
Di sepanjang perjalanan, Hyerin hanya bisa menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah sambil mengingat-ingat lagi ucapan dari pria muda itu kepadanya: "Karena sepertinya, aku menyukaimu."
Gadis berambut hitam tersebut langsung menggelengkan kepalanya sekali dan bergumam, "Astaga! Aku baru mengenalnya dua hari! Dua hari!"
Namun bayangan Xyon tidak bisa lepas dari pikirannya. Bahkan badan pria muda yang memang terlihat atletis itu, membuat wajahnya menjadi semakin memerah.
"Astaga! Sebaiknya aku berhenti memikirkannya!" seru Hyerin pelan sambil menggelengkan kepalanya tiga kali.
Ia terus berjalan hingga akhirnya tiba di restoran tempatnya bekerja. Ia kemudian masuk ke dalam, menuju ke dapur. Hyerin lantas memperhatikan seorang wanita berambut hitam dengan bola mata abu-abu yang memakai kemeja berwarna putih dan celana panjang hitam, yang adalah pemilik restoran itu, sedang membersihkan piring-piring kotor di atas tempat cuci.
Wanita tersebut langsung menoleh ke arah Hyerin yang sedang berdiri di sampingnya dengan wajah sendu. Ia lalu terdiam, sambil menatap gadis berambut hitam itu dengan wajah yang kebingungan.
"Hyerin?" ucapnya pelan.
"Nyonya," balas Hyerin sambil menundukkan kepalanya sedikit.
"Ada apa denganmu? Mengapa kau terlihat kacau seperti itu?" tanya wanita tersebut sambil mengernyitkan dahinya.
"Maafkan aku, Nyonya. Aku sedang dalam perjalanan untuk mengantarkan makanan ini kepada pria yang menelepon Anda tadi pagi, namun, di tengah perjalanan, aku …," jawab Hyerin, dan air mata mulai menetes membasahi wajahnya.
Wanita itu kemudian mendekatinya, kemudian menepuk punggung Hyerin untuk sedikit menenangkannya.
“Apakah para preman itu lagi?” tanya wanita tersebut dengan wajah yang gusar.
Hyerin mengangguk sekali, hingga nyonya pemilik restoran itu kini tampak panik dibuatnya.
"Namun, Nyonya, pria yang menolongku kemarin, rupanya kembali untukku. Ia berhasil melawan preman-preman berbadan besar itu, hingga ia sendiri terluka akibat sayatan pisau lipat milik salah satu dari mereka. Karena itu aku telat kembali ke restoran ini karena … lukanya cukup besar," jawab Hyerin dengan wajah sendu.
"Yang penting kau selamat, Hyerin. Kau tidak terluka, bukan? Lalu siapa pria yang sudah menolongmu berkali-kali itu?" ujar wanita pemilik restoran tersebut, sambil memegang kedua tangan Hyerin dengan bola mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Nyonya, ia adalah pria yang tinggal di sebelah kamarku. Kami bertetangga dan aku baru mengenalnya selama dua hari. Ia datang ke restoran ini kemarin, dan juga tadi pagi, dan selalu memesan kopi," balas Hyerin yang wajahnya kini menunjukkan senyum.
Wanita pemilik restoran itu langsung menghelan nafas panjang, lalu menatap Hyerin sambil membalas senyuman tersebut.
"Ah rupanya kau sudah mulai menyukainya, bukan?" bisiknya, hingga Hyerin langsung melotot setelah mendengarkan pertanyaan tersebut.
“Tidak mungkin, Nyonya. Xyon adalah …, adalah …,” balas Hyerin, namun ia tidak melanjutkan ucapannya.
Wanita tersebut langsung tersenyum lebar, lalu berkata, "Ah, namanya adalah Xyon. Baiklah, jika ia kemari lagi, aku akan memberikannya makanan dan minuman gratis karena telah menyelamatkan nyawa karyawanku yang paling berharga ini. Sepertinya kau sangat menyukainya, walaupun baru mengenalnya selama dua hari."
“Nyonya! Aku tidak menyukainya! Bukan, bukan itu maksudku! Aku hanya membalas kebaikannya saja! Ya, aku hanya membalas kebaikannya saja! ” seru Hyerin dengan wajah yang memerah dan terlihat panik.
Wanita itu tertawa kecil, kemudian membalas, "Wajahmu memerah begitu kau menceritakan tentang pria yang bernama Xyon itu di depanku. Tidak masalah jika kau menyukainya, jika ia adalah pria baik-baik."
"Astaga, Nyonya! Aku akan segera bekerja!" balas Hyerin, lalu ia dengan terburu-buru berjalan keluar dari dapur tersebut, meninggalkan wanita pemilik restoran itu sendirian.
"Benar-benar anak muda," gumam sang Nyonya, pelan.
Namun wanita pemilik restoran itu tiba-tiba berseru, "Tunggu, Hyerin!"
Hyerin kemudian menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya, lalu melihat wanita pemilik restoran itu sedang berlari kecil ke arahnya sambil menggenggam sebuah kantong kecil yang berisi sebuah kotak makan dan satu botol air minum.
"Hyerin, berikanlah makanan ini kepada pria yang sudah menyelamatkanmu itu. Sampaikan ucapan terima kasih untuknya dariku," ucap wanita itu pelan sambil menyerahkan kantong kecil tadi.
Hyerin langsung mengambilnya, lalu membalas sambil tersenyum, "Terima kasih, Nyonya!"
"Cepatlah kembali. Ia pasti sudah menunggumu," bisik wanita tersebut, hendak menggodanya.
Hyerin tersenyum lebar sambil mengangguk sekali, kemudian ia kembali berjalan, namun setelah beberapa saat, ia memutuskan untuk berlari dengan cepat, menghindari preman-preman yang mungkin masih mengincar dirinya. Setelah sekian waktu berlari, ia lalu tiba di dalam gedung penginapan.
__ADS_1
Ia kemudian menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Xyon sambil menarik nafas dalam-dalam. Hyerin lalu memberanikan diri untuk mengetuk pelan pintu kamar tersebut. Namun, walaupun sudah beberapa kali ia mengetuk pintu kamar itu, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti.
"Apakah ia sedang tertidur?" gumam Hyerin pelan.
Tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka, dan Hyerin langsung menatap Xyon yang sedang berdiri tanpa mengenakan pakaian bagian atas. Hanya kain panjang tadi yang melingkar di tubuh pria muda itu.
Wajah Hyerin memerah. Ia terdiam untuk beberapa saat.
Namun dengan cepat, ia langsung tersadar dan bertanya, "Apakah kau sudah makan, Xyon?"
"Aku tertidur sejak tadi. Ada apa, Hyerin?" tanya Xyon balik kepada gadis tersebut, dengan wajah yang datar.
"Aku membawakan makanan untukmu, dan pemilik restoran berterima kasih kepadamu karena sudah menyelamatkanku dari preman-preman itu. Ini, ambillah," ucap Hyerin sambil menyerahkan kantong kecil yang ia bawa, kepada pria muda tersebut.
"Ah, begitu. Terima kasih," balas Xyon, kemudian ia mengambilnya dari Hyerin.
Ia hendak masuk kembali ke dalam dan menutup pintu, namun, Hyerin tiba-tiba melangkah maju, hendak ikut ke dalam bersama dengannya.
"Apakah kau baik-baik saja? Mengapa wajahmu terlihat merah seperti itu? Apakah kau sedang demam?" tanya Hyerin dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
Xyon lalu menjawab, "Aku baik-baik saja."
"Kau tidak sedang baik-baik saja, Xyon. Aku akan membantumu malam ini. Kau butuh seseorang untuk menjagamu," balas Hyerin dengan seirus.
"Bukankah kau harus bekerja esok pagi? Aku tidak akan tewas hanya dengan luka seperti ini, Hyerin. Jadi aku akan baik-baik saja," ujar Xyon, masih menunjukkan wajah datarnya.
"Astaga. Biarkan aku membantumu, anggap saja aku sedang membalas kebaikanmu!" seru Hyerin sambil mengernyitkan dahinya.
Ia lalu mendorong tubuh Xyon perlahan, agar bisa masuk ke dalam kamar. Pria muda itu kemudian menutup pintu rapat-rapat. Hyerin tiba-tiba mengambil kembali kantong kecil yang sedang dipegang Xyon, lalu meletakkannya di atas meja kecil yang terletak di sebelah ranjang.
__ADS_1
Pria muda tersebut lantas berbaring kembali di atas ranjangnya, sementara Hyerin berlutut di sebelahnya. Xyon hanya memperhatikan langit-langit kamar itu, namun Hyerin justru menatap Xyon dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran.