Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Asumsi yang Belum Tentu


__ADS_3

Di sisi lain, di dalam istana Planet Silverian, Flerix terlihat sedang duduk bersama dengan anak laki-lakinya yang berambut abu-abu dengan kedua bola mata yang berwarna emas dan masih berusia enam tahun di atas sebuah sofa di dalam ruang kerja pribadinya, sambil membaca sebuah buku kosmik yang berisi tentang strategi-strategi perang antar planet.


Seorang pria tiba-tiba mengetuk pintu ruangan itu dari luar dan berkata, “Yang Mulia, ini Dovrix.”


“Masuklah,” seru Flerix tanpa menoleh.


Pria itu, Dovrix, kemudian membuka pintunya dan masuk ke dalam, lalu kembali menutup rapat pintu ruangan tersebut. Ia lalu membungkukkan badannya sebentar di hadapan Flerix untuk beberapa saat, setelah itu ia kembali berdiri tegak dan menatap lurus sang raja.


"Yang Mulia," ujar Dovrix, "aku melihat ada dua buah bintang yang keluar dari dalam Planet Palladina, dan langsung melesat menuju ke Planet Bumi."


Sambil masih membaca buku kosmik yang berada di tangannya, Flerix bertanya, “Mengapa kau sangat yakin bahwa keduanya melesat menuju ke Planet Bumi, Dovrix?”


“Yang Mulia, mereka menggunakan lubang cacing yang sama untuk menuju ke Galaksi Bima Sakti. Aku melihat dua, yang satu berwarna ungu, dan satu lagi berwarna biru muda,” jawab Dovrix.


“Ah, Xyon dan ratu bodoh itu,” ucap Flerix.


Dovrix menghela nafas pendek, lalu berkata lagi, “Bintang berwarna biru muda itu … terlihat lebih kecil daripada bintang yang berwarna ungu tersebut, Yang Mulia.”


Flerix langsung terdiam begitu ia mendengarkan hal itu. Wajahnya mendadak berubah menjadi serius. Ia kemudian menatap Dovrix sambil mengernyitkan dahinya.


“Bahkan dari kejauhan, aku bisa merasakan aura yang berbeda, yang asalnya dari bintang kecil berwarna biru muda itu, Yang Mulia,” ujar Dovrix lagi.


“Bintang kecil? Apakah ia adalah seorang anak yang ikut bersama dengan Xyon? Biru muda? Bukankah itu Anexta?” tanya Flerix.


Wajah Dovrix mulai terlihat sedikit kebingungan. Ia bahkan menggaruk kepalanya sekali.

__ADS_1


“Bintang kecil, Yang Mulia. Aku bahkan bisa merasakan energi yang sangat kuat, namun, energi itu bukanlah energi cahaya, ataupun energi kosmik dari planet lainnya,. Entah energi apa itu, namun, yang jelas, itu adalah aura yang sangat kuat, dan membuat tubuhku sedikit gemetar,” ucap Dovrix.


Flerix langsung menutup buku kosmik yang sedang dipegangnya, hingga membuat anak laki-laki yang berada di sebelahnya menjadi sedikit terkejut.


"Oh, apakah seorang Crossbreed … telah lahir?" tanya Flerix dengan senyum sinis di wajahnya.


“Apa maksud anda, Yang Mulia?” tanya Dovrix balik kepada sang raja.


Flerix kemudian menyerahkan buku kosmik tadi kepada anak laki-lakinya, lalu berdiri dan menatap Dovrix dengan sorot mata yang tajam.


“Ratu bodoh dari Palladina tersebur tampak jatuh cinta dengan seorang manusia ketika berada di desa itu,” bisik Flerix pelan.


Dovrix langsung melotot, seolah tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.


“Yang Mulia! Tidak mungkin ada seorang immortal mau berhubungan dengan manusia! Crossbreed adalah makhluk yang dikutuk oleh alam semesta! Energi antimateri mereka bisa memusnahkan seluruh kehidupan yang ada di sini!” serunya.


“Yang Mulia, namun, bagaimana caranya kita tahu di mana Xyon mendarat?” tanya Dovrix.


“Mudah saja. Ia sudah lama tidak pernah lagi berkeliling planet biru itu, jadi, ada kemungkinan ia pasti akan mendarat di hutan yang sama,” jawab Flerix.


Ia kemudian menoleh ke arah anak laki-lakinya, yang masih duduk di atas sofa sambil memegang buku kosmik tadi, lalu ia membalikkan badannya dan berlutut di hadapan anak laki-laki itu, dan menatapnya dengan sorot mata yang tajam.


"Nak, kau harus ingat. Planet ini adalah planet kelahiranmu, namun sayang, orang-orang di luar sama merundung planet ini hingga akhirnya planet ini mati perlahan. Ibumu juga dibunuh oleh para Palladina itu, karena mereka tidak suka dengan kehadiranmu. Kau memiliki energi gelap yang sangat kuat sehingga mereka ingin sekali membunuhmu. Planet ini mulai sedikit demi sedikit bisa bertahan hidup dari energi dan sumber daya dari planet lain yang pernah menghina kita, sayang,” bisiknya pelan.


Anak laki-laki itu mengedipkan kedua matanya sekali, lalu bertanya, “Apa yang ayah ingin aku lakukan kepada mereka?”

__ADS_1


Flerix tersenyum sinis dan menjawab, “Musuh kita adalah seluruh planet yang ada di dalam Galaksi Metal ini, khususnya para Palladina itu. Demi menghancurkan kita, ratu mereka lantas menikah dengan seorang manusia dan ia sekarang memiliki seorang anak Crossbreed. Kau harus menemukan anak itu, karena ia bisa saja menghancurkan planet ini beserta isinya, dengan kekuata daeri energi antimateri miliknya. Kau bisa membunuhnya, namun, akan lebih baik jika kau menjadikannya sebagai mesin pembunuh, karena energi yang ia miliki sangatlah kuat, sehingga kau bisa dengan cepat menjadi penguasa galaksi ini, dan membalaskan dendam kita kepada mereka.”


Anak laki-laki itu mengangguk, seolah mengerti apa yang sudah dikatakan oleh ayahnya, ia menjawab, "Baiklah, ayah. Aku akan menuruti keinginanmu."


“Dan selalu ingat, nak, jangan pernah mencintai seseorang. Energi cinta bisa menghancurkanmu dan planet ini. Energi yang tidak berguna, dan mortal,” ucap Flerix lagi.


Ia kemudian membelai lembut kepala anak laki-lakinya itu, kemudian berdiri dan kembali menatap Dovrix.


"Aku harus segera mencari informasi tentang apa yang sudah dibawa oleh Xyon ke sana, apakah mungkin ia adalah seorang Crossbreed yang baru saja dilahirkan oleh ratu bodoh itu, sekarang juga," ucapnya.


Dovrix menundukkan kepalanya, lalu membalas, “Baik, Yang Mulia.”


Ia dan sang raja, kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut, menuju ke halaman depan istana.


“Siapkan pasukan untuk segera masuk ke dalam Silvir. Kita akan berangkat sekarang juga,” seru Flerix sambil masih berjalan dengan tergesa-gesa.


“Baiklah, Yang Mulia!” balas Dovrix.


Ia kemudian berlari untuk menjalankan perintah dari sang raja barusan. Setelah memanggil beberapa pasukan untuk berbaris di halaman depan istana, ia kemudian meminta para pilot Silvir untuk menyalakan mesin pesawat luar angkasa itu, sambil menunggu kedatangan Flerix.


Begitu Flerix tiba di depan Silvir, ia langsung meminta semua orang untuk masuk dengan cepat ke dalamnya, baru setelah itu, ia berjalan masuk dan pintu pesawat luar angkasa tersebut akhirnya tertutup rapat. Silvir kemudian berubah menjadi sebuah bintang kecil yang melesat ke luar angkasa dengan kecepatan tinggi, menuju ke Planet Bumi.


“Kita akan mendarat di hutan yang sama, Dovrix,” ucap Flerix sambil berdiri di tengah-tengah ruang kontrol Silvir.


“Namun, Yang Mulia, mencari keberadaan anak seorang crossbreed yang kita sendiri pun tidak tahu wajahnya seperti apa atau mengetahui apa jenis kelamin anak itu, atau apa yang sebenarnya sudah dibawa oleh Xyon ke Planet Bumi, bisa jadi bukanlah seseorang,” balas Dovrix yang sedang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


Flerix tersenyum sini, kemudian menjawab, “Kau sendiri bisa merasakan aura energi yang kuat dari bintang kecil berwarna biru muda itu. Kemungkinan besar ia adalah seseorang, Dovrix.”


__ADS_2