Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Persiapan Untuk Berperang


__ADS_3

"Janji itu palsu, Higarashi," ucap Weim dengan wajah yang sendu, lalu ia melanjutkan, "sejak awal ia tahu bahwa ia akan menikah denganmu, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi dan membebaskanmu dari perang ini. Ia sangat sadar akan konsekuensinya sebagai seorang Crossbreed, Higarashi. Ia sudah diharuskan untuk menjadi penjaga galaksi, dan kau tidak bisa memiliki Keira seutuhnya, karena ia adalah milik galaksi ini."


Higarashi hanya bisa menatap Weim dengan wajah yang tampak kesal. Mereka kemudian terdiam. Xyon lantas menatap ke atas langit sambil menghela nafas panjang.


Sementara itu di dalam Planet Silverian, Keira terkejut begitu melihat pasukan-pasukan Silverian dalam jumlah yang tidak sedikit, sekarang sudah berbaris di sekeliling dirinya dan Aerim.


“Sialan!” gumamnya, dan hal ini membuatnya lengah.


Aerim kemudian dengan cepat menyingkirkan pedang kosmik milik Keira yang berada di hadapannya dengan tangan kiri, lalu ia bangkit berdiri, dan langsung berlari mendekati Dovrix. Keira langsung melotot tajam ke arah Raja dari Silverian itu dengan wajah yang kesal. Jantungnya mulai berdetak cepat. Keringat dinginnya mulai mengalir, membasahi wajahnya sedikit demi sedikit.


“Aku tidak bisa berlama-lama lagi. Energi cahayaku semakin lemah, dan aku … memiliki dua orang makhluk lain di dalam tubuh ini,” ucap Keira di dalam hatinya.


Ia mengernyitkan dahinya. Suasana di sana semakin tegang, karena kini, seluruh pasukan Silverian mengarahkan senjata-senjata kosmik mereka kepadanya.


"Sialan, haruskah aku menyerah?" gumamnya lagi, “bagaimana cara untuk melawan mereka semua, namun dengan tidak membunuh? Aku tidak ingin ada kegaduhan di dalam Galaksi Metal tentang hilangnya sebuah planet! Tidak! Hanya ada satu jalan, yakni membuat Planet Silverian kembali seperti semula, agar semua ini bisa selesai tanpa jatuhnya korban!”


Aerim tiba-tiba tertawa keras setelah melihat wajah Keira yang gusar, serta dipenuhi oleh kekhawatiran dan ketakutan.


"Kau baru saja berkata kepadaku, bahwa kau adalah makhluk terkuat di seluruh alam semesta. Namun, wajahmu sangat jelas menunjukkan padaku bahwa kau sesungguhnya sedang ketakutan! Keira! Hentikan semua yang kau lakukan sekarang dan menyerahlah!" seru Aerim dengan wajah yang tegas.


"Menyerah itu tidak ada di dalam diriku!" balas Keira dengan wajah yang kesal.


"Ah, sebaiknya aku menguras habis energi kosmikmu untuk planet ini. Jadi, hentikanlah semuanya dan menyerah saja. Jangan habiskan tenagamu untuk hal-hal bodoh semacam ini! Bukankah kau merasa kasihan melihat planet yang gelap ini, Keira?" balas Aerim dengan senyum licik.


Keira menghela nafas panjang. Ia kemudian berlutut sambil meletakkan Lighting Double Cross miliknya di atas tanah. Wajahnya tampak sendu dengan air mata yang mulai mengalir. Aerim langsung tersenyum lebar setelah melihat sikapnya itu.


“Kita sudah menang tanpa harus bertarung, Dovrix,” bisik Aerim kepada Dovrix yang sedang berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


Ia kemudian berjalan mendekati Keira, lalu berdiri di hadapannya, dan dengan tangan kanannya, Aerim meraih dagu Keira. Perempuan berambut biru tua itu lantas mengangkat kepala dan menoleh ke arahnya.


"Nah. Menyerahlah seperti itu. Aku akan mempersiapkan Bola Hellox itu untukmu. Tunggulah di sini," ucap Aerim pelan.


"Tidak," balas Keira dengan cepat.


Aerim kemudian mengernyitkan dahinya dan bertanya, "Apa yang sedang kau ragukan lagi, sayang?"


Keira lantas menangis, lalu ia menatap Aerim dengan wajah yang sendu sambil menjawab, "Aku hanya merindukan Higarashi."


Aerim melepaskan dagu Keira dan berlutut di hadapannya, lalu membelai wajah Keira dengan lembut, sambil berkata, "Hanya ada diriku di sini. Aku masih mencintaimu, walaupun kau sudah melakukan pengkhianatan kepadaku. Aku masih akan menerima dirimu, Keira."


Ia kemudian memeluk Keira.


“Apakah kau … benar-benar menyukaiku?” tanya Permaisuri dari Halida itu.


"Baiklah, akan kuberikan … seluruh energi kosmikku ini kepadamu dan planetmu!!" teriak perempuan berambut biru tua itu.


"Bagus! Aku akan dengan senang hati menerimanya!" seru Aerim.


Ia hendak melepaskan pelukannya, namun, Keira menahannya dan dengan cepat, Permaisuri dari Halida itu memejamkan kedua matanya.


“Keira? Apa yang sedang kau lakukan?!” tanya Aerim sambil mengernyitkan dahinya.


Mendadak, sebuah sinar yang berwarna putih terang menyelimuti tubuh Keira dan dirinya.


“Keira! Apa ini?!” serunya dengan wajah yang tampak panik, sambil berusaha untuk melepaskan pelukan tersebut, namun, Keira justru semakin erat memeluknya.

__ADS_1


"Keira!!!!" seru Aerim dengan mata yang melotot dan wajah yang sangat panik.


Dovrix yang melihat hal tersebut, langsung saja berseru, “Bunuh perempuan itu!!”


Seluruh pasukan Silverian kemudian berlari dengan cepat ke arah mereka. Keira lantas membuka kedua matanya sambil masih menahan tubuh Aerim di dalam pelukannya.


"Selamat tinggal, Aerim. Mungkin setelah ini, aku tidak akan pernah kembali lagi,” bisiknya dengan wajah yang sendu.


“Keira!!!” teriak Aerim sambil melotot tajam.


Sinar yang menyelimuti seluruh tubuh Keira dan dirinya kini semakin terang dan membesar, bahkan cahayanya sangat menyilaukan mata, hingga seluruh pasukan Silverian yang berlari ke arah mereka, langsung berhenti dan menutup mata untuk menghalangi pandangannya dengan tangan, termasuk Dovrix.


"Sialan!!!!" seru Dovrix sambil berusaha untuk mengintip.


Sinar yang semakin membesar itu tiba-tiba meledak dengan sangat hebat, hingga cahayanya menyinari seluruh sudut planet gelap itu, bahkan menembus ke dalam tanah dengan cepat, menuju ke inti Planet Silverian.


Cahaya itu kini menyelimuti seluruh lapisan luar atmosfer Planet Silverian. Ledakan energi kosmik yang luar biasa tadi juga membuat planet tersebut tiba-tiba berotasi kembali pada porosnya dan mulai ditarik oleh gaya gravitasi yang amat kuat dari bintang induknya, Goldinian.


Planet Silverian lalu melesat dengan kecepatan cahaya akibat tarikan itu, mendekati Planet Halida dan berhenti tidak jauh dari sana, sehingga kembali menjadi bagian dari Tata Surya Goldinian, di urutan ketiga.


Planet tersebut juga mulai mendapatkan sinar dari bintang induk Goldinian, sehingga warna aslinya perlahan-lahan kembali, yakni warna abu metalik yang cerah, dan cahaya yang menyelimutinya tadi, lantas menghilang. Arex yang masih melayang-layang di sekitar Planet Diamona, tentu sangat terkejut setelah ia melihat seluruh kejadian yang luar biasa itu dengan mata yang melotot tajam.


"Apa yang sudah terjadi pada planet itu?! Mengerikan sekali! Xyon …. Aku harus segera melaporkan hal ini!!” serunya dengan wajah yang panik.


Ia lalu terburu-buru mengubah dirinya menjadi sebuah bintang kecil, dan melesat menuju ke planet asalnya.


Sementara itu di dalam Planet Palladina, Xyon dan Weim terlihat sedang sibuk mengumpulkan para prajurit di halaman depan istana. Higarashi sendiri terlihat sedang mengangkat Star Baton miliknya ke atas dan mengisi ulang energi bintang di sana, sambil berharap agar benda itu bisa digunakan dalam keadaan darurat. Tampaknya suasana sangat tegang, hingga semua orang merinding hanya dengan melihat wajah Xyon yang terlihat begitu serius.

__ADS_1


__ADS_2