
Dari kejauhan, Xyon yang sedang memperhatikan para Silverian itu sejak lama dari balik sebuah pohon besar dan rerumputan yang tinggi, rupanya masih terlihat sabar menunggu saat yang tepat untuk beraksi.
“Aku akan membawa anak itu dan Ryena kembali menjadi seorang Palladina, kali ini,” gumamnya pelan.
Ia tahu bahwa Ryena sedang berusaha untuk melahirkan, maka dari itu, ia hanya fokus memperhatikan para Silverian itu, yang sudah sejak tadi terlihat sangat sibuk karena mantan putri dari Palladina itu belum juga bisa melahirkan anaknya.
Sementara itu di dalam tenda, suasana sudah sangat tegang, bahkan para pelayan terlihat kelelahan akibat lamanya proses persalinan Ryena, namun, mereka hanya bisa menghela nafas panjang tanpa adanya protes yang keluar dari mulut-mulut mereka.
“Dorong lagi, Nyonya!” seru seorang pelayan wanita yang sudah terlihat senior.
Ia dipanggil oleh Flerix untuk membantu Ryena melahirkan, namun, ia bukanlah seorang perawat ataupun dokter.
“Ahhhh!!” teriak Ryena yang sekujur tubuhnya sudah basah akibat keringat.
Tiba-tiba saja, pelayan wanita itu melotot tajam begitu ia melihat kepala sang bayi yang berhasil keluar terlebih dahulu dari dalam rahim Ryena.
“Aku sudah melihat kepalanya! Nyonya!” teriaknya, dan dengan cepat, ia langsung menahan kepala bayi tersebut dan tidak butuh waktu lama, tubuh bayi tersebut akhirnya berhasil dikeluarkan.
Suara teriakan bayi mendadak pecah di dalam tenda itu. Pelayan wanita tadi kemudian menggendong bayi tersebut, dan seorang pelayan perempuan lain langsung memberikannya kain bersih.
Ia lalu menyelimuti bayi itu dengan kain bersih dan membawanya kepada Ryena. Sementara di luar tenda, Flerix, Dovrix, dan Xyon yang sedang berada di kejauhan, langsung bisa mendengar suara tangisan bayi yang amat keras dari dalam tenda itu.
“Selamat, Nyonya! Seorang bayi laki-laki yang tampan!” seru pelayan wanita itu dengan senyum lebar di wajahnya.
Ryena langsung memeluk bayi laki-laki tersebut dan menatapnya dengan mata yang berair. Wajahnya terlihat senang, walaupun ia masih sangat lelah akibat proses persalinan yang melelahkan, bahkan tanpa bantuan Healing Renovatio sama sekali yang membuat kelahiran bayi laki-laki itu semakin menyakitkan baginya.
“Bayiku, bayiku,” gumamnya pelan.
Ia lalu mencium bayi laki-laki itu dengan lembut, namun tiba-tiba, pelayan wanita yang baru saja membantunya untuk melahirkan tadi, berbisik pelan kepadanya, “Nyonya, aku harus menunjukkan bayi ini kepada Yang Mulia.”
__ADS_1
“Ah, tentu saja, tentu!” ujar Ryena, masih dengan senyum di wajahnya.
Ia lalu menyerahkan bayi laki-laki itu kepada pelayan wanita tadi, dan dengan terburu-buru, pelayan wanita tersebut mengambil bayi tersebut, menggendongnya, lalu keluar dari dalam tenda, diikuti oleh seluruh pelayan perempuan lainnya, meninggalkan Ryena sendiri yang masih berada di dalam tenda itu.
Pelayan wanita itu kemudian berjalan mendekati Flerix, lalu berdiri di hadapannya sambil menundukkan kepalanya dan memperlihatkan seorang bayi kepadanya, sambil berkata, "Selamat, Yang Mulia. Anda telah mendapatkan seorang bayi laki-laki."
Flerix yang sudah sejak lama menunggu di depan tenda dengan tidak sabar, langsung memperhatikan bayi yang baru lahir tersebut. Bayi itu memiliki rambut berwarna hitam dengan bola mata berwarna coklat, sangat menggemaskan karena ia sedang tertidur pulas.
"Bagus sekali! Seorang anak laki-laki, seperti keinginanku! Ia akan menjadi anak yang kuat, dan akan meneruskan perjuanganku melawan seluruh planet yang ada di dalam Galaksi Metal ini, khususnya para Palladina itu! Hahaha! Sangat beruntung sekali diriku ini!" serunya dengan senyum licik di wajahnya.
Xyon sendiri dari kejauhan, sebenarnya sudah melihat bayi yang baru saja dilahirkan oleh Ryena, walaupun tidak begitu jelas. Ia bahkan berkali-kali berusaha untuk menatap ke arah wajah bayi itu namun, selalu saja Flerix seolah menghalangi pandangannya.
Namun, ia yakin bayi yang dilahirkan Ryena adalah berjenis kelamin laki-laki, karena wajah Flerix yang terlihat sangat senang ketika ia memperhatikan bayi tersebut.
“Astaga,” ujar Xyon, lalu ia menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan, “aku harus cepat membawa anak itu!”
Karena hal ini, Xyon memutuskan untuk tidak gegabah mengambil keputusan.
“Aku harus melaporkan ini kepada Yang Mulia secepatnya,” gumamnya lagi.
Namun, ia justru mendengar Flerix yang tiba-tiba berteriak kepada pelayan wanita yang sedang menggendong bayi tersebut, “Masuklah kalian semua ke dalam Silvir sekarang juga, dan kau, bawalah bayi itu bersama denganmu dan rawatlah ia terlebih dahulu. Aku akan menunjuk seseorang untuk menjadi ibu asuhnya nanti!”
“Baik, Yang Mulia,” balas pelayan wanita itu.
Ia lalu berjalan dengan cepat, masuk ke dalam Silvir sambil masih menggendong bayi itu, diikuti oleh seluruh pelayan perempuan lainnya.
“Sialan,” gumam Xyon lagi setelah ia melihat kejadian itu.
Ia memutuskan untuk tetap menunggu sambil memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Flerix berikutnya.
__ADS_1
"Kita akan meninggalkan planet ini sekarang juga, segera, cepat!" seru Flerix.
“Baik, Yang Mulia!” seru semua pelayan dan pasukan yang berada di sana.
Mereka langsung bergegas masuk ke dalam Silvir, meninggalkan Flerix dan Dovrix yang masih berdiri di luar pesawat luar angkasa itu.
"Sialan!" seru Xyon setelah mendengar dengan jelas perintah dari Flerix kepada pelayan dan pasukannya barusan.
Karena tidak bisa gegabah dalam mengambil keputusan, Xyon hanya bisa memperhatikan Flerix dari kejauhan sambil mengepalkan tangan kanannya. Wajahnya terlihat dipenuhi amarah.
Setelah seluruh pelayan dan pasukan miliknya sudah masuk semua ke dalam Silvir, Flerix kemudian tersenyum kecil, lalu menoleh ke arah Dovrix yang masih berada di belakangnya.
“Aku akan menemui perempuan itu. Tunggulah di sini,” ucapnya pelan.
“Baik, Yang Mulia,” balas Dovrix.
Flerix lalu berjalan masuk ke dalam tenda di mana Ryena masih terbaring di dalamnya.
Melihat gelagat mencurigakan itu, Xyon langsung berdiri, kemudian berjalan dengan sangat pelan dan hati-hati menuju ke arah sebuah pohon besar yang berada tepat di belakang tenda tersebut.
“Flerix sialan, apa lagi yang sedang ia rencanakan?!” tanya Xyon di dalam hatinya.
Ia kemudian dengan cepat bersembunyi di balik pohon besar itu sambil berusaha fokus mendengarkan apa yang akan terjadi di dalam tenda tersebut.
Di dalam tenda, Ryena yang masih terbaring di atas sebuah ranjang kecil, langsung tersenyum begitu ia melihat Flerix. Ia berusaha untuk duduk di atas ranjang, walaupun masih merasa sangat lemah, hanya karena kehadiran pria yang dicintainya itu.
“Sayang, sudahkah kau lihat anak kita? Ia adalah seorang bayi laki-laki yang tampan!” seru Ryena dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca.
Flerix kemudian berdiri di sampingnya, sambil menatapnya dengan sorot mata yang tajam. Tatapan itu langsung membuat senyum di wajah Ryena menghilang. Mereka berdua kini saling menatap satu sama lain dengan wajah yang serius.
__ADS_1