
Ryena lalu menunduk ke bawah, dan sangat terkejut begitu ia melihat darah segar yang mulai mengalir dan membasahi kakinya.
“Astaga, oh, tidak, Flerix!” teriaknya.
Karena semakin panik, Flerix kemudian berteriak lagi, “Pelayan! Pelayan! Siapa pun itu! Cepat datang ke sini! Pelayan!"
Seorang pelayan wanita yang sedang berjalan sambil membawa seember air, tanpa sengaja mendengar suara teriakan dari seorang pria hingga ia menghentikan langkahnya.
“Pelayan!!” teriak Flerix lagi.
Pelayan wanita itu langsung berlari ke arah teriakan tersebut, lalu ia berhenti berlari begitu ia melihat Ryena yang sedang berlutut sambil menahan rasa sakit akibat kontraksi dan Flerix yang langsung menatap ke arahnya.
“Hei, cepat bantu perempuan ini!” seru Flerix kepada pelayan wanita itu.
“Baik, baik, Yang Mulia!” balas pelayan wanita itu dengan wajah yang terlihat panik.
Ia lalu berlari ke arah yang lain untuk memanggil beberapa pelayan lainnya. Ada sembilan pelayan perempuan yang kemudian berlari menuju ke tempat di mana Ryena dan Flerix sedang berada begitu mereka mendapatkan perintah tersebut.
Mereka lalu membantu Ryena untuk berdiri, dan berjalan dengan perlahan menuju ke pintu masuk Silvir. Flerix menyerahkan Ryena kepada para pelayan perempuan itu, dan hanya menatapnya dengan wajah yang datar.
Namun, Ryena tampaknya sudah tidak kuat lagi menahan sakit akibat kontraksi yang begitu kuat. Ia dengan perlahan jatuh di atas tanah, hingga beberapa pelayan harus menahan tubuhnya dan memegang erat kedua lengannya.
Flerix sama sekali tidak berbuat apapun, aneh sekali. Padahal, ia bisa mengeluarkan kekuatan kosmiknya untuk membantu Ryena yang sedang terlihat kesakitan. Sepertinya ia memang sengaja membuat mantan putri dari Palladina itu tersiksa.
Ia bahkan tersenyum sinis begitu melihat Ryena yang berkali-kali jatuh berlutut di atas tanah akibat menahan sakitnya kontraksi.
Namun, setelah beberapa saat melihat Ryena yang terus menerus berteriak kesakitan sementara pelayan-pelayan perempuan yang sedang membantunya terlihat kebingungan, Flerix kemudian menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Sialan, mau tidak mau, Ryena harus cepat melahirkan di sini! Aku harus segera membawa anak itu pergi dari planet ini, sebelum para Palladina itu mengetahui bahwa Ryena sudah melahirkan. Mereka sangat ingin membawa anak ini kembali ke Planet Palladina! Semakin cepat maka akan semakin baik!" ucap Flerix dalam pikirannya.
Ia mendadak berubah pikiran hanya karena ingin segera pergi dari Planet Bumi dan mengambil anak yang akan dilahirkan oleh Ryena bersama dengannya. Flerix lalu mengangkat tangan kirinya ke arah sebuah pohon kecil yang ada di samping Silvir dan letaknya tidak jauh dari posisinya sekarang. Ia lalu fokus untuk mengalirkan kekuatan kosmik dari energi gelap yang ada di dalam tubuhnya, ke telapak tangan kirinya.
Kabut-kabut gelap tiba-tiba keluar dari telapak tangan kirinya itu, dan melayang-layang menuju ke pohon kecil tersebut. Dalam hitungan detik, mendadak pohon kecil tadi berubah menjadi sebuah tenda yang ukurannya lumayan besar, lengkap dengan sebuah ranjang kecil di dalamnya.
“Menyusahkan saja,” gumam Flerix di dalam hatinya, dan setelah itu, kabut-kabut gelap tadi mendadak menghilang di udara, tanpa jejak.
Flerix lalu menoleh ke arah Ryena dan para pelayan perempuan yang sedang bersama dengannya, kemudian ia berteriak, “Hei, cepat bawa perempuan itu ke dalam tenda yang ada di sana! Cepat!”
Para pelayan perempuan itu langsung menatap ke arah tenda besar yang berada di samping Silvir. Mereka lalu membantu Ryena untuk berjalan ke sana dengan langkah yang cepat namun tetap berhati-hati.
Flerix tiba-tiba menghentikan langkah dari salah satu pelayan perempuan yang sedang membantu Ryena, dengan berteriak, “Hei, kau!”
Pelayan perempuan itu langsung berhenti berjalan, lalu menoleh ke arah Flerix sambil menundukkan kepalanya.
“Cepat bantu perempuan itu untuk melahirkan. Cepat!” seru Flerix dengan wajah yang dipenuhi rasa kesal.
Ia langsung berlari ke arah yang berlawanan dengan Flerix, untuk menjalankan perintah dari sang raja. Beberapa pelayan-pelayan perempuan terlihat sedang membuka pintu masuk tenda dan beberapa dari mereka kemudian membantu Ryena untuk berjalan masuk ke dalamnya.
Dalam sekejap, seluruh pelayan perempuan dari Silverian mulai terlihat sangat sibuk mempersiapkan segala hal untuk membantu Ryena yang akan segera melahirkan. Namun, Flerix justru hanya melihat seluruh kesibukan itu dari luar tenda tersebut.
Ia bahkan tersenyum sinis sambil bergumam di dalam hatinya, “Aku tidak perlu repot-repot menghabiskan energi gelap milikku hanya untuk membantumu, bukan? Kau adalah seorang perempuan yang kuat, seperti yang sering kau katakan pada dirimu sendiri. Nah, berjuanglah, sayang.”
Hari semakin sore, bahkan hingga malam menjelang, Ryena masih belum bisa melahirkan. Kontraksinya terasa semakin kuat dan ia hanya bisa berteriak terus menerus. Beberapa pelayan perempuan sudah keluar dan masuk tenda itu berkali-kali hanya untuk mengganti air ataupun kain, secara bergantian.
Sementara Flerix sendiri masih menunggu di depan tenda tersebut, dan kini, ia sudah bersama dengan Dovrix yang terlihat sedang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
“Yang Mulia, perempuan itu masih belum juga melahirkan, padahal sudah lewat beberapa jam,” ucap Dovrix pelan.
“Ya, aku tahu itu. Lalu?” tanya Flerix dengan wajah datar.
“Apakah anda tidak ingin membantunya?” tanya Dovrix.
Flerix tertawa kecil sebentar, lalu setelah itu, ia menjawab, “Dovrix, kita adalah Silverian, bukan Palladina. Healing Renovatio hanya bisa dilakukan jika kau memiliki energi cahaya. Lihatlah perempuan itu sekarang. Bukankah ia sendiri yang ingin menjadi seorang Silverian?”
Dovrix hanya terdiam setelah mendengarkan jawaban tersebut.
Sementara itu di dalam tenda, situasinya sangat penuh dengan ketegangan. Ryena terlihat sedang berbaring di atas ranjang sambil berusaha untuk melahirkan selama berjam-jam, dibantu oleh beberapa orang pelayan perempuan.
Tubuhnya terlihat sangat berkeringat. Ia juga tampak lelah, bahkan sesekali, ia tidak kuat untuk mendorong bayinya agar bisa cepat keluar dari rahimnya.
“Healing Renovatio! Aku butuh Healing Renovatio!” teriaknya berkali-kali.
Namun, para pelayan perempuan itu sepertinya kebingungan dengan permintaannya barusan, hingga Ryena melotot kepada salah satu dari mereka.
“Healing Renovatio! Cepat lakukan!” teriaknya lagi.
“Namun, Nyonya, kami bukan Palladina,” jawab seorang pelayan perempuan dengan wajah yang tertunduk dan terlihat ketakutan.
“Astaga!” seru Ryena, yang benar-benar lupa bahwa ia adalah seorang Silverian sekarang, dan ia sedang tidak berada dengan satu pun Palladina di sana.
Tentu saja teriakan itu terdengar hingga ke luar tenda.
“Yang Mulia, apakah kita harus membawa seorang perempuan Palladina ke sini untuk membantunya?” tanya Dovrix.
__ADS_1
Flerix kembali tertawa kecil, lalu menjawab, “Tidak mungkin, Dovrix. Ratu dari Palladina itu akan segera membunuh kita dan membawa anak yang baru saja dilahirkan oleh perempuan itu bersamanya. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.”
Matahari sudah terbenam seluruhnya dan langit mulai menjadi semakin gelap, namun, belum ada tanda-tanda bahwa bayi itu akan segera keluar dari dalam rahim Ryena, walaupun sudah berjam-jam lamanya.