
Keira lalu menoleh ke samping dan menatap Aerim sambil tersenyum kecil.
“Kau adalah saudara angkatku. Ibumu dan ibuku berasal dari planet yang sama, Palladina. Aku yakin kau masih memiliki energi cahaya yang tersisa di dalam dirimu, maka dari itu, aku tidak ingin membunuhmu ataupun Planet Silverian. Walaupun energi gravitasi tampak lebih lemah daripada energi gelap namun, seluruh benda yang ada di alam semesta ini memiliki gravitasi. Jadi, jika kau ingin berterima kasih kepadaku, rahasiakanlah ini dari mereka semua,” ucapnya pelan.
“Keira …,” gumam Aerim dengan nada rendah.
“Aku pikir … aku bisa hidup dengan tenang setelah mengembalikan kalian seperti semula. Ternyata tidak,” balas perempuan Crossbreed itu sambil menundukkan kepalanya sedikit.
Lima hari kemudian, para pelayan istana kerajaan Halida terlihat sibuk mempersiapkan sebuah pesta besar yang akan dihadiri oleh seluruh pemimpin dari setiap planet yang ada di dalam Galaksi Metal. Tentu saja Higarashi, Keira, dan kedua anak mereka akan hadir di sana.
Acara itu disiapkan oleh Leino atas perintah Higarashi. Ruang utama istana sudah dihias seindah mungkin dengan kekuatan kosmik dari energi bintang, dengan banyak meja dan kursi yang ada di setiap bagian ruangan tersebut.
Sebelum acara dimulai, Keira dan Higarashi tampak berada di dalam kamar sambil duduk di atas ranjang dan masing-masing menggendong bayi laki-laki mereka, Xavion dan Xevion. Karena suasana agak hening, Higarashi lantas berdehem sedikit serta menatap istrinya tersebut dengan wajah yang terlihat kecewa.
"Keira," bisik Higarashi pelan.
Tanpa menoleh ke arah Higarashi, Keira membalas, " Ada apa, Higarashi?"
"Maafkan aku sudah memarahimu pada waktu itu, hingga kau menahan rasa sakit yang luar biasa dan harus melahirkan anak-anak kita di saat yang tidak menyenangkan," ucap suaminya itu.
"Ah, aku sudah melupakannya. Lagi pula bukankah sekarang kita harus lebih fokus kepada Xavion dan Xevion?" tanya Keira sambil tersenyum kepada bayi Xevion yang ada di dalam gendongannya.
"Ah, iya. Kau benar …," ujar Higarashi dengan nada rendah.
__ADS_1
Ia lalu kembali menatap Xavion yang sedang dipeluknya, kemudian bergumam di dalam pikiran, “Keira tidak lagi menatap mataku ketika kami berbicara. Ia bahkan berbicara seperlunya saja sejak hari itu. Aku … takut sudah terlalu menyakiti hatinya dalam-dalam.”
Tiba-tiba, pintu kamar itu diketuk, lalu seorang pria berseru dari baliknya, "Yang Mulia, ini Lenio. Acara akan segera dimulai sesaat lagi.”
Higarashi kemudian menoleh ke arah pintu dan membalas, "Baiklah! Kau bisa pergi terlebih dahulu, Leino!"
"Baiklah, Yang Mulia!" balas Leino, lalu ia berjalan untuk kembali membereskan banyak hal sebelum acara penobatan itu dimulai.
Keira kemudian membaringkan bayi Xevion di atas ranjang, dan melangkah menuju ke sebuah lemari yang ada di pojok kamar tersebut. Higarashi lantas menatap istrinya itu sambil meletakkan bayi Xavion di samping adiknya.
"Kau pergi saja terlebih dahulu, aku akan menyusul nanti,” ujar Keira dengan wajah datar.
Higarashi sedikit merasa kecewa, namun ia berkata kepada istrinya itu, "Ah. Baiklah, aku akan menunggumu di ruang utama."
Namun ketika Ia hendak melangkah keluar dari kamar sambil mendorong kereta bayi tersebut, tiba-tiba saja ia merasa ingin muntah. Keira langsung menutup mulut dengan tangan kanan, dan setelah batuk untuk tiga kali, ia lalu melihat noda darah kental pada telapak tangannya.
"Ini sudah kedua kalinya. Energi antimateri yang kumiliki mulai habis perlahan-lahan. Aku harus cepat mencari tahu siapa wanita yang bernama Meteorix itu dan apa hubungannya dengan Planet Blackerian serta materi gelap,” gumamnya di dalam pikiran sambil melotot tajam memperhatikan darah tersebut.
Para tamu undangan kini mulai berdatangan, masuk ke dalam ruang utama istana kerajaan Halida. Terlihat ada Aerim, Xyon, Weim, Arex, Nordian, Gerofin, serta Rexi. Mereka sedang duduk di salah satu meja bulat yang berada di pojok ruangan tersebut sambil berbincang tentang banyak hal.
“Planet Silverian kini bukan lagi ancaman bagi Galaksi Metal. Sungguh adalah sebuah akhir yang menggembirakan,” ujar Gerofin sambil menatap Aerim dengan wajah yang ceria.
“Aku bahkan baru mengetahui bahwa Yang Mulia Raja Aerim sangat murah senyum,” balas Rexi, hingga Gerofin menoleh ke arahnya dan menatap istrinya itu sambil mengernyitkan dahi.
__ADS_1
Aerim tersenyum kecil setelah mendengar hal tersebut, lalu berkata, “Terima kasih atas pujian Anda, Yang Mulia. Ini semua karena Yang Mulia Permaisuri Keira, yang sudah mengorbanakn energi antimateri miliknya.”
“Jika begitu, aku tidak akan lagi mempertanyakan tentang kutukan dari alam semesta bagi Crossbreed seperti dirinya. Sungguh adalah sesuatu yang melegakan,” balas Rexi.
Tiba-tiba seluruh tamu yang ada di sana, menoleh ke arah pintu masuk. Higarashi terlihat sedang berjalan menuju ke altar yang berada di depan ruang utama itu, dengan wajah yang tampak serius. Ia lalu naik ke atas dan berdiri di tengah-tengahnya sambil menatap lurus ke depan.
Tidak berapa lama, orang-orang kembali memperhatikan pintu masuk. Keira datang sambil mendorong sebuah kereta bayi dan melangkah hingga ia tiba di samping altar. Dua orang perawat perempuan langsung meraih bayi Xavion serta Xevion, lalu menggendong mereka dengan hati-hati.
Keira kemudian naik ke atas altar bersama dengan kedua perawat tersebut, lalu berdiri di sebelah Higarashi sementara anak-anak mereka berada di belakang sang Permaisuri dari Halida tersebut sambil tertidur pulas di dalam gendongan perawat-perawat perempuan tadi.
"Yang Mulia, Tuan-Tuan, serta Nyonya-Nyonya, aku sangat berterima kasih karena kalian sudah meluangkan waktu untuk datang dan menjadi saksi dari upacara pemberian gelar bagi anak-anakku dengan Yang Mulia Permaisuri Keira, yang baru saja lahir beberapa hari yang lalu,” seru Higarashi.
Para tamu memperhatikan dengan serius. Leino kemudian naik ke atas altar dan memberikan Higarashi dua buah Starlet yang berwarna biru tua dan merah terang. Higarashi lalu menerima kedua Starlet tersebut.
Ia lantas berjalan mendekati salah satu perawat perempuan tadi, kemudian berdiri di sampingnya dan berbisik, “Perlihatkan keduanya kepada dunia.”
“Baik, Yang Mulia,” balas mereka dengan nada rendah.
Para perawat itu langsung memperlihatkan wajah Xavion dan Xevion ke depan hingga membuat seluruh tamu yang hadir di sana terkejut, bahkan ada yang berdiri dan berjalan mendekati altar hanya untuk melihat bayi-bayi tersebut dari jarak dekat.
“Mereka sangat mirip dengan ayah dan ibunya!” seru seorang wanita bangsawan dari Ruthenia yang memakai gaun berwarna emas.
“Namun, ibunya adalah seorang Crossbreed. Lalu, apakah mereka …,” tanya seorang pria pejabat tinggi yang berdiri di sebelahnya, namun Keira langsung menjawab, “Mereka adalah immortal.”
__ADS_1
Semua orang sontak saja menjadi semakin terkejut dengan jawaban tersebut, dan menatap Keira dengan wajah yang tampak kebingungan.