
Setelah terdiam beberapa saat, Arex lantas memecah keheningan dengan berkata, "Ah, sudahlah, bagaimana kalau kita kembali ke ruang perawatan dan menunggu di sana saja? Aku sangat mengkhawatirkan Keira.”
"Sebaiknya kita kembali ke sana, dan memikirkan hal ini nanti," balas Xyon.
Ia lalu berjalan masuk ke dalam istana, diikuti oleh Aerim yang baru saja menghela nafas pendek karena kesal, kemudian Arex, Weim, dan Nordian. Sementara itu di dalam ruang perawatan, seluruh perawat sedang dipusingkan dengan kondisi Keira yang terus melemah setelah berjuang selama berjam-jam untuk melahirkan anak kembarnya. Teriakan dari sang Permaisuri dan ketegangan di sana, mulai membuat mereka semakin panik.
Tiga orang perawat perempuan dari Halida tampak berdiri di samping ranjang Keira, sementara Kepala Perawat Yeria dari Palladina sedang membantu proses kelahiran melelahkan tersebut. Ada tiga selang infus yang berisi obat-obatan, terpasang di lengan kanan Permaisuri dari Halida itu.
“Kita tidak bisa memberikan Healing Renovatio kepada Yang Mulia Permaisuri, bagaimana ini? Haruskah kita membawa Yang Mulia ke Curelix?” tanya seorang perawat perempuan dari Halida dengan wajah gusar dan sarung tangannya yang terlihat penuh noda darah.
"Ini berbahaya, Yang Mulia sedang mengalami pendarahan, dan kedua anak kembarnya bisa jadi tidak selamat. Kita tidak memiliki banyak selang infus karena tidak pernah ada makhluk mortal yang dirawat di sini sebelumnya, dan hanya digunakan untuk keadaan darurat jika Curelix tidak bisa menyembuhkannya," ucap salah seorang perawat dari Halida lainnya yang berada di sebelah perawat perempuan tadi.
Keira yang terlihat lelah, langsung menoleh ke arah mereka dan berseru, “Aku tidak akan menyerah! Mereka harus segera dilahirkan hari ini juga! Jangan pikirkan aku, Perawat! Aku … sudah tidak lagi memiliki tugas berat setelah ini!”
Namun tiba-tiba, Yeria berteriak, "Yang Mulia! Aku bisa melihat kepala dari salah satu bayimu! Doronglah sekali lagi dengan lembut!”
“Uh!” desah Keira sambil berusaha untuk melahirkan kedua anak kembarnya.
“Bantu aku, cepat!!” seru Yeria dengan wajah yang tampak kelelahan.
“Baik, Nyonya!” balas kedua perawat perempuan dari Halida tadi.
Mereka lantas berjalan mendekati Yeria dan berdiri di sebelahnya, lalu setelah beberapa saat, bayi kembar pertama itu akhirnya berhasil keluar setelah dua dorongan terakhir dari Keira. Yeria langsung menggendongnya, kemudian menggunting tali pusarnya dan menyerahkan bayi tersebut kepada salah satu perawat perempuan dari Halida tersebut.
“Cepat selimuti bayi ini!” serunya.
“Baik, Nyonya!” balas perawat perempuan itu, lalu ia segera menggendong bayi tersebut dan berjalan ke belakang ruang perawatan dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Yeria kemudian kembali menatap Keira dengan wajah serius, kemudian berseru, "Yang Mulia! Satu bayi lagi! Bertahanlah! Sekarang, dorong dengan kekuatan penuh!”
“Uhhh!” desah Keira sambil meraih apapun yang ada di dekatnya, lalu kembali mendorong agar bayi yang satunya bisa keluar.
"Yang Mulia, dorong lagi!" seru salah satu perawat perempuan dari Halida yang masih berada di sebelah Yeria.
Keira masih berusaha keras sambil berteriak, dan setelah beberapa menit, Yeria lantas berteriak, "Aku sudah melihat kepalanya! Yang Mulia!”
“Aku … akan berusaha!!!” teriak Keira dengan wajah yang benar-benar memerah sambil kembali mengeluarkan banyak tenaga untuk mengeluarkan bayi terakhirnya.
Darah mulai mengalir semakin banyak, bahkan lantai di sekitar ranjang Keira sudah penuh dengan nodanya. Setelah beberapa dorongan, Yeria akhirnya bisa mengeluarkan bayi terakhir dan langsung menggunting tali pusarnya, menggendong serta menyerahkannya kepada perawat perempuan dari Halida tadi.
“Cepat selimuti bayi ini!” seru Yeria.
“Baik, Nyonya!” balas perawat perempuan tersebut yang langsung berlari ke bagian belakang ruang perawatan itu.
“Yang Mulia, selamat, kedua anak kembar Anda berjenis kelamin laki-laki,” ucap Yeria sambil membersihkan rahim Permaisuri dari Halida itu, tanpa menyadari bahwa Keira sudah tidak sadarkan diri.
Dua orang perawat perempuan tadi kemudian berjalan keluar dan mendekati Keira sambil masing-masing menggendong seorang bayi di tangan mereka. Dengan senyum lebar, mereka lantas berdiri di samping Keira untuk menyerahkan kedua bayi tersebut kepadanya.
“Yang Mulia, selamat! Dua orang pangeran kecil!” seru salah satu dari mereka, namun, setelah menyadari bahwa Keira sudah pingsan, ia tiba-tiba berteriak dengan wajah panik, “Yang Mulia!!”
Yeria yang baru saja selesai dengan pekerjaannya, langsung menatap Keira setelah mendengar teriakan tersebut.
“Yang Mulia!” serunya sambil melotot tajam.
Ia lantas menoleh ke arah dua perawat perempuan tadi, lalu berkata, “Kalian, cepat perlihatkan dua pangeran ini kepada Yang Mulia Raja. Aku akan mengurus Yang Mulia Permaisuri terlebih dahulu.”
__ADS_1
“Baiklah, Nyonya!” balas salah seorang perawat perempuan tersebut dengan wajah yang benar-benar tampak gusar.
Mereka kemudian berjalan keluar dari ruang perawatan itu dengan terburu-buru. Setelah tiba di depan, keduanya lalu membungkuk sebentar di hadapan Higarashi, dan kembali melangkah ke arah Raja dari Halida itu.
“Mereka sudah keluar!” seru Higarashi dengan senyum lebar.
Kedua perawat perempuan tersebut lantas berdiri di hadapannya, sementara Aerim, Xyon, Weim, Arex, dan Nordian langsung mendekati Higarashi untuk melihat bayi-bayi yang baru saja dilahirkan Keira.
"Selamat, Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Permaisuri! Panjang umur untuk kedua pangeran!" seru salah satu perawat perempuan itu.
"Selamat, Yang Mulia, dua orang bayi laki-laki yang sangat tampan!" ucap perawat perempuan lainnya.
Kegusaran dan kekhawatiran yang tadinya terlihat jelas di wajah mereka, kini berubah menjadi senyuman yang lebar. Arex, Nordian, dan Weim bahkan sampai meneteskan air mata, lalu saling berpelukan. Aerim bersama dengan Xyon juga ikut tersenyum lebar air sambil memperhatikan bayi-bayi yang sedang tertidur di dalam gendongan kedua perawat perempuan tersebut.
Higarashi bahkan tidak bisa berhenti menatap kedua bayinya. Bola matanya berkaca-kaca, lalu ia meraih salah satu dari mereka dan menggendongnya.
“Aku akan segera mengadakan pesta untuk memberitahukan kepada dunia, bahwa ada dua penjaga galaksi kecil yang akan segera ikut menjaga perdamaian bagi Galaksi Metal,” ucapnya pelan sambil mulai meneteskan air mata.
Ia lalu menyerahkan bayi tersebut kepada salah satu perawat perempuan, kemudian meraih dan menggendong bayi yang lainnya.
Namun, Xyon justru menatap kedua perawat perempuan itu dan bertanya, "Apakah kami bisa menemui Yang Mulia Permaisur sekarang?"
Seorang perawat perempuan lantas menatapnya dan menjawab dengan wajah yang tampak panik, “Maafkan kami, Tuan. Yang Mulia Permaisuri masih belum sadar setelah melahirkan bayi yang terakhir, dan Kepala Perawat Yeria sedang merawatnya sekarang.”
“Tidak bisa begini,” ucap Xyon, lalu ia menatap tajam perawat perempuan tersebut dan kembali bertanya, “apakah kalian memiliki Curelix di sini?”
__ADS_1
Perawat perempuan itu mengangguk, namun ia justru bertanya balik, “Kami memilikinya, Tuan. Namun, Curelix tidak bisa digunakan untuk makhluk mortal, bukan?”