggu para Palladina tersebut untuk keluar dari sana.
Dovrix diperintahkan untuk tetap berjaga-jaga di sekitar desa tersebut dengan hati-hati, dan jika situasi sudah dirasa kembali aman, ia akan langsung mengabarkannya kepada Flerix.
“Mencurigakan sekali,” gumam Dovrix ketika ia melihat Anexta yang sedang mendekati seorang pria manusia.
Sang Ratu dari Palladina itu terlihat sedang berjalan mendekati seorang pria manusia yang sedang duduk di samping sebuah sumur, sambil berusaha menekan aliran darah yang keluar dari dalam luka sayatan di bagian kanan perutnya.
Anexta lalu berlutut di hadapan pria tersebut, namun, pria itu rupanya tidak menyukainya.
“Kalian, kerajaan-kerajaan yang sangat serakah sekali! Pergilah! Enyahlah dari sini! Aku bisa membangun desa ini sendirian tanpa ada bantuan dari kalian semua!” seru pria manusia itu sambil menghunuskan sebuah belati kecil ke arah Anexta.
Anexta lalu menurunkan tangannya dan berkata kepada pria manusia itu, “Maafkan kami. Aku sebagai jenderal dari salah satu kerajaan … hanya bisa meminta maaf kepadamu dan penduduk-penduduk desa ini. Kami akan membereskan kekacauan yang terjadi dan untuk itu, izinkanlah kami berada di sini sementara waktu.”
Pria manusia itu tersenyum sinis, lalu berseru, “Kau! Aku adalah kepala desa di sini, dan aku tidak membutuhkan kalian! Desa ini selalu sendiri, tanpa ada bantuan dari kerajaan mana pun, tidak pernah ada! Benar-benar tidak tahu diri!”
Anexta menghela nafas panjang, lalu, ia merobek kain baju bagian bawahnya sedikit. Dengan hati-hati, ia kemudian meletakkan potongan kain itu di atas luka sayatan pria manusia tersebut sambil menekan lukanya dengan perlahan-lahan.
“Ah!! Apa yang sedang kau lakukan?!” teriak pria manusia itu.
“Aku akan berada di sini untuk membereskan semua kekacauan yang sudah diperbuat oleh musuh kami, sebagai bentuk tanggung jawab. Jadi, izinkanlah aku dan prajurit-prajuritku untuk tetap berada di sini dan melindungi kalian,” ucap Anexta dengan wajah sendu.
__ADS_1
Pria manusia tersebut tiba-tiba membuang tangan Anexta yang masih menekan luka sayatannya. Sang Ratu dari palladina itu langsung menatapnya setelah aksi tersebut.
“Aku … namaku Anexta. Aku adalah seorang jenderal dari salah satu kerajaan terdekat dari sini. Karena aku terlambat datang dan menghalau musuh, kalian menjadi korbannya. Aku sama sekali tidak menginginkan sumber daya yang kalian miliki, namun, sebagai bentuk pertanggung jawaban atas kelalaianku, aku ingin memperbaiki desa ini …,” ujar Anexta pelan sambil menatap pria manusia tersebut dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Ia berharap pria manusia itu akan luluh kepadanya, dengan memainkan emosinya. Dan benar saja, pria manusia itu kemudian menghela nafas panjang, lalu memutar kedua bola matanya sekali.
“Pergilah dari sini jika kalian sudah selesai! Desa ini, bahkan aku sendiri sebagai kepala desa, tidak membutuhkan bantuan kalian sama sekali!” bisik pria itu dengan nada yang terdengar kesal, sambil memalingkan wajahnya ke arah yang lain.
Anexta tersenyum lebar, kemudian kedua tangannya kembali membantu pria itu untuk menekan luka sayatannya, agar darah tidak terus menerus mengalir dari dalamnya.
“Aduh!” seru pria manusia itu tiba-tiba hingga Anexta terkejut dan menjauhkan kedua tangannya dari luka sayatan pria tersebut.
“Astaga, maafkan aku, Tuan!” balas sang Ratu dari Palladina itu dengan wajah yang mulai terlihat panik.
Ia sebenarnya sedang merasa kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan supaya pria manusia itu luluh kepadanya, apalagi, Anexta tahu bahwa pria tersebut adalah sang kepala desa, seperti apa yang baru saja dikatakan kepadanya.
Tampaknya, Anexta sedang merencanakan sebuah rencana besar. Mereka berdua lalu saling bertatapan sebentar, namun, pria manusia itu langsung memalingkan kembali wajahnya ke arah yang lain.
“Pria ini memiliki semangat yang besar dan tekad yang kuat,” gumamnya di dalam hati sambil menatap pria tersebut dengan senyum sinis di wajahnya.
“Pergilah, aku bisa melakukannya sendiri. Jika kau memang ingin membantu memperbaiki desa ini, kau bisa memulainya dari para wanita dan anak-anak,” ujar pria manusia itu dengan wajah yang memerah, walaupun masih terlihat kesal.
Anexta tersenyum kecil, lalu membalas, “Baiklah, Tuan ….”
__ADS_1
“Keiri. Dan tolong, cepatlah tinggalkan desa ini setelah semua urusan kalian selesai. Ini adalah perintahku sebagai kepala desa,” balas pria manusia tersebut, Keiri, yang memiliki bola mata berwarna hitam dengan rambut berwarna sama, dan memakai jaket panjang serta celana yang berwarna biru muda.