Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Pembicaraan Rahasia


__ADS_3

“Aerim. Duduklah,” balas Keira.


Raja dari Silverian itu lantas duduk agak jauh dari Keira, lalu mereka menatap lurus ke depan, ke arah rerumputan hijau dengan angin pelan yang berhembus menyejukkan suasana.


"Mengapa kau sendirian di sini? Ke mana dua pangeran kecilmu dan Higarashi?" tanya Aerim.


"Mereka sedang tertidur dan perawat baru saja membawa mereka ke kamarnya. Higarashi masih sibuk karena ia akan mengadakan upacara pemberian gelar kepada kedua pangeran kami," jawab Keira.


Mereka kemudian terdiam sebentar, lalu Aerim memecah keheningan dengan berkata, “Keira, Higarashi memarahimu karena …,” namun Permaisuri dari Halida itu langsung memotongnya dengan berucap, “Viora.”


Aerim terkejut. Ia melotot ke arah Keira dengan wajah yang sedikit gusar.


“Aku tidak bisa melakukan Televatia kepadanya sejak ia memarahiku, Aerim. Namun, aku mendengar ia memanggil seseorang bernama Viora,” ucap Keira sambil menunjukkan wajah sendu.


Raja dari Silverian itu langsung mengepalkan tangan kanannya, kemudian membalas, "Kau terus menerus melindunginya, Keira. Pria seperti dia tidak pantas untuk terus menerus mendapatkan perlindungan darimu!"


Keira dengan cepat menoleh dan menatap Aerim sambil meneteskan air mata, hingga Raja dari Silverian itu terkejut melihat sikapnya.


"Aku akan segera meninggalkan kalian, Aerim. Energi antimateri milikku akan segera habis dalam waktu yang tidak lama lagi. Ada baiknya aku melindungi Higarashi demi anak-anakku, bukankah begitu seharusnya?" ujar Keira dengan mata yang memerah.


“Keira …,” gumam Aerim sambil mengernyitkan dahinya.


"Aku tidak ingin bersaing dengan seorang wanita immortal. Selama ia bukanlah ancaman bagi anak-anakku dan galaksi ini, aku akan berdiam diri, Aerim. Lagi pula, aku masih mencintai Higarashi," ucap Permaisuri dari Halida itu.

__ADS_1


Ia kemudian menatap lurus ke depan, menyeka air mata dengan tangan kanannya satu kali, lalu menghela nafas panjang dan berkata, “Tolong jangan sampai orang lain tahu apa yang sedang kita bicarakan hari ini, khususnya Paman Xyon.”


Aerim lantas ikut menoleh ke depan, memperhatikan setiap dedaunan yang tertiup angin dan melayang-layang di udara.


“Keira, aku sudah dua hari ini tidak tidur karena mengumpulkan beberapa informasi tentang wanita yang bernama Viora itu. Ia adalah seorang wanita tua berusia sama dengan Xyon. Nama aslinya adalah Meteorix. Ia memintaku untuk membunuh Raja dari Ruthenia karena dendam, dan sebagai gantinya, aku menyuruhnya untuk menyamar menjadi pemilik restoran di pantai, untuk meracunimu. Maafkan aku, Keira. Namun, setelah aku pergi ke Planet Ruthenia dan bertanya kepada beberapa bangsawan serta pejabat tinggi di sana, aku mendapatkan informasi bahwa Meteorix bukanlah penduduk dari planet itu,” ujar Aerim dengan wajah yang serius.


“Ah, ternyata ia memiliki nama yang bagus, Meteorix. Aku bertemu dengan Demira sebelum ia tewas. Ia berkata kepadaku bahwa ada seseorang yang bisa mengendalikan materi gelap dan aku harus berhati-hati dengan orang itu. Aku tidak bisa mencari tahu lebih jauh tentang siapa orang tersebut, maka itu aku memintamu untuk bertemu denganku di sini,” balas Keira sambil tersenyum kecil.


Aerim tiba-tiba tersenyum sinis, kemudian menghela nafas pendek dan berkata, “Setelah ledakan energi itu, aku tidak tahu di mana Meteorix berada. Mereka menghilang tanpa jejak, dan aku masih terus mencari siapa yang sudah membunuh Demira karena Dovrix, tangan kananku, juga ikut menghilang.”


Keira langsung melotot tajam begitu ia mendengar nama Demira. Ia kemudian menoleh ke samping dan menatap Aerim dengan wajah yang gusar.


“Aku bertemu dengan Demira sebelum ia tewas. Ia berkata kepadaku bahwa ada seseorang yang bisa mengendalikan materi gelap dan aku harus berhati-hati dengan orang itu. Aku tidak bisa mencari tahu lebih jauh tentang siapa orang tersebut, maka itu aku memintamu untuk bertemu denganku di sini,” balas Permaisuri dari Halida itu.


Keira mengernyitkan dahinya begitu ia mendengar jawaban tersebut, kemudian bertanya, “Blackerian?”


“Sebagai orang yang pernah mengincar planet lain untuk sumber daya dan energi kosmiknya, aku berkeliling hingga ke ujung galaksi dan melihat sebuah planet gas kecil berwarna hitam di sana. Yang membuatku terkejut adalah planet itu mengorbit sebuah lubang hitam raksasa. Dovrix mengatakan kepadaku bahwa planet tersebut bernama Planet Blackerian. Mereka mengendalikan materi gelap, dan tidak memiliki sumber daya apapun, sehingga kami tidak mengincarnya. Lagi pula, aku juga tidak akan mengambil konsekuensi ditelan oleh lubang hitam jika terlalu dekat ke sana,” balas Aerim dengan wajah yang serius.



Keira mengangguk sekali, kemudian berkata, “Aku pernah membaca tentang materi gelap ketika masih sekolah, Aerim. Energi gelap menguasai sekitar tujuh puluh persen alam semesta ini, sementara materi gelap memiliki dua puluh lima persen, dan materi lainnya sebesar lima persen.”


“Ya, Keira. Aku pun terkejut begitu mendengar bahwa ada immortal yang bertahan tinggal di dalam planet keras itu, dan mengendalikan materi gelap,” balas Aerim.

__ADS_1


“Paman Xyon tidak pernah membicarakan tentang Planet Blackerian ataupun materi gelap. Apakah mereka …,” ucap Keira, namun Aerim langsung melanjutkan, “Mereka tidak menyadarinya. Aku pun baru mengetahuinya hari itu juga.”


Keira menghela nafas panjang. Ia lalu menundukkan kepalanya sedikit dengan wajah sendu, sementara Aerim memutar bola matanya sekali, seolah sedang memikirkan sesuatu.


“Apakah Demira memintaku untuk berhati-hati dengan seorang Blackerian?” tanya Keira.


Aerim langsung menoleh ke samping dan menatap perempuan berambut biru tua itu sambil melotot tajam.


“Berhati-hati dengan seorang Blackerian? Apa maksudmu …?” tanyanya dengan nada rendah.


“Viora, bukan. Meteorix mungkin adalah seorang Blackerian,” jawab Keira sambil mengernyitkan dahinya.


Mereka terdiam untuk beberapa menit, sambil kembali menatap lurus ke depan. Keira lalu mengangkat kepalanya sedikit dan melihat langit biru Planet Halida yang cerah tanpa awan. Ia tiba-tiba tersenyum kecil, hingga Aerim menatapnya dan kebingungan akan sikapnya itu.


“Aku pikir lawanku hanya kalian, para Silverian,” ujar Keira, “aku pikir, energi gelap yang masih ada di dalam diriku ini sudah cukup untuk membuatku semakin kuat dan tidak akan ada lagi yang membuat kegaduhan. Ternyata … materi gelap benar-benar ada.”


Dengan wajah yang tampak gusar, Aerim kemudian berkata, “Keira, Xyon harus tahu akan hal ini.”


“Tidak. Paman Xyon memiliki emosi yang tidak bisa ditebak. Jika benar Meteorix adalah seorang Blackerian, aku sendiri yang akan mengurusnya, karena ia sudah berani menjebak suamiku untuk sesuatu yang belum kuketahui. Tolong, rahasiakan apa yang sudah kita bicarakan hari ini kepada semua orang. Aku tidak ingin ada yang mengkhawatirkanku lagi, jadi, diamlah. Percayalah kepadaku bahwa aku bisa bertindak sendiri, Aerim,” balas Keira.


"Keira! Kau tidak bisa bertemu dengan materi gelap! Energi antimateri milikmu itu bisa habis dengan cepat karena … tidak ada materi lain di alam semesta ini yang lebih kuat daripada materi gelap!" seru Aerim sambil menatap Keira dengan wajah yang terlihat panik.


__ADS_1


__ADS_2